Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Ujian


__ADS_3

Ar sementara menempati kamar tamu lantai 2 karena menolak tinggal di kamar Indah.


Indah sendiri lebih memilih tinggal di apartement didekat sekolah daripada tinggal bersama orang tuanya.


Pagi-pagi sekali Ar dibangunkan oleh seorang pelayan, pelayan tersebut ditugaskan untuk menjadi pelayan pribadi Ar. Ar yang sekarang sedang belajar mandiri menolak untuk disiapkan pakaian maupun menata rambut.


Ia turun sarapan bersama dengan Hendri, ia melihat Hendei sedang duduk sambil menunggu pelayan meletakan sarapan untuk ia sendiri. "Pagi pi..." sapa Ar memaauki ruang makan. Ia mengambil tempat duduk disebelah kanan Hendri.


" Pagi Bunny, oh ya sepulang sekolah sekertaris papi jemput ya buat urus surat surat kamu, kita kan keluar negri jadi masih ngurus ituan, papi gak tau..." kata si papi, ia memang selalu pergi keluar negri tanpa repot dan ribet karena telah diatur oleh sekertarisnya.


" Iya pi, jadi gimana tentang hotel di Lombok itu?" tanya Ar.


" Nanti kita omongin lagi ya, pas kita ketemu Nicolas nanti, kalau kamu memang mengerti tentang bisnis, papi bisa kuliahin kamu lebih cepat..." ucap papi. Ia memang tau bahwa gadis didepannya ini jenius, tentu karena ia pernah melihat sebuah buku yang berisi rencana jangka panjang gadis itu mulai dari pekerjaan dan tempat tinggal.


Hendri juga pernah melihat Ar mengajar di depan layar laptop, dan materi yang ia ajarkan bukanlah materi untuk anak bahasa sepertinya tetapi ilmu pengetahuan yang tak dipelajari oleh anak jurusan bahasa sepertinya. Ia merasa bahwa keluarga dari menantunya terlalu bodoh hingga membuang anak jenius ini.


" Beneran ya pi? Ar rencananya mau ngikut pertukaran pelajar kalau disini Ar takut nanti temen-temen Ar bakal jauhin Ar kayak dulu..." terang Ar pada Hendri soal ia tak ingin dianggap sok pintar.


" Terserah kamu, papi ngikutin kamu aja, yang penting kamu nyaman..."


***


Ar menaiki tangga menuju kelasnya dengan santai, ia mengenakan earpone tanpa kabel, rambut yang tanpa dicatok sehingga gelombang rambut ikalnya terlihat jelas hanya dikuncir setengah, ia bisa melihat disepanjang lorong sekolahnya itu sedang dipenuhi dengan siswa siswi yang memegang buku atau alat electronik apapun untub belajar.


Sapaan Ar saat memasuki kelaspun hanya direspon dengan pandang sekolas tanpa balasan suara kemudian kembali fokus belajar. Memang SSP dikenal dengan ujian yang ketat. Sekolah ini memang membebaskan gaya berpakaian dan fashion setiap siswa tapi tidak dengan ketepatan waktu dan ketertiban ujian. Jika ketahuan menyontek, maka siswa tersebut akan mendapat minus 75.


Ya, sekolah ini memang memiliki sistem eliminasi, dimana setiap anak memiliki 20 poin di awal masuk, setiap hari poin mereka bertamah dari datang tepat waktu, tidak bolos, dan kadang diberikan guru ketika menjawab pertanyaan mereka. Ada siswa-siswi yang menjadi agen rahasia mencatatnya tetapi mereka tidak mengetahui rekan sesama mereka, masing masing dengan tugasnya dan begitulah.


Jika setiap 3 bulan sekali atau setiap seminggu sebelum UTS dan UAS akan diadakan evaluasi bagi murid yang poinnya kurang dari 20 akan dipindahkan.

__ADS_1


Bel berbunyi berarti 5 menit sebelum ujian dimulai. Semua siswa siswi memasuki ruang kelasnya membuat suasana bising di koridor yang awalnya cukup hening.


Meja kelas yang biasanya 2 digabung menjadi satu kini dipisah, suasana ujian memang berbeda, dengan kepala tertunduk hampir seluruh siswa masih membaca catatan mereka, berharap akan mengingat nanti ada juga yang bergumam sambil menutup buku catatannya.


Tak lama ibu Ani selaku wali kelas bersama 2 orang asing yang mereka tau adalah pengawas ujian.


" Selamat pagi anak-anak, sebelum kalian memulai ujian berdoa dulu sesuai dengan kepercayaan masing masing..." kata ibu Ani.


