Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Pasca sembuh


__ADS_3

Ar disambut dwngan hangat oleh kelima bocil yang sedang berdiri sejak 1 jam yang lalu saat mendengar bibi tercinta mereka akan pulang.


Tristan dengan cekatan membuka bagasi, diturunkannya kursi roda, memasang pipa besi panjang yang akan digantungi botol infus dan menggendong Ar keluar.


Ar awalnya menolak dengan usulan mengenakan kursi roda karena ia memang tak bisa tak berjalan, namun Triatan berkata tak akan membantunya saat dirumah nanti membuat Ar menurut karena ia memang masih tak bisa bergerak bebas.


Yang lain hanya mengamati karena Ar menolak mereka, kecuali Tristan dan Herman, namun Tristan lebih berperan banyak. Ar juga memang masih terlalu lemas untuk berjalan sendiri sehingga ia tak bisa sepenuhnya membantah.


Harun dan Tian mengambil alih kursi roda Ar dan mendorong Tristan tanpa sengaja agar merwka bisa leluasa sedangkan Vian,Vin, serta Win berjalan disalah kiri dan kanan Ar.


Melepas rindu setelah seminggu penuh berjauhan membuat mereka merasakan ada sedikit kekosongan. Bukan apa-apa, hanya saja setelah 3 bulan lebih tinggal bersama, kecuali saat kesekolah, tidur malam, saat Ar pergi membeli buku seminggu sekali merwka tak pernah terpisahkan.


" Bibi tau, Win udah bisa 1 lagu loh, kata guru les Win cepat belajar dan pintar menghafal not..." bangga Win bercerita. Hadiah ulang tahun Win yang Ar berikan adalah sebuah biola yang ia beli sendiri dari uang jajan yang selama ini dia dapat dari kakak-kakaknya.


Ar tau Win memang suka musik. Baru-baru ini Ar yang memang menyukai musik klasik mengetahui bahwa Win sering menguping agar ikut mendengar alunan musik tersebut.


Mereka bercerita hingga tak sadar sekarang waktunya makan malam.


Ar duduk diantara Tristan dan mamanya. Tristan menyuapinya makan, entah kenapa Tristan sangat protektif pada Ar.


" Ma, Itan ga usah sekolah aja ya..." minta Teistan pada Harna.


" Emang kenapa kak?" tanya Harna.


" Itan mau jagain bibi..."


" Gak, bibi gak mau, masih ada kak Mariana, sama kakak yang lain, mama juga ada, gak, Itan gak boleh bolos..." bantah Ar.


Mereka yang mendengar ucapan Ar merasa seperti ada yang menyapu hati mereka, berarti Ar mungkin tak mengabaikan mereka lagi.


" Tapi bi..."


" Gak ada bantahan Tan, bibi gak mau kamu bolos sekolah karna bibi, bibi gak suka..."


Setelahnya mereka pindah keruang tengah.


Selama Ar dirumah sakit, Herman dan Harna menambah pekerja baru, mbak Anin dan Anisa saja dirasa tak cukup.


Herman mempekerjakan 2 koki, 2 pelayan pakaian, 2 pelayang untuk kebersihan kamar, dan beberapa lainnya untuk memudahkan mereka karena selama ini, Harna turun tangan sendiri untuk mengurus rumah sebesar ini.

__ADS_1


Anisa diangkat menjadi pengasuh baby dog, dan mbak Anin menjadi kepala pelayan.


" Kakak tidur bareng kamu ya?" tanya Mariana. Sama seperti anaknya Tristan, Mariana juga cukup merasa bersalah atas perlakuan suaminya yang tidak mengenakan itu.


" Iya kak..."


Mereka berbincang sebentar dan akhirnya pergi tidur karena sudah larut malam.


Ar digendong Tristan sedangkan Mariana mengikuti dari samping dengan memegang botol infus dan Ronald merapikan kursi roda milik Ar.


" Selamat malam bi..." Tristan akhirnya pergi kekamarnya setelah mengecup pipi Ar.


" Ganti pakaian kamu ya, kakak gantikan..." kata Mariana, Ar mengangguk. Mariana pergi dan kembali dengan setelan piyama berwarna merah maron polos. Ia mengganti pakaian Ar, cukup terampil tentu dengan hati-hati.


" Ar, kakak minta maaf ya, kakak tau kamu sakit hati sama kelakuan mas Ardan, tapi dia pasti punya alasan..."


" Gak usah dibahas kak, Ar cape. Kalau kakak minta Ar jangan sikap dingin ke kakak sama yang lain, itu mungkin masih bisa sanggup tapi kalau dengan kak Ardan sama ayah, Ar gak tau. Ar hanya kesal dengan kalian, tapi Ar gak tau harus menyikapi kak Ardan sama ayah gimana..." tutur Ar.


