DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Hidupku Seperti Bencana


__ADS_3

Segera Aku melaksanakan Shalat Subuh, Aku biarkan Aldo yang tertidur lelap di sampingku, Aku pun bergegas menyelesaikan semua tugas - tugas di rumah ini, memasak ,membersihkan rumah, mencuci pakaian.


Pagi ini Aku membuat sarapan nasi goreng dan beberapa menu lainnya, Aku mengerjakan dengan cepat karena tidak ingin bertemu atau bertatap muka dengan semua penghuni di rumah ini. Rasa sakit hati atas perlakuan Aldo kemarin masih terngiang .



Seandainya Orang Tua Ku tidak sakit mungkin Aku akan langsung pulang ke rumah. Aku berjalan menyusuri jalan di perumahan itu sambil menghirup udara pagi yang segar.



Terlihat beberapa tetangga dengan aktivitas paginya, ada gang melempar senyum ikhlas dan ada yang melempar senyum seakan penuh tanya. Ku hentikan langkah Ku di tukang sayur .



Ada tetangga yang bertanya . “*Mbak Orang baru ya disini? Soalnya Saya baru lihat*.” Tanya Ibu itu dengan penuh curiga .


“Oh... iya Bu saya baru di sini.” Jawabku.


Tak lama salah satu yang lain bertanya. “*Tinggal di mana mbak*?”



Sambil memilih beberapa sayuran . "*Saya tinggal di rumah yang warna toskah itu Bu*.” Jawabku sambil menunjuk ke arah rumah Aldo.



“*Itukan rumah pak Fredik... tumben ada yang belanja biasanya istrinya itu anti belanja sama paklik sayur katanya kurang higienis dan bla-bla*” cetusnya lagi dengan senyum mengejek.



Aku tetap melanjutkan kegiatan berbelanja Ku. Karena, jika Aku pulang sekarang yang ada Aku akan ketemu Aldo sedangkan Aku malas bertemu dia.



“*Emang mbak sapanya pak Fredik? Terus itu hamil ya mbak? Soalnya setahu Saya Anaknya kan si Aldo itu masih kelas 3 SMA ya*.” Tanyanya penuh selidik.



Aku belum menjawab pertanyaannya, Ku alihkan pertanyaan ke amang sayur. “*Mang ada tahu Co*” tanyaku sembari menyusun semua pesananku.



“*Apa sih Ibu ini tanya terus, mana tau dia istrinya*...” segera ku putus pernyataan ibu itu.



“*Oh, Saya Sepupunya Aldo. Kebetulan Suami sedang tugas jadi saya di titip disini takut kenapa-napa. Soalnya tinggal tunggu beberapa bulan lagi saya melahirkan*." Segera Ku bayar semua belanja ku tadi dan Ku akhiri pembicaraan dengan Ibu – Ibu perumahan ini.



Terlihat Maminya Aldo menungguku di depan gerbang rumah. “*Selvi!. Udah Mami bilang jangan keluar rumah kenapa, Kamu tetap nekat. Apa kata orang ntar*.” Omel Maminya Aldo seperti nenek sihir.



“*Maaf Mi tadi Saya gak ada ngomong macam- macam mereka banyak bertanya, tapi Saya hanya menjawab sebagai sepupunya Aldo*.” Jawabku.


__ADS_1


Akhirnya Wanita itu pun segera masuk sambil menyindirku. “*Baguslah kalo Kamu sadar*.”



Sakit banget kata-katanya, Aku memasuki kamar sambil merenggangkan otot-otot badanku, perut ini terasa keram sekali. Tidak terasa hari hampir menjelang siang, Aku bergegas kembali ke dapur menyiapkan makan siang siapa tau ada saja orang dirumah ini yang pulang makan siang di rumah.


Tidak berselang lama setelah Aku menyiapkan makanan terdengar suara motor sportnya Aldo tapi kali ini tidak sendirian dia beramai-ramai dengan beberapa Kawannya. Aku membukakan pintu tiba-tiba Aldo memeluk dan mencium keningku. “Sayang Masak apa hari ini. Soalnya teman-temanku belum makan." ucapnya.


Aku sempat tidak dapat berkata-kata. “*Aldo ini mimpi atau bagaimana ya? Perasaan baru kemarin dia sejahat itu dengan ku di depan teman-temannya bahkan dia bisa memangku perempuan lain di hadapanku. Hari ini dia memperlakukanku seperti Aku ini satu-satunya wanita di dunia ini*." gumamku dalam hati.



Tapi, Aku masih kecewa dengan sikap Dia kemarin kepadaku. Aku tinggalkan saja dia bersama Kawan-kawannya dan beranjak masuk ke Kamar. Tidak lama kemudian terdengar langkahnya seperti akan menghampiriku.



