Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Sakit


__ADS_3

" Kak Nisa ada di sini?, kakak bisa bantu kramas rambutnya Ar?" tanya Ar saat melihat Anisa ada di kamarnya. Anisa memiliki akses kusus atau termasuk orang yang Ar percayakan kamarnya boleh dimasuki tanpa dimintai ijin terlebih dahulu.


" Iya nona, saya baru memberi susu untuk siang hari ini pada mereka..." kata Anisa sambil bangun dari dududknya, ia dengan alami mengambil tas Ar dan menggantungnya di sebelah meja belajar, ia juga melepas pintalan rambut Ar yang dibuatnya tadi pagi.


" Tadi Betty muji loh, katanya rambut Ar bagus untuk hari yang suram ini..." oceh Ar yang duduk di lantai dan dikelilingi ketiga teman imutnya.


" Benarkah? ini karna rambut nona memang bagus..." puji Anisa.


" Tidak juga, kalau bukan karena kak Anisa, rambutku pasti gak akan terawat meski aku terus bersikeras tidak ingin memotongnya..."


" Tapi nona, bagaimana jika nona memangkasnya sedikit, bukan untuk tujuan memotongnya tapi jika ujung rambut nona dipotong maka bisa lebih panjang lagi, nona lihat, ujung rambut nona ada yang bercabang..." kata Anisa sambil menunjuk bagian ujung rambut Ar.


" Kalau kak Anisa yang ngurus aku gak masalah..." mereka sudah pindah ke kamar mandi. " Kak, gak jadi deh, biar Ar saja yang kramas rmbut sendiri, Ar mau belajar mandiri..." Ucap Ar, sepertinya ia malu.

__ADS_1


" Kalau gitu kakak tinggal ya, kalau mau perlu, kakak di dapur aja, nona bisa cari kakak di sana..." Anisa sambil senyum tipis berbalik pergi, ia cukup senang dengan sikap nona mudanya itu.


...****************...


" Sayang, Andi, Ronald, sama Ar dimana? udah jam segini belum turun makan juga, nanti mereka sakit loh..." kata Herman pada Harna sambil melihat ke arah tangga, mereka sedang duduk di ruang tengah mengawasi keempat anak mereka belajar.


" Andi sama Ronald pulang, katanya nanti sabtu atau minggu lagi baru datang main ke sini, mereka sibuk sayang sama kuliah mereka, lagian dari sini ke kampus mereka itu jauh, lebih deketan sana..." jelas Harna.


" Jadi kita ngerepotin Andi dong..."


" Kalau Ar, dia siang tadi juga gak makan sayang, sekarang mereka lagi ujian loh, kalau dia sakit gimana?" tanya Herman kawatir.


" Paling dia ketiduran, biar Harna liat ya, mas awasi mereka, kalau meleng dikit aja mereka gak akan belajar..." kata Harna sambil menunjuk ke empat anak mereka, ia beranjak dari duduknya ke kamar Ar.

__ADS_1


" Dek..." tok tok tok " ...kakak masuk ya..." kata Harna setelah berulang kali mengetuk pintu dan memanggil Ar.


Harna masuk ke kamar Ar. Terlihat lebih rapi dari terakhir kali ia melihat kamar Ar yang berserakan banyak buku di lantai kamarnya. Ia mendapati Ar sedang tertidur di karpet lantai dengan nafas terengah-engah seperti sedang dikejar. Harna mengetes suhu tubuh Ar dengan menempelkan punggung tangannya ke kening dan leher Ar, terkejutnya ia saat merasakan suhu tubuh Ar yang tidak wajar.


" Sayang, telepon Ronald dan suruh di membawa perlengkapan kerjanya, Ar demam sayang..." teriak Harna dari lantai dua, ia keluar dari kamar Ar setelah memindahkan Ar ke atas kasur dan menyelimuti Ar dengan kain tebal karena Ar menggigil tadinya.


Harna turun ke dapur dan membuatkan bubur hangat, jangan menanyakan apakah ia kawatir, tentu saja. Tangannya gemetar, terakhir kali ada yang sakit di rumah ini adalah saat Win, Vian, dan Vin anaknya menderita tifus hanya dalam jangka waktu 3 hari berselang setelah salah satu dari mereka pulang dari rumah sakit. ( Seperti sakit bergiliran gitu, susah jelasinnya gimana ).


Dan tak lama setelah ketiganya sembuh, Harun si putra sulung mereka mengalami demam berdarah dan hampir tidak tertolong, namun untunglah mereka semua selamat. Kejadian ini membuat Harna sedikit trauma jika mendengar salah seorang anggota keluarganya demam yang merupakan gejala awal dari kedua penyakit yang hampir merenggut nyawa keempat anaknya dalam jangka waktu yang sanggat berdekatan itu. Kejadian ini terjadi 2 tahun yang lalu, mulai dari situlah Harna selalu rutin menjadwalkan pemeriksaan kesehatan keluarganya setiap 3 bulan sekali.


" Sayang, Ar tidak apa-apa? sepertinya dia kehujanan, sejak pagi tadi kam memang gerimis sampai sekarang..." kata Herman mendekati Harna yang terlihat melamun. Ia memegang kedua pundak istrinya itu, takut jatuh.


" Iya mas..." ucap Harna tapi sepertinya ia masih terus melanjutkan lamunannya.

__ADS_1


" Mas buatin susu ya buat Ar, kayaknya buburnya udah gosong deh..." Herman sedikit bergurau.


Tak lama kemudian Ronald datang dengan masih mengenakan piyama, dengan tas bertanda tambah atau tas p3k dan sebuah tas belakang yang besar berisi peralatan prakteknya. Ronald terlihat linglung.


__ADS_2