Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Ultah Win


__ADS_3

Ar merasa lebih baik. Ia bangun dari tidurnya, merenggangkan tubuhnya yang kaku. Pukul 6 pagi.


" Kak, kakak..." panggil Ar mengguncang tubuh sang kakak agar tersadar dari alam mimpi.


Harna bangun... " Udah agak enakan?" tanya Harna melihat Ar sangat antusias.


" Udah bisa lari-lari sekarang kak..." jawab Ar.


" Ayo, kakak bantu kekamar mandi, kakak mau kebawah sekarang..."


Ar menurut, Harna memegang botol infus agar tetap tinggi dan mengalir ke nadi Ar. Ar pipis, dan kemudian mencuci muka, karena infusnya, Harna membantu mencuci muka. Tangan kanannya yang diinfus jadi tangan kirinya menerima botol infus dari Harna, Ar mencondongkan wajahnya ke westafel, Harna membantu membasuh wajah Ar, mengaplikasikan sabun wajah, dan membasuhnya lagi.


Mereka kembali ke kasur. Sebelum meninggalkan Ar, Harna mengatur bantal agar Ar duduk dengan nyaman. Diambil I-pad milik Ar, mendekatkan laptop, mengambil beberapa buku, handpone, 1 earpone, dan 1 haedpone di sisi ia tidur tadi agar Ar tak perlu bangun untuk mengambil yang ia perlukan.


" Makasih kak..."


" Iya, kakak tinggal dulu ya..."


" Kak, kakak gak bilang sama yang lain kan kalau Ar..."


" Gak, kamu gak usah pikirin itu, pikirin gimana kamu bisa cepat sembuh, papanya kak Herman siang nanti..."


" Iya kak..."


" Kakak ke bawah dulu ya..." kata Harna, kali ini di jawab anggukan.


Sepeninggalan Harna, Ar mengecek handpone yang tak ia sentuh selama 2 hari penuh terlebih dahulu. Dibukanya aplikasi obrolan, ia cukup terkejut karena banyak sekali chat yang maauk ke kontaknya. Ia membaca chat grup kelas terlebih dahulu.


Membalas chat pribadi teman-teman yang mengkawatirkannya atau menanyakan kabarnya satu per satu.


Ingin ia menyimpan handpone dan mengambil i-padnya namun deringan handpon menghentikannya.


Tertera nama Mario, digesernya gambar telepon berwarna hijau.


" Halo..." sapa Ar.


" ah akhirnya diangkat juga, halo Yan, gimana keadaan kamu? Besok ke sekolah?" Tanya Mario dari seberang sana.


" Selamat pagi, aku memang baru pegang hp, udah baikan kok, tapi gak tau besok diijinin ke sekolah atau gak..." jawab Ar.


" hehehe paji juga Yan, kau tau..."


" Gak, aku gak tau..."


" Ya aku belom ngomong udah nyambar duluan..."


" Makanya ngmongnya jangan setengah-setengah..."


" Denger dulu makanya, aku bisa pinjamin rekaman pelajar buat kamu loh..."


" Trus?"


" Kamu gak minta?"


" Gak, aku bisa pinjam catatannya Jeisis kalau kamu gak pinjamin..." jawab Ar dengan kekehan.


Mario mengalihkan ke panggilan video.


" Cih, udah dibaikin malah..." Mario menggantung kata-katanya.


" Hahahaha..." tawa Ar keluar melihat wajah cemberut Mario.


" Dek, sehat?" tanya Harna yang sejak mengetuk tapi tak disahut akhirnya masuk saja dan mendapati adiknya sedang tertawa sendiri.


" Kakak pikir aku gila, enak aja..."


" Ya trus kamu tertawa sendiri..."


" Ahahaha, aduh, capek, bentar Yan gangan ke gitu mukanya, imut banget..." Ucap Mario sambil memegang perutnya.


