Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Susan


__ADS_3

Ar bangun dari duduknya, membenarkan kacamatanya yang miring, ia melihat pantulan dirinya di kramik yang dipijakinya. Rambut kuncir kudanya yang sedikit berantakan ia benarkan, melepas ikat rambut tersebut dan mengikat ulang dengan lebih rapi seperti saat ia keluar kelas.


Teman-teman sekelas akan kawatir jika ia pulang dengan berantakan atau jika mereka tau ia dicegat sebentar oleh empat cewe tadi pasti hilanglah sudah kebebasannya.


Ya, Ar tak memiliki kebebasan, diluar sekolah sudah ada dua bodyguard yang ditugaskan bersamanya, dari papi alias papanya kak Herman. Di sekolah, selain dikelas Ar selalu kemana-mana dengan Tristan. Selain teman sekelasnya, semua warga sekolah tau bahwa Ar dan Tristan pacaran atau sudah bertunangan.


Ar berjalan kembali ke kelasnya. Ia disambut dwngan pertanyaan-pertanyaan kawatir seperti: Kamu dari mana? Kenapa lama sekali? Apa yang kamu lakukan setelah dari ruang guru? Dan masih beberapa lagi.


Mereka melanjutkan kelas kosong dengan mengerjakan tugas dari ibu Putri. Bunyi bel istirahat menyadarkan mereka.


Berkemas buku-buku dan bersiap ke kantin. Mereka terhenti saat menoleh pada Ar yang diam saja sambil terus menonton anime, tentu ia sudah mengerjakan soalnya dan habis terlebih dahulu dari pada mereka semua. Ia tak berniat ke kantin dan saat ini dia sedang menonton anime, melanjutkan dari istirahat pertama tadi.


" Yan gak ikut?" tanya Jeisis.


" Iya, ribut soalnya di kantin, bising, nanti Gabby sama Jacob ngantar makanan ke sini..." kata Ar.


" Kalau gitu kita ke kantin ya..." ujar Bian.


"..." tak ada tanggapan namun mereka terlihat biasa karena tau teman mereka yang satu itu sudah fokus kembali pada anime-nya.


Tak lama setelahnya, Gabby dan Jacob masuk di kelas Ar dengan membawa makanan. Merapikan makanan Ar yang langsung dimakan, kemudian berdiri sedikit menjauh dari Ar karena mereka tau bahwa nona muda didepan mereka ini tak suka diawasi saat makan.


Makanan Ar masih setengah namun ia menolak, bukan karena kekenyangan. Selama ini Ar makan selalu sedikit bukan karena kekenyangan tetapi karena ia tak merasakan rasa makanan tersebut, lidahnya sudah tak bisa mengecap rasa makanan. Semua makanan terasa hambar makanya ia tak menghabiskan makanan tersebut.


Tristan datang bersamaan dengan Ar mendorong makanan tersebut tertanda ia menolak.


" Gak dihabisin bi?" tanya Tristan.


" Gak..." jawab Ar singkat.


" Kalau gitu makan ini aja ya..." bujuk Tristan sambil memberikan mangkuk berisi susu dan sereal.


"..." tak menjawab Ar hanya menggeleng.

__ADS_1


" Ya udah dibuang aja..." kata Tristan.


" Mana..." Ar merebut paksa, ia tak suka membuang-buang makanan. Ia memakan serwal yang diberikan Tristan dan menghabiskan makanan sisanya tadi.


***


Ar keluar dari kelas mendahului mereka, ia ingi cepat-cepat pergi. Biasanya, ia menunggu, mengenakan earpone terlebih dahulu kemudian baru membereskan bukunya yang berada diatas meja.


Terheran sendiri dengan sikap teman mereka itu, mereka membiarkannya saja.


Ar sendiri dengan tergesa-gesa menyusuri koridor sekolah yang masih sepi. Ya, guru mereka sudah mengijinkan mereka pulang padahal masih 5 menit sebelum bel berbunyi.


Menghampiri mobil yang terparkir di parkiran kusus, ia dibukakan pintu oleh Gabby, ia naik ke mobil, Gabby menutup pintu, dan ia sendiri naik ke dalam mobil, Jacob berada di kursi pengemudi.


Keluar dari pekarangan sekolah mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang menuju jalanan.


" Nona, apa nona langsung pulang atau mau ke suatu tempat?" tanya Jacob.


" Ke tempat jualan bunga..." ucap Ar.


Mobil melaju melewati gedung-gedung tinggi dan sampai di sebuah toko kecil dihiasi banyak tanaman beraneka warna.


