Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Rumor


__ADS_3

Ar merebahkan dirinya di kasur besar miliknya, pukul 4 sore dihari minggu! Apa yang harus ia lakukan.


Diambil handpone milik dirinya, membuka aplikasi berwarna hijau yang merupakan aplikasi obrolan. Ia bisa melihat banyaknya chat yang memang sengaja tak ia baca. Panggilan masuk bertuliskan Betty disana.


" Halo?"


"..."


" Tak apa kan aku bertamu?"


"..."


" Baiklah, aku mandi dulu..."


Dengan malas Ar bangun dari kasur empuknya itu, Betty yang memiliki banyak pertanyaan perihal ketidak hadirannya disekolah hari jumat kemarin.


Ar mandi dengan hanya guyuran shower saja, kalau ia berendam berarti akan lama ia menuntaskan kemalasaannya saat menenggelamkan separu tubuhnya ke bak mandi hangat yang serasa dipijat tersebut.


Ar kramas sendiri, meski ingin menghemat waktu tetap saja jika kramas, ia membutuhkan waktu 3 jam lebih untuk mengeringkan surai panjangnya yang sudah hampir menyentuh tanah tersebut.


Mengenakan handuk kimono dan sebuah handuk besar untuk mengeringkan rambutnya yang masih meneteska air.


Ar memanggil Anisa dari balkon kamarnya, ia tadi melihat Anisa sedang berada di halaman belakang bersama 3 baby dog yang sudah mulai lincah berjalan dengan mbak Anin dan mang Ijo.


Anisa datang, ia langsung mengetahui bahwa Ar ingin memintanya ditata rambutnya. Ia bergegas mendekat. " Kakak tak perlu menyisirnya, langsung dikuncir saja..." pinta Ar.


Anisa menurut. Dengan keadaan berdiri rambut Ar dikuncir oleh Anisa karna jika ia Duduk berarti ia akan duduk diatas rambutnya sendiri.


Setelah dikuncir, Ar duduk di meja rias yang diatasnya hanya berisi cermin sebagai identitas meja rias karena sisanya ada berbagai macam headpone dengan berbagai warna, earpone, juga headset. Ar memang hobi mengoleksi benda penutup telinga tersebut.


Setelah dirasa Anisa sudah selesai menguncir rambutnya, Ar mengambi gunting dari lagi meja tersebut. Dan sreet rambut panjang Ar...


" Nona..." panggil Anisa yang masih syok dan terkejut akibat aksi dari majikannya itu.


" Aku sudah berjanji pada temanku, lagi pula, rambutku akan lama tumbuh kalau tak digunting..." ucap Ar. "... Kak tolong buka kunciran yang tadi dong, nanti bau..." minta Ar lagi.


***


" Sore..." Sapa Ar memasuki apartemen milik Betty. Disana ia melihat ada Benny, Cris, Joana, Priscila, dan Angel.


" Sore...Sapa mereka kompak.


" Kamu kemana jumat kemaren?" tanya Benny saat Ar baru mengambil tempat duduknya.


" Ke rumah orang tua..." Jawab Ar. " Kenapa nih pada ngumpul?" tanya Ar lagi.


" Nih Lynden sama dua temannya mau ikut gabung belajar kelompok bareng, aku gak tau dari mana mereka tau tentang kelompok belajar kita tapi mereka gak mau ditolak..." kata Benny lagi.


" Gak apa apa, kan lebih banyak lebih baik ya meski nantu susah diatur tapi bisa banyak ide dan ilmu yang dikumpulkan..." Jawab Ar.


" Yan, kamu tau gak..." Priscila.


" Gak tau..." Ar


" Belum juga ngmong Yan..." Joana.


" Eh maaf..."


" Kamu gak ngerasa Lynden itu mirip kamu gak sih? Kalau dilihat sekilas aja mukamu mirip banget..." Kata Priscilla.


" Iya Yan, pertama kali masuk kupikir kamu saudaranya Lynden, apa lagi kalau rambut kamu coklat gini..." Ujar Angel lagi.


" Iya ka? Tapi keluarga mama papa orang Indo semua, gak ada yang orang aaing, aku juga gak tau kenapa rambutku warna coklat terang dan mataku berwarna ini..." uja Ar.


" Ini warna rambut asli kamu?" tanya Cris.

__ADS_1


" Iya, aku lumayan suka warna hitam jadi beberaa bulan sekali kuwarnai hitam pekat biar mirib kak Harna..." jawab Ar santai.


Selanjutnya mereka ngobrol hingga larut malam, makan malam tadi mereka patungan beli pizza, dan beberapa makanan cepat saji lainnya.


