
Dalam mobil hening, Ronald fokus menyetir dan Ar mendengarkan lagu sambil menatap jalanan.
" Katanya mau kerumah mama ya?" tanya Ronald membuka obrolan.
" Siapa yang bilang kak?" Tanya Ar balik.
" Kamu ditanya malah balik nanya..." ucap Ronald dengan maksud bertanya.
" Ya kan Ar gak tau kak, emang kakak dengar dari mana?"
" Kak Herman, katanya buat refresing sebentar, istirahat otaknya kamu sama Harun sama adik-adiknya..." jelas Ronald pada Ar.
" Oh, Ar belum dikasih tau..."
" Mungkin siang nanti..."
***
Ar masuk ke kelas, menyapa beberapa teman sekelas. Menyimpan tasnya dan berjalan keluar.
Di koridor ia disapa beberapa teman seangkatannya atau kakak kelasnya. Ia mulai dikenal saat masalahnya dengan ibu Maria, ditambah lagi pernah dipalak oleh kaka kelas.
Ar menjadi dikenal dengan prestasinya yang bagus, ia mendapat nilai tertinggi di antara teman seangkatannya baik dari kelas IPA maupun IPS.
Ar sampai didepan ruang kelas kesenian lama yang terlihat bersih, ia cukup terkejut saat masuk kedalam. Meja dan kursi telah ditata, papan yang beberapa hari lalu terlihat usang kini diganti dengan papan baru.
Mengedarkan mata keseluruh penjuru ruangan dan berhenti di sebuah piano besar yang dekat dengan jendela. Ia membuka jendelanya dengan lebar, ditariknya kursi agar ia bisa duduk. Membuka penutup tuts.
Dengan mata terpejam ia mengingat kembali ost anime Shigatsu wa Kimi no Uso tangannya mulai menari diatas tuts seakan sudah sangat hafal dengan nada yang ia mainkan.
Ini pertama kalinya ia menyentuk benda bernama piano, tetapi entah bagaimana ia seperti sudah mempelajarinya sejak kecil, mungkin karna musik yang ia mainkan ini sudah lebih dari dua minggu penuh diputar ulang tanpa henti atau bagaimana hingga ia tak perlu mempelajari not not lagu ini.
Terjadi keheningan, terdengar suara indah piano dari ruangan tertinggal di gedung serbaguna. Semua terhenti mulai dari yang berjalan menuju kelas, yang bergosip di koridor, dan yang dilapangan.
Menajamkan pendengaran. Hanya ada satu satunya piano disekolah ini yaitu di ruang kelas kesenian lama. Setelah mengetahui itu beberapa diantara mereka melajukan langkah mereka.
Ar masih dalam musiknya, ia enggan keluar dari alunan lagu yang ia ciptakan, ah hampir selesai, desahnya dalam hati.
Ia mengakhiri musiknya.
Baru tersadar ia saat terdengar bunyi tepukan tangan dari seorang guru tua yang ia tau adalah guru seni budaya kelas 12 dan diikuti yang lainnya.
Luar biasa, bagus sekali musik yang kamu mainkan..." puji guru tesebut.
" Terima kasih pak..."
***
Jam kosong dihabiskan merwka dwngan mengobrol ringan.
__ADS_1
" Yan dari awal aku penasaran, kamu basteran ya? Warna rambut kamu sama mata kamu lebih cerah untuk orang asli sih..." kata Betty. Mereka sudah kembali ke kelas.
" Gak tau, tapi papa mama orang asli Indo, kamu pernah liat kak Harna kan, mungkin keluarga mama memang orang luar..."
" Oh iya kapan kita mulai belajar kelompoknya?" tanya Jeisis.
" Minggu depan, pulang sekolah bisa kan? Kalau kalian gak bisa gak masalah, kita juga memang harus menyesuaikan dengan eskul..." kata Ar.
" Yan tadi beneran kamu yang main piano usang itu?" tanya Rani dan Rina bersamaan dengan suara yang setengah berteriak membuat semua menoleh mereka dan penasaran dengan jawabannya.
Ar mengangguk bertanda iya. Heboh, mereka iri, sudah adik pemilik sekolah yang artinya ia kaya, pintar karna nilai tertinggi seangkatan, jago musik.
" Kalian gak tau Ian ini juga jago olah raga loh, meski staminanya tak begitu bagus tapi dia sangat hebat..." puji Betty.
Jangan ditanya bagaimana keadaan Ar saat ini, wajahnya sudah mirip dengan warna tomat, ia sering dipuji tapi jika dipuji secara langsung seperti ini ia sangat malu.
" Iih, malu gini nambah deh manisnya, bikin diabetes..." ujar Bian. Sekelas tertawa dengan suara Bian yang dibuat seimut mungkin.
" Najis Bi, gak cocok sama image cool kamu..." ujar Angel.
" Bi, lo mirip banci perempatan..." celut Sakti yang membuat tawa sekelas makin membahana.
