
" Et dah buset ngagetin aja?" ucap Veron sambil mengelus dadanya.
Yang lain tersentak kaget. Begitu juga dengan Ar, Ar kaget sambil memegang dada kirinya dengan meringis kesakitan tanpa suara namun dapat dilihat oleh Lynden dan Tristan.
" Lo gak papa?"
" Bi, gak apa-apa kan? Kaget? Awas aja tu anak, ke kelas aja ya, kata kak Harna, Bibi sering bawa susu coklat ke sekolah..." Tristan kawatir.
" Bibi?" tanya mereka bersamaan.
" Iya, diem aja napa, elah cemburu sama keponakannya sendiri, tapi biarin aja dia gak tau, awas aja ya kalian yang ada di sini kasih tau yang lain, aku ngasih tau Om Herman biar didepak kalian dari sini..." cerocos Tristan dan pergi.
Yang ditinggalin masih mencerna kata-katanya. Ok berarti Tristan itu keponakannya Ian.
***
" Udah enakan kan Bi, Itan duduk di sini gak masalah kan? Itan gak dilabrak cowo Bi kan?" tanya Tristan. Itan adalah nama panggilan Ar untuk Tristan, nama itu mmuncul saat keduanya masih kecil dan Ar yang dulu katanya kesulitan memanggil Tristan.
Tristan sendiri lebih tua 2 tahun 9 bulan dari Ar, Tristan sekolah terlambat karena kenakalannya dulu yang sering memukul teman sekolahnya saat awal masuk, orang tuanya sengaja mengeluarkannya karena takut anak orang terluka, sedangkan Ar yang dulu terlalu pintar sehingga loncat kelas dari taman kanak-kanak langsung ke kelas 2 SD.
" Gak, gak apa-apa kok, bi Ar hanya nyeri dikit aja, kaget soalnya tapi gak sampe yang wow..." gurau Ar agar keponakan tertuanya itu tak kawatir.
" Gitu ya, oh ya bi, pulang nanti kita singgah di rumah Lynden ya bi, Itan mau salin catatannya tapi katanya lagi dirumah semua, bi gak punya janji kan, sama pacar, gebetan, doi, selingkuhan mungkin?"
Plak... " Kamu ini, sembarangan..." pukul Ar pada pundak Tristan.
" Gak usah pacaran disini..." kata Bian, sejak tadi ia sengaja menguping pembicaraan kedua orang ini. Tepat, selain Benny, Bian termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang menyukai Ar.
" Panas banget disini..." ejek Jeisis pada Bian, padahal dirinya pun sama sedang cemburu tapi tak mau mengaku.
" Cih, sirik bilang aja..." kata Tristan meremehkan.
" Tan, gak boleh gitu. Sis, Yan, deket sini..." panggil Ar.
" Kok kamu kaya manggil cewe ya?" Tanya Jeisis meski ia tetap mendekat.
" Yaudah Jeje, sini deh..." kata Ar lagi.
" Nah gitu dong, kan kalau gitu kaya pangilan sayangnya kamu ke aku..." Kata Jeisis, ia berharap Ar peka pada kodenya itu.
" Masa aku dipanggil Yan, kan nanti samaan sama punya kamu..." Bian tak mau kalah.
" Panggil apa dong?" tanya Ar polos.
" By aja, dua huruf depan, kalau panjangannya BABY gitu..." Kata Bian dengan sedikit rona yang menjalar dari pipi hingga telinga. Triatan yang melihat kedua teman bibinya ini hanya merotasi bola matanya dengan malas.
" Gak usah modus, gue kasih tau Om Rian, gundul tu rambut..." ancam Tristan. Kemarin saat singgah di rumah Rian saat pindahan, Rian menjanjikan handpone keluaran terbaru agar ia dapat menjaga Ar di sekolah dari cowo cowo macam dua orang didepannya itu.
" Udah, gini, kenalin dia Tristan, keponakan aku..." perkenalan Tristan pada Bian dan Jeisis.
" Lah, kirain pacar..." ucap Jeisis sedikit keras hingga mengundang beberapa pasang mata yang berada di kelas.
" Emangnya kenapa, kan emang biasa gini...cup..." kata Tristan kembali mengecup pipi Ar.
