Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Satrio 1


__ADS_3

Duduk meringkuk di atas kursi sambil memandangi langit petang, ia mengurung diri setelah melihat keadaan sahabat sang adik saat diundang ke pesta ulang tahun dari keponakan sahabat adiknya itu.


Ya, Satrio sedang mengingat beberapa hari lalu kondisi Ar yang dia panggil dengan nama Delia atau kadang Yana.


Satrio merasa bersalah, ia tau Ar pasti stres karena desakannya beberapa hari kemarin yang meminta untuk berkunjung ke makam sang adik. Ia tak bodoh untuk mengetahui keadaan Ar karena ia juga seorang dokter.


" Kak..." panggil mamanya. Mamanya itu sejak tadi sudah mengetuk pintu tapi sang anak tak ada sahutan sehingga ia masuk saja.


" Kakak kenapa, ada masalah? Curhas sama mama, mungkin mama bisa kasih sedikit saran..." ucap mamanya lembut. Ia menghampiri anak tertuanya itu, mengelus pucuk kepalanya, merasa ada yang tak beres dengan anaknya yang beberapa hari murung.


" Ma, kayaknya kakak salah deh..." ucap Satrio sambil memeluk mama yang berdiri tepat disamping dirinya.


" Salah gimana?" tanya mama.


" Iyo marahin Delia karna gak ziarah ke makam Susan, Iyo marah dan bilang Delia egois ma..." suara paruh Satrio terdengar.


Si mama merasa bersalah. Beberapa hari lalu ia memang bercerita pada anak dan suaminya kalau ia memimpikan putri bungsu mereka datang kepadanya dan meminta dikunjungi oleh sang sahabat yaitu Ar.


" Delia sakit ma, pasti dia sakit karna kepikiran sama ucapan Iyo ma..."


" Kalau gitu kakak kan bisa setelah pulang dari rumah sakit minta ketemuan, minta maaf sama Delia, ajak dia baik-baik ke Susan, jangan dipaksa, kamu kan tau Delia itu pergi karena takut kita marah dan nyalahin dia atas kepergian adek, dia masih kecil kak, harusnya dibujuk bukan dimarahi..." nasihat sang mama.


" Iya ma..." angguk Satrio.


" Ayo makan..."


***


Deringan alarm membangunkan seorang pemuda tampan dari alam mimpi. Waktu masih menunjukan pukul 5 pagi, mahasiswa satu ini sudah harus bangun meski semalam habis begadang mengerjakan revisi proposal Tesis untuk mendapatkan gelar Magister.


Biasanya ia memang tak membutuhkan bantuan untuk bangun dipagi hari, namun malam tadi, bukan malam lagi, Satrio tidur pukul 4 dini hari, ya, ia hanya mengistirahatkan tubuh dan pikirannya 1 jam saja.


Merenggangkan otot kakunya saat duduk di kasur, masih dengan wajah khas bangun tidur, ia membuka tirai jendela kamarnya setengahnya dilapisi kaca, membiarkan matahari masuk.


Senam pagi menghadap ke matahari yang masih malu-malu muncul. Rutinitasnya dipagi hari memang sangat menerapkan pola hidup sehat, 30 menit ia habiskan untuk senam pagi, dan 30 menit ia mandi dan beraiap kekampus.


Pukul 6 lebih beberapa menit, Satrio turun dari kamarnya, masih terlalu pagi untuk sarapan, seperti biasa, ia hanya mengambil jus kemasan di lemari cemilan yang biasa distok mamanya saat menemani sang suami bekerja sambil menonton drama. Mamanya memang memiliki jiwa muda yang hobi maraton drama setelah tidak bekerja lagi.

__ADS_1


Satrio pergi. Membutuhkan waktu lebih dari sejam untuk sampai kekampus. Sebelumnya, ia tinggal di sebuah apartement yang disewa orang tua untuknya sedangkan makan minum ditanggung sendiri olehnya saat ia melanjutkan S2 di luar kota.


Namun karena tinggal mengerjakan tugas akhir membuatnya tak ingin menghabiskan uang hanya untuk uang sewaan kalau ia jarang kekampus. Ia juga sedang diminta bantuan oleh rumah sakit tempatnya bekerja untuk meluangkan waktunya karena beberapa dokter melanjutkan kuliah diluar negri.


Satrio melajukan mobilnya hingga sampai di pekarangan kampus. Memarkir mobilnya, menjinjing tas berisi jilid-jilid proposal tesis yang baru diperbaiki juga ada yang bekas dicoret untuk diperbaiki.


Duduk di kursi tunggu di ruang dosen. Tentu saja jadwal dosen pembimbingnya mengajar pukul 9 nanti tapi dosennya itu menjanjikan akan datang lebih awal untuk memeriksa proposalnya.


Tak menunggu lama, si dosen yang ditunggu datang kurang lebih 10 menit setelah dia mendaratkan tubuhnya di bangku tunggu tersebut.


Masuk bersama karena diajak masuk bersama si dosen. Dosen tersebut menawarkan teh untuknya yang dibawa di tambler dari rumahnya namun Satrio menolak.