Malam sudah cukup larut, Ar pulang dengan Joana dan Priscilla yang membawa mobil, mereka menurunkan Ar tepat didepan pintu masuk rumahnya karena halaman depan Ar cukup luas untuk ia berjalan masuk ke dalam rumahnya.


" Makasih ya, hati-hati..." ucap Ar sambil melambaikan tangannya.


***


Malam tadi Ar bisa tidur dengan nyenyak, benar karna obat tidur yang diberikan Fanessa. Ia turun ke bawah seperti biasa yaitu pukul 6 lebwa seperempat.


Dimeja makan sudah ada Herman, Harna, Harun, Vin, Vian, Win, Andi, Ronal, Tian dan Tan. Yap, Tian dan Tan adalah anak Ardan yang ingin bersekolah di sekolah ayahnya dulu yaitu Sekolah Swasta Pranata.


" Pagi semua..." sapa Ar, dilihatnya Hanya Tan saja yang berseragam rapi. "...kak, mereka gak kesekolah?" tanya Ar yang menunjuk Harn dan yang lain.


" Gak, kemari kakak ngjinin mereka sampai senin kok, biar mereka istirahat..." jawab Harna.


" Trus dia?" tunjuk Ar pada Tan.


" Dianya yang mau kesekolah, katanya gak sabar mau ketemu kepsek cantik..." gurau Herman.


" Enak aja, gak ada macam-macam sama kak Indah, awas ya..." ancam Ar.


" Sejak kapan kau akrab dengan Indah dek?" tanya Harna heran, pasalnya Ar sangat sulit jika bertemu orang baru, apalagi bisa akrab, itulah mwngapa teman Ar tak terlalu banyak. Begitulah pikir Harna.


" Udah lama, Ar biasanya makan siang bareng kak Indah, di kantin terlalu berisik..." kata Ar. " Kak Andi sama kak Ronald ngapain disini?" tanya Ar.


" Main aja, siapa tau kangen..." goda Andi.


" Idih, Ar kasihan sama kak Ella, bisa banget mau sama buata ini..." ejek Ar.


" Enak aja buaya, sembarangan kamu ya..." bela Andi.


Mereka melanjutkan sarapan mereka dengan gurauan. Setelah itu Ar dan Tan pamit, Tan memang sudah diijinkan berkendara, ia juga sudah pernah mengikuti ujian mengemudi dengan nilai bagus, tapi karna belum mencapai umur 17 tahu makannya ia belum memiliki SIM.


***


Tristan turun dari mobilnya dengan cepat dan berniat membuka pintu mobil sebelah untuk Ar. Ia dan Ar jalan bersebelahan sambil bergandengan tangan dan Ar memang tidak menolak.


Saat dimobil tadi Tristan meminta Ar untuk melindunginya dari cewe-cewe. Tristan memang tampan dan dia tau itu, dengan berpura-pura menjadi pacar sang bibi tercinta mungkin ia tak akan diganggu karna telah melepas status jomblo meski pura pura.


Ar menanggapi semua sapaan dengan senyum simpul, Ah tak tahukah dia bahwa ia sangat manis, kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, pipi yang sedikit cubby dengan rona merah yang alami serta bibir pink tanpa polesan dilatari kulit yang putih mendekati pucat membuatnya terkenal sebagai si imut mochi.


" Bi, bibi potong rambut?" tanya Tristan.


" Iya, gunting sendiri ni loh..." Bangga Ar.


" B aja bi..." Tristan tolak memuji.


" Kalau gitu, jalan sendiri ke ruangannya kak Indah..." kata Ar sambil menghempaskan tangan Tristan.


" Ih bi, canda bi... muaah..." Tristan mengeratkan jemarinya di sela sela jemari Ar dan mengecup pipi Ar membuat yang melihatnya langung meleleh melihat adegan romantis ini.


Ar tidak menolak karena mengecup pipi di antara mereka itu untuk menyalurkan rasa sayang diantara saudara atau dalam keluarga.


" Ehem pagi-pagi udah mesra mesra aja, Yan, masih pagi kalau mau romantisan sekarang..." potong Angel ditengah-tengah mereka berdua.


" Sapa dulu bego, main nyambar aja... Pagi Yan..." Sapa Alfin kakak dari Angel, ia merasa tak enak melihat adegan tadi tapi ia tutupi toh dia bukan siapa siapa. Begitulah pikir Alfin.


" Pagi kak..." Balas Ar.


" Siapa Yan? pacar?" tanya Angel. Sambil menunjuk Tristan.


" Nama saya bukan pacar tapi Tristan..." bantah Tristan.

__ADS_1


Angel tertegun, suara yang tak terlalu berat, oke nomor ke 1 menggantikan Veron dalam daftar jajaran cowok yang akan dipepet.


