Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Sakit Hati dan Raga


__ADS_3

Tristan pulang bersama Ar. Ar memintanya untuk singgah di sebuah taman, ia ingin bertemu Satrio.


Tristan memang beberapa kali bertemu Satrio, ia juga mulai dekat dengan Satrio saat Satrio bertemu dengan Herman disebuah cafe, katanya untuk urusan bisnis dan Herman terlihat mendukung pertemanan mereka.


" Bi, lama gak? Udah mau hujan nih..."


" Tuh orangnya datang..." tunjuk Ar "...kakak baru keluar kelas?"


" Gak, tadi abis dari rumah sakit, dokter ahli gak ada, lagi lanjut S3 di Jerman jadi kakak sambil kuliah sambil kerja..." jelas Satrio.


" Bi, Itan makan dulu ya, gak jauh ko..." pamit Tristan. Dia cukup percaya bahwa Satrio adalah pria dewasa yang mampu menjaga bibi tercintanya itu. Setelah mendapat respon Ar berupa anggukan Tristan pergi.


Namun ia kembali lagi "...Bi, pinjam uang dong, Itan gak bawa dompet, dompetnya didalam tas..." kata Tristan.


Ar mengambil dompet dalam tasnya dan memberikan 2 lembar uang merah, Tristan senyum-senyum sendiri. "...kembaliin ya, katanya pinjam..." kata Ar lagi, Satrio sudah menahan tawa.


" Yah kok gitu, bibi kasih gak iklas..." kata Tristan cemberut.


" Loh, kan tadi katamu pinjam, berarti nanti dibalikin kan?"


" Bi Ar cantik, imut, baik hati..."


" Udah sana..." Usir Ar, Tristan langsung pergi. Ia tau kalau seperti ini berarti Ar tak akan meminta lagi.


Canggung antara keduanya. Pertemuan terakhir atau 2 hari lalu mereka bertengkar dan tidak kontak satu sama lain.


" Jadi lapan kamu warnain rambut kamu?" tanya Satrio, dia tau soal itu dari Herman. Herman dan Satrio bertemu seminggu sekali untuk bisnis dan diselipin dengan Ar juga.


" Besok atau lusa mungkin kalau kosong, temenku punya salon, dia juga nawarin ke aku waktu aku gak sengaja nanya dia warnain rambut dimana..."


" Oh..."


Canggung lagi.


" Jadi kapan kamu ke Susan?" tanya Satrio. Inilah alasan perdebatan kemarin.


" Nanti dulu ya kak, Ar masih belum siap..." Ar belum selesai ngomong.


" Dek, 7 tahun ini bukan waktu yang sedikit, sampai kapan kau terus lari dari kenyataan ini, kamu mau tunggu 10 tahun lagi, kakak hanya minta kamu mampir sebentar aja ke makam Susan, mama mimpiin Susan minta ketemu sama kamu..."


" Kakak gak usah dong desak aku, aku juga sedang berusaha..."


" Usaha untuk apa, kamu hanya tinggal pergi aja, kata kak Herman, dulu waktu SMP juga kejadian kayak gitu pernah terjadi dan 2 minggu lalu kamu udah bisa ziarah ke makan temen kamu itu padahal baru 2 tahun kejadian itu sedangkan Susan udah 7 tahun lebih..."


" Kak, aku belum siap..." kata Ar lagi, dengan suara lirih. Ia tak bisa membantah Satrio sama sekali.

__ADS_1


" Dek, kamu juga ngertiin kakak dong, ngerti gimana perasaan mamanya kakak..."


" Tapi..."


" Kamu egois tau gak..." ucap itu kemudian Satrio pergi.


Ar melamun, ia memikirkan kembali perkataan Satrio.


Awalnya, ia memang berencana untuk setelah pulang dari libur ke desa untuk berziarah ke makam Melani ia akan ke makam Susan. Ia bahkan memotong rambutnya untuk melepas rasa bersalahnya pada keduanya yang memiliki rambut pendek dan keduanya mengagumi rambut panjangnya.


