DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Aldo Murka


__ADS_3

Suasana saat itu sedang penuh dengan emosi, aku kesal dengan egoisnya Aldo karena, merasa sakit hati dia membuat anaknya kecewa.


Saat mobil berjalan tiba-tiba Aldo berdiri tepat menghalagi, rem pun berdecit tinggal sejengkal lagi Aldo tertabrak. Jantungku seakan berhenti hampir saja aku menabraknya, tak kalah histeris teriakan Abrisyam.


"Ayah!" Histeris dia menjerit dan menangis.


"Abang Isyam baik-baik saja,"tanyaku khawatir.


Abrisyam saat itu terlihat lemas mungkin dia trauma melihat kejadian ini.


Aku keluar dari mobil menghampiri Aldo, refleks tangan ini menampar wajah Aldo dengan keras berulang kali.


"Lihat apa yang kamu lakukan," amarahku menunjuk ke arah dalam mobil.


Akupun bergegas masuk ke mobil dimana Abrisyam tergeletak lemas tak sadarkan diri, langkahku pun di ikuti Aldo yang masuk di pintu kemudi.


Kami membawa Abrisyam ke rumah sakit dengan segera, selama perjalanan akupun meluapkan emosiku yang terpendam selama ini.


"Kamu itu sudah gila ya Do, sehingga hal sepele seperti ini saja kamu tidak bisa berfikir. Maksudmu tadi apa sudah tahu ada anak kita di dalam kenapa kamu belagak sok kuat sok jago memang nyawamu berapa berani menghadang mobil," omelanku tanpa kendali.


"Cukup!cukup! semua ini tidak akan terjadi seandainya kamu tidak bermesraan dengan Papi di hadapanku," sangkalnya dengan nada emosi.


"Kenapa kamu menyalahkanku, hei Aldo sadar kita sudah bukan siapa-siapa lagi dan itu hak Ku karena, Papimu saat ini adalah suamiku," jelasku walau berbohong.


Tiba-tiba dia menghentikan laju kendaraannya dan menatapku penuh amarah, sebelum dia meluapkan amarahnya segera aku menydarkan yang harus di lakukan saat ini.


"Percuma kamu marah saat ini kita harus segera kerumah sakit, kalo kamu mau marah seharusnya sama Mami mu bukan denganku, sekarang kamu mau mengendarai lagi atau tidak jika tidak silakan turun aku hang akan membawa anak ku kerumah sakit," tekanku menegaskan ke Aldo.


Kemudian Aldo mengendarai lagi menyusuri jalan kota Balikpapan ini hingga kami sampai di halaman rumah sakit umum di kota itu, selama terakhir aku berbicara suasana benar-benar penuh kebisuan.


Segera kubawa anak ku ke ruang UGD semua staf di ruangan itu sangat gesit menanganinya, hingga salah satu Dokter yang bertugas menemuiku untuk keruang pendaftaran agar segera di berikan tindakan sesuai ruangan yang di butuhkan .


Saat aku akan menuju tempat pendaftaran tiba tiba terdengar teriakan Abrisyam memanggil namaku.


Bunda!

__ADS_1


Langkahku segera berhenti, kini sudah tidak ada pikiran lain yang ada di benakku saat ini segera kembali menemuinya Abrisyam membutuhkanku saat ini.


Ku peluk tubuh mungklnya air mataku tak terasa jatuh bercucuran.


"Jangan pernah seperti ini lahi sayang , jangan hukum Bunda seperti ini, Bunda takut kehilangan Abrisyam." ku peluk tubuhnya hang mungil dan masih terkulai lemah dengan air mata menetes di pipinya.


Kini matanya seperti mencari sesuatu ke segala sudut ruangan itu.


"Ayah, Isyam mana Nda?" tanya nya lirih.


Aku segera memundurkan tubuhku dan menujuk ke arah pintu UGD, Aldo belum sadar dengan yang terjadi saat ini, dia terlihat tertuduk dan menarik-narik rambutnya seakan penuh penyesalan.


"Kenapa Ayah bersedih Nda?" tanya nya lagi lirih.


Aku hanya mengelengkan kepala ini dan memberi isyarat agar saat ini dia beristirahat saja dan diam sejenak.


"Maaf nama Ananda nya siapa Bunda?" tanya salah satu perawat.


"Namanya Abrisyam, suster," jawabku.


"Iya tadi saat mau kesana terdengar suara anak saya memanggil jadi, saya urungkan," jelasku lagi


"Tidak apa-apa Bund, saya bantu pendaftaran disini," balasnya.


