
" Akukan udah bilang kakak gak usah ikut ish, malas banget tau gak..." ujar Ar kesal, sekarang ini dia ada dalam mobil Reno diikuti Priscilla, Joana, dan Betty, ditambah Satrio. Ketiganya ingin menonton perdebatan yang membuat Angel sampai kehilangan separuh hidupnya itu.
Posisi duduk mereka, Satrio yang meminta untuk menyetir saat melihat Ar masuk dan duduk di bangsu samping kemudi sedangkan di baris kedua terisi oleh 3 cewe kopo tadi dan tuan mobil alias Reno membawa mobil Satrio dan mengikuti mereka dari belakang bersama Cris dan Angel ikut kakaknya di mobil mereka bersama Benny.
" Tadi kan kakak udah bilang kalau kakak ikut juga, jadi kita kemana nih, ke toko buku atau ke mall?" tanya Satrio.
"..." hening 3 penghuni bangku belakang mengikuti tujuan Ar sepenuhnya.
" Belok kak..." pinta Ar, merwka berhenti di perempatan, kalau jalannya lurus maka pulang kekompleks rumah mereka, kalau ke kiri arah ke toko buku dan perpustakaan umum, sedangkan belok kanan adalah arah pusat perbelanjaan.
" Ya belok kemana adek Yana sayang cantik imut jelita kaya boneka beruang dirumah..." Satrio sudah gemas sendiri. 3 cewe dibelakang memekik tertahan melihat reaksi Satrio yang menghadapi tingkah kekanakan Ar alias Ian dengan meremas setir mobil.
" Ke toko buku trus ke mall..." jawab Ar lagi.
Dan entah bagaimana sampailah mereka di depan toko buku. Semuanya turun, kecuali Cris yang memang tidak memiliki minat baca.
Saat turun Ian langsung menyambar tangan Benny dan Reno, meninggalkan Satrio.
Tontonan ini semakin lama semakin menarik. Betty.
Astaga Ian juga punya sisi kekanak-kanakan seperti ini. Priscilla.
Ini semakin seru. Joana.
Sampai kapan mereka seperti ini. Angel dan Alfin.
Kenapa aku diseret. Reno.
Ian memeluk lenganku. Benny terharu.
Masuklah mereka mengikuti Ian, Reno, dan Benny.
" Kak Reno sama Benny pilih buku yang ingin kalian beli aku akan bayar salah satu dari buku kalian." ujar Ian sembunyi-sembunyi agar tidak didengar oleh Satrio. Setelah mengucapkan itu dia melepaskan tangannya dari lengan mereka berdua. Ia berjalan kegirangan melewati rak komik.
" Kak troli besar disudut sana biasa dimana ya kak?" tanya Ar pada kakak petugas disana.
" Oh troli sedang digunakan untuk memindahkan buku-buku bekas uang dijual kembali oleh pelanggan..." jelas kakak petugas.
" Bukannya trolinya ada tiga ya?" kata Ar lagi.
" Wah nona kecil hebat bisa mengingat jumlah troli di sini, 1 trolinya untuk buku-buku bekas dan dua lainnya untuk menyusun buku-buku baru yang baru masuk..." jelas kakak petugas lainnya.
" Kalau boleh tau buku apa saja ya yang baru masuk?" tanya Ar penasaran.
" Kalau itu saya kurang tau nona, karna saya masih kariawan baru ynag belum 1 minggu bekerja di sini jadi saya hanya menyapu dan mengepel saja..." jelas kakak petugas tadi, memang sejak tadi Ar tidak melihat tangan kakak itu terdapat sapu.
" Oh iya, maaf menggangu waktu kakak, apa kakak bisa mengantarkan saya ke buku-buku yang baru masuk itu..."
"Boleh..."
__ADS_1
" Ian, kamu mau kemana?" tanya Benny melihat Ar berjalan mengikuti salah seorang berseragam petugas.
" Mau liat buku yang baru masuk..." jawab Ar.
" Ikut ya?" kata Benny.
