
" Sebenarnya saya tak ingin memberitau anda soal keadaan nona muda Ar tapi, anda mungkin akan menjadi salah satu dokter yang ikut andil dalam kesehatan nona muda kedepannya..." ucap Emelia.
" Nona muda sedang kritis karena tifus, maag, stres, dan asma-nya yang kadang kambuh disaat-saat seperti ini, saya harap anda tak membicarakan dengan siapa-siapa soal ini apalagi kepada keluarganya, kalau begitu saya permisi..." Dokter Emelia pergi.
***
" Astaga kak, kamu kok bisa dibegal, wajah tampan kamu ketutup..." kata mama melihat wajah anaknya yang babak belur masih dengan jas dokter.
" Ma..." panggil Satrio, tanpa ia sadari air matanya terjun bebas dari pelupuk mata yang sejak tadi menggenang.
" Kenapa sayang, kenapa kakak cengeng gini?" tanya mamanya, sang mama menarik pelan anaknya yang sejak tadi berdiri kini duduk disampingnya.
" Delia ma, Delia kritis ma, Iyo bikin dia kritis ma, gimana kalau dia ngikutin Susan ma, Iyo...Iyo..."
" Shuut, gak, Delia kita kuat, Yana-nya Susan kuat, ia bisa bertahan, jangan pikirin macem-macem, dia pasti baik-baik saja, kakak harusnya berdoa supaya Delia bisa sehat lagi, bisa main kesini lagi ya?" ucap mama dijawab anggukan. "... Kakak tunggu sini mama ambil kotak P3K ya, obatin luka kakak..."
***
Sejak saat itu, Satrio menuruti perkataan Tristan, ia benar-benar menjauh.
Tempat Satrio melakukan tugas akhir yang awalny di rumah sakit ia bekerja, ia ganti dengan rumah sakit di dekat kampus.
Satrio kembali menyewa apartement di kota yang sama dengan kampusnya agar tak kecapean di perjalan.
Ia hanya mendengar kabar Ar lewat dokter Emelia.
Ya, untuk menghindari Ar, ia pindah ke kota dimana ia kuliah, ingin fokus tugas akhir ia berdalih agar bisa kembali tinggal di apartement dekat kampus yang memang berbeda kota dengan tempat tinggal orang tuanya dan juga dalih menghindari Ar.
Satrio benar benar fokus pada studi-nya. Meski begitu, ia tak bisa memutuskan kontak dengan dokter seniornya yaitu dokter Emelia untuk mengetahui kondisi Ar.
Satrio sekarang ini sedang menunggu UAS, setelah ujian akhir semester masih ada waktu seminggu sebelum libur yang akan ia gunakan sebelum libur.
Nantinya selama libur ia akan mengerjakan teaisnya dan saat selesai libur, ia bisa langsung ujian. Itulah rencananya.
***
Sudah seminggu Ar keluar dari rumah sakit, seminggu ia ditemani kesana kemari oleh 2 bodyguard yang diberikan papi untuknya, seminggu ia pulang pergi tidak bersama Tristan, seminggu pula ia tak menerima kabar dari seseorang yang memberikannya semangat.
Ia menepis pikiran tersebut yang membuatnya termenung saat mandi dan berendam air hangat.
Keluar dengan handuk kimono menuju walk in close mengenakan pakaian seragam dengan dibaluti sweater, ia berdiri di cermin seluruh badan, sepertinya yang dikatakan salah satu temannya bebwrapa hari lalu memang benar.
Ar baru menyadari kalau ia memang bertambah tinggi, roknya sudah kelihatan pendek dan paha mulusnya bisa diekspos.
__ADS_1
Rok sekolah memang pendek, 5-7 cm diatas lutut, namun roknya sekarang sudah setengah pahanya atau sudah sejengkalnya dari lutut. Sejengkal tangan Ar sendiri yaitu jempol dan kelingking jari ia lebarkan adalah sekitar 21 koma sekian cm, kemarin ia ukur.
Karena dirasa roknya terlalu pendek, ia mencari kaos kaki yang menutupi seluruh kakinya hingga hampir tak terekspos kulit putih mulusnya itu.
Seragam mereka sudah diganti, dulunya bermotif kotak-kotak dengan kelas 1 berwarna abu-abu atau biru pucat, kelas 2 berwarna hijau dan kelas 3 berwarna hitam kini motif kotak dihilangkan sehingga berwarna polos.
Selama Ar terbaring sakit, SSP mengganti motif serta warna pada seragam, meski hanya tingkat SMA saja.
Seragam SD yang bermotif kotak dengan perempuan berwarna pink, dan laki-laki berwarna ungu.
Seragam SMP juga bermotif kotak dengan warna coklat muda baik laki-laki maupun perempuan.
Sedangkan untuk SMA, dulunya anak kelas 1 rok atau celananya berwarna biru pucat sama seperti warna seragam SMA Negeri dengan motif kotak kini berganti menjadi abu-abu polos.
Anak kelas 2 SMA yang dulunya bermotif kotak hijau kini berganti menjadi warna biru navi polos seperti seragam SMP Negeri, namun bedanya celana laki-laki panjang dan rok perempuan untuk SMP hanya 2 lipatan tepat sejajar dwngan lutut sedangkan rok SMA mereka banyak lipatan.
Anak kelas 3 SMA yang dulunya hitam bermotif kotak kini berganti hitam polos dwngan lipatan yang sama sepwrti kelas 1 dan 2 yang membedakan mereka dengan yang lain.
