Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Mencari Hadiah


__ADS_3

" Papa bawa Ar kemana aja hmm?" tanya Harna melipat tangannya didada, berdiri di depan pintu utama dengan suara pelan namun menusuk.


" Ngajak adek kamu jalan-jalan, kencan papi sama anak..." jawab Hendri takut-takut. Tentu Hendri tau ia bersalah, ia lumayan takut jika Harna, menantunya itu marah.


" Sampai jam segini?"


" Ck iya, papa salah, kita kemalaman di jalan karwna macet, kamu tau sendiri kan pas hari libur gini..." Bohong Hendri sengaja beralasan.


" Kak Ar cape..." kata Ar di samping Hendri, ia mengucak matanya mengusir kantuk dan sesekali menguap.


Hyuuh, selamat... Batin Hendri karena setelah ucapan Ar, Harna langsung menuntun Ar kekamarnya.


***


Sarapan dimeja panjang menghangat, oh tentu, dengan menerima nilai yang sangat memuaskan dari Harun, Vian, Vin, dan juga Win, Hendri semakin yakin untuk tak mengekang mereka sesuai dengan keinginan Ar.


Memang keempat cucu Pranata ini mendapat nilai tertinggi di angkatan masing-masing, ditambah Tian, adik dari Tristan yang ikut dalam kelas tambahan milik Ar juga mendapat peringkat tertinggi. Ah mereka yakin bahwa Ar memang guru terbaik.


Tristan sendiri mendapat peringkat ketiga umum setelah bibi Ar tercintanya itu dan peringkat 2 diraih oleh Lynden. Peringkat keempat diraih oleh Rusni, seorang dari jurusan IPS, Jeisis di peringkat 5, dan Benny serta Bian memiliki nilai rata-rata yang sama di peringkat 6, Veron peringkat ke 8, Angel yang berada di kelas BAHASA mendapat peringkat 9 dan Ridwan sepupu Rusni sekaligus sahabat dan teman sebangku dari IPS mendapat peringkat 10.


Oh tentu berita ini cukup menggemparkan SMA Swasta Pranata, pasalnya sudah menjadi rahasia umum dimana anak IPA dengan menampung anak-anak pintar alias kutu buku, IPS menampung anak-anak orang kaya yang sering membuat rusuh, dan anak BAHASA adalah anak buangan. Yang menggemparkan adalah yang masuk kedalam 10 besar setengahnya berasal dari kelas buangan.


Anak BAHASA adalah anak-anak yang mendapat beasiswa non akadenik seperti prestasi seni atau olahraga, rekomendasi dari SMP yang disokong oleh Swasta Pranata, atau beasiswa setengah untuk anak-anak kelas menengah.


Cukup mengejutkan setengah bangku 10 peringkat teratas umum diraih oleh anak BAHASA, apalagi peringkat 1 diraih oleh anak baru yang dua minggu setelah ia masuk langsung UTS, mana sempat ia mengejar ketertinggalan, dan lagi setelah UTS hanya memiliki waktu 2 bulan belajar untuk ujian akhir sedangkan anak tersebut sakit selama 2 minggu penuh yang artinya ia ketinggalan seperempat materi.


Oke, cukup membahas sampai situ, mari kita kembali ke keluarga cemara ini, lebih mirip panti asuhan kayaknya...


" Harna, papa mau bawa Ar ke Lombok tanggal 4 nanti..." kata Hendri dipertengahan sarapan.


" Harna gak masalah pa, tapi Ar-nya gak kecapean nanti, dia baru pulang libur dari Eropa, belum istirahat udah ngurus Rian yang hamil muda, trus mau kesana lagi..." kawatir Harna.


Drrttt drrttt


" Ar permisi dulu..." Ar pergi saat telepon disaku celananya berdering.


Tertera Ema dilayar teleponnya. Ia menggeser gambar hijau guna menerima panggilan tersebut.


" Halo, selamat pagi kak..." sapa Ar.


" Halo juga nona, selamat pagi, ini saya ingin melaporkan bahwa persiapan untuk nanti malam sudah 98%, kurang lampu hias yang diselingi dengan bunga, lampunya kurang karena dari pihak dekor tak menyiapkan banyak bunga..." jelas Ema dari seberang sana.


" Kakak udah sarapan?" tanya Ar lembut. Perhatian sekali nona muda ini.


" Eh itu, belum nona..."