" Oh sama temen, kirain tertawa sendiri..." kata Harna, ia menyiapkan meja kecil dan menarut di atas kaki Ar. Menata sarapan paginya.


" Pagi bu..."


" Iya, pagi..."


" KUTENDANG KALIAN KALAU JADI PACAR BIBI..." teriak Tristan dari arah sofa. Harna mendekat.


" Ar, pacar kamu mau dijadiin bola..." kata Harna sambil terkekeh.

__ADS_1


" Kok jadi takut ya deketin kamu..."


" Cih, mending kamu cerita apa kek, aku mau makan..."


" Dek, kakak tinggal dulu ya, kalau Itan bangun disuruh ke bawah aja..." dibalas anggukan.


Makanan Ar masih seperti kemarin, Harna kangsung menghaluskan kentangnya saat membawa kepada Ar untuk dimakan.


Saat Ar makan ia tak mual lagi, mungkin memang kentang cocok untuk perutnya. Mario bercerita tentang masa kecilnya bagaimana.


Selesai makan Ar langsung meneguk obat yang ditinggalkan kakaknya tadi. Tristan juga sudah pamit dan meninggalkan ia.


Mario tak berhenti bercerita sepeperti keinginan Ar, sekitar pukul 11 Harna, Herman, dokter Emelia dan Hendri papanya Herman masuk ke kamar Ar.


" Anak papi kenapa bisah sakit gini, siapa yang buat kamu sakit bunny biar papi hancurkan keluarganya..." ucap papa Herman.


Papi? Sejak kapan papa menjadi papi?


Memang sejak pertemuan selesai UTS, keduanya menjadi lebih dekat lebih dekat dari pada dengan kedua anaknya.


Ar melepas handpone " Papi udah datang, Ar baik-baik aja kok, Ar hanya demam, hukan-hujanan kamis kemarin sama Itan, bukannya papi datang agak sorean?" tanya Ar.


" Rencananya sih gitu, tapi kemarin Harna bilang kamu sakit jadi papi langsung kesini pas balik dari Amerika..." jelas si papi.


" Wih papi gak bilang kalau tugas di luar, oleh-olehnya mana pi?" tanya Ar sambul menyodongkan tangannya seperti meminta.


" Ada tapi ambil sendiri di rumah..." kata si papi.


" Cih papi mah, Ar itu dilarang keluar kamar sama bu Harna, apalagi keluar rumah, papi mau aku diikat?" kata Ar yang dibuat sedramatis mungkin.


" Ikat aja Har kalau ngelawan, makanya kalau gak mau diikat jangan hujan hujanan..." balas papi dengan suara mengejek.


Ketiga orang dewasa dibelakang mereka dirasa batu. Memang kalau Ar dan papanya Herman bertemu atau bercerita dunia serasa milik berdua.


" Ehem pa, Arnya mau diperiksa..." singgung Herman karena keduanya terlalu asik sendiri.


" Ganggu aja orang pacaran..." canda si papa.


" Papa mau jadi pedofil, temennya kakek sugiono..." kata Herman lagi.


" Sembarangan..." plak, Hendri menggeplak lengan Herman dengan kencang saat bangun dari duduknya membiarkan Emelia duduk untuk memeriksa kondisi pasiennya.


" Pusing?" Ar mengangguk. " Masih merasa kedinginan?" Ar menggeleng.


Kemudian Emelia bangun dari duduknya. " Untungnya bakteri Salmonella thyphi belum menyebar dan nona cepat ditangani, jika terlambat penyakit tipes nona bisa mengundang banyak penyakit lain masuk dan bisa kompikasi dan mungkin lebih parah lagi..." kata Emelia sambil melepas infus ditangan Ar.


" Apa sekarang bunny sudah sembuh?" tanya Hendri, si papi.


" Unruk sembuh totalnya belum bisa dipastikan, saya sarankan untuk nona tak boleh terlalu capek, pola makannya harus terjaga, jangan menunda waktu minum obat dan istirahat yang cukup..." saran Emelia.


