Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
No Name


__ADS_3

Selesai sarapan, Ar berencana ingin berkencan dengan ketiga baby-nya kerumah papi. Tentu saudara serta keponakannya cemburu tapi dengan tegas Ar menolak karena sudah lama ia menelantarkan anak-anaknya.


Mobil miliknya dikendarai oleh Gabby, dengan Jacob disamping kemudi serta Ar baby's duduk di kursi kedua. Jacob dan Gabby sudah menjadi dekat dengan Ar, keduanya mulai mengetahui kebiasaan kecil Ar seperti risih melihat sampah, berbinar melihat anjing atau buku, malas melihat makanan, memiliki rasa ingin tau yang besar, mudah menyimak dan mempraktekan kembali.


Meski beberapa hal mereka tak melihat secara langsung alias menanyakan pada Anisha atau Anin yang dari dulu telah bekerja terlebih dahulu.


Ah ada satu hal yang mereka sangat tau itu adalah, Ar tak pernah melepas earpone bluetooth alias earpone tanpa tali dari telinganya, kecuali saat dirumah.


Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke rumah mewah milik seorang Hendri Pranata. Dengan gemasnya ia berlari kecil masuk kedalam dengan trio baby's dalam dekapannya, ia bahkan melupakan macbook, i-pad, iphone damal ranselnya.


" Papi mana?" tanya Ar pada pelayan yang membukakan pintu untuknya.


" Tuan besar sedang berada di kolam renang di halaman belakang nona..." jawab si pelayan sopan.


" Makasih mbak..." balas Ar. Ya, Ar memang sopan, ia akan memanggil pelayang dengan panggilan mbak jika mereka sudah berumur setara dengan kakak perempuannya atau panggilan kakak jika setara dengan dirinya atau sekitar berumur belasan tahun akhir.


Ar menuju ke tempat papinya berada. Ia bisa melihat papinya sedang berenang disana. Papi satu itu sangat awet muda, harusnya pria dengan usia 59 tahun tak akan seperti papinya. Meski tak berotot keras, papinya memiliki tubuh yang pas, sangat pas menyandang gelar sugar daddy, tapi papinya itu tak ada pemikiran sedikitpun untuk menikah.


Pria dengan body pas, perut yang tidak kotak tetapi memiliki tekstur yang hampir mendekati, tak seperti pria tua diluar sana yang saat diusia seperti ini pasti memiliki perut buncit seperti ibu hamil yang ingin melahirkan.


Ar bersyukur sekali, meski tak mendapat kasih sayang dari orang yang ia tau adalah ayahnya, ia masih menemukan sosok ayah dalam diri papi yang menganggapnya anak bungsu tersayang.


Semenjak ia tinggal dengan Harna dan Herman, tak ada sedikitpun bentakan yang ia terima atau suara dingin yang menusuk telinga saat berbicara kepadanya. Indah dan Herman sendiri tak cemburu sedikitpun karena tau bahwa papa mereka juga ingin seorang anak yang bisa bermanja-manja namun keduanya yang sejak kecil fokus pada study tak menyadari keinginan papa mereka itu. Mereka menyadari disaat mereka sudah terlalu tua untuk bermanja-manja.


Kata Indah, keluarga Harna membuang membuang sesuatu yang sangat berharga, kalau tak dipungut segera maka akan jatuh ketangan orang. Benar saja, Indah menjadi satu-satu orang selain papa alias Hendri yang mengetahui kejeniusan Ar, meski ia tak tau tentang Ar memiliki penghasilan, sebagai kepala sekolah ia bisa melihat nilai Ar yang sempurna namun Ar sengaja membuat kesalahan karena tak mau menonjol.


Ah, perlu diingat bahwa Ar meraih juara 1 umum angkatan mereka dengan nilai rata-rata 95,5 di ujian akhir semester mengalahkan angkatan-angkatan sebelumnya yang hanya memiliki rata-rata 89,0. Bukankah itu luar biasa, begitulah pikir Indah.


Saat duduk dipinggiran kolam sambil menikmati musik teleponnya berdering, tertera nama Nicolas Flantea.


" Halo om..."


" Baby jangan membuat kekacauan, Daddy pusing baby..." gerut Nicolas dari sebelah. Setelah perpisahan mereka, Marry meminta Ar memanggil ia Mommy dan Nicolas dengan sebuta Daddy.


" Daddy tau dari mana itu aku yang buat rusuh?" tanya Ar pura-pura.


" Daddy tau kamu itu Triple A baby, jadi apa yang kamu inginkan dari mereka hmm?" Tanya Nicolas dari seberang.

__ADS_1


" Mereka sudah mengirimkan hadiahnya pada daddy, Ar tau daddy akan membawanya esok malam, papi buat pesta akhir tahun..."


" Daddy sudah pulang sayang, mommy sendiri di Spayol, kamu gak kasihan daddy tinggalin mommy terus?"


" Daddy gak bisa berbohong pada Ar, Ar dengar suara mommy, pasti mommy ada di balkon hotel, dari jakarta ke sini tak sampai 2 jam loh kalau dengan pesawat..."