" Ayo, aku mau ngambil troli sih tapi katanya lagi dipakai, kalau diminta pasti dikasih kan." kata Ar.
Setelah mendapatkan troli, Ar memilih beberapa komik dan 3 novel series.
Seperti waktu itu, semua akan terkejut dengan porsi beli buku milik seorang Ardian.
" Dek gak kebanyakan?" tanya Satrio dibalik kerumunan grup mereka ini.
" no es asunto del hermano Satrio." ucap Ar ( ini bukan urusan kak Satrio ) yang masih kesal, meski kesal ia tak bisa mengumpat atau memaki Satrio jadi ia memiliki cara lain yaitu mengungkapkannya dengan menggunakan bahasa asing.
Tentu saja banyak yang sedikit woaw dwngan bahasa asing Ar dan Satrio tidak tau artinya. Seperti janjinya ia membayar 3 komik milik Benny yang katanya kurang dari Rp 50.000 jadi dibayarnya semua padahal Benny hanya meminta saran komik darinya tadi dia sudah sangat kegirangan danReno mengambil 1 novel karna dipaksa beli oleh Ar.
" Kali ini juga nona Ardian beli banyak ya..." kata si penjaga kasir, semenjak pindah ke tinggal dengan Harna, Ar kalau diajak keluar pasti akan minta untuk mampir kesini.
" Oh kakak yang jaga ya, minggu lalu aku sakit jadi gak datang." Ar sempat-sempatnya mengobrol dengan kakak kasir yang sementar mengbungkus buku-buku miliknya. Ia cukup akrab dengan kakak satu ini karena terus bertemu.
" Gitu ya, aku kesepian loh...." katanya.
" Ih kakak bisa aja, oh iya kak kalau ada komik baru yang masuk kakak kabari Ar ya..." minta Ar.
Dan giliran yang lain yang masing-masing memegang 1 atau 2 buku.
Ar keluar dibantu Reno dan Benny, yang menenteng 2 kantong berisi sejumlah komik obral oneshot ke mobil milik Reno, karena searah Reno membawa semua barang atau belanjaan milik Ar alias Ian, Benny, Betty, dan Cris. Selain Ian, tadi pagi, ia sendiri yang meminta ijin pada orang tua Benny dan Cris, juga kakaknya Betty. Sebagai yang paling dewasa dan sudah mendapatkan KTP ( emang apa hubungannya, biar dihubungkan aja ), Reno menjadi yang bertanggung jawab atas ketiga tetangga kompleksnya itu dan ditambah Ian ini.
Semuanya sudah kumpul di parkiran.
" Sekarang gimana? masih mau main atau liat-liat di mall gitu?" tanya Alfin.
" Jadi..." jawab semuanya serempak. Mereka berbagi, karena Satrio yang tadi hanya kabur makan siang dari pekerjaannya, dia pun pulang setelah handpone-nya tak berhenti bunyi.
Dimobil Reno terdapat, Reno selaku penyetir, Ian yang duduk disebelahnya, dan trio Benny, Betty, dan Cris di baris kedua.
Di mobilnya Alfin, Alfin dibiarkan duduk dikursi kemudi sendiri dan Angel bergabung dengan Priscilla dan Joana.
...****************...
Merwka bejalan jalan di pusat perbelanjaan, hanya berjalan-jalan, mampir dari tempat makanan, pakaian, aksesoris, hingga...
" Loh Ar, ketemu disini..." ucap seseorang yang tak asing ditelinga Ar tapi sangan tasing di telinga teman lainnya.
" Kak Herman, kata kak Harna kakak lagi keluar sama teman bisnis kakak..." balas Ar.
" Oh iya, kakak memang keluar tapi ada keperluan sebentar disini, mau beli lipstik buat kakak kamu, katanya lipstiknya sudah habis..." kata Herman sambil bisik pada Ar.
__ADS_1
" Kenapa gak ajak kak Harna sekalian..." usul Ar dengan polosnya, teman-teman dibelakangnya bertanya-tanya siapa lagi kakak Ian, berapa banyak kakaknya Ian yang mereka temui hari ini.