" Ar boleh keluar kamar?" tanya Ar, dia sepertinya sudah bosan terus dikasur.


" Tentu saja, tak ada yang melarang nona bergerak..." jawab Emelia.


" Tuh kak..." Ar cemberut melihat Harna menahan tawa, Harna memang menipunya sejak malam tadi kalau ia dilarang Emelia untuk keluar kamar.


Mereka semua pergi.


" Yan kamu tipes?" Suara Mario terdengar lagi. Ar sedikit terkejut, bodohnya dia yang tak menutup panggilan tadi.


" Eng, aku gak tau cara bohong tapi tolong jangan kasih tau teman lain..." minta Ar.


" Gak, aku janji, tapi dengerin kata dokter ya, aku tutup dulu..."


" Iya..."


***


Selesai mandi dan mengganti piyama dengan baju santai, Ar turun ke bawah.


Ia melihat mereka semua sedang duduk dimeja makan, memang sekarang jam makan siang. Ia mengambil tempat kosong disamping Tristan dan mendaratkan bokongnya di kursi.


Mbak Anin yang melihat kehadirannya itu membawa sup yang memang dimasak khusus untuk dirinya.


Tristan yang melihat itu mengesampingkan makanannya dan membantu menyiapkan makanan Ar. Niatnya ingin menyuapi Ar karena pagi tadi ia bangun terlambat sehingga tak melihat bibi tercintanya makan tapi Ar menolak.


Kemudian meja makan kembali hening.


Selesai makan semuanya bubar meninggalkan Harna yang dibantu mbak Anin dan Anisa membereskan meja. Niatnya Fitri dan Ar ingin membantu tapi dilarang keras oleh pada orang dewasa dengan alasan Fitri sedang hamil muda tak boleh capek dan Ar belum sembuh total sehingga keduanya hanya duduk mengamati pergerakan ketiganya.

__ADS_1


Harna meninggalkan Anisa dan mbak Anin karena barang kotornya telah dibersihkan. Ia mengajak Ar dan Fitri bergabung dengan yang lain diruang tengah.


Diruang tengah mereka semua sibuk dengan handpone, atau membahas bisnis dan kelima bocil sedang asik bercerita tentang teman teman mereka yang akan datang nanti.


Ar tau bahwa kedua kakak laki-lakinya sedang kesal dengan dirinya karena ia mengusir mereka dari kamarnya.


Ia berjalan mendekati Ronald terlebih dahulu karena bagi dirinya membujuk Ronald adalah hal yang cukup mudah. Ronal sedang memainkan handponenya.


" Kak..." Panggil Ar.


" Apa..." jawab Ronald ketus. Fokusnya tetap pada handpone.


" Kakak marahin Ar?" tanya Ar dengan suara pelan.


" Emang kamu punya salah sama kakak?" tanya balik Ronald. Ia masih tak memalingkan wajahnya dari benda pipih ditangannya itu.


" Gak tau, tapi kakak layaknya marah sama Ar..."


" Gak, cuma perasaan kamu aja..."


" Oh gitu ya..." kata Ar lagi, ia akhirnya beranjak dari situ namun ia sempat mendengar gumaman Ronald 'Cih, udah tau lagi marah masih ditanya lagi...'


Kali ini ia mendekati Rian yang juga fokus pada handpone miliknya.


" Kak..." Panggil Ar, yang dipanggil tak ada sahutan. " Kak Rian..." panggil Ar lagi.


" Apaan..."


" Kakak marahin Ar? Kok ngomongnya gitu ke Ar?"


" Gak, kakak lagi sibuk..." jawab Rian tanpa menoleh pada Ar.


Oke, Ar mengalah, ia memang salah karena mengusir mereka dari kamarnya, tapi mereka akan sangat kawatir dan menganggapnya seperti gelas retak yang akan pecah kapan saja jika tau bahwa dia bukan demam biasa. Punya kakak posesif memang harus pandai berbohong bukan pandai menyembunyikan fakta.