Satrio mengamati si dosem memeriksa proposalnya dengan cermat. Senyum simpul di wajah dosen muda cantik tersebut. Dosen cantik dengan umur antara 20 tahunan akhir itu cukup senang dengan mahasiswa didepannya ini.


" Kamu bisa langsung ke pembimbing-2, cukup dari ibu..." ucap si dosen cantik itu singkat.


" Terima kasih bu, kalau begitu saya permisi dulu..." ucap Satrio.


" Tunggu Sat, kamu gak rencana jadi dosen disini? Pak Wisnu udah mewanti-wanti kamu loh..."


" Jangan ngaco kamu, udah lama banget kamu dulu nembak saya, bocil juga, udah sana ke pak Hartono, beliau udah ngebet banget kaya kepwnggen pipis nanya kapan saya nglepasin kamu, ck... Tutup ruangan saya, saya mau ngajar..." ucap si dosen cantik bernama Tiana pergi.


" Orang serius dikatai bocah..." dercak Satrio kesal.


Tiana pergi dengan senyum simpul, ia mengingat secret admirer yang dulu tak sengaja ia tau adalah juniornya saat ia melanjutkan S2 dulu.


Satrio belum membuat janji dengan pak Wisnu selaku pembimbing ke 2-nya sehingga ia berniat langsung pulang keruamah sakit.


" Loh Satrio, bapak pikir kamu kerja sambil nyusun tesis?" ucap pak Wisnu yang berpapasan dengannya.


" Iya pak, saya memang sedang ditarik di rumah sakit yang dulu tempat saya kerja, tapi tadi lagi konsul sama ibu Tiana..."


" Oalah, kapan kamu naik bimbingan 2 sama saya?" tanya pak Wisnu.


" Ibu Tiana sudah ACC pak baru saja, tapi saya belum buat janji sama bapak jadi saya belum datang ke bapak..."


" Kalau gitu sekarang saja, saya sedang senggang..."

__ADS_1


" Saya belum print pak..."


" Udah, pakai print di prodi aja, bapak tunggu diruang ya..."


***


Lelah namun senang, proposal tesisnya langsung di ACC oleh kedua dosen pembimbingnya, ia bisa langsung seminar awal minggu depan sesuai dengan harapan dosen-dosennya.


Ia meninggalkan kampus siang hari, melirik jam masih pukul 13.11 berarti saat ia sampai tepat dengan Ar pulang sekolah. Tak memikirkan makan siang, ia terlalu malas untuk makan siang.


Menempuh perjalanan satu jam lebih, Satrio akhirnya sampai didepan SMA Swasta Pranata. Melihat teman Ar sudah keluar dari gerbang namun tak menemukan Ar. Ia turun dari mobil.


" Eh eh, Delia, maksudnya Ian mana?" tanya Satrio pada robongan Benny dan yang lain.


" Ian lagi di eumah sakit kakak paus, katanya kesehatannya semakin memburuk sejak senin pagi kemarin..." jelas Betty yang tau dari Harna.


Satrio terkejut dengan penuturan Betty, ia memaksa agar berpikir jernih, menyalahkan diri sendiri karena kembali menoreh luka pada sahabat adiknya.


" Ma, makasih ya..." Satrio pergi.


***


Menelusuri korisor rumah sakit dengan langkah panjang, Satrio berhenti di depan pintu kamar VVIP rumah sakit, kamar paling mewah.


Ia menoleh lewat kaca transparan pintu, hatinya serasa diremas keras melihat banyaknya selang yang tersambung ke tubuh gadis kecil yang disayangi adik perempuannya itu.


" Kalau bukan karena lo, bibi gue gak sakit, dia gak pikiran sampe stres, apa yang lo omongin ke bibi gue ha..." Tristan sudah menerjang Satrio membabi buta setelah meletakan paperbag berisi makanan untuk mama Harna.


" Gue minta maaf, gue gak maksud ngmong gitu..." ucap Satrio sudah terlantang di lantai dengan Tristan yang berada diatasnya dam menonjok wajahnya.


" Gak maksud tapi lo udah bikin dia ke gitu, kalau ada apa-apa dengan bibi gue, lo gue abisin duluan..." ucap Tristan. Pukulan terakhir ia layangkan pada lantai kramik sambil mengeratkan giginya menahan emosi pada orang yang berada diatasnya.


Tristan sadar, setelah ia pindah ke rumah mama Harna, ia bertanya pada Harna dan Harna bilang Ar sekarang makan lebih sedikit dari biasanya, menggunting rambut yang ia sayang, Ar juga sengaja tak menghindari hujan, berdalih sudah lama ingin mandi hujan.


Ia tau kalau semua itu memicu bibi bungsunya sakit, dan yang terakhit karena orang yang berada dibawahnya, padahal orang itu yang paling tau kondisi Ar tapi dia yang memicu Ar sakit.


" Lebih baik lo pergi sekarang..." ucap Tristan, ia bangun dari atas tubuh Satrio, mengambil bekal Harna dan masuk ke dalam ruangan Ar.

__ADS_1


__ADS_2