Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Menjenguk


__ADS_3

Teman sekelas cukup kawatir. Pasalnya Ian tak pernah terlambat meski saat bersama Tristan, mereka akan datang kadang hampir bersamaan dengan bunyi bel.


Namun sudah 10 menit pelajaran dimulai teman imut mochi mereka tak juga muncul.


Tok tok tok


Kelas menjadi hening mendengar ketukan pintu, merwka berharap itu adalah Ian. " Permisi, maaf bu saya mau menyampaikan kalau ada kabar bahwa Ardian tak masuk karena sakit bu..." kata kepsek cantik ini.


" Ah baik bu, saya juga bertanya-tanya mengapa anak itu belum datang juga, ternyata sakit, semoga ia cepat sembuh, makasih ya bu..."


" Iya bu, kalau begitu saya permisi bu..."


" Iya bu, mari..."


Bosan, tentu saja, mereka mengikuti pelajaran dengan setwngah hati. Ian sepertinya memberi pengaruh besar bagi kelas ini.


Sedangkan dikelas lain.


" Permisih pak..." ucap Indah saat memasuki kelas X IPA 1.


" Iya bu, ada apa ya?" tanya si guru bingung.


" Ini pak, saya dapat kabar kalau Tristan sakit pak..."


" Ah begitu ya bu..."


" Iya kalau begitu saya permisi dulu.


***


Jam istirahat pertama Betty, Benny, Cris, Bian, Jeisis, Priscilla, Joana, Angel, Rina, Rani, Lynden, Daniel, Veron, Reno, dan Alfin sedang duduk di tempat biasa mereka yaitu pojokan kantin.


Tak berniat memesan makanan atau minuman, mereka berencana untuk menjenguk kedua teman yang sedang sakit itu.


Sepulang sekolah langsung ke rumah Ian tanpa mengganti seragam mereka. Meminta ijin pada orang tua untuk langsung ke rumah teman mereka.


Beberapa yang tak meminta ijin dijamin oleh Reno dan Alfin yang paling tua yang dirasa dapat bertanggung jawab pada yang lebih muda dari mereka.


Bel masuk. Mereka semua bubar kekelas masing-masing.


Dengan enggan kelas X BAHASA 1 mengikuti pelajaran.


Bel makan siang.


Berniat mengisi tenaga, Betty dan yang lain ditahan dikelas oleh Mario didepan pintu meski sambil mengucak matanya mengusir kantuk.


" Jenguk Dian, aku ikut..." pintanya.


" Kita juga..." sekelas bersamaan.


Mereka memang sudah berunding tadi saat Betty dan yang lain ke kantin.


" Tunggu kutelpon tuan rumahnya dulu..." kata Betty kemudian ia menjauh. Tak lama ia kembali dan bilang tuan rumahnya mengijinkan mereka pergi.


Merwka semua senang, tentu, entah kenapa mereka merindukan Ian yang aneh. Tentu aneh, kadang ia banyak bicara, kadang tak bicara seharian, kadang ia jahilnya minta ampun, membuka aib mereka. (Elah, lebai amat X BAHASA 1).


***


Bel berbunyi mereka langsung menyimpan tas mereka. Berniat keluar kelas namun satu suara menghentikan mereka.


" Gimana kita pergi, kalian aja gak bawa kendaraan sendiri..." suara Bian.


" Masih bisa diatasi..." jawab Mario.

__ADS_1


Mereka jalan, bertemu Lynden, Daniel, dan Veron di dekat lapangan outdoor, dan bertemu Reno dan Alfin di lobi.


Jumlah X BAHASA 1 28 orang, minus Ian berarti 27, ditambah most wanted dan Reno Alfin, berarti 32 orang. Mobil yang ada hanya 5 yaitu punya Reno, Alfin, Lynden, Veron, dan Daniel.


Dengan kekuatan Mario, ia memanggil 5 mobil lagi, (Cih, drama banget, dengan kekuatan), Elisa, Orlyn, Miranda, dan Letta masing-masing memanggil jemputannya.


Mereka terbagi ke dalam mobil-mobil tersebut dan berangkat.


Bingung parkir dimana Reno meminta merwka untuk memarkir dilapangan saja. Tidak ditengah lapangan tetapi dipinggir lapangan. Tentu saja mobil mereka tak mau lecet dilempari batu oleh yang bermain disana.


