
Kondisi Ar tak mengalami perubahan. Seharian ini Harna dan Rian tak beranjak dari kamar Ar meski Rian sedikit mual karena morning sickness yang membuatnya sedikit lemas.
Tristan pulang untuk mengganti pakaian dan membawa makanan untuk Harna dan Rian. Tristan pulang bersama Fitri atas permintaan Rian yang tak mau istrinya capek karena masih hamil muda.
" Kak, Ar baik-baik aja kan?" cicit Rian paruh. Ia terlihat sedikit takut dengan kemungkinan terburuk.
" Ian gak akan kenapa-napa, adek kita kuat, dia gak akan ijin kemana-mana kalau gak pamit, ia hanya mau nguji kita, dia hanya sedikit cape mungkin istirahat sebentar..." ucap Harna, ia hanya mencoba membuat adik disebelahnya ini tak pesimis.
" Tapi kalau Ar memang pergi gak mau pamit..."
" Gak, Ar akan baik-baik aja dan akan bangun..." Kata Harna menguatkan. Ia tau Rian sangat menyayangi Ar, Rian yang sangat ingin mempunyai adik perempuan dan dengan adanya Ar melengkapi keinginannya itu. Memanjakan Ar sangat sering ia lakukan.
" Kak, gimana kalau Ar gak bisa liat Jonathan?"
" Gak mungkin, kakak udah dengar katanya Ar yang bilang kalau Fitri hamil dan kasih nama Jonathan...tau dari mana dia, kek cenayang aja..." canda Ar mencairkan suasana.
Tok tok tok
Tristan masuk dengan kotak makanan. Ia datang bersama dengan Andi.
" Gimana keadaannya kak?" tanya Andi. Ia sesikit ngilu saat melihat wajah tenang Ar di bawah masker oksigen yang terlihat pucat itu.
" Gak ada perubahan, masih kritis..."
" Yang sabar ya, Ar pasti kuat, kita gak boleh down liat dia kaya gini, harusnya kita kasih dia semangat sama dukungan bukannya pasang wajah kayak siap gini..." ucap Andi memberi semangat pada seisi kamar yang kelihatan sedikit murung.
" Mama Harna sama om Rian pulang, istirahat, sore baru datang lagi, biar bibi Itan sama om Andi yang jagain..." saran Tristan.
" Mama disini aja..."
" Kakak istirahat aja, sore pas kak Herman pulang kantor baru kakak ajak bareng sama kak Herman...
__ADS_1
Pintu terbuka memperlihatkan wajah yang paling tak ingin dilihat Harna.
" Buat apa kalian datang kesini?" tanya Harna dingin.
"..."
" Udah puas kalian, atau memang sampai dia mati beneran baru kalian puas. Gak nyangka aku, kalian berdua itu selalu menjadi panutan aku sama adik-adik yang lain tapi gini kelakuan kalian. Gini kelakuan kalian pada keluarga kalian sendiri..." murka Harna.
" Kak, tenang..." Andi mengelus pundak kakak perempuannya itu.
Tristan hanya diam saja saat ayah dan opanya dibentak. Ardan dan Opa masih dipintu, Harna, Rian dan Andi di sofa, dan Tristan disamping kasur Ar.
" Lebih baik kalian pergi dari sini sekarang..." Usir Harna.
Keduanya juga pergi begitu saja, melewati istri mereka yang berdiri dibelakang mereka. Entah apa yang ada dipikiran keduanya. Seperti datang hanya untuk memastikan atau apa.
Adrin mama Ar, dan Mariana yang berada tepat dibelakang kedua suami mereka hanya diam saja. Mereka hanya diam mendengar semua yang Harna katakan, tak ada niatan untuk membela karena yang dikatakan Harna memang benar adanya.
" Na, gimana kondisi Ar sayang?" tanya mama mendekat dan mengambil tempat disebelah Harna duduk.
" Kamu makan dulu ya nak, nanti kamu juga ikut- ikutan sakit..." bujuk mama. Harna menggeleng.
" Kalau gitu pulang ya, istirahat, anak-anak nyariin kamu, sorean dikit baru datang lagi sama suami kamu..." kata mama.
Harna menurut saja, ia juga memang sudah pusing karena tidak tidur dari kemarin.
***
Hari kedua Ar dirawat dirumah sakit.
Ar masih sangat tenang tertidur dengan damai membuat mereka yang menunggunya membuka mata mulai merasa bahwa Ar memang tak ingin lagi bangun dari tidurnya itu.
__ADS_1
Kondisi Ar tak mengalami perubahan hingga pagi hari ketiga.
Satu orang tak pernah absen datang berkunjung adalah Mario. Sebelum kesekolah, pagi-pagi sekali ia datang dengan mengucapkan selamat pagi. Sorenya sepulang sekolah ia duduk hingga 2 jam hanya untuk menceritakan tentang apa yang terjadi disekolah.
Seperti mengapeli sang pacar.
Berbeda dengan teman yang lain yang datang dihari kedua.
Jangan lupakan Satrio yang digebuk Tristan.
Ya, Tristan memukul Satrio karena secara instingnya mengatakan karena pertemuan terakhir mereka, bibi tercintanya menjadi seperti ini.
Saat membesuk Ian, Veron sempat becanda dan bertanya kapan mereka berdepat lagi, atau Daniel yang bilang kalau tak punya teman mengulik lombok yang artinya percakapan pedas sambil menggosip nama orang.
***
" Bagaimana kondisinya Li?" tanya Harna pada dokter Emelia yang melakukan pemeriksaan malam sebelum pulang.
" Syukurlah karena nona telah melewati masa kritisnya, mungkin tak lama lagi nona akan sadar..." jelas Emelia.
Harna dan Tristan sangat senang mendengarnya. Setiap malam, keduanya tak beranjak dari kamar Ar. Ya, keduanya memutuskan untuk menjaga Ar dimalam hari. Tristan akan berjaga dari jam 10 hingga jam 3 pagi dan Harna akan berjaga dari jam 3 hingga siang nanti sore setelah Tristan pulang sekolah atau sampai makan siang diganti Andi jika tidak kuliah.
" Terima kasih Li..."
***
Sore hari kamis, hari keempat Ar masuk rumah sakit, Ar masuk hari senin pagi.
Harna tak berhenti bertanya mengapa adiknya tak kunjung sadar dari tidur nyeyaknya itu.
" Kondisi nona muda memang sudah mengalami perubahan yang cukup banyak untuk sadar, namun sepertinya nona tak ingin bangun..." jawab Emelia.
__ADS_1
" Maksud kamu?" tanya Herman mewakili yang lain. Dalam ruangan ini ada Andi, Ronald, Herman, Mario, dan Harna.
" Nona ini sedang sakit secara fisik maupun mental, meski fisiknya sudah membaik, mentalnya masih terluka membuatnya masih belum bangun hingga saat ini...