Jacob menghentikan mobil tepat di tempat parkiran di samping toko tersebut dan Gabby dengan cepat turun dan membuka pintu untuk nona muda yang dilayaninya itu.


" Terima kasih..." kata Ar kemudian memasuki toko bunga tersebut.


" Halo, selamat datang di Hazel Florist, ada yang bisa saya bantu?" kata seseorang menyambut Ar. Gadis dengan rambut hitam dan mata Hazel yang indah.


" Iya, saya mau cari bunga mawar putih 7 tangkai..." ucap Ar menyebutkan nama bunga yang diaukai temannya itu.


" Ditunggu sebentar ya dek..." ucap si gadis tadi, sebelum pergi ia swmpat mempersilahkan Ar untuk duduk di salah satu tapi Ar menolak dan ingin berkeliling melihat bunga-bunga disini.


Tak menunggu lama si gadis penjaga toko tersebut datang dengan buket bunga berisi 7 mawar putih seperti yang ia minta.

__ADS_1


Setelah membayar Ar kembali ke mobil, mereka kembali menempuh perjalanan hingga Ar meminta untuk berhenti di sebuah minimarket. Ia membeli sesuatu dan kembali.


Melanjutkan jalan mereka dan berhenti di sebuah tempat pemakaman.


Ar berjalan memasuki tempat tersebut, menyusuri tempat-tempat peristirahatan terakhir.


Ar berhenti di sebuah makam dengan kramik marmer putih dan nisan berwarna hitam dengan tulisan tercetak tinta emas dengan tertulis nama Susana Aurelia.


" Sore San, apa kabar? Pasti kamu udah bahagia ya..." kata Ar. Ada helaan nafas berat yang ia hembuskan.


Kenangan dimana kecelakaan menimpa mereka mulai terngiang di kepalanya. Ada setetes cairan bening yang mengalir bebas dipipi putihnya itu.


" San, maafin aku ya baru datang sekarang, hehehe, maaf, aku takut ketemu kamu, kalau kamu gak marah aku waktu itu aku jujur belum siap..." jeda Ar sambil menghapus air matanya


" Aku terlalu takut disalahkan atas meninggalnya kamu, kamu tau, aku...aku takut dibenci..." ujar Ar, ia berjongkok, membakar lilin, dan berdoa didalam hatinya, berharap sahabatnya itu selalu diberikan tempat terbaik di sisi Yang Maha Kuasa.


Setelah berdoa Ar masih ingin berada disini, ia duduk disebelah llilin tersebut dan bersandar pada tembok makam yang berkramik marmer tersebut sambil menatap langit sore yang berwarna jingga.


" Kau tau, setelah kepergianmu aku mendapat seorang yang sangat mirip denganmu, cerewet, penuntut, keras kepala, pemaksa, tapi baik, pengertian, cerewet soal kesehatan aku, hanya dia yang tau soal kesehatan aku sama kaya kamu, hanya kalian yang mengerti aku lebih dari aku sendiri, lucu ya..." cerita Ar.


" Oh ya, aku guntingin rambut aku loh, sebelumnya rambutku hampir menyentuh tanah, aku kasihan sama kak Anisa, pembantunya kak Harna, dia kayaknya kesulitan ngurus rambut panjangku jadi aku gunting..."


" Aku juga udah punya peliharaan loh, nanti kapan kapan aku ajak ke rumah..."


Hening, lama sekali, Ar sedang mengingat mereka bermain bersama di halaman rumah mereka. Isak tangis Ar kembali terdengar. Ia menganggap Susan sebagai kakaknya, tentu karena semua kakak-kakaknya dulu membencinya, hadirnya Ar membawa keretakan hubungan orang tua mereka. Kecuali Rian, ia sangat senang memiliki adik perempuan.


Ar masih terisak, ah ia sangat merindukan sahabat yang tengah berbaring disebelahnya itu. Terbaring dengan sangat damai dan tak akan pernah bangun dan bermain bersama lagi.


Dulu, Ar hanya memiliki Susan disisinya, hanya Susan yang mau berteman dengannya, alasannya karena mereka takut dengan Ar yang terlalu pintar, menjadi pintar, bukanlah sebuah dosa, namun mungkin karena masih kecil, semua temannya menjauh dan tak mau bermain dengannya.


Itulah salah satu penyebab ia tak begitu ingin menonjolkan kepintarannya semasa SMP dulu saat pindah ke desa.


" San, udah sore banget, aku pulang dulu ya, kalau sempet, aku mampir lagi kapan-kapan..."

__ADS_1


Dengan mata bengkak dan memerah bersama dwngan hidungnya yang ikut memerah Ar pulang.


__ADS_2