Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Kebetulan kah?


__ADS_3

Makan dulu ya..." ajak Lynden saat mereka sampai di parkiran. Tinggal mereka bertiga karena yang lain telah pulang duluan.


" Bi, kita makan dulu atau gimana?" tanya Tristan pada Ar.


" Bibi ngikut aja..."


Dan mereka menuju sebuah restoran yang cukup mewah. Restoran terasa bising karena mereka masih menggunakan seragam karena restoran ini lebih dikenal sebagai tempat pertemuan bisnis sedangkan ada anak SMA yang jarang datang ke sini.


Ar memang menggunakan headpone, tapi ia tetap merasakan tatapan dari segala penjuru restoran tersebut. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada lengan besar Tristan.


Tristan yang menyadari itu langsung menutup kepala Ar dengan topi hoddie yang sedan bergelantungan bebas di punggung.


Lynden memesan privat room, ia memang tak menyukai kebisingan ditambah ia melihat Ian yang terlihat tak nyaman.


Mereka memesan makanan, dan makan. Berbincang bincang disela suapan makanan mereka ke dalam perut oleh Tristan dan Lynden sedangkan Ar fokus memakan meski tak bisa mengecapi rasanya.


Tak lama mereka berdua selesai makan, menyisakan Ar yang makanannya tak kuran seperempat pun.


" Bi, gak makan?" tanya Tristan.


" Nih udah makan tapi kayanya gak bisa habis..." jawab Ar.


" Itan suapin?"


" Gak usah, Itan bantu makan aja..." Dan Tristan makan semua makanan Ar.


Mereka pulang setelah Lynden membayar makanan mereka. Awalnya Ar menolak dan ingin bayar sendiri-sendiri tapi Lynden bersikeras kalau dia yang mengajak mereka ke sini berarti dia yang menraktir mereka jadi dia yang bayar.


***


" Lo tinggal di sini?" tanya Tristan seraya membuka pintu untuk bibi tercinta. Ia menunjuk rumah minimalis 2 lantai yang terlihat bagus.


" Iya, gue gak punya rumah di sini lagian gue juga sementara aja di sini..." jawab Lynden enteng, dia memang pindah saat kelas 3 SMP dari Kanada, katanya untuk cabang bisnis di Indo ini, dan selama hampir 2 tahun ini ia tinggal di apartemwn mewah ini.


" Sendirian aja?" tanya Tristan lagi. Mereka sudah berada di depan pintu, menunggu Lynden menekan password pintu agar terbuka.


" Gak, 1 orang di dalam..." kata Ar.


" Gak, gu, I mean, aku tinggal sendiri..." kata Lynden mendorong daun pintu yang berhasil dibukanya itu.

__ADS_1


Mereka masuk, Lynden buru-buru memeriksa kamarnya, sebelah kamarnya namun tak ada siapa-siapa...


" Boy, are you okay? Not crazy right?" suara seorang peria mapan yang terlihat telah paruh baya namun tegas dan berwibawa sedang duduk di ruang tengah dengan laptop dan kopi didepannya.


" Grandpa, what are you doing here?" tanya Lynden, Kenapa kakek tua liciknya yang menyuruhnya datang jau-jau ke sini bisa berada di depannya sekarang. ( Kakek, apa yang kau lakukan disini?).


" Seeing my youngest grandson, have you buriend all the files, or are you just having fun being free from your father..." Ucap si kakek sambil menyeruput kopinya. ( Melihat cucu bungsuku, apakah ia terkubur dokumen, atau bersenang-senang karena bebas dari ayahmu...)


" Cih..."


" Who is he, boy?" tanya si kakek saat melihat Tristan yang sejak tadi masih berdiri karena belum dipersilahkan duduk.


" Tristan and Ian, my friend... hei, duduk, kalian bukan penagih hutang..."


" They, your crazy boy, your only 1 friend...oh wait, hwo are you?" Ucap si kakek terkejut saat melihat Ar yang sejak tadi bersembunyi di belakang Tristan mengambil tempat duduk.


" I'm Ian..." Jawab Ar.


Si kakek kembali pada laptopnya, ia tak menanggapi ucapan Ar. Tristan merasa sangat tak asing dengan wajah kakek tersebut. Ia sempat menoleh pada Ar dan menepuk jidat.


