
" Kamu ngusul minggu depan kan? Papa sama Ar nunggu ya, ingat ijinin Ar nanti..." nasehat Hendri pada Indah.
" Iya, papa sama Ar ingat makan ya, kalian paling bandel kalau disuruh makan, jangan ngerepotin Jessica, dan Bruno..." nasihat Indah balik.
Setelah mendengar panggilan dari pesawat yang mereka tumpangi, mereka akhirnya pergi. " Aku titip papa sama adik aku ke kalian..." kata Indah pada Jessica dan Bruno. Bruno adalah sekertaris utama, Jessica adalah salah satu dari ketiga staf sekertaris yang beruntung dipilih oleh Ar.
Hendri sendiri memang ingin mencarikan Ar sekertaris sekaligus orang akan membantu Ar nanti karena Ar akan memulai debutnya didunia bisnis yang ia yakini dalam waktu dekat.
***
Perjalanan satu setengah jam memang memakan waktu, namun tak dipusingkan oleh Ar. Ia hanya merasa bahwa bandara serta kota yang kini ia pijaki memiliki banya sekali suara yang tidak enak dipendengaran alias bising.
Mereka mengistirahatkan tubuhnya di sebuah hotel dekat bandara internasional tersebut. Keberangkatan mereka masih sekitar 3-4 jam lagi sehingga mereka memilih untuk beristirahat.
Ar tiduran di kasurnya sambil maraton sebuah anime, tentu semuanya selalu berada dalam perhatian Jessica. Jessica kini dibayar lebih untuk menjadi sekertaris pribadi Ar.
" Kamu gak mau membicarakan seauatu dengan saya?" tanya Ar, sikapnya sangan berbeda dari biasanya.
Jessica yang mendengarkan itu kemudian duduk tegap di salah satu sisi kasur sambil menatap Ar dengan tatapan sinis atau seperti tidak terima menjadi sekertaris pribadi dari seorang bocah yang sedang berguling-guling didepannya. "Maksud nona muda apa?" tanya Jessica sengaja.
" Kau tak bodoh kan?" tanya balik Ar.
" Baiklah, saya memang tidak mau menjadi sekertaris pribadi anda tetapi saya tidak bisa mengajukan protes karena saya juga ingin keliling Eropa..." jawab Jessica santai, ia tak tau bahwa Ar sedang merekam pembicaraannya.
" Ok kalau kamu memang tidak mau jadi sekertaris pribadi saya, saya tak masalah..." ucap Ar.
Jessica tersenyum seakan mengartikan bahwa Ar membiarkannya melalaikan tugas untuk menjadi sekertaris bocil didepannya ini.
" Tapi saya tidak sebodoh itu untuk membiarkanmu numpang libur gratis..." ucap Ar. Disaat yang bersamaan suara ketukan pintu kamar terdengar.
Jessica membuka pintu tersebut, ia mendapati Bruno, sekertaris utama dan Hendri, bos besarnya berdiri didepan pintu kamar mereka.
" Silahkan masuk pak..." ujar Jessica mempersilahkan mereka masuk.
Keduanya duduk di sofa ruang tamu hotel. Hotel bintang 5 yang memiliki fasilitas mewah tentu saja dijadikan Hendri sebagai tempat periatirahatannya.
" Kembali kau ke Surabaya, kau pikir perjalanan bisnis ini main-main, orang yang kau layani saat ini adalah orang yang akan berperan besar dalam perjalanan bisnis kali ini, jabatanmu diturunkan menjadi staf magang di bidang keuangan..." kata Bruno tegas.
__ADS_1
Bruno sangat kenal dengan majikan yang dilayaninya itu, bosnya saat ini adalah bos dari ayahnya, ia tau bagaimana karakteristik dari bosnya karena selama ia tumbuh, ia dididik untuk menjadi pengganti ayahnya melayani orang yang membuat nama keluarganya dikenal ini.
" Loh kok gitu pak, lagian apa perannya anak ini dalam perjalanan bisnis kali ini. Bukannya ia hanya menumpang ikut liburan?" protes Jessica.
" Kamu saya pecat..." kata Hendri yang membuka suara. Tak mau anak kesayangannya dikatai numpang padahal bergelimang harta.
Ingin sekali Jessica memprotes namun wajah dingin sang bos dan sekertaris utama membuatnya mengurungkan niatnya itu. Ia menarik koper besar serta tas ransel dan menyematkan tas samping ke lengan kanannya dan meninggalkan hotel tersebut.
***
Hiruk pikuk perusahaan berlantai 8 ini. Mendengar bahwa bos besar pemilik kantor datang membuat mereka yang awalnya bersiap pulang berbaris rapih di lobby kantor ingin menyambut direktur utama tersebut.
