
Dengan semangat Ar bangun dari tidurnya. Mencium gemas 3 baby dog tertidur pulas pada kasur kecil di samping ia tidur. Saat sakit mereka pindah kamar ke kamar lantai 1 dekat dapur.
" Uhh adek-adekku yang menggemaskan, aku merindukan kalian... Muah muah muah..." Ar kembali mencium mereka kemudian pergi ke kamar mandi.
Mandi selama setengah jam menyegarkannya, Ar keluar dengan handuk kimono melilit ditubuhnya. Ia melihat seragamnya telah disiapkan Anisa seperti biasa, namun luaran atasannya biasa dia pilih sendiri, dan hari ini ia memilih jaket hitam pudar tanpa vest.
Tak lama setelah ia berganti pakaian, Anisa datang dengan catokan dan sisir.
Sekitar 1 jam Anisa menata rambut Ar agar sesuai dengan keinginan nona didepannya itu.
Masih terlalu pagi untuk sarapan tapi karena tak sabar ingin ke sekolah ia turun ke bawah, menggendong tas dipunggung dan menggendong keranjang An, Ri, dan An didepannya.
" Nona, biar saya saja yang menggendong mereka saya?" tanya Anisa kawatir, pasalnya nona yang ada didepannya itu baru sembuh.
" Kakak tenang saja, Ar masih kuat untuk menggendong mereka keliling rumah..." jawab Ar sambil menuruni tangga.
" Selamat pagi nona..." Sapa Anin bersamaan dengan 2 koki tersebut saat melihat Ar masuk. Anin menatap tajam anaknya saat melihat nona mudanya menggendong sendiri baby dog.
" Mbak, tatapan mbak anin itu bisa motong daging loh, tajam banget..." canda Ar. Ia menurunkan keranjang tersebut dan membuarkan ketiga baby dog berkeliaran didapur.
" Maaf nona, habis Anisa tidak membantu nona memindahkan peliharaan nona, malah nona sendiri..." jelas Anin sedangkan kedua koki tersebut kembali pada pekerjaannya.
" Ar yang mau kok, oh ya mbak, Jacob sama Gabby udah makan belom mbak?" tanya Ar sambil melihat ke pintu belakang.
" Mereka masih dibelakang nona, saya kurang tau soal sarapan mereka nona, tapi nona tak perlu memikirkannya karena dirumah belakang ada dapur yang bisa mereka gunakan..." jelas Anin.
" Oh, mbak tolongin Ar ngambil susu mereka mbak..." minta Ar, ia tak sampai karena minggu lalu saat ingin merawat sendiri peliharaannya, Harna dan Herman, dan dwngan inisiatif sendiri Tristan memindahkan kaleng susu milik ketiga peliharaan ke rak paling atas lemari dapur.
__ADS_1
" Biar saya saja non, nona duduk saja..." minta Anisa sambil mengambil kaleng suau yang dimaksud nona mudanya itu.
" Ar saja, sudah lama mereka gak dirawat Ar langsung..." kata Ar mengambil alih kaleng susu tersebut.
Ar menekuni pekerjaannya dipagi hari ini. Memberi susu pada ketiga baby dog tidaklah susah bagi Ar. Mereka mengenali pemiliknya sehingga saat Ar mendekat, mereka tak lari, berbeda dengan kelima bocil penghuni rumah ini, meski jarak mereka masih 5 meter jauhnya, baby dog itu langsung kabur.
Tak lama, para penghuni rumah datang satu persatu ke ruang makan, Ar yang melihat sarapannya sudah siap kemudian melepaskan ketiga baby dog yang sedang bermain dengannya. Ditundukan badannya dan diciumnya kepala mereka satu persatu.
Ar yang mengambil tempat duduk paling terakhir dimeja makan.
" Bibi pergi sama mereka?" tanya Tristan. Mereka yang dia maksud adalah Jacob dan Gabby.
" Kamu?" Ar malah bertanya balik pada Tristan.
" Itan bisa bawa motor jika bibi dengan mereka..." kata Tristan.
" Kenapa bi?" tanya Tristan sedangkan Harna dan Herman mulai mengangkat kepalanya saat mendengar suara Ar terasa sedikit berbeda.
" Gak, gak apa-apa, tapi kamu gak apa-apa bibi sama mereka?" tanya Ar lagi.
" Gak cemburu?" goda Ar.
" Bu, buat apa cemburu, Itan lebih unggul dari mereka, bibi juga lebih sayang Itan dari mereka..." kata Tristan berani sedangkan Harna dan Herman hanya tersenyum melihat kesuanya.
Jika kalian bertanya dimana tentang kelima bocil, mereka sedang berebutan sosis goreng dipiring yang hanya tersisa dua potong saja.
" Iya deh, bibi terserah Itan aja..." kata Ar.
__ADS_1
" Itan dengan motor ya? Itan udah lama gak bawa motor..." kata Tristan.
" Ok, bibi sama Jacob sama Gabby aja..."
***
Mobil asing memasuki pekarangan sekolah saat bel tinggal 5 menit lagi.
Gabby dengan cepat turun dari mobil dan membuka pintu untu Ar. Meski tak terlalu suka dengan perlakuan Gabby padanya, Ar tak bisa menolak karena itu adalah pekerjaan mereka.
Dengan gayanya memang cuek pada orang tak dikenal. Mengenakan satu tali pada tasnya dan sebelah tangannya dimasukan kedalam saku jaket Ar berjalan ke sekolahnya setelah mengucapkan terima kasih kepada kedua bodyguardnya.
Seseorang merangkulnya saat ia naik ke tangga menuju kelasnya yang berada di lantai 4 gedung sekolah.
Ar menoleh, ternyata Veron yang merangkulnya sedangkan Daniel menarik pelan tasnya dan berjalan duluan sambil membawa tas milik Ar. Lynden yang berjalan disamping Ar hanya mengikuti.
" Kenapa dia? Datang bulan?" tanya Ar pada Lynden. Veron tertawa... Plak... " Jangan ditelinga orang, tuli aku Ron..." kata Ar sambil menutup telinganya yang tepat berada disebwlah mulut Veron.
" Maaf, yuk baby, a'a Eron antar baby mentari ke kelas..." ajak Veron lagi.
" Eror kamu..." kata Ar sambil tersenyum.
Sepanjang jalan, Ar mendapat tatapan kagum, terpeasona, dan banya tatapan yang tak bisa ia jelaskan satu persatu. Mungkin karena setelah dua minggu full ia tak masuk sekolah atau dia yang berjalan bersama most wanted.
Sampai dikelas mereka semua terkejut dan senang dengan kedatangan Ar. Merwka merindukan Ar dengan seragam yang dipadukan dengan luaran yang terlihat modis dan fashionable.
__ADS_1
Masih bercerita karena mereka bebas di jam pertama, gurunya sedang sakit dan tak masuk juga tak meninggalkan tugas