Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Kambuh


__ADS_3

Sejak ujian minggu lalu, Ar mulai jarang membuat sarapan. Harna memang tak memaksanya, ia ingin Ar fokus pada sekolah dan kesenangannya saja dan tak usah berkeliaran di dapur.


Ar turun saat masih sangat pagi, bersama dengan Anisa, ia membuat susu untuk ketiga penghuni baru kamarnya. Anisa juga ikut ke kamarnya karena harus menata rambut panjang kecoklatan milik Ar itu.


Anisa mengikuti Ar ke kamar karena ia harus merapikan rambut Ar yang panjang, bergelombang dan sedikit kecoklatan. Cukup indah tapi susah untuk ditata bagi seorang anak SMA yang hanya fokus pada buku dan study saja. Itulah sebabnya Anisa menawarkan diri menata rambut Ar setelah beberapa kali melihat Ar hanya menyanggulnya saja saat pergi kesekolah.


Saat di meja makan.


" Dek, tadi malam kamu bilang kelompok belajar, maksudnya apa?" tanya Harna.


" Kelompok belajar, ya belajar kelompok..." jawab Ar singkat membuat Herman tersenyum simpul. Jangan ditanya tentang keempat rusuh karna mereka sedang beradu siapa yang habis duluan.


" Ya kakak tau kelompok belajar itu belajar kelompok tapi kan bisa kalo datang ke rumah kayak sebelumnya..." usul Harna.


" Tadi malam kudengar dari Indah bukan hanya Beatriks, Bennycno dan Cristian saja tapi ada beberapa anak kelas mereka lagi dan dua anak kelas 3..." kata Herman.


" Oh, teman-teman yang ijin bermain di pantai itu?" tanya Harna.


" Iya kak..."


" Dek, Harun, Vian, Vin, Win..." teriak suara dari luar bergema, suara tersebut makin jelas. "... Eh kak Herman, pagi kak, kak Harna juga..." sapa Andi yang datang menjemput adik sepupu serta keempat keponakannya.


" Hmm, berisik Andi..." kata Harna.


" Kak Harna pagi-pagi udah jutek gitu nanti gak cantik loh..."


" Gak cantik? Keluarga kita itu hanya memiliki 2 orang putri yang satunya cantik dan yang satunya imut, keponakan kamu juga gak ada cewek kan itu artinya sebagai saudara kamu harus memuji Aku dan Ar yang menjadi tuan putri di keluarga kita..." Kata Harna, Ia dan Andi memang tak pernah akur, begitulah dari dulu sampai sekarang meski mereka saling menyayangi tapi disaat bersamaan jiwa-jiwa keusilan mereka bangkit disaat bersamaan.


" Iya deh, kak, kakak masih ada makanan? kak Ronald gak ngasih aku makan..." keluh Andi yang duduk di dekat Ar.


" Di centong udah habis, ambil sendiri di dapur..."


Ar tenggelam dalam pikirannya, ia masih memikirkan tentang percakapan antara kakaknya dan kak Herman.


**********


" Yan, apa yang ibu Ani katakan?" Tanya Betty, Ar baru saja kembali.


" Tentang kelompok belajar..." kata Ar. Mendengar itu, para anggota mulai memasang telinga.


" Jadi?" tanya Cris.


" Kemarin kami sempat menemui pak Frengky, tapi katanya kita tidak bisa menggunakan ruang kelas ini..." kata Ar, mereka terlihat kecewa. "...sebentar hubungi kak Reno dan kak Alfin, kita akan membersihkan ruang kesenian lama. Kita tinggal menunggu surat ijin penggunaan..."


" Maksud kamu?" Tanya Jesis mewakili yang lain.


" Kemarin setelah berdiskusi, kita mungkin akan menggunakan ruangan kesenian lama, pak Frangky sedang membuat surat ijin penggunaan ruangan tersebut, nah karena sudah pasti kita akan mendapatkan ruangan tersebut jadi tinggal menunggu waktu saja kapan kita menerima surat itu, selagi menunggu kita bisa membersihkannya..." kata Ar menjelaskan.


" Sudah pasti..." Bian.


" Em... yah... itu..." Ar mulai gugup.


" Tak apa-apa kan kalau menggunakan koneksi, ..." Rina.


"... Kami juga masuk dengan menggunakan koneksi..." Rani.


" Kalau begitu, jangan ada yang beralasan untuk pulang lebih awal..." kata Ar, mereka merinding mendengarnya.


**********


Mereka pergi ke ruang kesenian lama sedangkan Ar dan Cris pergi ke pak Frengky terlebih dahulu untuk mengambil kunci ruangan tersebut.


" Permisi pak..." kata Ar.