Setelah semuanya berkumpul, Reno membunyikan bel rumah, gerbang terbuka, mereka harus melewati pekarangan rumah dulu barulah sampai di pintu utama yang terlihat megah itu.


Pintu dibuka oleh pembantu rumah tersebut, ia mengenali tamunya itu karena salah satu majikannya pernah membawanya ke rumah.


" Eh Den Reno, neng Betty, sama yang lain, mau jenguk non Ar sama tuan Tristan kan, ayo masuk..." sambut mbak Anin membuka kesua pintunya dengan lebar agar mereka semua tak berdesakan saat masuk.Setelah semua masuk ia menutup pintu dan ikut masuk juga namun langsung kedapur.


Mereka masuk kedalam rumah, duduk di ruang tamu namun tak memuat mereka semua karena ada yang berdiri.


" Loh kok pada berdiri, mbak Anin kenapa gak disuruh ke ruang tengah aja, Tristan juga lagi nungguin mereka di sana..." ucap Harna yang mendengar keributan di ruang tamunya itu.


Mata cowo-cowo mulai menjari keranjang pakaian. Melihat kakak cantik teman mereka membuat jiwa jiwa buaya mereka bangkit.


" Oi, pada bengong, kesambet baru tau rasa lo pada..." ok, sudah tau siapa suara ini, suara rendah namun pedas yang dimiliki Daniel.


" Ian punya kakak bidadari..."


" Pantas aja manis, kakaknya cantik gini..."


" Turunan cecan..."


" Iri banget sama Ian..."


" Kak, bagi nomor WAnya dong..."


Untuk yang terakhir entah suara siapa. Harna hanya menanggapi dengan senyum saja.


" Tan, temen kamu datang..." kata Harna.


Ok, sekali lagi disuguhkan pemandangan indah membuat siapapun pasti tak akan segan untuk mengaguminya kan.


Seperti yang ada didepan mereka ini, Tristan yang mengenakan trening abu-abu dengan kaos putih polos, terlihat tampan meski tak ada rona diwajahnya sedang menyuapi roti yang ada didepannya itu.


" Elah, duduk nape, nagih hutang lo pada, bisulan apa ambeyen..." ucap Tristan. Entah kenapa mulut lemes Tristan ditambah ajaran omongan pedas Daniel yang sering ia dengar menjadikannya seperti ini.


" Bentar lagi mengagumi keindahanmu..." Suara Nining, salah satu teman sekelas Ian. Semua menatapnya, ia yang tersadar langsung merona malu.


" Gue tau gue ganteng, baik, sopan,tidak sombong, rajin menabung..."


" Tapi morotin uang bibi kamu..." sambung Harna yang bersama dengan mbak Anin dan Anisa membawa minuman untuk mereka. Lebih imutnya lagi Harun dan ketiga adiknya serta Tian ikut membantu dengan napan yang berukuran lebih kecil membawa semilan untuk mereka.


" OMG, tuyul-tuyul ini ganteng banget..."


" Enak aja bilang adek-adek gue tuyul..." protes Tristan pada Sairud, cowo yang aga kemayu yang lebih suka dipanggil Sari daripada Sairud.


" Maap maap..."


" Kak, mama tinggal ke belakang ya, diajak ngobrol temannya, udah jauh jauh datang jengukin kamu..."


" Iya ma..." mendengar jawaban Tristan membuat Harna pergi.


Mereka semua telah duduk, ada yang duduk di sofa ada yang duduk di lantai. Berbeda dengan ruang tamu, ruang tengah ini memiliki karpet untuk mengalas lantai dingin karena Harun dan yang lainnya kadang bermain PS hingga tertidur saat malam minggu atau hari libur.


" Mau kemana dek..." tanya Tristan pada kelima adiknya.

__ADS_1


" Main kak, dibelakang..." jawab Vin.


" Disini aja..." kata Tristan seperti meminta.


" Gak, temen temen kakak liat kami kaya mau diterkan..." jawab Win polos. Semua tertawa, Cris yang paling besar suaranya.


" Gak, mereka gak bakalan makan kalian, mereka teman sekelas bi Ar, kalian bisa nanya tentang bibi di sekolah dari mereka..." bujuk Tristan. Jika ia sendiri berarti ia yang akan diterkam.


Menimang sebentar mereka akhirnya ikut bergabung. Mereka membuat kelompok dan membagi adik adik Tristan ke dalamnya. Tristan bersama dengan cowo lain main PS.


