
Mario mengceritakan entah tentang apa. Ar hanya mendengarnya, diambilnya pil antidepresan yang tak ia konsumsi hampir 3 minggu, sekali ia teguk sekitar 5 pil masuk kedalam perutnya.
Bersimpuh hingga meringkuk ia tertidur di lantai kamar miliknya.
Suara Mario yang tadinya hanya samar-samar terdengar akhirnya bisa jelas ia mengerti setelah menwlan pil antidepresan tersebut.
Penat dan nyutan kepalanya sedikit berkurang.
Ia terus berusaha tidur, mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya yang terlihat sangat lelah.
***
Harna tak bisa merasakan sedikitpun ketenangan. Setelah orang tua serta kakak pertamanya ada ia sudah merasa ini tak akan berakhir baik.
Benar saja, ia melihat Ar dicaci habis-habisan oleh keduanya. Ia kawatir kesehatan Ar semakin buruk.
Ia tak bisa tidur malam ini. Ia ingin sekali tidur dengan Ar namun sebelum masuk kamar, ia mendengar bahwa Ar ingin sendiri.
Ia melirik jam, pukul 3.52, sudah hampir pagi, tak masalah kan kalau ia menengok Ar sebentar.
Dibukanya sedikit pintu Ar, matanya menuju kasur Ar, namun tak ada orangnya.
Ia memberanikan diri masuk, niatnya ia mengecek kamar mandi, namun ia terhenti saat melihat Ar yang tidur meringkuk memeluk lutut hanya beralaskan karpet dengan tubuh bergetar karena menggigil.
Ia menelpon suaminya, hanya itu yang dipikirkan. Selesai menyuruh Herman datang, ia menarik selimut dari atas kasur untuk membalut tubuh Ar yang kedinginan. Tak sengaja ia menyentuh kulit Ar, ia merasakan suhu tubuh yang dinginnya tak normal.
Menunggu sang suami datang, ia menggosokan kedua telapak tangannya, dirasa cukup hangat ditempelnya ke pipi Ar.
Ia merasakan angin dingin berhebus masuk. Jendela kamar dan balkon terbuka tebar. Ia berniat menutupnya namun Herman masuk kekamar tersebut.
Herman menggendong Ar yang berbentuk seperti kepompong. Harna memilih cepat piyama yang akan Ar gunakan.
Keduanya yang panik membawa Ar kerumah sakit tanpa mengabarkan orang rumah.
***
Kondisi Ar kritis. Belum sehat dari tipes, maag dan kekurangan cairan tubuh, ia kembali di diagnosis Hipotermia, dan stres berlebihan.
Setelah mendengar keadaan dokter, mereka kembali keruangan Ar. Ar yang terbaring di kamar paling mewah dirumah sakit ini, kamar yang tak kelihatan bahwa ini kamar rumah sakit.
Terbaring lemah dengan masker oksigen yang menutupi setengah wajahnya, infus yang melekat di tangan kiri dan beberapa selang lainnya yang berada di bawah selimut tebal menutupi selurh tubuhnya.
Tadi, saat diperiksa Ar mengalami kejang karena kesulitan bernafas jadilah ia mengenakan alat untuk membantu pernafasan
" Mas, minta mbak Anin buatin sarapan trus ngantar pakaian aku ke sini ya, aku yang jagain Ar, mas pulang aja, kantor kan?" kata Harna.
" Iya. Gak usah terlalu dipikirkan, Ar kuat, di bisa jalani ini semua..." kata Herman menguatkan Harna. Ia mencium kening Harna seakan menyalurkan semangat pada istrinya itu.
" Iya mas..." Jawab Harna.
Herman kemudian meninggalkan mereka.
Harna melamun, entah apa yang dipikirkannya. Ia tersadar saat deringan telfon dari arah Ar. Ternyata Ar masih menggenggam handponenya.
Tertera nama Mario, pria tukang tidur yang sejak kemarin pagi menelpon seharian penuh.
" Halo, selamat pagi..." sapa Harna.
" Halo, selamat pagi juga bu, Iannya dimana ya?" tanya Mario dari seberang.
" Iannya dirumah sakit..." jawab Harna tanpa ia sadari.
__ADS_1
" Oh, makasih bu kalau gitu, selamat pagi..."
***
" Mbak Anin mau kemana?" tanya Rian. Ia dan Fitri memang sedang cuti 1 minggu karena kehamilan Fitri jadinya ia tak pamit malam tadi seperti orang tua serta kakak pertama mereka.
" Mau kerumah sakit Tuan..."
Mendengar itu, Rian langsung bangun dari duduknya, pantas saja Harna dan Ar tak kelihatan padahal kemarin mereka makan siang bersama.
" Biar saya aja bi..."
Minta Rian, ia belum makan sama sekali namun pikirannya kosong. Ia tak bodoh, ia pasti akan terpukul jika berada diposisi Ar malam tadi, apalagi Ar belum sehat sepenuhnya.
Tristan berniat ikut namun ditahan oleh Herman yang baru bergabung dimeja makan.
" Kamu anterin adik-adik kamu dulu, trus ijinin Ar, kalau kamu mau jagain di ya sekalian ijinin kamu juga..." kata Herman tenang, meski ia juga tak tenang.
Rian bersama Fitri kemudian pergi kerumah sakit.
Tristan menghabiskan makanannya dengan terburu-buru, ia naik keatas dan mengganti pakaiannya dengan pakaian casual untuk bepergian.
