
Laju kendaraan Aldo membuat Abrisyam tertidur lelap , wajah Anak itu seperti obat segala duka yang kurasakan selama ini. Tak terasa motor sport ini mulai memasuki bangunan dengan banyak kendaraan parkir dari roda 4 dan roda dua, terlihat dua mobil Ambulans melewati kami sepertinya ada pasien dalam kondisi darurat.
Aldo turun membantu mengendong Abrisyam kemudian aku pun melepas helm di kepalaku dan segera menyusul langkah Aldo.
Di depan ruang ICCU terlihat Mama tidak sendirian di sana ada Aunty dan beberapa kerabat lainnya. Kakiku seakan berat tuk melangkah. Saat Aldo menoleh Ke belakang Dia menyadari yang terjadi denganku dengan sigap Dia menangkap tubuhku sembari berteriak,
Tolong....
Tolong ....
“Tolong Istri Saya pingsan.” Kata itu yang sempat terdengar lalu Aku tidak tahu lagi.
POV
Aldo
Aku mengendong Abrisyam memasuki rumah sakit , saat itu Selvi berada tidak jauh di belakangku.
Sambil bercanda sepanjang jalan dengan jagoan kecilku tiba-tiba dia sedikit mewek dan menunjuk ke arah Bundanya.
“Nda...”ucapnya.
Segera ku balik badanku , terlihat Selvi terdiam wajahnya pucat pasi kulangkahkan kaki ini secepat mungkin menghampirinya dan menangkap tubuhnya sebisaku karena sebelah tanganku menahan Abrisyam takut terjatuh.
Aku pun mulai berteriak agar salah satu kerumunan di depanku mendengar ucapanku. Kenapa dia selemah ini ucapku masih terlihat wajahnya tersenyum sebelum pingsan.
Tolong.....
Tolong.....
“Tolong Istri Saya pingsan.” Ucapku sambil berteriak.
Terlihat beberapa Orang menghampiriku dan salah satu perempuan mengambil Abrisyam dari gendonganku. Lelaki paruh baya itu berusaha menepuk – nepuk pipi Istriku.
“Selvi.... Selvi.... bangun Nak” ucap lelaki seumuran Ibunya lebih Tua sedikit.
“Ayo Kita angkat ke sana.” Ucapnya.
Kami pun mengangkat Selvi le Sofa di rumah Sakit di Sofa itu Ibu mertuaku sedang duduk tanpa ekspresi. Walau Aku sedikit takut tapi ku coba melangkah apa pun yang akan di lontarkan Aku siap.
“Kenapa dengan Selvi. Jawab Kang, kenapa Dia bisa pingsan.” Tanya Mama ke Saudara Laki-laki di depannya.
“Yayah... Nda, bobok.” Ucap bocah kecil di depanku yang saat ini di gendong Saudara Ibu Mertuaku.
Hingga semua mata beralih memandangi Abrisyam. Karena, Dia merasa aneh dengan kondisi ini di julurkan tangannya ke arah Ku .segera Aku sambut dan Ku tenangkan.
“Iya, Nda lagi bobok. Abrisyam gak boleh menangis ya karena, jagoan gak boleh cengeng.” Rayuku.
“Lihat yang di samping Nda. Itu Eyang Uti nya Abrisyam juga.” Kuarahkan wajahnya ke Ibu Mertuaku.
Terlihat beliau melempar senyum seraya berkata. “ Sini Abrisyam sama Eyang. Ntar Ayah yang jaga Nda nya.”
__ADS_1
Akhirnya jagoan kecilku itu mau di gendong Eyang Uti nya. Aku kembali fokus menyadarkan
Selvi....
Selvi....
Selvi...
Panggilku sedikit memberikan aroma kayu putih di sekitar hidungnya dan kulonggarkan pakaiannya. Tak lama terlihat pergerakan dari kelopak matanya seakan berat membuka mata.
Papah.....
Teriaknya saat tersadar, Aku segera memeluknya. “ Tarik nafas lalu keluarkan perlahan. Papa saat ini sedang dalam penanganan Dokter. Tadi waktu Mama hubungi Kita Papa sempat drop. Tapi ini sudah baik-baik saja sebab itu Saya kabari ke Mang Umang Kita segera kesini” jelasku.
Masih sedikit lemah. “ Lalu kenapa Aunty dan semua Keluarga berkumpul.” Tanya Selvi yang masih bersandar di bahuku.
“ Kamu istirahat dulu. Jangan pikir macam – macam.” Ucapku lagi agar Dia tenang.
“Abrisyam mana.” Tanya nya lagi.
Agak ku geser tubuhku agar Dia tenang melihat Anaknya berada di belakang tubuhku di pangkuan Mamanya.
“Nda, tadi bobok.” Celotehnya menyapa Bundanya.
