Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Memenuhi Ngidam


__ADS_3

Hamil adalah impian hampir semua perempuan didunia ini, apalagi kehamilan pertama bagi pasangan yang lama menikah. Begitu pula dengan pasangan Rian dan Fitri.


Hamil tak jauh dari yang namanya ngidam dan morning sickness. Selama Fitri hamil dengan usia kandungan yang baru 6 minggu ini Rian setiap paginya harus terduduk lemas bersimpuh di lantai kamar mandi karena muntah.


Ya, Rianlah yang mengalami morning sickness. Pernah ia pingsan karena muntah tak berhenti hingga Bintang harus menghandel semua pekerjaannya agar si bos mengambil cuti selama masa kehamilan pertama sang istri.


Untunglah Fitri tak ngidam yang aneh aneh, ia hanya minta sekedar dibelikan bakso, pizza, ayam bakar, dan makanan biasa biasa saja meski setiap hari bahkan sehari ia meminta beberapa macam makanan yang berbeda. Fitri tak menuntut siapa yang harus membeli untuknya, tapi ia menolak memesan, ia ingin dibelikan sendiri tak mau diantar.


Sebenarnya Fitri sangat ingin suami tercintanya membelikannya makanan secara langsung namun kondisi sang suami tak memungkinkan. Hari ini Rian kembali terbaring di kasurnya karena dehidrasi dan maag kambuh akibat muntah dan tak ada makanan yang masuk kedalam perutnya.


Bunga sendiri bingung dengan kedua majikannya ini karena Fitri juga ikut-ikutan tak mau makan karena menunggu saudari iparnya datang.


Kali ini Fitri ngidam berbeda dari biasanya yaitu ingin bertemu Ar. Alasan itulah Ar kembali ke Indonesia 2 hari lebih cepat.


Fitri menunggu karena katanya Ar sedang dalam perjalanan menuju kesini membuat Fitri sejak dini hari duduk diteras rumah mereka.


***


" Kakak ipar kamu tuh apa-apaan, ganggu orang liburan aja..." gerut papi saat mereka kembali dari bandara ke mansion.


" Gak apa-apa pi, kan hanya 2 hari lebih cepat, demi keponakan bungsu Ar yang mau lahir..." bujuk Ar pada orang tua satu ini yang tak berhenti ngomel sejak masih di Prancis hingga sampai ke rumahpun tak henti-hentinya mulut baca mantra.


Sekarang ini masih pukul 5 pagi, dan mereka baru tiba di rumah. Ar langsung masuk dan memanggil Gabby serta Jacob. Pulang kerumah Harna untuk mengambil pakaian yang akan dibawa ke rumah Rian.


" Langsung berangkat dek? Istirahat dulu sejaman baru berangkat..." saran Indah.


" Nanti dimobil aja kak baru istirahat, Ar tinggalin koper besar ini aja kak, sisanya Ar bawa ya..."


" Iya, hati-hati..." kata Indah, Ia mengecup pipi Ar kemudian masuk kedalam.


Papi diam, tak tau mau berbicara apa ia kemudia mengecup pipi Ar dan membisikan kata hati- hati di jalan kemudian masuk mengikuti Indah.

__ADS_1


Ar menatap kedua punggung yang menjauh, seandainya ia juga bagian dari keluarga ini sejak lama pasti ia tak perlu depresi dan menderita.


***


Pagi ini terparkir mobil hitan dipengarangan rumah dari seorang pengusaha sukses.


Siapa lagi pemilik mobil tersebut kalau bukan Ar. Ia tiba di rumah kakaknya sekitar jam sarapan pagi lebih sedikit.


Kakak iparnya menyambutnya dengan ceria, tentu ngidam aneh yang ingi mendatangkan Ar dari Eropa telah terpenuhi.


Ia cukup senang saat melihat punggung mungil itu berkutik membuat nasi goreng untuknya. Fitri kelaparan karena tak mau sesuap nasipun dan nasi terakhir yang masuk ke perutnya adalah pas makan malam malam kemarin yang artinya kemarin seharian penuh, bumil ini tak mau makan nasi.


Yang Ar dengar dari Bunga, ART Rian, nyonyanya tidak ingin menyentuh nasih sejak ingin bertemu dirinya. Dengan inisiatifnya, ia membuat nasi goreng untuk sarapan pagi.


" Pagi sayang, pagi Nathan..." kata Rian yang ngecup kening sang istri kemudian turun ke perut yang masih rata tersebut.