" ..." Sial, dari mana anak itu tau kalau aku masih dijakarta. Batin Nicolas berbicara.


" Loh kok daddy diam, Ar udah tau kok, mommy sendiri yang bilang pas pisah kemarin kalau nanti kita akan bertemu secepatnya, daddy gak bisa bohongi Ar semudah itu..." kata Ar lagi.


" Ck, baiklah kau menang saja, jadi kamu mau hadiah apa?"


" Hadiahkan gak perlu ditanya, daddy tebak aja Ar mau apa, udah dulu ya dad, papi udah selesai renang, Ar mau main sama papi dulu mungkin papi mau bagi Ar saham..."


"Ahahaaha, baiklah baby, sampai jumpa..."


" Ingat ini secret ya, selain daddy dan papi, Ar tak beritau kakak-kakak Ar, see you..."


Kemudian panggilan terputus.


" Daddy marahi Ar..." jawab Ar memelas.


" Awas aja si Nicolak bangsat itu, sudah ya sayang, nanti papi marahin dia kalau dia datang besok..." kata Hendri sambil mengelus kepala Ar. Kepala kecil Ar dapat masuk semua kedalam telapak tangan besar milik Hendri.


" Iya pi, papi sana mandi trus ganti, nanti masuk angin, Ar gak mau papi sakit, trus kita jalan-jalan ya, Ar mau beli mainan buat trio, trus kayaknya ada novel baru yang terbit selama Ar libur jadi Ar mau beli..." ceplos Ar. Hanya dengan Hendri ia akan cerewet.


" Uhh, perhatian sekali anak papi, papi tinggal bentar ya, ditunggu ya..."


Dijawab anggukan Hendri kemudian meleset pergi kekamarnya dan Ar masuk kedalam rumah.


" Kak, Ar mau keluar sama papi jadi kak Jack sama kak El tolong jagain trio ya..." minta Ar. Jack adalah Jacob sedangkan El adalah Gabby yang diambil dari nama Gabriel. Kata Ar nama mereka kepanjangan.


" Perlu kita temani nona?" tanya Jacob.


" Gak usah kak, kan sama papi, oh iya kak, nanti kalau Ar belum pulang jam 10 kasih mereka susu, jam 12 kasih mereka makan, jam 3 kasih susu lagi, jam 5 kasih mereka makan, nanti Ar telepon ya..."


Dan mereka terus mengobrol, Ar memang frendly dengan orang-orang Hendri, ia sangat ramah dengan pelayan dan bodyguard dirumah ini, merekapun menyukai Ar, selama ini rumah mewah ini seperti kuburan atau hanya dijadikan tempat singgah Herman, Indah, dan Hendri, namun setelah Ar datang, rumah ini menghangat dengan teriakan Ar pada kucing nyasar yang setiap hari datang mengobrak-abrik taman belakang.

__ADS_1


***


Ar dan Hendri bermain ditaman bermain yang jauh dari keramaian. Kenapa jauh dari keramaian? Karena saran dari Fanessa selagu psikolog yang menangani Ar berkata bahwa Ar sensitif terhadap suara dan memang saat di cek keseluruhan kesehatan Ar salah satu penyebab insomnia yang ia alami karena kebisingan akibat sensitif terhadap suara.


Ar bersenang-senang. Ia memotret banyak hal, mulai dari anak-anak yang berkejaran, awan dilangit biru, ada juga bunga de dekat kursi taman.


Memotret bukan satu-satunya hal yang Ar lakukan di taman. Ia juga menggambar seorang gadis yang bermain gitar di teras rumah yang tak jauh dari taman tersebut.



Saat jam makan siang barulah Hendri mengajaknya pulang. Sebelum pulang Ar menyempatkan diri memberikan gambarnya pada gadis yang sekitar anak SMA an begitu gambarnya.


" Gambarnya gak terlalu bagus kak, tadi kakak baliknya kesana jadi gak kelihatan wajahnya..." jelas Ar.


" Aduh adek gemes, makasih, kakak belum pernah mendapat gambar yang seperti ini, ini akan kakak pajang, ini hadiah ulang tahun paling kakak suka, buatan tangan sendiri, original..." ceplos gadis itu.


" Kakak ulang tahun?" tanya Ar.


" Besok dek..."


" kakak tinggal sendiri?"


" Iya dek, kakak orang rantauan, ini apartemen kakak..."


" Kakak gak libur?"


" Gak dek, orang tua kakak sama abang-abangnya kakak sibuk semua..." jawab gadis itu, ia berusaha tetap ceria.


" Papi, bisa ajak kak Ica ke pesta akhir tahun besok?" tanya Ar pada Hendri yang tak jauh dari situ.


" Boleh Bunny..."


" Kakak datang ya, bilang aja kakak temennya Ar merwka langsung ijinin kakak masuk, dadah kakak Ica..."


" Oke Iana, dadah..."


Selesai pamit pada Felisia, yang baru ia temui, akhirnya mereka pulang, namun mampir ke resto untuk makan dulu...

__ADS_1


__ADS_2