" Ya, duduklah dulu ..." kata pak Frengky. Keduanya duduk, pak Frengky menatap Ar.


Ia mengingat tadi pagi saat pergantian jam ia dipanggil ke ruang kepala sekolah, kepala sekolah menyerahkan sebuah dokumen yang berisi Surat Perijinan Penggunaan Ruang Kesenian Lama, yang telah ada tanda tangan kepala Yayasan, Direktur Sekolah dan Kepala Sekolah. Dalam surat tersebut hanya tersisa tandatangannya dan juga ketua kelompok belajar yaitu Ar saja.


Di ruangan kepala sekolah tadi bahkan ada kepala Yayasan. Kepala Yayasan berpesan untuk memberikan wewenang penuh kepada ketua kelompok belajar.


" Em pak, maksud kedatangan kami kesini adalah untuk meminjam kunci Ruangan Kesenian lama..." kata Ar.


" Yah, saya memang berniat memanggilmu juga, ini adalah surat perijinan ini, tanda tanganlah disini, kemudian ambil selembar dan sisakan yang lain untuk para penanggung jawab yang lain.

__ADS_1


" Baik pak..." Ar membaca sekilas kemudian dia menandatanganinya "... pak, apakah kami bisa langsung menggunakannya?" tanya Ar lagi.


" Ya, kalian sudah mendapat ijin bahkan sampai kepala Yayasan ikut turun tangan..."


" Baik pak, terima kasih..."


Keduanya pamit pergi. Cris hanya diam saja. Pak Frengky adalah guru yang sering memarahinya jadi ia cukup takut dan hanya diam saja di ruangan tadi.


Di depan Ruang Kesenian Lama.


Mereka semua menunggu kedatangan Ar dan Cris, hingga akhirnya mereka muncul dengan membawa beberapa sapu, alat pel, kemoceng dan alat-alat bebersih lainnya.


" Ayo mulai bersih-bersihnya..." ucap Ar saat membuka pintu ruangan tersebut.


Ruangan tersebut dipenuhi banyak debu. Ar membagi alat-alat kebersihan pada semuanya masing-masing 1.


"KAu hanya membagikannya pada kami..." protes Cris saat melihat tak ada kemoceng atau sapu di tangan Ar.


" Yah, aku tak bis..."


" Kok gitu..." potong Cris sebelum Ar selesai berbicara.


"Ok baiklah..." kata Ar. Ia melihat semua memerhatikannya.


Beberapa orang yang tinggi mulai membersihkan langit-langit ruangan. Diikuti dengan memerapa lainnya yang memegang kemoceng yang membersihkan meja dan kursi, kemudian dilap menggunakan kain agar tak berdebu.


Tak ada yang memerhatikan tapi Ar sedang kesulitan.


"Bisakah kita istirahat sebentar..." kata Ar menghentikan pergerakan mereka semua.


" Ini belum 15 menit kita bekerja, bukannya kamu yang sejak pagi berkoar-koar bahwa semua harus bekerja..." tutur Cris.


" Betul Ian, karena kita kerjanya bersamaan jadi ini tak akan memakan waktu yang lama..." Sambung Reno.


Mereka kemudian melanjutkan bebersihnya....


" Kak Angel... kakak bisa bantu aku keluar...." kata Ar, dadanya sudah sangat sesak karena banyak debu beterbangan.


" Kamu kenapa?" Tanya Angel, karena ruangan yang kecil dan suaranya yang cukup besar menghentikan.


" Aku, ingin istirahat sebentar..." kata Ar.


" Hei ketua, kau mempekerjakan kami sedangkan kau ingin bersantai..." Cris terprofokasi lagi.


" Cris, kamu apa-apaan emosian gitu..." tegur Benny.


" Ya, dia, sejak pagi sindir-sindir aku jangan kabur trus eh pas kerja dia yang mau kabur..."


" Kamu gak apa-apa kan Yan?" tanya Betty.


Ar tak menjawab.


" Ayo kembali bekerja..." Ajak Alfin. Kemudian semuanya kembali lagi bersih-bersih.


"La, Slla, coba kau ian deh, dari tadi tingkahnya aneh..." Bisik Joana pada Priscilla.


" Masa?" Priscilla ikut menamati gerak gerik Ar. Rina dan Rani saat ini sedang bersama Ar membersihkn alat-alat musik.


Ar jatuh terduduk sambil memegang dadanya, Rani dan Rina kelihatan terkejut langsung berjongkok disamping Ar


" Asmaku...kambuh..." kata Ar dengan susah payah.


Bian yang paling dekat dengan ketiganya langsung menggendong Ar keluar. Mereka berdua diikuti yang lainnya.


Bian meletakan Ar di lantai di koridor mereka menyimpan tas mereka.