" Eh si mentari, pagi sayang..." sapa Veron si paling tengil di antara kedua sahabatnya.


" Gak ada namanya Mentari, namaku Ardian, panggilan Ian... Pagi juga..." Ar mulai hafal suara yang kemarin menggodanya sepulang sekolah.


" Pagi..." Sapa Daniel dan Lynden bersamaan.


" Pagi juga..." balas yang lain.


" Bi, jadi gak antar ke ruang kepseknya?" tanya Tristan.


" Jadi..." jawab Ar.


" Pake gendong?" goda Tristan, biasanya kalau Tristan meminta sesuatu pasti akan dibalas menggendong Ar.


" Gak usah, ini disekolah..." jawab Ar. " Aku duluan ya, mau ngantar Tristan dulu..." pamit Ar dan dibalas anggukan.


Selepas Ar pergi mereka diam saja, By, Ar punya pacar adalah yang mereka pikirkan, padahal sebagian cowok yang berdiri disini adalah mereka-mereka yang mengincar seorang Ardian.


***


Tristan masuk kelas X IPA 1, awal masuk kelas ia sudah dikerumuni cewe-cewe.


Mendengar bel istirahat, tanpa menunggu dikerumuni ia langsung pergi. Tak lama ia sampai dikelas bibinya itu.


" Bi, makan yuk..." ajak Tristan.


Kegaduhan seketika, mereka mendengar anak baru memanggil Ian dengan By yang merupakan singkatan dari BABY, begitulah pikir mereka semua.


" Gak mau kenalan sama temen-temen bi Ar dulu..."


Mereka saling berkenalan satu sama lain, kemudian ke kantin bersama. Lagi lagi dengan Tristan menggandeng tangan Ar, entah kenapa hati mereka mengebu-gebu, mungkin karena cemburu yang tak mereka sadari.


Meja panjang milik Lynden dkk yang masih kosong, mereka bertiga memang memiliki tempat khusus yaitu pojokan kantin dengan meja paling besar diantara meja meja yang lain.


" OI MENTARI SINI... Teriak Veron memanggil Ar, namun digeplak oleh Lynden dan Daniel setelahnya.


Ar mendekat dan diikuti teman-temannya.


" Induk ayam lo? Kemana mana diikutin mulu..." kata Daniel, si mulut pedas, ia melihat ada Betty, Benny, Cris, Priscilla, dan Joana, jangan lupakan Tristan yang masih menggandeng Ar.


" Emangnya lo betiga mau buat tunggku api, bertiga mulu..." Balas Ar sadis, Ia dipelototi teman temannya dan ketiga tunggku api dengan balasannya yang tak kalah tajam sedangkan Tristan sudah biasa.


" Elah buset, gue pikir elo gak bisa pake lo gue, ternyata bisa lemes mulutnya..." balas Daniel disetujui yang lain dalam hati minus Tristan, pasalnya Ian selalu berbicara menggunakan aku-kamu sehingga teman temannya ikut, entah bagaimana mereka menjadi sedikit sopan saat berdwkatan dengan Ar.


" Tan, pesen makan? Atau nanti?" tanya Ar perhatian. Sudah jarang-jarang ia bersama Tristan dan sekarang mereka tinggal di satu atap yang sama membuatnya cukup senang.


Mereka yang lain meminta Joana dan Priscilla yang memesan, katanya sesuai giliran.


" Nanti aja bi... Bro, bagi catatan dong, tadi walkes bilangnya ngambil rangkuman di ruang guru tapi boleh kan minta sama kalian..." minta Tristan pada Lynden.


" Ok, nanti..." jawab Lynden "...oh iya Yan, kita boleh gabung kelompok belajar kalian?" tanya Lynden.


" Iya, masa kalian nolak anak peringkat 2, 5, sama 9, seangkatan..." tambah Daniel.


" Gausah songgong, aku temanku kuga banyak yang masuk 10 besar seangkatan tapi biasa aja..." kata Ar. Ia tak suka membawa-bawa peringkat sebagai sebuah tolak ukur.


" Ya maaf, trima gak?" tanya Daniel lagi.


"Hmm..." jawab Ar. Uh Daniel senang sekali ingin mencium tangan Ar namun ditepis oleh Tristan.


" Cih, ada pawangnya..." gerut Daniel.


" Dia milikku..." ujar Tristan kemudian mengecup pipi Ar.

__ADS_1


Wah adegan ini membekukan seisi kantin. Anak baru ternyata sudah memiliki pengisi hati.


BRAK, meja digebuk, dan Benny pergi meninggalkan mereka.


__ADS_2