Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Mengintai


__ADS_3

Ar pulang dengan tergesa-gesa, ia tidak menunggu Andi datang menjemputnya karena Satrio telah berjanjian dengannya untuk mampir di supermarket.


" Siang kak, kakak gak sibuk?" tanya Ar saat masuk kedalam mobil yang dibukakan oleh Satrio.


" Tidak terlalu, lagi pula sekarang kakak ditukar jadwalnya jadi malam, oh iya anak anjing yang kamu adopsi itu gimana?" Tanya Satrio sambil menutup pintu, berjalan memutar, masuk dan duduk di belakang kemudi.


" Mereka, memprihatinkan..." jawab Ar murung.


" Gi, gimana kalau kita belikan mereka mainan, atau apa gitu..." usul Satrio, ia sedikit panik dengan melihat tampang lesu Ar.


" Tapi umur mereka baru 1 bulan, katanya mereka baru bisa melihat, gigi mereka juga belum tumbuh semua..." Ucap Ar lagi.


" Ba,bagaimana dengan ujianmu tadi?" tanya Satrio mengalihkan pembicaraan.


" Not bad, Yana bisa kerja semuanya meski ada beberapa soal yang jawabannya buat Yana ragu tapi esai-nya tidak terlalu sulit, malah terlalu mudah karena Yana sering baca pada bagian itu..." oceh Ar yang bahagia karena soal yang keluar sesuai dengan prediksinya.


" Bagus dong, kamu pengen apa biar kakak belikan, sesekali kakak ingin memeberikan kamu sesuatu..." tanya Satrio yang ikut senang. Mereka telah memasuki parkiran supermarket, mereka turun dari mobil, Satrio langsung menyambar tangan Ar seperti jika ia tidak langsung menggandengan tangan Ar, Ar akan langsung menghilang.


" Kenapa ini?" tanya Ar sambil mengangkat tangan yang Satrio gandeng.


" Itu, kalau tidak dipegang nanti kamu hilang gimana..." Satrio beralasan.


" Oh, ok..."


Mereka masuk kedalam tanpa menyadari ada yang melihat dengan pandangan sinis dan ada yang melihat dengan pandangan cemburu.


...****************...


Reno pulang selesai mengikuti ujian namun digerbang ia melihat Ian alias Ar memasuki mobil asing, ia juga melihat seorang cowok asing yang cukup mapan untuk disejajarkan dengan Ar yang berasal dari keluarga berada (pikiran Reno mulai berlarian kearah lain).


Entah kenapa ia ingin mengikuti mereka, dan entah sejak kapan ia mulai menyukai Ar. Ia membuntuti mobil yang dinaiki Ar tadi hingga berhenti di sebuah supermarket.


Hatinya sangat membara saat melihat Ar digandeng tangannya oleh pria mapan tadi, tentu saja ia bahkan untuk kontak fisik dengan Ar belum pernah meski hanya bersentuhan tangan karna ia yang ia tau dari Batty, Ar alias Ian sangat benci bersentuhan dengan orang dan akan merasa sangat risih.


Ia tau menguntit itu adalah hal yang tidak baik tapi hatinya tergerak dengan sendirinya saat melihat gadis yang ditaksirnya sedang jalan dan bahkan bergandengan dengan cowok lain.


...****************...

__ADS_1


Disatu sisi Andi mengikuti sepupu imutnya karena ditolak saat ingin ia jemput seperti biasa.


Andi sudah menunggu Ar, meski biasanya Ar yang memberitahukan kapan pulangnya tapi hari ini ia berinisiatif datang sendiri.


Melihat Ar keluar gerbang sekolah, ia juga melihat Ar mengambil handpone, ia tau pasti Ar akan mengabarkan kepulangannya tapi pesan tek yang masuk berisi 'Aku pulang dengan teman' dari Ar.


Ia juga melihat pria asing yang membukakan pintu mobil untuk Ar dan Ar menanggapi dengan senyum membuat kepalanya seperti ketiban batu.


Ia mengikuti mobil yang Ar naiki dan berhenti di sebuah supermarket. Ia juga melihat Ar dan pria asing itu berpegangan tangan, jangan-jangan dia adalah pasangan kencan Ar sabtu kemarin. (Ya yang dalam pikirannya tidak salah juga).


Siapapun yang melihat Andi, mereka akan berpikir bahwa ia sedang ingin memergok pacarnya berselingkuh karena tatapan Andi sangat tidak enak untuk dilihat.


Andi terus membuntutui Ar dan pria asing yang ia beri nama pencuri. Ia melihat Ar tertawa saat mendengar candaan dari pencuri.


...****************...


" Dek, kamu suka boneka bentuk apa?" tanya Satrio saat mereka memasuki stand boneka.


" Yana? Yana sukanya paus kak, tapi kayaknya susah deh jadi gak usah aja..." kata Ar namun matanya berbinar pada boneka-boneka anjing.


" Yakin?" tanya Satrio, ia melihat kem!na mata Ar tertuju.