Seisi kelas yang masih melihat keempat orang ini histeris disaat Tristan sengaja membuat suara yang besar saat kecupan tersebut.
" Yan, Bagi cogan dong..."
" Jangan diembet Lynden..."
" Ingat Daniel itu punya Bunga ya..."
" Verom mana, Veron mana..."
__ADS_1
Celut teman sekelasnya pada Ar, ia hanya menanggapinya dengan senyum.
Kelas mulai ramai didatangi oleh penghuninya yang artinya bel akan segera berbunyi. Betty dan yang lain udah datang, Lynden dan kedua curut juga ikut, katanya ingin menjemput Tristan. Benny dari belakang mereka.
Terpikir ide jahil oleh Tristan. " Bi, aku kekelas dulu ya, yang rajin belajarnya, jangan kangen Itan ya...cup." Kata Tristan mesra dengan suara yang lebih keras agar seiai kelas bisa memperhatikan mereka.Ia mencium kening Ar.
" Ih, harusnya kebalik..." Protes Ar.
" Oke Bi, sorry, kalau gitu Itan maunya balasan 2 kali..." Kata Tristan sambil menunjuk pipi kanan dan kirinya.
Cup...cup..." Udah sana..." kata Ar selesai mengecup pipi Tristan.
Tristan memandangi seisi kelas yang seketika hening, ia tau bahwa bibinya itu cukup populer hingga membuatnya selalu diperhatikan namun ketidak pekaan bibinya itu memang selangit. Ia melihat Benny yang memiliki raut wajah penuh amarah ia puas.
Tristan pun pergi.
Adegan kemesraan Ian dan Tristan masih berdampak setelah Tristan pergi. Tentu, Tristan si anak baru yang mungkin akan menjadi most wanted dan Ian yang bersikap imut.
Ok, Tristan memang tampan tapi Ian. Seorang Ian yang mereka tau adalah gadis yang baru sebulan bersekolah, pintarnya minta ampun, irit bicara kecuali soal sekolah atau pelajaran, dan Ian itu sulit didekati.
Awal awal Ian masuk sekolah, Ian hanya berbicara dengan Betty, Benny, dan Cris. Mungkin sekitar minggu ke 3 Ian bersekolah barulah ia berbicara dengan leluasa dengan teman sekelasnya.
Dan ia bersikap imut pada anak baru, bermesraan lagi.
Hot new.
***
" Jadi belajarnya?" tanya Reno.
Sepulang sekolah, anggota belajar kelompok berkumpul di ruang kelas Ian, ditambah Tristan, Lynden dan 2 curut.
" Kita temani kakak kakak aja, kita baru mulai pelajaran, belum tau mau mulai dari mana, nah kalau kakak kakak kan persiapan mau ujian kelulusan jadi kalian belajar aja..." jelas Ar. "Kalau kalian ada urusan atau apa gak apa apa kok pulang..." lanjutnya pada teman seangkatannya.
" Ya masa kalian hanya nontonin kita belajar..." protes Alfin.
" Ya udah, ayo kita ke sana langsung aja..." ajak si kembar lainnya.
Sampai kelas kesenian lama, merwka mengambil tempat duduk masing-masing.
" Aku duduk di mana?" tanya Ar bingung karena semua kursi sudah terpakai.
Mereka menunjuk kursi di samping papan tulis yang berhadapan langsung dwngan mereka semua. Tempat duduk selayaknya guru.
" Benar ni aku jadi gurunya?" tanya Ar. Di balas anggukan oleh yang lain
Rina mengatakan bagian mana yang tak dimengerti, begitu juga dengan Rani dan Betty.
Ar menulis kembali materi serta cakaran yang lebih mudah dimengerti dan menjelaskan kembali.
Reno dan Alfin mendengarkan penjelasan Ar juga. Ujian Nasional nanti materi kelas 10 tetap akan dikeluarkan jadi mereka juga mendengar penjelasan Ar.
20 menit Ar menjelaskan materi tersebut Ar memberikan contoh soal kepada mereka yang akan dikerjakan dalam waktu 10 menit, minus Reno dan Alfin.
Selama mereka mengerjakan, Ar mendekati meja Reno dan Alfin karena mereka seperti kebingungan akan sesuatu.