" Kejutan dong. Kamu lagi main sama temen-temen kamu?" tanya Herman saat melihat dibelakang Ar terdapat segerombolang anak-anak SMA.
" Iya kak, kalian maaih ingat kak Harna tadi kan, ini suami kak Harna tadi, Kak Herman..." Ar memperkenalkan padan teman-temannya.
Yang lain tergagap, bagaimana mereka bisa lupa dengan kepala yayasan, pemilik dari sekolah mereka. Benny, Betty, Cris, dan Reno pun sama terkejutnya, Herman memang tak pernah berpapasan dengan mereka.
Mereka memandang Heman dengan sedikit... yah begitulah. Herman jarang pergi kesekolah atau lebih tepatnya hanya pergi saat-saat tertentu, dan mengenakan jas rapi tanpa kusut sedikitpun meski diujung lengan. Dan yang mereka lihat sekarang adalah seorang pria dengan kaos kerak santai dan celana pendek diatas lutut yang disisip dalam dan sepatu olahraga.
" Selamat sore pak..." jawab mereka serempak membuat yang didekat situ memerhatikan.
" Hahaha baru ditinggal sebentar dan pak Herman sudah menarik perhatian daun-daun muda..." ujar seorang pria yang berjalan mendekat, ia tampak masih muda seperti baru memasuki 20-an tahun.
" Pak Kevin, sepertinya daun muda bukan perkataan yang sopan didepan para murid dan adik saya..." tegur Herman. " Dek, mau ikut kakak sebentar..." ajak Herman pada Ar dan ar mengangguk. " Apa boleh saya pinjam teman kalian sebentar?" tanya Herman pada anak-anak lain.
" Iya pak..." jawab beberapa dan beberapanya mengangguk.
" Saya harap pak Kevin menjaga sikap pada para anak dibawa umur..." kata Herman dan pergi.
Herman mengobrol sedikit dengan Ar dan memberinya beberapa lembar uang berwarna merah. " Kakak tidak ingin penolakan, bermainlah dengan teman-temanmu, jangan pulang malam..." Ar mengangguk, " ayo..." Dan mereka kembali.
Herman pun pergi bersama pak Kevin. Dan merekan lanjut berkeliling, hingga Cris mulai bosan.
" Hei, kalian tak ada sesuatu yang ingin dibeli? aku sudah cape jalan ayo pulang..." kata Cris.
" Gimana kalau kita ke pantai, sebentar lagi sunset, kalau kita jalan sekarang kita bisa sampai melihatnya..." usul Reno.
" Boleh, tapi ijin orang tua dulu..." kata Alfin dan dijawab anggukan oleh yang lain.
Mereka menelpon orang tua masing-masing, Joana yang awalnya tidak diizinkan akhirnya juga ikut pergi karena Alfin dan Priscilla juga ikut andil dalam perizinannya Joana.
Mereka pun berangkat, ditengah perjalanan Ian meminta berhenti sebentar di depan mini market, katanya ia sudah lapar.
Tidak mau ketinggalan mereka semua turun dan membeli jajan untuk perjalanan, dan yang paling banyak membelinya adalah Priscila dan Joana.
Karna melum mendapatkan makanan yang ia mau Ian meminta berhenti si sebuah Resto mini dan memesan sandwich yang dibungkus.
Selanjutnya tak ada lagi pemberhentian hingga mereka tiba di pantai.
Duduk dibawa lopo sambil menunggu sunset sambil memakan cemilan.
Dengan kekuatan uang, mereka menyewa 2 kamera untuk 2 jam.
Seminggu ini, penat dan lelah ujian seketika menguap dengan canda mereka yang memilih berlarian dipinggir pantai sambil melepas semua beban menjadi seorang murid meski hanya sebentar.
Duduk di pasir pantai lebih menyenangkan, sambil memandang kesatu titik yang sama, dan satu pikiran yang sama...
Perjalanan kami masih panjang...
__ADS_1