" Yakin?" tanya Satrio, ia ingin sedikit mengusili adik kecil didepannya ini, kebetulan ia baru gajian jadi ia tidak masalah dengan beberapa boneka.


" eto... eng... kalau kakak tidak keberatan menumpang aku ingin membeli beberapa boneka ini..." tunjuk Ar bada jajaran boneka hewan-hewan savana seperti jerapa, gajah, singa dan beberapa lainnya.


" Kakak bisa membelikannya untukmu loh..." ujar Satrio.


" Tidak apa-apa, nanti kakak traktir es krim saja..." kata Ar, ia mengambil keranjang dan mulai memasukan boneka-boneka yang ingin ia beli. Ia ingin mengganti suasana kamarnya.


Satrio melongo melihat jumlah boneka-boneka yang Ar beli, baginya ini tidak wajar, Ar memilih setiap bentuk boneka hewan adalah 2 buah dan ada lebih dari 10 jenis boneka dan jmlah keseluruhan harganya adalah harga yang membuatnya bisa pergi berlibur ke Singapure.


" Nge dek, ini gak terlalu banyak? boros itu gak baik..." nasihat Satrio. Bukannya ia tidak mau membawa pulang boneka-boneka ini dengan mobilnya, tapi jumlahnya terlalu...


" Gitu ya???" tanya Ar kembali murung.


Satrio mulai panik " Gi, gimana kalau kamu belinya, hari ini 2 atau 3, besoknya lagi, trus besoknya lagi..." saran Satrio.

__ADS_1


" Iya deh..." jawab Ar.


" Nanti kakak belikan 2 cup es krim." Kata Satrio berharap ar tidak murung lagi dan ternyata benar, ia dengan semangat menyimpan kembali semua boneka yang masuk ke keranjangnya kecuali 2 boneka yang sepertinya hanya tersisa satu saja.


...****************...


Ar sangat senang tapi tidak dengan Satrio. Porsi makan es krim milik Ar diatas batas kewajaran. Entah promo apa, Ar memesan 2 cup es krim jumbo rasa coklat dan alpukat. Awalnya Ar memesan 1 rasa karena memang ia butuh sesuatu yang segar tapi karena kejagihan dan penasaran ia mencoba rasa buah paling ia benci yaitu alpukat dan ia melahapnya hingga habis.


Satrio mengantar Ar ke depan rumahnya. " Besok kakak gak usah jemput aja, nanti biar kak Andi yang jemput, biasanya dia yang jemput tapi kak Iyo kebetulan datang jadi gak jadi dijemput." jelas Ar sambil turun dari mobil.


" Iya, tadi kakak hanya mampir aja, eh taunya ada kamu. Ya udah kakak jalan dulu ya..." kata Satrio.


" Iya kak, hati-hati..." kata Ar melambaikan tangannya.


" Siapa dek?" tanya Andi yang juga baru turun dari mobil dan menghampirinya.


" Temen kak, kan tadi udah dikasih tau pulangnya ama temen, kakak kepo amat kayak gak pernah SMA aja..." ujar Ar meninggalkan Andi yang mematung mendengar penjelasan Ar.


" Kakak, Ar pacaran, Ar punya pacar..." teriak Andi saat masuk ke rumah.


Mendengar teriakan Andi dari pintu depan, mereka sontak memandangi Ar yang sedang duduk sebentar di ruang tengah melepas lelah sebentar. " Dek, kakak harus bicara sama kamu." kata Harna dan diangguki oleh Herman.


" Kakak percaya sama kak Andi yang sering membual itu..." kata Ar sambil menunjuk Andi yang terengah karena buru-buru masuk.


" 50% , karna sabtu kemarin kamu mengusir Ronald, makluk ini dan keponakan-keponakanmu saat jalan sama temen kamu itu." Jelas Harna. Ia menekankan bahwa ia juga tidak begitu mempercayai Andi.


" Ya itu karna mereka nguntit kak, lagian tadi kak Andi juga nguntit Ar sama temen Ar jalan jadi Ar sengaja aja kelihatan kaya pacaran. Oh iya kak, kak Nisa udah ngasih mereka susu?"


" Andi nguntitin kamu?" tanya Herman.


" Iya kak..."


" Udah tadi mereka lagi main aja, tadi kakak larang Harun sama yang lain ke kamar kamu, tadi gimana ujiannya, kamu bisa kerja kan?" tanya Harna, sejak pulang dari taman bermain mereka berdua lebih dekat dan tidak camggung serta kikuk lagi satu sama lain.


" Gampang meski ada soal yang Ar ragu sih tapi Ar yakin nilainya diatas 80." kata Ar percaya diri.


" Bagus kalo gitu, mandi sana trus turun makan dulu baru belajar buat ujian besok." Kata Harna lagi.

__ADS_1


" Ok..." jawab Ar riang, ujian hari ini ia lewati tanpa kendala sama sekali. Ia mengayun-ayunkan paperbag berisi boneka yang ia beli tadi.


__ADS_2