Setelah mengantar adik-adiknya, ia memasuki pekarangan SMA. Dihalang oleh OSIS.
" Mau kemana lo, gak pake seragam keliaran disekolah..." bukan urusan lo..." hadang si OSIS
" Sekolah ini punya papa gue, gue datang secara resmi, lo mau didepak sekarang bilang..." Tristan Emosi.
Yang menahannya membiarkannya lewat. Sekarang sudah masuk kelas sehingga tak terlalu ramai dan hanya ada OSIS yang berkeliaran saja.
Ia berjalan cepat keruang kelasnya. Tanpa mengetuk ia langsung membuka pintu kelasnya.
" Bu saja ijin ya..." ucap Tristan. Tanpa menunggu balasan ia kemudian pergi.
Sepwrti masuk kekelasnya, ia masuk ke kelas X BAHASA 1 tanpa mengetuk, ternyata gurunya belum masuk.
" Bi Ar ijin ya..." Kata Tristan tanpa menunggu jawaban atau pertanyaan dari mereka, ia langsung pergi.
***
Dirumah sakit, Harna duduk disamping Ar yang maaih dengan tenangnya memwjamkan mata.
Dielusnya surai coklat Ar dengan lembut. Membiarkan dokter Emelia mengambil sampel darah, menyuntikan obat dan lain-lain.
Diciumnya punggung tangan Ar yang bebas. Ia teringat dimana Vian yang dulu pernah masuk rumah sakit karena keracunan makanan yang dibawa temannya sebagai bekal.
Pintu terbuka menampangkan wajah kawatir Rian dan Fitri berada dibelakangnya.
" Kak, kenapa Ar bisa gini kak? Kenapa selangnya banyak banget? Kakak jawab kak..." Emosi Rian.
" Tenang mas, ini rumah sakit..."
" Ngak, kalau gak ngomong gini, kakak akan tetap diam dan terus berbohong..."
" Tenang dek, Ar lagi istirahat, jangan ribut..."
" KAKAK MASIH BISA BERSIKAP TENANG DI SITUASI SEPERTI INI..." teriak Rian.
Plak
"... Ar tak mau kalian kawatir bodoh, dia kawatir dengan kalian semua, dengan kehamilan Fitri, bisnis kamu, kuliah Ronald dan Andi. Aku harus gimana menghadapi orang sakit yang memohon padaku. Ri, mengerti juga posisi aku, posisi Ar.
__ADS_1
Dia itu stres berat karena kecemasan yang tak seharusnya dipikirkan olehnya diumur segitu, dan kamu dengan egonya terus mendesaknya...
"...setelah tadi malam, kamu sudah sempat minta maaf sama Ar? Belum kan? Keegoisan dan kekeras kepalaanmu itu bisa saja menjauhkan yang dekat denganmu..."
"..."
" Apa? Gak bisa balas? Sekarang kamu pikir gimana kamu saat diposisi Ar..."
*
Dengan tergesa, Tristan berlari menyusuri koridor rumah sakit. Menimbulkan suara berisik yang mengganggu, ia tak menghiraukan teguran atau gerut kesal para dokter atau pasien yang terganggu, fokusnya hanya ada pada bibi tercinta.
Pintu terbuka paksa, Tristan masuk.
Tertegun sebentar menatap banyaknya selang yang tersambung dengan tubuh bibinya.
" Bi..." panggil Tristan. Seakan ketiga orang dewasa disana tak terlihat. Ia mendekati kasur Ar.
Harna menarik diri dari samping Ar. Dibiarkannya Tristan mendekat. Ia tau Tristan mengerti dengan keadaan Ar, Harna juga tau tentang rasa bersalah yang Tristan pada Ar yang dibenci dan sering dicaci oleh ayahnya.
Setelah Tristan duduk menggantikan Harna, Harna mengambil paperbag dari Fitri dan mengganti piyama yang masih digunakan saat mengantar Ar tadi.
Fitri kemudian menarik suaminya duduk di sofa dalam ruangan tersebut.
***
Mario tak hadir, sesuatu yang bukan hal baru. Namun biasanya, ia hanya akan bolos untuk tidur di UKS atau perpustakaan setelah melepas tasnya di kelas begitu saja.
Sejak pagi orang tersebut tak kelihatan sama sekali.
Mario sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kekawatiran pada gadis yang menarik perhatiannya itu lebih ia dahulukan dari studi yang membosankan.
Di rumah sakit, ia memberanikan diri untuk masuk
"...Selamat pagi pak, bu, Tri..." Ucapnya.
" Pagi..." dibalas mereka.
" Gak sekolah?" tanya Harna.
" Gak bu, udah ijin..." padahal bohong.
" Oh, makasih ya udah jengukin Ar..."
" Iya bu, saya bawain ini buat ibu sama yang lain..."
" Bukan buat Ar?" tanya Harna.
" Nanti Ian muntah bu, saya gak tau mau bawa apa duat dia..."
" Kamu tau?"
" Iya bu, kemarin panggilannya gak dimatikan jadi saya sempat dengar, maaf ya bu..."
" Oh gak apa apa, Ar bilangin apa ke kamu?"
" Jangan kasih tau ke teman yang lain..."
" Pasti gitu, ya udah, duduk aja..." bujuk Harna karena sejak tadi Mario tak duduk.
" Iya bu..."
__ADS_1
Kemudian mereka berbicara sebentar.