Ar sangat senang dengan kelas ini, mereka selalu baik padanya, yang paling ia sukai adalah saat mereka yang bilang iri padanya, bukan apa tapi mereka mengungkapkannya sambil mencubit dirinya seperti gemas dengan dirinya.
Tidak seperti anak anak lain yang kalau iri akan ngebully atau musuh-musuhan, teman-temannya menunjukan sifat iri mereka dengan melakukan sesuatu yang melepaskan kegeraman merwka pada Ar. Kata mereka, " Ian terlalu imut untuk dijahati atau Ian terlalu polos untuk dunia yang seram ini..."
Pasalnya fisik serta wajah Ar yang menggemaskan membuatnya dianggap boneka oleh teman sekelas yang harus dijaga. Mulai dari rambut panjang yang saat ia duduk akan menyentuh tanah, mata indah yang ditutupi kacamata dan kulit putih yang cukup membuat orang takut untuk sekedar mencubit gemas pipinya, katanya takut memar.
***
" Wait, are you kidding? Jangan deh, rambut kamu itu daya tarik kamu, kamu liat, banya blasteran yang rambutnya gak sebagus kamu..."
" Tapi rambutku udah rusak, sering diwarnai, ya meskipun gak rela karna ya aku gak motong sejak beberapa tahun tapi susah natanya..." jelas Ar.
" Kamu sisir sendiri rambut kamu?"
" Gak, pembantu kak Harna yang rapihin, aku mana mampu..."
Sekarang ini Ar sedang mengajak Betty makan di kantin dengan sesi curhat dan minta pendapat soal rambutnya.
Teng teng teng
Bunyi jam istirahat baru berbunyi, mereka memang sudah berada di sini karena jam kosong tadi.
" Hai, boleh gabung gak?" tanya seorang pria tampan nan rupawan sambil menarik kursi agar ia bisa duduk.
" Bo, boleh kok..." jawab Betty gugup, pasalnya inilah pemegang most wanted sejak merwka masuk beberapa bulan yang lalu.
" Ty, temannya kenalin dong..." ujar yang satunya lagi.
__ADS_1
" Bule?" tanya yang satunya.
" Ian..." kata Ar acuh, menurutnya mereka mengganggu waktunya dengan Betty. Ah kantin mulai berisik membuatnya pening, digunakannya earphone, ia memutar lagu yang tadi pagi ia mainkan.
Sok banget ni cewe. Pikir salah satu dari meraka
" Kenalin gue Veron, ini Daniel, dan dia Lynden..." ucap yang menarik kurai dan duduk duluan tadi sambil mengulurkan tangannya.
" Ian kak..." jawab Ar sambil tersenyum dan membalas uluran tangannya. Mereka bertiga terpaku, ketiganya sepemikiran, malaikat.
" ehem, karatan tu tangannya, gak mau dilepas?" Betty berdehem. Dengan cepat Veron melepas tangannya kikuk.
" Lo udah punya pacar?" tanya Daniel. Sepertinya ia tertarik dengan Ar.
Plak, bahunya ditampar oleh Veron " Itu pertanyaan gue... Yan lo udah punya pacar belom?" tanya Vero lagi. Lynden yang terlihat paling acuh sebenarnya juga tertarik dengan Ar tapi ya gengsi.
" Eh eh, anak orang lo embet, gue kasih tau kakaknya mati lo berdua..." kata Betty. Ia memang cukup dekat dengan Veron dan Daniel karena mereka berasal dari satu perguruan bela diri yang sama.
" Ye, lo mah gak asik..."
" Kita kan nanya doang..."
" Punya pacar?" tanya Lynden, pertanyaannya mengundang banyak pasang mata menatapnya. Lynden yang terkenal dingin melebihi kulkas 10 pintu menanyakan status seseorang, fiks dunia besok kiamat...
" Apaan nih, jangan bilang lo..." Veron tidak melanjutkan kata-katanya.
" Eya, yang lagi kepoin status orang..." Daniel memancing.
" Apaan lo berdua, brisik..." Lynden pergi.
" Cie cie yang diincar most wanted uhuy..." Angel yang sejak tadi menontoh ikut bergabung.
" Patah hati gue..." Priscila.
" Yan bagi peletnya dong..." canda Joana.
" Kita gabung ya..." kata Rina Rani bersama.
" Mereka siapa?" tanya Ar. Mendengar pertanyaan itu mereka semua menepuk jidat.
" Ian-ku sayang, mereka itu most wanted atau yang paling diincar untuk digebeti..." Betty.
" Dan ketiganya nanyain status lo..." Joana.
" Yang artinya mereka..." Priscila.
" TERTARIK SAMA LO, KETIGANYA..." teriak Angel yang kemudian didapatnyalah jitakan dari teman teman yang lain.
" Gak usah terik kali..." Rina Rani.
__ADS_1
" Mereka tertarik apanya dari aku?" tanya Ar dengan polosnya.
Keenam temannya ingin menelannya hidup hidup...