Merwka sempat sempat bertanya keadaan Ian namun Tristan juga tak tau, ia hanya mendengar dari Harna kalau bibinya itu masih tidur, kata Harna Ar sudah tak menggigil lagi tapi panasnya belum turun.


***


Sudah sejam lebih mereka disini namun tak ada yang berniat pulang, katanya masih betah, masih nyaman disini.


" Sore, papa pulang..." suara dari pintu depan. Harun dan adiknya berlari senang, sudah 3 hari papanya melakukan perjalanan bisnis.


Tak lama Herman muncul, melewati ruang tengah. " Sore pa..." sapa Tristan.


" Sore pak..." sapa seisi ruangan, mereka sempat diam melihat sosok Herman sang kepala yayasan atau pemilik sekolah namun sapaan orang dianggurin juga tak sopan.


***


Ar terbangun dari tidurnya, antar lapar, haus, dan berisik dilantai bawah membuatnya terusik dari alam mimpinya.


Mengumpulkan kesadaran untuk berjalan dan niat untuk turun kebawa.


Dengan langkah gontai alias sempoyongan sehabis memuntahkan semua isi perutnya, Ar membuka pintunya. Ia memegang pegangan tangga karena masih pusing. Karena denyut kepalanya bertambah setiap kali ia melangkah ia tak menyadari ada teman sekelasnya yang mengamati pergerakannya saat turun tangga dan menghilang dibalik pintu menuju dapur.



Ar duduk dikursi meja makan, ia meminta makan Anisa. " Ini non, saya Anin non, non masih pusing?" tanya Mbak Anin kawatir. Ar yang mengenalinya sebagai anaknya saja sudah membuktikan bahwa nona di depannya ini masih jauh dari kata sehat. Ia menyiapkan makan untuk Ar dan pegi.


" Loh dek, kok turun, kata mbak Anin kamu salah ngenalin dia Anisa ya? Gak liat temen kamu juga yang diruang tengah?" tanya Harna.


" Temen? Dimana kak?"


" Di ruang tengah, ada kak Herman tu juga baru pulang..."


Mendengar itu ia ingin langsung ditenggelamkan, ia melewati ruangan itu dengan masih memakai piyama, malu, tentu saja. Ia meminta Harna memanggil Harun.


Setelah harun datang ia meminta Harun untuk mengambil selimut serta i-pad miliknya.


" Dingin ya dek?" tanya Harna mulai kawatir.


" Dikit kak, mau naik ke atas tapi temen temen masih ada tu, jadi gak enak kalau tinggalin, niat mereka mau jenguk juga..."


Begitulah jelas Ar, sebenarnya ia malu, manya ia meminta Harun mengambil selimut untuk menenggelamkan dirinya dan i-pad untuk mengalihkan perhatiannya dari malunya itu. Secara ia itu memiliki image cool.


Harun datang dengan kedua benda tersebut. Ia mengenakan dan berjalan menuju mereka. Ar bisa mendengar cekikikan pelan yang ditahan, ia tau itu suara Daniel dan Veron, hanya mereka berdua yang berani padanya.



" Duduk dipojokan dan menatap layar i-padnya, uh image Ar tak boleh hancur.


Sebenarnya mereka ingin tertawa atau membuat Ar malu karena ia sering melakukannya kepada mereka, seperti pembalasan dendam. Tapi karena ini dirumah Ar, mereka menyimpannya saja siapa tau nanti lebih berguna.


Mereka mengobrol, Ar kadang ikut nimbung ketika ditanya, namun jarang. Mereka bisa melihat Ar yang masih pucat sekali, kadang menunjukan raut wajah meringis kesakitan tanpa suara namun mereka diam saja.


Karna tak mau merepotkan, mereka pamit sebelum makan malam. Ar memang menyembunyikan sakitnya dengan baik.


Ia terjatuh lemah saat mengantar mereka kedepan gerbang. Setelah mereka semua pulang, tubuhnya mulai lemas, mual yang ia tahan sejak tadi, dan semua makanan yang ia makan sore tadi dikeluarkan tepat setelah mobil terakhir tak lagi terlihat.

__ADS_1


" Bibi, aduh..." keluh Tristan cemas. Ar tak memiliki upaya lagi untuk bangun setelah semua makanan yang ia makan telah dikeluarkan kembali.


" Tuan, kenapa diam saja, cepat dibawa masuk nona bisa masuk angin kalau begitu..." kata security pada Tristan yang panik


__ADS_2