Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Membawa pulang


__ADS_3

Ar terlihat sangat senang, ia terus membungkuk dan mencium hidung serta kepala dari ketiga anak anjing itu secara bergantian. " Apa mereka boleh memakan coklat atau meminum susu coklat?" tanya Ar pada kakak petugas perempuan yang sejak tadi bersamanya sepeninggalan Harna dan Herman.


" Tidak, cokat tidak boleh dimakan oleh mereka..." Jawab si kakak itu.


" Kakak, apa saya harus membayar untuk mengadopsi mereka, mereka kan anjing mahal...?" kata Ar lagi.


" Saya kurang tau, saya baru bekerja kurang dari dua minggu..." kata si kakak petugas lagi.


Saat mengobrol dengan kakak petugas itu, herman datang dengan 1 kandang anjing untuk dibawa pulang. Ia meminta Ar untuk memasukan mereka karena sepertinya Ar tidak ingin melepas mereka.


...****************...


Setelah keluar dari taman bermain, Harna pergi bersama Ar membawa 3 anak anjing tersebut ke dokter hewan sedangkan Indah dan Herman juga Harun dan saudara-saudaranya pulang menggunakan mobil Indah.


Di klinik hewan, dokter tersebut mengatakan bahwa ketiga anak anjing ini sudah berumur kurang lebih 1 bulan, dengan cidera masing-masing dokter tersebut menyarankan Ar untuk membawa mereka untuk cek up setiap seminggu sekali, berbeda dengan waktu cek up anjing pada umumnya yang 1 bulan.


Ar yang sudah bertanya berulang kali bahwa merwka baik-baik saja hanya mendapat helaan nafas oleh Harna dan senyum dari dokter muda yang menangani anjing-anjingnya ini.


Dokter ini selalu menjawab bahwa mereka baik-baik saja tapi karena tidak puas dengan jawaban yang diterima, Ar terus bertanya.


" Mereka akan baik-baik saja kan?" tanya Ar akhirnya, saat ia memasukan Ad, Ri, dan An ke dalam kamdang mereka.

__ADS_1


" Iya nona, mereka akan baik-baik saja dan selalu baik-baik saja." jawab dokter tersebut.


" Terima kasih..." kata Harna yang sudah malu saat mendapat senyuman dari sang dokter, ia malu karena adik bungsunya itu terus menanyakan setiap menit dan tidak berhenti bertanya setiap saat.


" Tunggu nona-nona, jika nona-nona tidak keberatan saya ingin memberikan ini sebagai tanda terima kasih karena telah datang ke klinik saya ini..." kata dokter sambil memberikan paperbag.


Ar yang menggendong kandang dengan hati-hati tidak bisa menerimanya sehingga sang kakaklah yang menerima hadiah tersebut. Ar yang mengangkat kandangnya sepwrti menggendong bayi membuat dokter tadi tersenyum dan kakaknya tersipu malu.


Mereka berpamitan dan pulang, tapi sebelumnya mereka singgah di supermarket dan membeli beberapa perlengkapan bayi seperti handuk, sampo, susu dan keranjang tidur ( seperti perlengkapan bayi sungguhan ) Ar yang memilih...


Harna hanya melihat tingkah sang adik yang sepertinya senang. Baru kali ini ia melihat adiknya sangat girang, meskipun tak menunjukannya Ar terus tersenyum.


...****************...


" Kakak apa mereka bisa tinggal di kamarku?" tanya Ar pada Harna dan Herman, ia seperti tidak melihat adanya kehadiran Ronald dan Andi.


" Bagaimana kalau di luar?" tanya Harna balik pada Ar. Ia sebenarnya mau mereka tinggal di rumah belakang.


" Tapi..." Ar sudah berwajah murung sebelum berbicara.


" Maksud kakak kamu, mereka hanya sementara tinggal setelah kamu membereskan kamar kamu, bagaimana kalau mereka membuang kotoran sembarangan dan juga mbak Anin dan Anisa juga pantang kan sama mereka..." jelas Herman membuat Ar kembali berwajah ceria.

__ADS_1


Harna meminta Andi dan Ronald juga keempat anaknya untuk membantu Ar membereskan kamarnya.


Membersihkan kamar Ar bukan berarti membersihkan debu, tapi merapikan buku yang berserakan. Jika membersihkan sendiri akan memakan waktu namun mereka bekerja bertujuh, meski Ar hanya duduk di balkon, setelah ia merapikan kursi-kursi kayu agar tertata dengan baik, karena kedua saudara serta keempat keponakannya, tidak mengizinkannya mengatur dan membereskan ruangan dengan alasan jika Ar bekerja maka mereka tidak akan membantu sehingga mau tak mau hanya mengambil buku pelajaran yang akan dijadwalkan akan diuji besok.


Tak butuh waktu hingga sejam untuk membereskan buku yanf berantakan, mereka berenam juga telah mengatur ruangan dengan tempat dimana para anak anjing tersebut tidur.


Ar yang sudah diperbolehkan masuk karena mereka melihat langit yang mulai gelap, bukan karena hari mulai senja tapi sekarang sedang mendung dan tidak mau Ar kedinginan diluar.


Ar berterima kasih kepada mereka dan turun kebawa, ia berpapasan dengan Anisa.


" Nona bawa apa di kandang itu?" tanya Anisa penasaran.


" Anjing kak, kata kak Harna mbak Anin sama kak Anisa pamali, agamanya nglarang buat dekat sama mereka jadi Ar mau pindahin cepet-cepet supaya kak Anisa atau mbak Anin gak dapat musibah..."


" Gak, kakak gak pamali, memang beberapa hewan diharamkan dalam agama tapi kita bisa dekat atau boleh memegang mereka..." kata Anisa, ia cukup senang dengan nona yang ada di depannya ini, nona muda yang baru kurang lebih dua bulan ia layani ini memang selalu menjaga perasaannya, ia juga tau kalau kata maaf dan terima kasih sanggat melekat di bibir tipis nona mungil di depannya ini.


" Oh gitu ya kak, oh iya kak kalau gitu Ar ke atas dulu ya kak..." pamit Ar pada Anisa.


...****************...


Bukan Ar namanya kalau lupa makan, ya, tentu saja ia menghabiskan waktu dikamarnya untuk belajar, kini ia memiliki tiga teman baru yang bersama menghuni di satu kamar membuatnya lebih betah dikamarnya.

__ADS_1


Andi harus memanggil Ar untuk makan malam bersama di ruang makan di bawah, ia menutup pintu karena takut Ad, Ri, dan An menyelip keluar dan terguling di tangga, setelah beres-beres tadi juga Herman mendatangkan beberapa tukang renovasi rumah untuk memodifikasi balkon Ar agar pagar pinggiran balkon ditambahkan bahan kaca untuk menghindari jatuhnya mereka ke taman belakang yang tepat berada di bawah balkon.


Ar melahap makanannya dengan cepat, setelah menghabiskan makanannya, ia ke dapur untuk membuat susu untuk Ad, Ri, dan An yang dibantu oleh Anisa, kemudian ia naik ke atas.


__ADS_2