DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Melanjutkan cerita Abrisyam


__ADS_3

Matahari mulai menampakkan wajahnya dan tersenyum indah. Tak terasa sudah menerangi halaman rumah. Aku terbangun dengan tersenyum ternyata jagoanku sudah pindah tidur di sebelahku.


Mungkin Dia pindah ke Kamar ini semalam. Aku peluk tubuhnya sejenak sambil ku kecup kening dan pipinya. Berharap Dia bangun dan melanjutkan kisahnya.


Tetapi saat teringat ceritanya sempat ada rasa penasaran kenapa Papi bisa memiliki Nomor selularnya Selvi padahal kan semenjak Selvi tidak bekerja lagi di perusahaan Andri yang kata salah satu pegawai yang mengantikan Dia cuti melahirkan terus beberapa bulan berikutnya Dia berhenti tidak Seorang pun memiliki kontaknya. Bahkan Akun Media Sosialnya di Blokir.


Sempat ada kecurigaan tapi Aku akan cari tahu dari Abrisyam.


Anak ini mulai mengerakkan badannya.


"Selamat Pagi Ayah. Isyam tadi malam gak rewel bobonya soalnya takut Ayah terganggu." sapanya sambil memindahkan kepalanya di pangkuanku.


"Seandainya ada Bunda mungkin malam ini Kita bobonya berempat dengan Adik Andra." ceritanya lagi sambil memejamkan matanya kembali di pangkuanku.


"Memang Adik Andra itu Siapa?" Aku bertanya tapi ternyata Abrisyam sudah tertidur lagi.


Rasa penasaran ini membuat Aku tidak sabar ingin Ku bangunkan tubuh kecil ini. Tapi, ada suasana tenang di wajahnya tampak senyjm senyum kecil menghiasi wajahnya.


"Isyam masih bobo atau sudah bangun?" tanyaku lagi memastikan.


Dia menguap dan menjawab. "Sudah Ayah. Adik Andra itu Saudara Abrisyam Anaknya Bunda. Wajahnya lucu dan mirip banget sama Abrisyam hanya rambutnya lucu sedikit bergelombang."


Aku terdiam dan pikiran ini melayang jauh. Berarti Selvi sudah melahirkan Anaknya Andri. Tapi, kenapa wajah Anaknya mirip Abrisyam sedangkan wajah Abrisyam adalah wajah kecilku.


"Abang Isyam waktu di rumah Bunda ada lihat Siapa saja ? Maksud Ayah disana ada Siapa saja. Trus disana nginepnya lama gak." tanyaku penasaran.


hemmmmm...


Gerutunya dengan posisi dari tidur langsung duduk . "Ayah nanyanya banyak banget. Abang bing jawabnya."


Aku mencibit pipinya. "*Oke Abang ganteng jawab satu-satu yang di ingat saja."


"Dirumah Bunda cuma ada eyang, Dede Andra, sama Bunda Isyam. Eeh ada satu lagi tapi Siapa ya Namanya*." Dengan wajah mengingat ingat.


Jangan-jangan Dia Andri Aku segera bertanya lagi padahal Dia belum menjawab Siapa yang satunya lagi.


"Orangnya baik gak syam? Trus kalo sama Isyam suka main gak." tanyaku penasaran.


"Baik banget bahkan Isyam sayang banget sama Dia. Kalo Dia datang suka bawain Isyam permen susu padahal sama Bunda ngak boleh. tapi, suka Isyam sembunyikan dan maemnya bareng Eyang." Jawabnya polos.

__ADS_1


Hem ternyata Isyam dekat dengan Andri, bahkan Andri sedikit royal dengannya. Berarti Aku harus menjauh dari Selvi karena, Dia sudah memiliki kehidupannya sendiri. Akan segera ku urus surat perceraianku dengannya.


"Ayah kapan-kapan Abang boleh bobo tempat Bunda ya?." Tanyanya lagi dengan wajah berharap mendapat ijinku.


Aku hanya menganggukkan kepala ini dengan kekecewaan berharap bisa kembali kepelukan Selvi tapi ternyata semua hanya tinggal mimpi. Semua memang salahku terlalu lemah sebagai Lelaki seharusnya Aku bisa berusaha untuk memperbaikinya atau menyudahinya.


Tidak ada yang bisa di ulang semua sudah berjalan sesuai takdir. Segera Aku memandikan Abrisyam karena, seingatku hari ini Dia ada kelas piano.


"Ayah Abang ingat Siapa yang satu lagi!." teriaknya setelah selesai ku pakaikan baju.


"Gak usah sayang Ayah tahu Siapa yang satu lagi." jawabku.


"Memangnya Ayah sudah pernah ketemu." tanyanya


"Sudah bahkan sebelum Isyam lahir Ayah sudah mengenalnya. Dia seorang Lelaki yang baik." jawab Ku.


Wajah Abrisyam tiba-tiba berubah. "Bukan Laki-laki tapi Perempuan Ayah."


Aku kaget ternyata Aku sudah salah paham dengan jawaban Abrisyam.


"Jadi bukan Laki-laki?"