Ar menjauh, ia mengambil tempat paling pojok dan paling jauh dari keduanya. Ia cukup sakit hati dwngan keduanya yang mengabaikan dirinya. Tapi dia tak mau egois karena dirinya bukanlah satu-satunya prioritas mereka.


Rian dan Ronald terus memandangi Ar setelah ar beranjak dari mereka. Memperhatikan Ar yang memakai earpone, memperhatikan Ar yang bersenandung sendirian, dan memperhatikan jari mungil Ar yang mengetuk udara seperti memainkan piano tak terlihat.


Ar mulai mengantuk, ia bangun dari duduknya.


" Kemana dek?" tanya Harna, ia mendahului yang lain bertanya.


" Ngantuk kak, Ar keatas ya..."


" Ingat diminum obatnya..." peringatan Herman.


" Iya..." balas Ar malas.


Ar peegi meninggalkan ruangan tengah tersebut. Setelah mendengar pintu Ar tertutup bunyi plak terdwngar di dua punggung yang berbeda. Punggung Rian dan Ronald digeplak bersamaan oleh Harna dengan kedua tangannya.


" Kalau Ar kondisi Ar drop, jangan salahkanku jika kalian tak bisa melihat Ar lagi..." kata Harna Emosi. Ar yang menghampiri keduanya secara berturut mengalihkan perhatiannya yang sedang duduk diantara keduanya. Andi dan Tristan membawa kelima bocil ketaman belakang agar menghindari hal yang terjadi selanjutnya.


" Tapi Ar ngusir kita dari kamarnya waktu kita jenguk dia..." Rian.


" Kan kita kesal, kita udah bela belain datang, masa gak bolehin dijenguk..." Ronald.


" Dia itu gak mau kalian kawarir..."


" Tapi gak dibolehin masuk bikin kami makin kawatir..." potong Rian.


" Cih, terserah kalian, kalau setelah ini kondisinya makin buruk, jangan pernah harap kakak ijinin kalian ketemu Ar lagi..." Harna pergi.


" Apa yang salah coba kawatirin orang..." protes Rian.


" Ar memang gak mau kalian kawatir sama dia, katanya kalian semua masih punya banyak keaibukan lain yang harus diprioritaskan selain dia..." kata Herman kemudian mengikuti istrinya.


***


Sore ini teman-teman Ar sudah berada diruang tengah bersama Lynden dan dua curut serta Reno dan Alfin. Selepas menjenguk Ar sore kemarin, mereka sepakat untuk datang lebih cepat dengan alasan kangen pada Ar.


Karena Ar belum bangun dari bobo cantiknya, maka Tristanlah yang menemani mereka, tidak bukan menemari tapi Tristan menipu merwka agar membantu menata halaman belakang karena pestanya akan berlangsung disana.


Picik sekali Tristan. Mereka harus menurut karena Tristan mengancam mereka jika tidak membantu, pesta tak akan jadi dan Ar tak akan keluar dari kamarnya. Dengan berat hati karena telah berdandan cantik malah dijadikan babu oleh Tristan, mereka tetap menurut.


Pukul setengah 7 mereka sudah berkumpul, dengan sedikit keringat. Makanan sudah baru disajikan, kue-kue dikeluarkan bersama dengan minuman.


Setelah semua tamu telah datang barulah Bintang utama bersama kakak-kakaknya datang dengan setelan jas. Win mengenakan jas putih sedangkan kakak-kakak lainnya mengenakan jas berwarna hitam dan navi.


Tak banyak, hanya teman dekat kelima bocil, sahabat orang tua mereka dan yang paling banya adalah teman sekelas Ar juga remaja kompels yang sering main bola bersama di lapangan dekat rumah.

__ADS_1


__ADS_2