" Kenapa kak?" tanya Ar pada Reno.
" Ini nih yang, eh ayang, sorry Ian..." Reno keceplosan.
" Bi, periksa Itan punya..." kata Tristan manja. Kecuali yang mengetahui hubungan keduanya, sisanya ditekukan wajahnya entah karena cemebrut atau apa.
" Bentar ya Tan..." kata Ar sabar.
__ADS_1
" Kamu tau tentang Akuntansi?" tanya Reno. Ia telah berhasil menyembunyikan blisingnya saat memanggil iang dengan panggilan ayang.
" Dikit kak, Ar pernah belajar..."
" Ar?"
" Eh lupa, itu panggilan Ian kalau dirumah, jadi yang mana kak?"
" Ini Ar..."
" Gak usah manggil BABY gue pake panggilan rumahnya, pangl Ian aja kaya biasa..." Tristan ngegas.
" Ya elah, keceplosan juga, maaf napa..." Reno.
" Hus, Tan fokus sama kerjaan kamu..." peringatan dari Ar. "Mana kak?" tanya Ar.
" Ini Yan..." tunjuk Reno.
" Gini ka, kalau ini dia dijual berarti dia pindah ke sebelah sini setelah dikurangi sengan ini, hasilnya itu ditulis ditotal untuk mengurangi semua karna karna ini tabel laba, kalau tabel rugi hasilnya pasti dikurangi tapi kalau selain tabel total tambah dan kurangkan jika dipindah kolomnya ya kak..." jelas Ar lincah.
Reno mengerjap matanya. Sebenarnya ini bukan materi sekolah melainkan tugas dari ayahnya untuk belajar mengelola buku besar sebuah perencanaan pembangunan cabang baru perusahaan.
" Yan, kamu pernah jadi pegawai keuangan perusahaan?" tanya Lynden.
" Gak, memang kenapa?"
" Kerja diperusahaanku ya..." minta Lynden.
Cewe cewe serta 2 curut dan Alfin serasa sedang menonton drama sejak tadi percakapan Reno dan Ian, dan berlanjut hingga kesini.
" Gausah ngaco, udah beres belom soalnya?"
" Udah..." jawab Lynden.
" Kak, udah kan, Ian kesana ya..." tanpa menunggu balasan Ian menuju ke meja Lynden.
" By, aku duluan..." pinta Tristan.
" Ok, kak aku ke Itan dulu ya..." pamit Ar, padahal ia sudah berada di depan meja Lynden.
Ar memeriksa semuanya bersamaan, sedikit ada kemajuan karena semuanya benar.
Saat diajak pulang mereka terhenti dengan raut bingung Alfin.
" Kenapa kak?" tanya Angel.
" Bentar, fisika nih, nanggung..." ucap Alfin sambil menggaruk kepalanya sedikit frustasi.
" Boleh liat kak?" tanya Lynden dan Ar bersamaan.
Keduanya membaca sekilas soal fisika yang panjangnya minta ampun.
" Ini materi olimpiade kak, kita gak belajar..." ucap Lynden menyerah.
" Energi sama dengan 1 per 2 m omega 2 per 2 L pangkat 2 kurung kurawal sin pangkat 2, 2 tetha 2 per 3 kali atau bisa pakai dalam kurung, 3 kurang sin pangkat 2 theta 2 tutup kurung tambah 1 tutup kurung kurawal tambah massa grafitasi L dalam kurung akar 3 kurang sin tetha 2 tambah cos tetha 2 tutup kurung..." jawab Ar mantap dan lancar seperti dihafal.
Mereka semua menganga,mereka berteman dengan seorang jenius yang woaw sekali.
" Yan, 3 jam anak-anak olimpiade nyari jawaban ini sampai nanya ke guru fisika pun merwka gak tau jawabannya..." puji Alfin, sebenarnya penyelesaiannya ia tau tapi jawabannya tak ia dapat.
" Hanya terlintas aja di otak..." kata Ar enteng. Ar itu terlalu rendah hati, lihat saja sekarang.
" Bi, gak kerasukan hantu dosen fisika kan?" tanya Tristan takut.
__ADS_1
" Sembarangan... Ayo beres beres, udah gelap nih...
***