Sebuah mobil asing berhenti didepan kantor membuat mereka menegang, karena tau bahwa bos besar mereka adalah seorang paruh bayah yang terkenal dwngan sifatnya yang dingin dan kejam.
Seorang sopir mobil asing tersebut membawa boks makanan memasuki lobby kantor membuat mereka menatap heran dirinya.
" Mau cari siapa?" tanya Security pada orang tersebut.
" Ada pesanan makanan ke alamat kantor ini atas nama Ardian..."
" Tapi nama pemesan tadi Ardian dengan alamat ini dan sudah dibayar juga..."
" Baik jika anda terus bersikeras, saya akan menyimpannya, jika anda balik dan mengambil lagi karena salah alamat saya akan memakan isinya tepat didepan anda..." kata seseorang disamping security.
" Saya yang memesannya, mana makanan saya..." kata Ar yang muncul membuat mereka terperanjat dwngan gadis manis berkacamata tersebut.
" Dek, kesini nyari siapa?" tanya security tersebut. Ar yang merasa semua pandangan tertuju padanya membuatnya sesikit ragu sehingga memundurkan tubuhnya dan menubruk seseorang.
" Kenapa sayang?" suara Hendri yang tegas terdengar dari samping Ar. Ternyata Ar menabrak Bruno.
" Selamat sore pak..." sapa semua pegawai serempak.
" Anda baik-baik saja nona?" tanya Bruno dari belakang Ar.
" Ya, kak bisa tolong ambilkan makanan Ar..." tunjuknya pada boks yang dipegang security.
Bruno menurut, diambilnya boks makanan tersebut dan Hendri menerima, Hendri memegang tangan Ar dan mengajaknya duduk disofa lobby. Pergerakan keduanya terus ditontoni semua kariyawan yang ada di situ.
__ADS_1
" Jadi kedatangan pak Hendri keaini adalah untuk mencari seorang sekertaris. Seorang wanita dengan minimal bisa berbahasa Inggris, dan 2 bahasa asing lainnya selain bahasa Melayu dan bahasa Indonesia..." kata Bruno.
Ar menikmati suapan demi suapan kue-kue cemilan yang tadi ia pesan meski yang dirasa hanya tawar dan hambar. Ia makan bersama Hendri. Ia memandan Bruno yang sedan berbicara dengan kelima perwmpuan dengan umur yang berbeda-beda. Ar menghampiri.
" Apa salah satu dari mereka akan menjadi sekertarisku?" tanya Ar.
" Iya nona, hanya kelima orang ini yang menguasai 3 bahasa asing seperti ketentuan dari pak Hendri..."
" Tidak, biar Ar pilih sendiri..." kata Ar. Ia kemudian berjalan melewati kelima pegawai perempuan yang telah diseleksi Bruno.
Ar berjalan pelan saat melewati pegawai perempuan, Ar bukan sekedar berjalan namun ia mengamati mereka.
" Kakak bisa bahasa Inggris?" tanya Ar, ia berhenti didepan seorang gadis terlihat masih muda dengan tinggi yang tidak bisa dibilang tinggi.
"..." tak ada sahutan.
" Kak Ema Scott, kakak blasteran? Kakak bisa bahasa Inggris? Ar bertanya pada kakak..." kata Ar. Tingkahnya itu tak luput dari landangan semua orang yang berada di sana.
" I, iya nona, saya bisa berbahasa Inggris dan sedikit berbahasa Jepang, salah satu orang tua saya memang orang asing tapi mereka bercerai dan saya lahir besar di Indonesia..."
" Papi, Ar pilih kakak ini ya..." kata Ar dangan sedikit keras karena Hendri masih duduk disofa.
" Terserah kamu tanyakan pada Bruno..." ujar Hendri.
" Kak, aku pilih dia..." kata Ar, ia menarik Ema dan membawanya pada Bruno.
" Tapi nona, Ema ini anak kuliah yang hanya magang di perusahaan, nona tidak bisa memilihnya..."
" Apa kak Ema sudah punya tempat untuk bekerja setelah lulus nanti?" tanya Ar mengabaikan Bruno.
" Be, belum nona, tetapi saya dipanggil kembali oleh kampus untuk menjadi dosen disana..." jawab Ema.
" Gak usah, kakak mulai hari ini jadi sekertaris pribadi Ar, sekarang kakak pulang, beresin pakaian kakak kita mau perjalanan bisnis..." jelas Ar. " Kak, masih da waktu berapa lama sebwlum kita berangkat?" tanya Ar pada Bruno.
Bruno menghela nafas. Ia kenal dengan bocah didepannya itu. Selalu seenaknya namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena dengan sikap seenaknya saja itulah yang membuatnya mendapatkan banyak keuntungan. " Masih 2 jam lebih nona?"
" Kakak bisa siap-siap 1 jam lebih dan kita akan bertemu di hotel nanti..." kata Ar pada Ema.
__ADS_1