“*Sayang, Aku minta tolong siapkan makanan buat Kawan-kawanku*.” Tanyanya sambil duduk di dekat sofa yang berada di Kamar Kami.



“*Aku lelah, Kamu siapkan saja sendiri*.” Celetuk Ku sengit.



Ditariknya tanganku hingga Aku beranjak dari sofa dan sudah dihadapannya, wajahnya dan matanya tampak kesal sekali dengan jawabanku batusan.



“*Aw..... Sakit Do lepaskan tanganku*.” Rintihku memohon. Dia merapatkan badanku ke dinding.



“Baik Do, akan Aku siapkan. Tolong lepaskan tanganku sakit.” Terpaksa Aku menuruti kemauannya. Karena, Aku tidak mau terjadi hal buruk dengan Papa.


Kulangkahkan kaki ini menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang, terdengar suaranya walau samar-samar. “*Maaf istriku agak keram perutnya. Sebentar Kita makan siang. Eh tapi ini rahasia ya jangan pihak Sekolah tau*.”



Salah satu teman lelakinya menjawab. “*Aman Bro, kalo sama Kita-kita rahasia ini aman kan tadi Kamu udah cerita sebelum Kita semua kesini*."



Mereka sedang mengerjakan tugas kelompok dari sekolah. Saat Aku ingin memberitahu sudah siap, terlihat Aldo dan Kawan-kawannya tampak pusing tapi mata ini menjelajah di antara mereka.



“Pantas perlakuannya romantis betul seperti itu ternyata di antara Mereka tidak ada wanita yang duduk di pangkuannya kemarin bahkan wajah mereka tidak sama dengan yang kemarin ke rumah ini."ucapku dalam hati.



Aku terkaget dengan suaranya. “*Vi, kenapa bengong di situ. Sudah siapkah makanannya*?” tanyanya.



Aku hanya menganggukkan kepalaku.


“*Aku boleh minta tolong lagi gak Sayang*.” Rayunya lagi.

__ADS_1


Tampak teman-temannya melihat dia dengan penuh tanya.


“*Jangan lihat begitu dong. Istriku ini dulu selain ketua OSIS dia Juara umum juga di Sekolah*.” Jawabnya sedikit membanggakanku di hadapan teman-temannya.



Mereka pergi ke meja makan, Aku segera duduk mengerjakan tugas-tugas itu. Baru dapat 2 soal yang Aku selesaikan perutku terasa sakit dan keram.



Ku pegang lagi perutku sambil ku elus “ *Sabar Sayang Bunda selesaikan ini terlebih dahulu, baru Kita beristirahat*.” Bisikku.



Aldo seakan tak memperhatikanku. Dia sibuk menikmati makan siang bersama teman - temannya sambil bersenda gurau. Perut ini makin sakit Ku rasa.


Terdengar suara temannya. “*Enaknya Dirimu Do. Punya istri cantik , pintar masak, terus otaknya encer juga soal pelajaran. Pantas saja nilai-nilaimu bagus semua*.” Ujar temannya tersebut.



“*Aw*....” erangku, Aku tak dapat menahan rasa sakit ini tugas sekolahnya sudah tinggal tiga soal lagi.



Segera kuluruskan kakiku dan beristirahat sebentar. Terdengar suara kawannya lagi .



“*Do, Istrimu kenapa? seperti kesakitan*." tanya nya.



Dengan santai Aldo menjawab. “*Dia biasa begitu paling bentar juga enakkan lagi*."



Mendengar kata-kata acuhnya itu membuat dadaku sesak. Rasa sakit yang kurasakan semakin mendalam hidupku ini benar-benar seperti bencana. Aku ingin pergi meninggalkan semua ini Seandainya kondisi Papa Ku tidak Sakit mungkin Aku lebih baik di rumah.



Ku ubah lagi posisi dudukku, ku paksakan diri ini menyelesaikannya tinggal dua soal lagi gumamku dalam hati. Aldo benar-benar brengsek masih saja dia tidak melihat keadaanku yang sedang kesakitan.



“*Ayo Selvi*.” Aku menyemangati diriku sendiri.



Terdengar suaranya. “*Sudah selesai belum Sayang*.”



"*Belum, tinggal dua Soal lagi*." Jawabku sambil menahan sakit.


“Buruan selesaikan soalnya besok musti di kumpul.” Perintahnya dari jauh.


“Iya.” Jawabku singkat.

__ADS_1


Dia melempar senyum ke Aku tapi tidak menanyakan kondisiku saat ini.


Bersambung......


__ADS_2