
Karena adik Melan tidak menjemputnya, Melan berniat pulang dengan angkutan umum. Andi yang memang menyukai Melan tak segan untuk menawarkan tumpangan, dan dengan ketidakpekaan Melan, iapun menerima tanpa berpikir panjang.
" Ren kemana kak, tumben gak dijemput?" tanya Andi memecah keheningan, jangan ditanya apa yang dilakukan Ar karna dia sedang sibuk dengan anime yang sedang ditontonnya di bangku belakang mobil.
" Gak tau, katanya dia udah dapat pekerjaan jadi kadang dia gak bisa jemput..." jelas Melan.
" Kakak gak takut pulang sendiri?" tanya Andi lagi.
" Gak, biasanya kalau datang kerja sama adek tapi kalau pulang sama ojek, ojeknya temen ayah jadi gak apa-apa..."
" Oh..."
Dan sampailah mereka di pekarangan rumah milik Melan, ayahnya sedang duduk di kursi teras sambil menunggu kedua anaknya pulang.
" Melan, siapa itu?" tanya ayahnya dengan suara yang lumayan bisa terdengar hingga keluar pagar.
" Temen yah, adek tingkat sama sepupunya..."
" Gak diajak masuk?" tanya si ayah.
" Udah malam yah, lain kali aja ya..." kata Melan dengan isyarat mata pada Andi agar segera pergi.
" Malam om, em lain kali aja mampirnya, kakak sepupu saya udah telpon suruh bawa pulang adeknya..." kata Andi debarengi tawa.
" Oh..."
" Pamit dulu om, kak..."
...****************...
" Wih bibi Ar, penampilan baru nih..." kata Harun.
" Mama, aku juga pengen pake kacamat kaya bibi Ar..." minta Si bungsu Win.
__ADS_1
" Kok bi Ar lebih imutan pake kacamata daripada engak ya?" kata Vian sambil berpikir.
" Bibi cocok kalo pake kacamata..." kata Vin.
Ar turun terlambat karena membaca hingga melupakan waktu, pagi ini ia tak membantu Harna menyiapkan sarapan. Di meja makan ada keempat keponakannya dan Harna yang sudah dengan pakaian rapi sedangkan kakak iparnya yaitu kak Herman sudah pergi terlebih dahulu karena ada urusan mendadak dari kantornya.
" Tidak aneh kan?" tanya Ar sambil memegang tengkuknya malu.
" Bi Ar kalo malu gini pasti banyak yang naksir..." ujar Vian.
" Bibi jangan blushing di depan temen-temen bibi..." Harun menambah.
" Jadi suka sama bibi..." Vin.
" Naksir? blushing?..." Win.
" Kalian anak kecil tau apa naksir naksir, awas ya mama liat kalian punya pacar, masih kecil juga..." marah Harna.
" Wih jadi kacamatanya gak dilepas nih? gak takut dipatahin?" kata Andi, ia tau betul Ar yang tidak menggunakan kacamatanya dengan alasan takut patah. Saat mereka berlima masuk ke mobil. Seperti biasa Ar duduk di samping Andi.
" Kak Andi berisik..." kata Ar.
...****************...
Seperti biasa ketiga trio Benny, Betty, dan Cris datang hampir bersamaan dengan bel berbunyi. Mereka merasa biasa saja melihat Ar dengan kacamata karena saat ini dia sedang membaca sedangkan yang tadi cukup merasakan perubahan penampilan Ar.
" Yan kamu kemana aja, kamu gak sakit kan?" tanya Betty. Hanya Betty yang bisa tahan dengan sikap tidak peduli dan cuek akutnya Ar, tentu saja Betty sudah tau bagaimana karakter Ar alias Ian yang saat berhadapan dengan keluarga dan berhadapan dengan orang diluar keluarganya itu.
" Betty berisik..." ujar Ar sambil menutup kupingnya, pasalnya Betty langsung bertanya tepat disebelahnya. Yang lain tak berani. Mereka kadang merasa Ar punya aura yang membuat mereka jadi takut mendekati.
" Ya aku kawatir, kemarin kutelpon tapi pembantumu yang jawab, katanya kamu masih tidur, kamu sakit? udah ke dokter? sekarang udah baik-baik aja kan? wajahmu pucat loh, eh tapi biasanya juga sama, kulitmu memang pucat, kamu gak ada penyakit keras kan...
" Stop. Kemarin aku memang tidur subuh jadi bangunnya agak siangan, aku memang ke dokter tapi gak ada sakit keras..." balas Ar, kalau tidak dihentikan Betty akan terus berbicara.
__ADS_1
Terdengar beberapa suara helaan nafas lega, mereka yang kemarin sempat kawatir karena membuat anak orang capek karena pergi weekend bersama.
" Ke dokter? berarti kamu memang sakit kan?" kata Jeisis dari samping tempat duduk mereka.
" Tidak, pemeriksaan mata..." sambil menunjuk kacamatanya "... kakakku kawatir karena aku sering tersandung sesuatu jadi yah gitu..." jelas Ar.
" Ohh..." terdengar seruan oo dari beberapa orang.
" Duduk di tempat kalian masing-masing, kalian tidak mendengar bel sudah berbunyi..." Kata ibu Ani.
Mendengar itu, mereka yang sedang berdiri dengan cepat mengambil tempat duduk di bangku masing-masing. " Belajar mandiri..." kemudian ibu Ani pergi.
" Yan, gimana jadwal belajar kita, katanya setelah UTS kita udah mulai..." kata Benny. Pertanyaan ini paling dihindari oleh Cris.
" Nanti kalau jadwal eskul kalian udah ada baru kita cocokin supaya gak tabrakan..." kata Ar.
" Kalian buat kelompok belajar?" tanya Si kembar Rani Rina di sebelah yang duduk disebelah mereka.
" Iya, Ian ini pintar loh, dia yang bantuin kita belajar..." Kata Betty sambil menunjuk Ar.
" Kita boleh ikut gak?" tanya Jeisis.
" Minta izin sana..." kata Cris sambil menunjuk Ar dengan matanya saja.
" Ian kita boleh gabung gak, Aku sama Bian, kita lemah di bahasa asing..." kata Jeisis lagi.
" Trus masuk kelas bahasa?" Rina Rani.
" Ya, kita kan pengen jadi reporter jadi harus masuk bahasa dong..." kata Jeisis lagi. Pertemanan Jeisis dan Bian yang sudah terjalin sejak mereka masih kecil sangat terlihat sampai janji dan cita-citanya pun disamakan.
" Yan, gak apa-apa kalau mereka gabung?" tanya Betty pada Ar, saat ini Ar sedang mengenakan earpone sambil membaca buku.
" Iya, tidak apa-apa, lebih banyak orang lebih bagus, kita bisa berdiskusi bersama..."
__ADS_1