" Ok, kakak gak akan maksa kamu buat maafin mereka, ayo tidur, pasien gak boleh sampai kelelahan..." ucap Mariana.


" Kak tolong..." kata Ar menunjuk laci nakasnya. Mariana menurut, diberikannya botol berisi pil entah apa ia tak tau. Ar memang sengaja mencopot labelnya. Botol tersebut berisi pil tidur yang dikonsumsi Ar setiap ingin tidur.


***


Ia mendengar gemercik air, ia pikir itu pasti Mariana, dan benar saja, Mariana kembali dengan wajah yang fres sehabis mandi.


" Udah bangun dek? Mau kekamar mandi?" Tanya Mariana dijawab anggukan.


Mariana membantu Ar membersihkan tubuhnya dan buang air. Ia memang juga seorang dokter tapi ia tak memeriksa kondisi Ar karena ia mempercayakan dokter pribadi keluarga iparnya itu. Memang sejak awal dia tak ambil bagian dalam menangani pengobatan Ar jadinya ia tak mau menyelewengkan tugas orang.


***


Hari-hari terasa membosankan bagi Ar. Kakak iparnya yaitu Mariana telah pulang bersama mama, Rian dan Fitri rabu kemarin.


Kelima bocil masih disekolah bersama dengan Tristan, Herman menjadi semakin sibuk karena bisnis yang ia jalani berkembang hingga keluar negri, dan Harna sebagai sekertaris Herman sendiri tak bisa berlama-lama mengambil cuti.


Satu hari dirasa setahun oleh Ar. Hari ini masih hari jumat, ia akan bersekolah hari senin nanti. Ar menjadi lebih bebas kamis kemari, ya, infusnya sudah dilepas, laptop, i-pad, dan kacamatanya disita agar ia beristirahat total telah dikembalikan.


Pagi tadi ia sangat ingin pergi ke toko buku, tapi tentu ditentang keras oleh Tristan dan Harna. Ya ia tau ia baru sembuh tapi, ia sudah rindu dengan wangi buku baru, meski ia tak bisa mencium lagi seperti apa aroma yang membuat dirinya sangat betah berada dalam tempat tersebut.

__ADS_1


Kemarin malam, ia sempat berdiskusi dengan Herman. Ia ingin menyembuhkan insomnia-nya yang membuatnya sedikit kesulitan menjalani hari-hari biasa.


Ya, insomnianya itu membuatnya pening setiap saat. Ia terus merasa takut dan cemas saat memejamkan mata meski tak takut pada kegelapan.


***


Minggu pagi, ia memutuskan setelah ke gereja ia akan pergi ke salon yang direkomendasikan oleh Priscilla dan Joana.


Baru sebulan ia memotong rambutnya yang dari panjang sebetis hingga tersisa sepinggang saja kini telah panjang lagi. Panjang yang jika tidak ikal rambutnya atau saat dicatok maka bisa sampai belakang lututnya.


Ar ingin mengurus rambutnya sendiri. Ia selalu sibuk meminta Anisa untuk menatanya setiap pagi, tak mau membuat Anisa kerepotan mengurus rambut panjang nan kriting miliknya, ia merelakan panjang rambutnya harus dipangkas.


Sepulang dari greja, Ar diberikan sebuah kunci mobil. " Kak?" tanya Ar bingung pada Herman.


" Kakak juga gak tau, papi nyuruh kakak kasih ini ke kamu, sama 2 orang di depan mobil sana..." tunjuk Herman.


Ar mengikuti arah jari Herman, mereka masih berada di ruang tamu jadinya Ar masih bisa melihat 2 orang bebadan kekar dan besar melebihi semua orang yang pernah ia lihat, membungkuk saat dilihat dirinya.


Ar berlari keatas namun dengan teguran Harna membuat ia memelankan langkahnya menjadi berjalan cepat.


Ia mengganti pakaian dengan mengenakan gaun sederhana berwarna ungu.


Turun kemudian pamit pada yang lain.


Didalam mobil.


" Jadi apa kata papi soal kalian?" tanya Ar pada keduanya. Mereka duduk di kursi depan dan Ar duduk di kursi belakang.


" Tuan berkata kami harus menjaga nona, jangan sampai terluka atau tergores seujung rambutpun..." jelas seseorng yang tidak mengemudi.


" Bawa aku ke pantai..."


Dan kini mereka berada di pantai.


Ar meminta salah satu dari mereka mengambil foto dirinya. Kemudian mereka kembali ketujuan awal.


Ia memandang senang fotonya, foto sebelum pemotongan rambut kedua kalinya.


__ADS_1


__ADS_2