Ar, melonggarkan dasinya, dan menatur nafasnya mencoba untuk tetapo tenang. Ia sesekali memukul dadanya agar bisa bernafas dengan lancar.


" Tolong tasku..." kkata Ariana. Betty langsung mengambil tasnya. dan memberikannya pada Ar


Ar membuka tasnya diambilnya inhaler, " ...uhuk uhuk... tolong ... telepon kakak paus..." kata Ar sambil menyerahkan hanponenya dengan tangan gemetar.


Ia menggunakan inhalernya, mereka hanya diam melihat Ar, penyesalan di wajah mereka semua terutama pada wajah Cris. Coba mereka mengetahuinya... begitulah pikir mereka.

__ADS_1


" Halo, ini dengan kakak paus, tolong Ian asmanya kambuh, kami masih disekolah, bisakah kakak paus datang secepatnya..." kata Betty kemudian langsung menutup telepon. " Aku akan menunggu kakak paus di lobi depan...." kata Betty lagi


" Kami Ikut..." kata Rani dan Rina bersamaan.


Mereka pun pergi.


Ar mencoba untuk tidak panik sedangkan yang lainnya no coment. Mereka hanya mematung saja, hanya Bian yang membantu Ar duduk dengan tegak saat menggunakan inhaler.


" Masih sesak?" Tanya Bian sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


Ar mengangguk "...sudah 4 menit, gunakan lagi..." kata Bian. Ar menurut.


Bian punya Adik perempuan yang sama mempuyai asma meski jarang kambuh.


Ar selesai mengenakan inhaler, Bian membuat Ar duduk sambil bersandar pada tas dengan nyaman.


" Apakah sering kambuh?" tanya Bian, ia mencoba untuk membuat Ar tidak panik. Ar mengangguk.


" Biasanya apa pemicunya?" tanya Bian lagi.


" Asap rokok, bulu kucing dan unggas, debu dan beberapa lagi..."


" Seberapa sensitif hidungmu?" tanya Bian.


" Lumayan, tau kak makan seafood tadi malam tapi kakak lebih banyak makan lobster, tadi pagi kakak maan roti tawar dengan selai kacang dan coklat...." kata Ar. Bian Cukup terkejut.


" Sangat sensitif, jadi masih merasa sesak?" tanya Bian lagi.


" Tidak seperti tadi..."


" Dek, dek, kamu baik-baik saja?" Satrio datang dengan terengah langsung berjongkok didepan Ar. Ia masih berjas putih, sendal lab.


" Ya, aku baik-baik saja..."


" Kakak periksa sebentar ya?" tanya Satrio meminta persetujuan. Ar mengangguk.


Satrio mengambil stetoskop, diletakannya di tengah atas dada Ar, "...Dek, cobalah bernafas perlahan..." minta Satrio.


Ar mengikuti. " Apa saat bernafas kamu masih merasa sesak?" tanya Satrio. Ar menggeleng.


" Tadi kamu pusing tidak?" Kali ini Ar mengangguk. " Sekarang?"


" Masih..." jawab Ar.


" Dimana kotak obat yang kakak berikan?' tanya Satrio dan Ar memberikan.


Sartio membuka tas tersebut, ia mengenali obat-obatan itu karena ia yang mengganti semua obat-obat milik Ar. "Kau membawa air?" tanya Satrio. Ar menangguk. " Nah teguk ini..." Satrio memberikan satu pil berwarna putih.


Ariana menurut. " Kau tidak tidur?" tanya Satrio, ia langsung tau saat melihat wajah Ar.


" Hanya malam ini..."


" Kan sudah kubilang cobalah untuk tidur...


" ehm, maaf tapi apakah anda dokter pribadi Ian?" tanya Bian mewakili yang lain.


" Tidak, saya pacarnya teman kalian ini..." tutur Satrio. Ar yang sedang meneguk airpun tersedak. " Minum airnya pelan-pelan dek..."


" Uhuk... kakak jangan sembarang ya, kami hanya teman saja kok..."


" Ian, kamu sudah tak apa-apa?" tanya Angel.


" Ya, maaf membuat kalian kawatir..." kata Ar.


" Tak apa-apa..." Alfin


" Maaf..." Oh, akhirnya Cris bersuara lagi.


" Tidak, aku yang salah karena tak bilang pada kalian.


" Bebersihnya ditunda saja dulu ayo kita pulang..." Ajak Reno.


" Kakak mau kemana?" tanya Ar pada Satrio.

__ADS_1


" Kembali ke kelas, kau lihat pakaianku, aku sedang praktek di labiratorium tapi sesorang menelpon dengan handponemu dan memanggilku kakak paus..." kata Satrio. Betty memerah.


Mereka akhirnya bubar...


__ADS_2