Tapi kata-kata sang papa membuatnya mengurung niat untuk berziarah ke makam Susan. Perkataan papanya membuat luka dihatinya kembali terbuka dan rasa bersalah kembali ada. Sebanya apapun sayatan yang ia gores pada pergelangan tangannya tak akan membuat keduanya kembali, meski ia sedikit tenang karena darah segarnya dapat menghapus sedikit ingatan tentang darah kedua sahabatnya yang mengotori pakaiannya disaat kecelakaan kala itu.


Ia mengabaikan gerimis yang berganti hujan lebat sore ini, tak berniat ia beranjak dari bangku taman yang selalu didudukinya saat datang kesini.


Ia menyukai hujan. Suara hujan dapat menutupi semua suara yang bising ditelinganya. Selain musik ost anime atau mendengar musik klasik yang baru-baru ini ia gemari, suara hujan paling ia sukai.


" Bi..." panggil Tristan. Ia tak tau tentang apa masalah bibinya itu tapi ia ingat betul permintaan Rian untuk menjaga emosi Ar.


Ar yang memandangi langit sambil memejamkan mata menoleh padanya. Tersenyum seperti biasa, Ar yang mengenakan topeng senyum itu sangat pandai menyembunyikan isi hatinya. " Kenapa? Udah kenang? Duduk dulu, suara hujan paling enak didengar, sekalian mandi, kak Harna belum bayar tagihan air..." canda Ar.


" Iya juga ya, terakhir kali aku mandi hujan pas SD kelas 2..." kemudian Tristan duduk menutup matanya sambil menikmati tetesan air hujan yang menimpa tubuhnya.


***


" Astaga, dek Tan, basah kuyup gini, sana mandi..." Harna ingin sekali ngomel tapi ia urung karena kedua bocah besar ini sudah menggigil dan Tristan tak berhenti bersin.


Sedikit keributan di rumah memang sering terjadi kan? Nah kini setelah selesai mandi dan meneguk habis wedang jahe yang dibuat Mbak Anin mereka berkumpul di meja makan bersama untuk makan, minus Herman karena ia sedang ada perjalanan bisnis.


Makan malam, mengenakan piyama membuat mereka terlihat lucu, menambah kadar keimutan yang aww aww di rumah mewah ini.


Selesai makan, masing-masing mengambil buku mereka dan kembali ke ruang tengah. Kamar biasanya mereka belajar diberikan kepada Tristan dan Cristian darena dari semua kamar kosong hanya kamar tersebut yang muat dengan 2 kasur untuk keduanya.


Sementar mereka belajar, Tristan kembali bersin meski tak sesering tadi.


" Itu munkin karna kamu moroti bibi tadi...Kak masa Tristan minta uang ke Ar..." Adu Ar.


" Uang bulanan aku udah menipis, lagian aku juga nabung bi, seminggu sekali juga baru aku minta uang ke bibi bukan setiap hari, gak sampe moroti bi Ar juga..." bela Tristan pada dirinya sambil memprotes Ar karena dituduh.


" Sudah sudah..." Harna menengahi. Harna memang memberi uang jajan pada Ar lebih banyak dari Tristan karena ia tau bahwa orang tua Tristan atau kakak sulungnya tidak memberikan uang jajan kepada anaknya. Dan Ar tidak mendapat uang dari papa mereka karena masalah 2 minggu lalu dan memang sekarang Ar termasuk tanggung jawabnya.


***


Pagi ini ada yang kurang, Tristan yang biasanya usil pada adik atau sepupunya saat dimeja makan menjadi pendiam. Ar juga tidak kelihatan.


Harna yang menyadari kanehan tersebut mendekat Tristan, dicek suhu kening Tristan, ternyata panas. " Selesai makan istirahat aja ya, nanti mama Harna telepon kepsek kalian..." kata Harna dan dijawab anggukan.

__ADS_1


Tristan selesai paling terakhir makannya, sedangkan Harun dan adik-adiknya ditambah Cristian sudah dijemput Andi.


Harna mengantar Tristan kekamar, meja makan dibiarkan mbak Anin dan Anisa yang bereskan. Ia singgah dikamar Ar untuk menoleh namun yang didapat adalah Ar yang masih terbungkus selimut.


