
" MAMA, PAPA, ADU PAPA TERPON DOKTER SEKARANG..." teriak Tristan sejak masuk rumah. Ia tak memperdulikan kekawatiran diwajah mereka saat ia berlari menaiki tangga dengan Ar dalam gendongannya.
" Bi bertahan bi... aduh..." Tristan membaringkan Ar dengan hati-hati. Ia menuju pintu, dan "...KAK NISA..." teriak Tristan lagi, kemudian ia masuk kembali ke kamar Ar.
" Jangan teriak teriak, nanti batuk, kamu kan masih sakit..." peringatan Ar pada Tristan.
" Harusnya si sini aku yang kawatir sama bibi, bibi saki apa? Masih mual? Pengen muntah atau apa? Kak Nisa cepetan, buka piyama tebal ini, ganti pakai piyama yang biasa tapi celana pendek, sesak nih bibi..." ucap Tristan sambil pergi.
Tidak pergi ia menunggu didepan pintu. Tak lama Harna membawa napan berisi makan malam yaitu bubur dan Herman membawa seseorang yang Tristan tau adalah dokter karena jasnya sangat mirip dengan punya ayahnya.
" Bibi masih ganti pakaian, papa gak boleh masuk biar mama Harna masuk duluan biar bantu kak Nisa..." kata Tristan.
Mereka menurut. Harna masuk, tak sampai 5 menit Nisa membuka pintu dan membiarkan mereka masuk sedangkan ia kembali ke dapur.
Melewati ruang tengah ia ditahan oleh empat bersaudara Pranata ditambah Tian.
Ia diintrogasi oleh mereka, namun ia tak tau apa apa membuat mereka sedikit kecewa dengan harapan karena tak mendapat informasi apapun. Mereka berharap semoga bibi mereka baik baik saja.
Sementara itu Ar sedang diperiksa oleh dokter Emelia, dokter pribadi Harna, tentu Herman tak mau istrinya diperiksa oleh seorang dokter cowo, makanya yang cewe ditangani ole dokter cewe dan cowo ditemani dokter cowo agar tak ada kecemburuan diantara kita. ( Eaa eaa...)
Sementara diperiksa, perut Ar berbunyi sehingga sambil memeriksa Ar, Harna menyuapi bubur untuknya.
Selesai diperiksa, Ar juga menolak makan, katanya sudah kenyang. Meletakan bubur sisa dinakas Harna sibuk memijit pelan lengan Ar, sedangkan Tristan dan Herman dipanggil ke sudut ruangan untuk membicarakan kondisi Ar.
" Kondisi nona muda cukup memprihatinkan, gejala awal tipes, maag yang kambuh, dan dehidrasi. Kata tuan, nona muda punya riwayat depresi kan? Saya harap nona muda jagan dibuat tertekan, beliau sedang stres dan mungkin sewaktu waktu depreainya kambuh lagi..." Dokter Emelia memberi jeda.
"...saya meninggalkan beberapa obat yang mungkin akan membatu meredakan nyeri beliau. Tolong dukun dan suport beliau, jangan membuatnya merasa tertekan karna hal tersebut dapat memicunya kembali depresi dan mungkin berujung pada kehilangan akal sehat, saya memang bukan ahli psikolog tapi saya cukup mengerti tentang hal tersebut..." Lanjutnya.
Ia beranjak mendekati pasiennya itu namun, Ar berlari kecil ke kamar mandinya... Harna mengikuti.
__ADS_1
Huueek huueek, uhuk uhuk... Terdengar suara muntahan dari tempat tujuan Ar berlari tadi.
Tak lama suara tersebut akhirnya berhenti dan diganti " Itan, kak, bantuin mama pindahin bibi kamu..." suara Harna.
Tristan bergegas masuk ke kamar mandi, ia mendapati Ar masih bersimpuh didepan closed, Harna yang memijit tengkuk Ar.
" Bantu bibimu bangun..." ucap Harna. Tristan menurut, ia mengalungi tangan Ar pada lehernya dan menggendong Ar, mendekati westafel, membersihkan bekas muntahan Ar pada mulutnya dan membawa kembali Ar menuju kasurnya.