Si kakek menjauh saat handpone miliknya berdering. Ia kembali tak lama kemudian bersamaan dengan Lynden yang kembali dari kamarnya. Tristan melihat ketiganya bergantian. Sangat mirip, kebetulan kah atau? Ia ingin bertanya tapi tak tau kepada siapa, tak mungkin ia mengatakan pada papanya kan?


Di dalam mobil, Ar hanya diam saja, ia tidaklah naif, ia tau apa yang dipikirkan keponakannya itu. Dan ia harus mencari tau kebenarannya itu. Yang ia percaya dan menceritakan ini hanyalah Herman. Ia harus meminta tolong kakak iparnya untuk mencari tau.


" Bi, kita kepantai gimana? Itan pengen jalan-jalan bentar aja ya? Boleh ya?" kata Tristan dengan rau wajah memelas.


" Boleh sih tapi ijin dulu, kita pulang ganti pakaian dulu, gak baik keliaran sambil pakai seragam..." kata Ar.


Tristan langsung menacap gas ke rumah Harna.


Pulang ke rumah, tak mau berlama-lama Tristan langsung meminta ijin untuk jalan-jalan bersama Ar. Awalnya Harna tak setuju karena ia ingin mereka istirahat melepas lelah perjalanan kemarin namun dengan lihainya Tristan memutar otak dan bilang ia ingin jalan jalan untuk melepas lelahnya.


Harna tak bisa menolak jika keponakannya berucap seperti itu.


Setelah mendapat ijin, Tristan langsung kekamarnya bersiap dengan cepat agar tidak ketinggalan sunset. Yap, Tristan menyukai keindahan, ia tak akan melewatkan keindahan sekecil apapun. Ia rela tak jajan untuk membeli handpone dwngan kualitas kamera terbaik.


Cita-citanya memang menjadi pembisnis seperti salah satu Om-nya, tapi ia tak bisa meninggalkan hobbynya yang membuatnya bangkit dari tekanan ayahnya yang ingin ia menjadi dokter. Apalagi ia anak sulung.


Pelepas penat adalah potretan yang ia ambil ini. Bukannya tak mampu, ia tak berani minta pada ayahnya.

__ADS_1


Ar menunggunya Tristan diruang tengah. Ia mengenakan kaos putih polos, celana kulot putih dan sepatu putih. Tak lupa tas putih dipunggungnya dengan sweater navi yang ia pegang.


" Bibi udah siap?" tanya Tristan turun dari tangga.


" Udah..."


" Gak diikat rambunya dulu?"


" Gak, dingin nanti..."


Ya udah ayo..."


Mereka berpamitan pada Harna.


***


" Wih, sejak kapan bibi punya kamera, coba Itan liat..." celut Tristan saat Ar mengeluarkan kamera dari dalam tasnya.


" Sejak kemaren, kak Rian yang berikan, katanya dipungut..." jawab Ar. Memang saat singgah di rumah Rian kemarin, Ar diberi sebuah kamera yang katanya dipungut. Sebenarnya Rian diberi hadiah kerja sama dengan sebuah perusahaan enterteiment, mereka bingung ingin ingin memberikan hadiah apa sebagai cindra mata kerja sama, dan Rian meminta sebuah kamera untuk adiknya. Jadi begitulah...


" Bi, pinjam..." minta Tristan dan Ar memberi.


" Wih, Olympus OMD EM1 II, bi, ini kamera terbaik tahun ini, bibi berdiri di sini..." Minta Tristan, Ar menurut.


Cekrek



" Nih bibi liat kamera di hp aku..." tunjuk Tristan.


" Kenapa emang?" tanya Ar bingung.


" Sekarang bibi pake sweater bibi, trus sanggul rambutnya..." pinta Tristan Ar menurut.


Ceklek



" Baguskan, kalau dizoom juga gak buram, uh iri deh sama bibi, tapi gak apa apa, pinjam ya bi..." kata Tristan, ia seakan berbicara sendiri. Ar tak menanggapinya karena ia hanya diajak berjalan-jalan.

__ADS_1


__ADS_2