Hahahahahahah tawaku dalam hati ternyata bukan Andri. Hati ini berbunga-bunga, segera Aku menyusul Abrisyam yang sudah berlari kencang untuk sarapan.


Aku benar-benar gila tidak bisa menjadi pendengar yang baik bisa saja Amel atau siapapun. Otak ku benar benar hanya memikirkan Andra. Karena, namanya sama dengan Andri


"Ayah kenapa melamun. Tolong ambklkan roti isi coklat sama susu. Soalnya Abang ngak bisa nuang sendiri dan ambil sendiri." Suara Abrisyam membubarkan lamunanku .


Segera Aku ambilkan sarapan paginya.dan kulayani serta kutemani Dia sarapan pagi ini.


Tidak lama terlihat Mami mengarah mendekat ke meja makan. Seperti biasa dengan ponsel sambil bercerita dengan teman-teman sosialitanya.


Itulah kehidupan dirumah ini hanya memikirkan kesenangan pribadi. Padahal Abrisyam masih memerlukan Dia sebagai wanita penganti Bundanya setidaknya Dia merasakan kasih sayang Omanya. Tetapi kelakuan Omanya sangat tidak patut untuk di contoh.


"Aldo, nanti siang Kita kerjmah Virgin selamatan 40 hari atau apanya Virgin gitu." Ucap Mami sambil mengambil salad buah tanpa mayo dan lain lain benar benar makanan non karbohidrat.


"Iya Mi. Tapi Aldo antar Abrisyam dulu les Piano." jawabku.


"Udah ntar Abrisyam di antar Papi. Lagian Kita perlu belanja bingkisan dulu sekarang. O,ia kita mau ke Bandung buat ngeliat pesanan baju buat tunangan Kamu dan Zahra." celetuk Mami yang tidak memikirkan perasaan cucunya.

__ADS_1


BahkanMami tidak bertanya apakah Aku setuju atau tidak dengan rencananya."Mi, Aku mau sementara sendiri dulu. Lagian Abrisyam belum perlu Bunda lagi. Biarkan Aku mengenal Zahra terlebih dahulu. Jangan ujuk-ujuk Mami dan Maminya Virgin menjodohkan Kami."


Mami langsung menatapku tajam dengan penuh amarah seakan berharap Aku menarik kembali ucapanKu.


"Kali ini Aku tidak akan mengikuti kata Mami. Kalo memang mau ke Bandung oke Aku temani, tapi kalo buat fiting baju maaf Aldo belum siap." Segera ku letakkan sarapan Ku dan bergegas mengantar Abrisyam.


Syukurlah Anak ini tidak banyak tanya Dia tetap menikmati sarapannya dan merangkul badanku. Sambil Ku gendong ke Mobil.


"Aldo!." teriak Mami.


Langkah Papi mendekati mobil."*Sudah Do Kamu turuti saja apa kata Mami."


"Maksud Papi apa. Terus Aldo mau tanya, kenapa Papi bisa punya Nomor telepon Selvi. Selama ini Aldo tanya Papi tidak tahu. Bahkan saat di Rumah Sakit pun Papi juga tidak tahu*." tanyaku menatap Papi tajam.


"Jangan di bahas sekarang. Waktunya belum tepat." jawab Papi santai sambil mengambil alih kemudi dan meninggalkanku yang masih berdiri dengan penuh pertanyaan.


Aku ngak habis pikir dengan jawaban Papi yang sangat santai bahkan Mami pun terkesan terburu-buru menjodohkanku lagi.


Saat seperti ini rasanya Aku ngan dirumah seandainya Aku bisa mengendarai motor sendiri mungkin sudah ku tinggalkan rumah ini.


Selvi di mana Kamu, saat seperti ini Aku benar-benar makin rindu dan kangen Kamu.


Tiba-tiba Mami sudah berada di hadapanku. Serta merta Mami mengandeng tanganku dan memaksaku ikut bersamanya.


Badan ini seperti tak berdaya denvan keputusan mereka seperti Aku ini bhkan Manusia saja. Semuanya yang Aku lakukan harus sesuai dengan kemauan Mereka. Jika boleh Aku ingin lahir dari Wanita lain dan bukan dari keluarga ini.


Mobil pun melaju cepat ke salah satu pusat swalayan Balikpapan Plaza atau saat itu di kenal dengan sebutan Hero atau BC ( Balikpapan Center).


Saat mobil memasuki parkiran Aku melihat sosok Selvi baru selesai memarkirkan mobilnya dan menuju ke dalam gedung itu. Aku ingin turun tapi Mobil ini masih naik satu lantai lagi ke parkiran atas.


"Oh, Sit..." ucapku kesal dengan keadaan ini.


Ketika turun segera Aku berlari mencari sosok Selvi tapi tidak Aku temukan.


"Selvi....!" teriak Ku.


Aku terduduk di dalam gedung itu hingga Mami berada di belakangku."Aldo. Kamu baik-baik saja.Jika Kamu tidak baik sementara Mami tunda saja rencana Mami.Kalo Aldo sudah pulih saja baru Kita bicarakan lagi."


Aku kaget dengan ucapan Mami seperti pengertian dengan keadaanku saat ini.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2