Susterpun mulai melengkapi biodata Abrisyam, terlihat jagoanku itu beristirahat tapi sengaja aku larang matanya terpejam.


Tidak lama terlihat di dekat pintu UGD Oma nya Abrisyam dengan wanita yang tidak lain tunangan Aldo mereka bertiga sedang berbincang-bincang.


Seakan ada perseteruan disana ntah apa aku tidak tahu, tapi Aldo terkesan memaki Maminya dan meninggalkannya begitu saja, wanita itu terlihat bingung harus mengikugi siapa.


Sekitar 15 menit wanita itu mulai menyusjl langkah Aldo hang berada tidak jauh dari Maminya, sepertinya dia berusaha menenangkan antara Ibu dan Anak itu.


Aku kembali fokus ke kondisi Abrisyam, hingga dlDokter menemuiku.


"Permisi Bunda bisa kita bicara sebentar mengenai kondisi Ananda," pinta Dokter tersebut.

__ADS_1


"Oh, iya silahkan Dok, bagaimana kondisi anak saya? apakah ada hal yang kritis?" tanyaku


Dokter mulai menjelaskan tentang kondisi Abrisyam saat ini, " Perkenalkan saya Dokter Bryan disini saya sebagai spesialis Anak. Jadi begini Bunda, jangan cemas Ananda sepertinya mengalami trauma, apakah ada kejadian yang menyebabkan Ananda jadi kolaps," tanya Dokter memastikan.


"Jadi begini Dok, tadi pagi saya dengan Ayahnya ada percekcokkan kecil, saat saya akan mengantar anak saya ini kesekolah tiba-tiba Ayahnya menghadang laju mobil saya dan hampir tertabrak, saat itulah anak saya teriak menyebut Ayahnya lalu lemas dan pingsan," ceritaku polos dan jujur sesuai keadaan.


"Alhamdulillah kalo seperti itu efek kaget berarti trauma yang di alaminya jadi, ada rasa takut kehilangan sebab itu dia histeris dan saat itulah kekurangan oksigen sehingga mengakibatkan dia tiba-tiba lemas dan kolaps, sementara Ananda kita rawat inap ya Bund untuk mengetahui perkembangannya jadi kami perlu observasi terlebih dahulu apa penyebab lainnya,"


"Baik Pak Dokter, lakukan yang terbaik saja demi kesembuhannya,"pintaku.


"Pasti Bunda, kami akan berusaha memberikan yang terbaik." jawab Dokter tersebut.


Dokterpun pergi meninggalkan kami di salah satu bilik di ruang UGD, mataku kembali memperhatikan ke sudut ruang dekat pintu UGD, tidak lama saat aku melihat Aldo melempar pandangan ke arahku, lalu berdiri menuju tempatku dan Abrisyam berada.


"Selvi," panggilnya lirih.


"Cukup! jika untuk berdebat kamu boleh pergi dari sini, aku madih bisa menjaga anak ku sendiri," jawabku ketus masih berselimut emosi.


Sekalap atau semarah seorang Ayah tidak mungkin senekat itu didepan anaknya, itu hal yang aku benci saat ini, gara-gara kelakuannya anak ku harys terbaring di rumah sakit ini. Aku merasa kecewa bahkan rasa suka atau apapun itu namanya seakan langsjng luntur, gara-gara dia aku hampir kehilangan Abrisyam.


Air mataku masih menetes tatkala melihat wajah Abrisyam, kuabaikan Aldo yang duduk tepat di sampingku di tepi tempat tidur dimana Abrisyam terbaring.


"Kamu masih marah? Seharusnya aku yang marah." ucapannya membuat emosiku mulai terbakar lagi.


Jika aku tidak berusaha menenangkan diri mungkin sudah kutampar lagi wajahnya.


"Jika kamu masih mau disini saya yang akan keluar, kamu yang menjaganya?" tegasku memberi pilihan.


"Baik aku akan pergi, tapi urusan kita masih belum selesai."


Terserah kamu mau bicara apapun Aldo, saat ini hanya Anak ku yang akan menjadi prioritasku saat ini.


Perawat kembali datang untuk memindahkan Abrisyam ke ruangan, Aku segera mengikuyi langkah perawat itu dengan cepat tanpa menyapa calon istri Aldo ataupun Maminya, walau mereka mengikuti langkahku dari belakang.


Abrisyam di letakkan di kamar 311 di sakah satubruang anak di rumah sakit tersebut, sengaja aku ambil ruang VIP yang dekat eengan ruang bermain anak, agar saat kondisinya lebih nyaman.

__ADS_1


__ADS_2