Ar memasuki lobi sekolah yang telah ramai, hari ini ia sedikit terlambat meski keluar rumah pagi-pagi sekali. Ar semalam ditwlpon papi untuk mampir sebwlum berangkat sekolah esok harinya, dan ia menurut. Disana ia ditahan oleh papi untuk sarapan dan berlama-lama disana hingga ia sampai ke sekolah, sudah hampir terlambat.
Banyak desas desus saat ia melangkahkan kakinya memasuki sekolah ini. Telah menjadi rahasia umum sekolah bahwa Ar memimpin tren fashion sekolah, banyak yang mencoba meniru gaya berpakaian Ar namun mereka tak se fashionable Ar.
Tentu, bukan hanya fashion yang menjadi daya tarik Ar, gaya rambut yang menunjang, serta wajah polos tanpa make up, kulit seputih susu, kurus namun ramping, rambut panjang berwarna hitam pekat yang diwarnai, ditambah kacamata menambah kadar keimutannya itu.
" Gue belum 14 tahun udah setinggi lo, apa kabar gue seumuran lo nanti? Gue ini masih dalam masa pertumbuhan, lah elo, udah pubertas dari 12 tahun sampe sekarang mimpi basah tiap hari..." ejek Ar, Daniel tertawa terbahak sedangkan Lynden tersenyum antara jijik bercampur meleledwk bercampur lucu memandangi Veron.
" Lah ni bocil, emang lo tau gue mimpi basah tiap hari dari mana?" tanya Veron menutupi malunya.
" Rahasia bisnia dong, udah sana..." kata Ar pergi.
Sebenarnya ia tak sengaja mendwngar gumaman Veron soal dirinya itu.
***
Mengemasi barang-barangnya Ar pulang. Di dalam mobil ia memberikan sebuah alamat pada Jacob, Jacob memberitau Gabby alamat yang akan dituju dan mereka menuju ke sana.
Ting Tong...
Ar menekan bel rumah, tak lama mama membuka pintu, ia cukup terkejut dengan gadis yang membuat anaknya galau beberapa waktu lalu itu muncul dihadapannya. Lebih terkejut lagi dengan 2 pria kekar dibelakang Ar.
" Sore ma, mereka dikasih papi, ayahnya kakak ipar Yana..." jelas Ar yang melihat kebingungan di wajah mama Satrio.
" Oh sore, Delia masuk dulu ya..." ajak mama.
__ADS_1
" Ma, kak Iyo mana?" tanya Ar to the point, ia tak melihat Satrio padahal ia sangat hafal jadwal Satrio yang seharusnya sekarang sedang bersantai.
" Kakak Iyo lagi kuliah, ia lagi UAS, sekalian katanya mau fokus sama tesis-nya, Delia tau kan tesis, tugas alhir supaya jadi magister..."
" Tau ma, Ar pikir kak Iyo di rumah soalnya Ar telpon nomornya tapi gak diangkat padahal Ar hafal jadwal kak Iyo..."
" Iyo, maaih di kota sebelah, ia ngerjain tugas akhir juga disana, jadi mungkin Ar gak bisa liat Iyo untuk sementara waktu..." jelas mama dengan lembut.
" Gitu ya ma?" tanya Ar lesu.
" Sayang, siapa 2 pria berjas diruang tamu kita say... Yana, kok mampir gak bilang bilang..." kata papa yang baru pulang.
" Gak sempet pa, Yana nyariin kak Iyo tapi kata mama kak Iyo lagi di luar kota..."
" Mama tinggal bentar ya buatin minum buat kalian, Delia mau apa sayang?"
" Delia minum apa aja ma, susu kemasan juga gak apa-apa..."
Dan Ar mengobrol bersama mereka hingga sore mulai beranjak memanggil malam yang sebentar lagi datang.
" Ma, pa, Yana pulang dulu ya, nanti orang rumah kawatir..." pamit Ar.
" Gak sekalian makan malam disini?" tanya papa.
" Gak pa, Yana juga tadi gak sempat ijin jadi harus pulang sekarang..."
" Yaudah hati-hati ya..." ujar mama.
Kedua pasangan paruh baya tersebut mengantar sahabat anak mereka ke depan, menunggu hingga mobilnya menghilang dari pandangan barulah mereka masuk.
***
Ujian berjalan selama seminggu penuh diawal desember. Dengan pagi diselimuti gerimis membuat semua orang mungkin malas beraktivitas tapi tidak dengan Satrio.
Seperti biasa, pukul 5 tepat ia telah bangun pagi, mandi, mengganti pakaian dengan pakaian olahraga, lari pagi ari jam setengah 6 hingga jam 7 pagi. Dilanjutkan dengan membuat sarapan pagi untuk dirinya.
Berkutik tak lama di dapur, ia menyajikan sarapan untuk dirinya di meja makan, kembali ke atas untuk mandi dan bersiap ke kampus. Turun kembali untuk sarapan. Dan berangkat setelah kenyang dengan sarapan paginya.
Hari penting untuknya, seminar proposal.
Bukan Satrio namanya jika ia gagal. Hanya 1 yang gagal selama ini dan ia sesali adalah tak menjaga adik perempuan satu-satunya.
Setelah 2 jam lebih seminar, ia keluar dengan wajah sedikit puas. Keempat dosen baik 2 pembimbing maupun penguji mengapresiasi dirinya dan menaruh banyak harapan padanya.
__ADS_1
Senang, tentu saja. Ia akan langsung memulai pengerjaan tesisnya agar cepat diwisudahkan