Terlihat senyum lagi di wajahnya seraya tetap menyandarkan tubuhnya di badanku.
********
Hingga sore itu tiba di mana saat Kami berada di ruangan tempat Papa di rawat . Pintu ruangan itu di buka secara paksa dari luar ruangan.
Aldo....
Teriak wanita itu yang tidak lain adalah Virgin dan Mama.
“Aku sudah mencari Kamu ke mana-mana akhirnya ketemu di sini.”celetuknya sinis melihat ke arah Selvi
“ Ingat, pernikahan Kita tinggal 1 minggu lagi apa pun alasannya itu harus terlaksana.” Ujarnya lagi dengan nada sedikit nyaring .
Aku belum sempat menjawab semua pertanyaannya tiba-tiba saja Papa Selvi kejang.
Papa....
Papa...
Bangun pah....
Suara itu tumpah ruah dengan air mata. Aku pun segera memencet tombol darurat tidak lama Dokter dan timnya datang Selvi dan Mama mertuaku Ku ajak keluar rumah.
Brengse**.....
Perempuan Pe****...
__ADS_1
“ Kamu udah buat Aku menderita, Akan ku balas semua penderitaan yang Ku alami.” Sumpah Selvi sambil menunjuk Virgin dan Mami Ku.
Hingga Dokter keluar dan mengatakan Papah sudah tidak ada, Selvi hanya berteriak sekali.
Papah....
Akhirnya Dia pingsan. Aku tidak dapat berbuat apa- apa saat Dia jatuh pingsan Aku di tarik oleh dua Orang suruhan Ayahnya Virgin Anak Ku pun di rampas dari pelukan Ibunya Selvi.
Semakin Aku meronta semakin Aku diseret. Bahkan tangisan Anak Ku pun tidak mengubah sikap Mereka.
Orang Tua Virgin adalah salah satu orang yang memiliki kekuasaan di kota itu sebab itu Mami sangat ingin Aku menikah dengannya. Tanpa memikirkan perasaan Ku.
Terlihat jauh Ibu Mertuaku tersungkur memeluk Selvi. Ntah bagaimana kondisi Istriku itu Aku benar-benar tak berguna. Saat di dalam Mobil Pajero hitam metalik ini pun Aku di jaga oleh dua Lelaki bertubuh kekar.
“Yayah... Yayah....” tangis Abrisyam di depanku.
“ Lepaskan tanganku. Aku tidak ke mana -mana dan kesinikan Anak Ku.” Cetusku kesal.
“Jika Kamu masih begini. Aku akan membatalkan pernikahan Kita .” ancamku Kepada Virgin.
Akhirnya Abrisyam di berikan kepadaku. Anak itu tampak sangat trauma dengan situasi ini , Dia memeluk tubuhku erat seakan takut di rengut lagi dari Ku .
******
Pagar di halaman rumahku tertutup dan tak ku sangka Virgin senekat ini. Dasar Wanita gila pekik ku dalam hati.
Segera Aku meninggalkan mereka membawa jagoan kecilku ke dalam rumah. Sedih sekali yang terlihat hingga Dia tertidur dalam tangisnya. Ku elus kepalanya sambil Aku menemani berbaring di sampingnya. Dalam tidur pun dia masih memeluk erat bahkan saat ingin kulepas dia berusaha menggenggam pakaianku.
Suara ketukan pintu dari luar
Tok..... tok.... tok....
“Aldo, ini Papi Nak.” Ucapan suara Lelaki paruh baya itu dari luar.
“Masuk Pah.” Jawabku lirih.
Pintu kamarku pun di buka lalu di tutup lagi. Suara dehemnya begitu berat.
“Do, bagaimana keadaan papahnya Selvi.” Tanya papi sambil duduk di pinggir tempat tidurku.
Aku menghela nafas sambil mencoba melepas genggaman tangan Abrisyam.
“Tadi Mami dan Virgin menyusulku ke RS. Tiba- tiba Virgin membuat onar menyebabkan Papahnya Selvi Kejang, akhirnya Papinya Selvi menghembuskan nafas terakhir Pi.” Ucapku penuh sesal.
Papi menepuk pundak Ku. “Inalillahiwainalillahirojiun. Kamu yang sabar ya Do.” Ucap Papi menguatkan Ku.
“Saat kenyataan pahit itu terjadi, Selvi pingsan Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Karena, Mami merampas Abrisyam dari Mamanya Selvi dan Aku di seret menjauh dari mereka.” Sesalku lagi.
“Ya, sudah Do. Soal Selvi biar Papi yang urus sekarang Kamu fokus sama Anakmu dan pernikahanmu. Papi takut mereka akan melukai Abrisyam.” Ucap Papi lagi.
Aku pun hanya menundukkan kepalaku. Saat ini Aku masih tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Bersambung........