" Pagi sayang..." balas Fitri sambil mengecup pipi sang suami.


" Tuh Ar lagi buat sarapan..." jawab Fitri sambil menunjuk Ar yang telah memindahkan nasi gorengnya dari wajan ke tempat nasi.


" Oh udah sampe..." kata Rian, ia kemudian mengambil duduk disamping sang istri saat Ar menyajikan sarapan untuk mereka.


Ar kembali ke dapur. " Mbak Bunga udah sarapan?" tanya Ar pada Bunga dan dijawab anggukan. " Kalian sarapan ini, masih ada lebih, trus kalian bisa istirahat, aku gak keluar lagi, kalau keluar aku bisa minta mbak Bungan atau yang lain panggil kalian..." jelas Ar pada Gabby dan Jacob.


" Kalian udah simpan barang-barang aku kan? Selesai sarapan tanya kamar kalian di rumah belakang sama pak Berno..." kata Ar lagi dijawab dengan bungkukkan hormat oleh keduanya.


Rian hanya mengamati saja, ia tersenyum karena Ar seperti memiliki jiwa pemimpin yang dapan membuat orang patuh pada ucapannya.


" Kalian kan gak perlu nungguin Ar juga..." Ar sedang mengambil tempat di kursi kosong disebelah Rian. Ia melihat nasi belum berkurang meski telah berpindah kedalam piring keduanya.


" Gak bisa dong, kan ada kamu masa kita duluan, kan gak hargain kamu dek..." kata Fitri.

__ADS_1


" Yaudah kakak cepetan makan, jangan bikin Ponakan aku kelaparan, kata mbak Bunga kakak gak makan kemarin seharian penuh..." kata Ar sambil pangdangannya menyipit seperti sedang menelusuri sesuatu.


" Kakak makan ya..." elak Fitri.


" Iya makan tapi gak ada nasi, gak baik kak, nanti Jonathan gak sehat kalau kakak gak makan yang bergizi, ngidam boleh kak, Ar gak larang kakak makan apapun atau ngidam apapun tapi kakak harus tetap makan nasi 3 kali sehari, mulai sekarang sarapan kakak harus nasi juga, gak ada roti atau buah aja..." nasehat Ar pada kakak iparnya. Rian tersenyum.


" Iya dek, maaf..."


" Ar gak marah sama kakak, Ar hanya kawatir, ini kehamilan pertama kakak, Ar memang gak pernah ngalain yang namanya hamil atau ngidam, Ar juga gak pernah liat kakak yang lain hamil karena kita tinggalnya beda jadi Ar gak tau tapi dari yang Ar baca, tiga bulan pertama itu rawan jadi kakak harus jaga pola makan kakak disamping kakak ngidam atau gak nafsu makan ya?" kata Ar.


" Iya dek..." jawab Fitei lagi. Hatinya menghangat mendengar nasehat dari adik bungsu suaminya. Tentu terlahir sebagai anak tunggal membuatnya kesepian dan Ar sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri. Apalagi Ar yang perhatian dan banyak berbicara sepwrti ini membuatnya senang.


" Kakak kamu ini gak kamu kawatirin?" tanya Rian cemberut.


" Kakak hamil?" tanya Ar polos membuat Fitei menahan tawa dan Rian makin cemberut.


" Kakak nig yang mual muntah, kakak yang ngalamin morning sickness ya..." kata Rian.


" Tapi pagi ini ngak tuh..." kata Fitri.


" Iya juga ya, jangan-jangan... Dek mending kamu tinggal di sini aja ya, Nathan kayaknya gak nyiksa kakak pas ada kamu..." cetus Rian membuat Ar bingung.


" Maksud kakak kamu itu, saat tau kamu datang dia gak muntah lagi kayak pagi-pagi sebelumnya... Masa kakak kamu ya, morning sickness dia malah nyalahin Jona yang gak suka sama dia..." adu Fitri.


" Nama panggilannya Jona apa Nathan nih?" tanya Ar tanpa menanggapi perkataan Rian dan Fitri sebelumnya.


" Kakak sih maunya Nathan tapi kak Fitri mau Jona..." jawab Rian.


" Oo..."


" Saranmu apa dek?" tanya Fitri.

__ADS_1


" Kok nanya Ar, kan kalian orang tuanya, aneh-aneh deh..."


__ADS_2