" Kakak bisa datang kesini, kita bahas disin aja, Ar gak nyaman bahas lewat telepon..." kata Ar.


" Baik nona..."

__ADS_1


" Ar tutup ya kak..." kata Ar kemudian menutup panggilan.


Ar kembali kemeja makan, ia meneguk habis jus jambu yang diblender sendiri oleh Indah untuk dirinya.


" Ar udah selesai makan..." kata Ar, ia beranjak dari ruang makan tersebut menuju dapur. Penghuni meja makan tak terlalu ambil pusing dengan Ar, mereka tau bahwa Ar memang tak bisa makan banyak namun sering ngemil setiap jam jadi tak perlu dipermasalahkan.


" Mbok Ayu, mbok bisa tolongin Ar buat telor ceplok 3 trus panggang roti tawarnya sampai krenyes ya mbok, rotinya dipanggang banyak..." kata Ar.


Ia kemudian beranjak keatas melewati ruang tengah dimana semua berkumpul. " Ar mau keluar sama kak Ema..." kata Ar, ia kemudian menuju kamarnya.


Saat ini memang mereka semua berkumpul dirumah besar alias rumahnya Hendri. Katanya mereka akan berangkat bersama dari rumah megah nan besar milik Hendri Pranata menuju rumah Hendri lainnya yang dikususkan untuk acara atau pesta.


Ar memasuki kamarnya, kamar bernuansa putih dengan sedikit corak biru terang. Kamar luas namun dindingnya tak ditutupi buku sepwrti kamarnya di rumah lama Herman. Ar masuk ke walk in closet, mengambil celana kain pendek setengah paha berwarna hitam, kemeja lengan panjang berwarna biru, sepatunya diambil sepatu bootberwarna hitam dengan tinggi hells sekitar 5 cm ditambah slip tinggi dalamnya juga sekitar 5 cm, menambah tingginya yang sering dikatai Cris cebol, boot yang menutupi pergelangan dan mata kakinya.


Setelah menyiapkan pakaiannya, ia menuju kamar mandi, berendam menenangkan tubuhnya. Sepertinya yang dikatakan kakak perwmpuannya benar, ia harus beristirahat dulu, tapi rencananya akan berantakan jika ia tunda.


Setelah dirasa cukup segar, ia keluar dari badtube meski enggan. Mengenakan pakaian dan mengkuncir rambutnya asal. Jangan lupakan kacamata yang membantu penglihatannya itu. Ah ransel berisi benda berharga juga tak dilupakan, ya, laptop, i-pad, i-pone alias ponsel canggih dengan logo apel digigit tentu saja, earpone tanpa kabel yang telah menyumbat telinganya.


Dilihat dirinya di cermin full body, ah pas sekali, tas hitam yang senada dengan sepatu dan celana, kemeja lengan panjang berwarna biru, jangan lupakan ikat rambut besar yang melilit tangannya sekedar menambah gaya.


Ia turuh kebawa.


" Ar mau kemana dek?" tanya Harna membuat semua penghuni ruang tengan menatapnya.


" Persiapan pesta malam nanti belum 100% kak, Ar harus cari lampunya..."


" Pergi dengan siapa dek?" kali ini Herman yang bertanya.


" Ema siapa bi?" Tristan kali ini yang bertanya.


Keluarlah sudah sifat posesif mereka.


" Asisten sementara Ar, kan Ar lagi ngurus pesta papa, papa juga gak mau dia sakit karna kecapean makanya papa minta salah satu kariyawan papa..." jelas Hendri.


" Kakak temani..." kata Andi dan Ronald bersamaan.


" Gak, kakak siap aja, tunggu dan nantikan pesta yang Ar buat, murni Ar siapkan sendiri..."


" Bibi gak lama kan?" suara Harun lolos dari bibirnya.


" Kamu masih gak enak badan? Apa bibi batalin aja pestanya?" tanya Ar, ia mendekati Harun. Ah Ar itu sangat lemah pada keponakannya kalau mereka sedang sakit.


" Jangan bi, masa bibi udah siapin pesta ini dari satu setengah bulan yang lalu dibatalin gitu aja..." kata Harun lagi. Ia sangat nyaman saat Ar mengusap pipinya.


" Isyirahat ya bang, abang masa kalah sama adek yang lain, mereka aja gak sakit pas pulang kemarin..." canda Ar.


" Abang gini karna bibi jauh dari abang..." timpal Win.