" Sebaiknya bibi diinfus saja..." saran Tristan. Dokter Emelia menurut.
" Kak, jangan bikin yang lain kawatir ya..." minta Ar dengan suara lemahnya.
" Kamu gak usah mikirin itu, kata dokter kamu harus istirahat banyak, jangan banya pikiran apalagi stres..." kata Herman.
" Iya, itu biar nanti orang dewasa yang urus..." tambah Harna.
" Iya, bibi jangan pusingin itu, yang sekarang bibi pikirin itu kesehatan bibi, gimana bibi harus sembuh secepatnya..." Tristan tak mau kalah.
Hati ketiganya seperti ditubruk batu, Ar memikirkan mereka sedalam itu, tentu saja ia stres, ini bukan hal yang harus dikawatirkan anak yang belum 14 tahun.
" Maaf nona kalau saya agak lancang tapi saya membantah ucapan nona, nona memang memiliki banyak kekawatiran tapi yang sekarang ini nona tetap mengutamakan kesehatan nona, jika nona tak mau mereka kawatir, nona harus cepat sembuh dengan cara mengesampingkan pemikiran pemikiran tersebut..." nasehat Emelia.
Ar berpikir, kemudian mengangguk. Ketiganya senang.
Dokter pamit, Herman dan Tristan mengantar dokter Emelia ke depan dan Harna bersama Ar.
***
Memuaskan rasa penasaran anak anak tak mudah, sudah 30 menit Herman dan Harna diintrigasi oleh kelima bocah ini meski sedang berada dimeja makan.
__ADS_1
Selepas mengantar dokter Emelia, Tristan katanya ingin istirahat, ia juga sudah makan tadi sore jadi Harna tak melarangnya. Namun Tristan bersikeras ingin beristirahat di sofa kamar Ar. Tak bisa membujuk, Harna akhirnya mengiakan, daripada masalah menjadi panjang dan Tristan drop lagi.
Tadi Tristan juga diperiksa namun ia hanya demam dan flu biasa. Demamnya yang memang belum turun itu membuat Herna kawatir sehingga ia mengikuti kemauan Tristan dengan tidak terlalu dekat dengan Ar.
Malam semakin larut, setelah diberi pengertian kepada kelima bocil ini mereka akhirnya menyerah untuk bertemu Ar. Dengan beralasan bahwa Ar butuh ketenangan untuk istirahat akhirnya mereka mengerti.
Tian diberitau kalau kakaknya sedang beristirahat sambil menjaga bibi mereka akhirnya memilih tidur bersama Vian dan Vin.
Harna masih kawatir dengan kedua bocah besar yang sedang sakit itu memilih untuk tidur di kamar Ar.
***
Pagi hari, matahari masuk kesela-sela gorden kamar. Harna bangun, dengan berhati-hati ia menuruni tempat tidur tanpa menimbulkan suara. Mengecek suhu tubuh Ar, sudah mendingan, demamnya sudah turun banyak dan Harna merasa lega untuk itu.
Ia mendekati Tristan dan melakukan hal yang sama, demamnya sudah hilang namun ia bisa mendengar nafas Tristan, pernah belajar sedikit ilmu kedokteran, Harna tau bahwa keponakannya itu mungkin akan batuk-batuk untuk sehari kedepan mungkin.
Ia menuruni tangga, Andi dan Ronald ada di meja makan bersama yang lain.
" Kak, Tan sama Ar mana?" tanya Andi.
" Dibilangin sakit gak percayaan banget sih..." ini mulut pedas Tian, adik Tristan.
" Cik, orang nanya ke kak Harna bukan kamu..." sambung Andi.
" Orang kan bukan OM ANDI..." balas Tian.
" Kak, Ar sama Tan sakit apa?" tanya Ronald yang dari tadi hanya diam saja.
" De, demam, mereka kehujanan kamis kemari, udah baikan kok hanya mungkin karena masih agak lemes aja makanya belum bangun...Di belum nganterin anak-anak?" tanya Harna mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
" Nih masih nungguin mereka selesai sarapan, kita nginap ya kak..." kata Andi.
" Hmm, kakak ngatar makanan buat mereka dulu ya..."