Hening sesaat.


Kembali mereka setelah berdoa " Disini ibu dibantu dengan 2 pengawas ujian, mereka adalah pak Broto dan ibu Ika, ibu harap kalian mengerjakan soal dengan jujur tanpa ada kecurangan apapun sesuai kemampuan masing masing..."


" Baik bu..." jawab mereka.


***


" Wah gila hari pertama udah kunang-kunang mata liat huruf Jepang..." keluh Cris. Mereka baru selesai ujian hari pertama dan sedang berdiskusi sebentar di kantin yang tidak terlalu ramai.


" Gak usah drama, dua bulan lebih belajar kelompok otaknya bukan diisi materi malah isi keluhan, ya mana mau maju tu otak, yang ada bakal mundur..." sarkas Daniel.


" Daniel ngomong suka nge-jleb ya, pas banget..." kata Angel.


" Aku dukuan ya, masih ada urusan setelah ini..." pamit Ar membawa tasnya.


***


Hari kedua, kelas bahasa memiliki jadwal matematika, antropologi, dan bahasa inggris. Mata pelajaran pertama membuat anak kelas bahasa mengeluh, tentu saja, soal yang diuji adalah soal berstandar anak ipa, harusnya mereka memberikan soal matematika yang sering diajarkan untuk kelas bahasa malah mereka memberikan soal matematika untuk kelas ipa.


Hasilnya setelah ujian selesai, 2 kelas X BAHASA melakukan protes di ruang guru.

__ADS_1


" Pak gak bisa gitu dong, kami ini mempelajari matematika wajib, mengapa yang dikeluarkan dalam ujian tadi adalah matematika peminatan..." protes Putra, ketua kelas X BAHASA 2.


" Iya pak, kami saat ini berusaha untuk meningkatkan prestasi kami tapi guru-guru sekalian malah menjatuhkan kami sendiri..." tambah Jeisis.


" Kalau kalian tidak membuat ibu Maria mengundurkan diri kalian tak akan bersusah payah mengerjakan soal soal yang diperuntukkan anak IPA, kalian pikir saya mau repot buat soal berbeda buat kalian?"


" Kalau mau beri saran trus ditampar bapak terima?" tanya Ar. Suaranya membuat ruang guru hening.


" Maksud kamu?" tanya Pak Wibowo, guru matematika kelas X IPA.


" Bapak memang tak datang waktu video itu diputar jadi bapak gak tau, tapi pak menggunakan kekuasaan bapak untuk melakukan hal semena-mena sekarang tak akan membuat kesalahan bapak akan ditutup juga nanti, diatas bapak masih ada yang lebih berkuasa..." kata Ar lagi.


" Kamu ngancam saya?"


" Soal bapak saya pastikan nilai saya lebih baik dari Lynden dan Yolan..." kata Ar kemudian pergi.


***


Setelah insiden protes kelas X BAHASA 1&2 ujian kembali berjalan seperti biasa, setiap hari selalu saja ada keluhan namun keluhan paling banyak berasal dari Cris dan Veron.


Ar sendiri kini semakin terkenal, sejak masalahnya dengan ibu Maria, mendapat nilai yang hampir sempurna di UTS, ia menjadi topik hangat sebagai ketua pemberontakan kelas Bahasa yang selalu paling kalem. Yap, insiden dihari kesua ujian telah menyebar dengan cepat.


" Wah akhirnya, hari minggu besok aku harus ampun dosa karena terlalu banyak mengumpat saat ujian..." kata Cris sambil merenggangkan tubuhnya.


" Betty awasi dia, biasanya juga boong, anak setan gitu mau nginjak gereja kalau ada salah, atau kesambat siapa gajah di bahtera Nuh?" sambung Ar. Ia tak akan pernah melewatkan kesempatan mengejek Cris.


" Ye, ampun dosa salah, ga ke gereja salah..."


" Eh aku duluan ya. Sampai jumpa tahun baru nanti..." kata Ar bergegas pergi.

__ADS_1


" Natalan bareng gimana?" tanya Betty sedikit berteriak. Mereka merencanakan akan natal bersama dengan yang lain, Jeisis, Joana, Rina Rani, Angel dan Alfin yang beragama muslim pun turut hadir bersama karena perayaan lebaran sebelumnya mereka juga mengundang teman teman mualim mereka.


Pertemanan mereka memang cukup terkenal karena tidak memandang SARA, dengan adanya kelompok belajar membuat sebagian guru menaruh harapan pada mereka yang beranggotakan lebih dari setengah murit peringkat 1 digit atau peringkat 1-9 umum ada diantara mereka.


__ADS_2