" Kalau abang gak mau batalin, abang istirahat ya, bibi keluar sebentar, kalian jaga abang kalian ya, kalau ada apa apa telepon bibi ya..." kata Ar. Ia mengecup pipi kesembilan keponakannya, berlanjut mengecup pipi Harna, Herman, Indah, dan Hendri. Tak lupa juga ia mengigit hidung baby dog yang imutnya keterlaluan hingga mereka sedikit menyalak pertanda sakit namun tetap mereka menjilati pipi Ar seakan juga mengijinkan Ar pamit.

__ADS_1


***


Ar memborong lampu LED strip di tokoh elektronik yang menjual pernak pernik natal. Setelah berkeliling mencari lampu tersebut karena disaat seperti ini stok di toko toko habis dibeli untuk hiasan natal, akhirnya ia menemukan toko ini.


Toko kecil yang berhimpitan dengan toko besar, tidak usang, malah terlihat minimalis dan bagus. Ar bahkan membeli beberapa lampu 9 lampu tidur untuk 9 ponakannya yang ada dirumah.


Mereka berkeliling toko sebentar. Ar membelikan 1 set make up untuk Ema sebagai hadiah natal saat melihat Ema berbinar pada alat alat tersebut yang telah di paking dan dipamerkan diata etalase tersebut. Niatnya Ar ingin membelikan Harna fondation karena ia pernah mendengar bahwa Harna tak punya waktu untuk membeli dan ia berinisiatif membelinya.


Ia membelikan jam tangan untuk Hendri, jam tangan berwarna emas. Ia juga meminta Gabby untuk memilih salah satu jam yang ada di etalase namun Gabby menolak. Ar yang keras kepala terus meminta Gabby memilih dan akhirnya Gabby dengan berat hati memilih jam tangan termurah, meski ia harus menelan luda karena jam tangan termurah setara dengan gajinya sebulan yaitu 5 juta.


Giliran Jacob, ia diminta majikannya untuk memilih 2 parfum yang cocok untuk Herman. Jacob datang dengan parfum mahal yang memang mahal dikalangan dirinya. Ar tersenyum. Ia meminta dibungkus terpisah, dan Jacob tak menduga bahwa salah satu parfum itu diberikan padanya. Dengan tangan bergetar ia menerima parfum mahal itu.


Mereka beranjak dari sana, ingin membeli cemilan untuk yang dirumah hingga bunyi telepon Ar menghentikan semuanya. Tertera nama Tristan.


" Halo, siang Tan, ada apa?" tanya Ar.


" Itu, itu bi, Harun, dia kejang-kejang bi..." ucapan Tristan sambil suara bergetar membuat Ar menegang.


" Kalian dimana?" tanya Ar. Ia sudah berjalan cepat kearah parkiran.


" Di rumah kak Herman..." jawab Tristan.


" Dirumah yang mana?" sentak Ar, ia susah panik sekarang. Pikirannya mulai berlarian.


" Dirumah lama bi..." jawab Tristan lagi, suaranya menjadi pelan dan lirih.


" Gabriel cepat..." bentak Ar pada Gabby yang mengemudi. " Kalian sama siapa disana?" tanya Ar lagi pada Tristan.


" Hanya aku, Max, dan Harun, kita hanya mau ngambi..."


" Kenapa kamu bawa adek kamu yang sakit kesana Tristan..." ucap Ar penuh penekanan.


" Dia yang mau ikut bi..." bela Tristan.


" Lalu kamu bawa gi, adek kamu lagi sakit harusnya istirahat bang..." nada Ar mulai melembut.


" Maaf bi..."


" Udah panggil dokternya?"


" Masih dalam perjalanan..."


" Bibi tutup ya, jaga adek kamu baik-baik..."


Tak sampai 5 menit Ar memutuskan panggilan, mereka telah sampai di pekarangan rumah Herman. Tanpa menunggu mobil berhenti Ar langsung turun, dan alhasil ia jatuh tersungkur hingga lututnya lecet akibat bergesekan dengan pasir kasar serta kerikil halus di depan teras pintu utama.


Tak menghiraukan pekikan Ema atau rasa sakit di lututnya ia berlari kedalam rumah.


Didalam terlihat sepi, dan karena panik serta nafas yang memburu dan detak jantung yang tak beraturan, indar paling tajam miliknya yaitu telinga tak menangkap informasi apapun.

__ADS_1


Dan....


__ADS_2