" Dek, dek..." panggil Harna, ia melihat Ar yang menggigil, wajah yang pucat dengan bibir dan pipi yang kehilangan warna.


" Di, dingin kak, to tolong matikan ac-nya..." suara lemah Ar terdengar. Harna mengambil remot ac didalam laci nakas dekat kasur Ar dan mematikan ac. Ia meraba-raba kasur dan bantal yang ditempati Ar telah basah, pasti karena rambutnya tak dikeringkan, begitulah pikir Harna.


Harna keluar, memanggil Anisa menyuruhnya sesuatu dan masuk kembali kekamar Ar.


Tak lama bunyi ketukan pintu terdengar, ia mempersilahkan Anisa masuk dengan membawa sprei dan selimut berwarna cream.


Harna meminta Anisa mengantinya dengan yang dibawakan sedangkan ia membungkus Ar dengan selimut dan membawanya ke walk in close milik Ar.


Membuka piyama Ar yang basah ini dan mengganti dengan piyama yang lebih tebal. Ia kemudian menggendong Ar kembali ke kasurnya meninggalkan selimut di walk in close.


Membaringkan Ar di sisi lain kasur. " Kakak buatkan bubur ya, makan trus minum obat supaya enakan..." pinta Harna, ia tau Ar hanya memejamkan mata dan tidak tidur. Ar membalas anggukan.


Harna turun kebawah, ia meminta mbak Anin membuatkan bubur untuk Ar sedangkan ia membawa obat penurun panas dan obat flu serta batuk pilek pada keduanya.


Ia mendahulukan Tristan karena Tristan sudah makan. Ia mengetuk namun tak ada sahutan membuatnya langsung masuk karena kamarnya tidak dikunci Tristan sesuai permintaannya tadi.


" Kak, kak Itan bangun dulu, minum obatnya dulu ya..." bujuk Harna. Tristan menurut, ia bangun dan meneguk pil pil yang diberikan Harna padanya, menolak obat pahit yang tersangkut ditenggorokannya dengan air dalam tegukan besar.


" Tidur lagi, pasti kalau bangun nanti udah enakan..." kata Harna, ia menyelimuti Tristan yang sudah berbaring.


" Makasih, mama Harna memang paling baik..." kata Tristan sambil seulas senyum terbit diwajahnya yang masih pucat.


" Tentu sayang, mama baik kepada kalian semua karena mama sayang sama kalian..." kata Harna sambil mengelus surai hitam indah milik Tristan.


Ia terus mengelus-elus kepala Tristan hingga Tristan tertidur. Ia bangun dari duduknya, menutup pintu pelan agar tak mebangunkan Tristan.


Harna berjalan menuruni tangga, tersisa 5 anak tangga ia sampai di lantai dasar Anisa membawa napan berisi bubur dan air hangat.


" Mari, biar saya saja..." minta Harna. Ia menerima napan tersebut, dan membawanya menuju kamar Ar.


Tak susah memang membujuk Ar makan, Ar tak pilih-pilih makanan, namun di suapan keenam Ar menolak.


" Kenapa dek, mual?" tanya Harna kawatir.


" Kenyang kak..."


Harna tak bisa memaksa, ia tau Ar memang tak menolak semua jenis makanan, tapi makannya sedikit sekali. Harna pasrah, ia memberikan obat kepada Ar, Ar meneguk obat, bersamaan dengan obat tidurnya yang tadi diminta tolong Harna untuk diambilkan. Ar hanya meminum sedikit air, tak seperti Tristan yang hampir menghabiskan airnya, Ar menghabiskan tak sampai seperempat dari air kurang dari gelas.


Harna tak mendesak agar ia meminumnya lagi, ia tau semakin Ar didesak maka semakin ia menolak. Harna menyelimuti Ar yang sudah membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.

__ADS_1


" Cepat sembuh dek, Herwin sedih kalau kamu gal ada di pestanya nanti..." kata Harna kemudian mengecup kening Ar dan pergi.


__ADS_2