DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Sesuatu yang tak terduga


__ADS_3

Malam itu suasana menjadi sangat rusuh Selvi hanya duduk tersenyum melihat drama dadakan yang gratis itu, tidak aku sangka acaranya akan seperti ini. Semua mata menuju kearahku seakan akulah tersangka utamanya.


"Puas kau wanita jalang," caci wanita tua itu.


Aku melemparkan senyum kemenangan, terserah apa pendapat orang saat ini aku berada di podium kemenanganku.


Sangking bahagianya tanpa sadar Aldo sudah berada disebelahku dia langsung menghujaniku pertanyaan.


"Maksudmu apa Selvi, kamu bukan wanita yang rendah seperti itu kan?" tanyanya dengan berbisik.


"Tidak perlu kau tanyakan lagi ini lah aku yang sekarang, ingat satu lagi tuan Aldo Nugraha jangan pernah mengharap belas kasihan dariku," jawabku.


"Selvi, aku tidak menyangka kamu berubah," balasnya.


"Sudahlah tuan Aldo Nugraha, percuma kamu berkoar-koar mempertanyakan, seharusnya kamu sadar kenapa aku menjadi seperti ini semua ini hasil perbuatan Mami yang kamu sangat cintai itu sehingga kamu rela menggorbankan anak serta istrimu, lebih baik kamu pergi dariku saat ini!" perintahku tegas.


"Inggat Selvi aku akan menyadarkanmu walau saat ini hatiku sanggat hancur," pesannya benar-benar menyayat hati.


"Aku akan berhenti sendiri tuan Aldo Nugraha, jika semuanya sudah sesuai keinginanku," balasku ketus.


Aldo memegang pergelangan tanganku keras sengaja di cengkeramnya.


"Sudahi Selvi dengar kataku!" ancamnya.


Aku meringis menahan sakit, "Al-do, lepaskan cengkramanmu sakit."


"Ini tidak seberapa, kamu akan merasa lebih sakit dari ini," ancamnya lagi.


"Jangan sesumbar rasa sakit ini buatku biasa saja karena, rasa sakit yang kamu tanamkan dahulu itu lebih dari cengkeramanmu ini," balasku menahan sakit.


Akhirnya Aldo melepaskan cengkeraman tangannya mungkin dia menyesal dari raut wajahnya tampak penyesalan.


"Aku harus bagaimana Selvi agar kamu berhenti menyakiti perasaanku dan Mami." Suara Aldo terdengar pasrah.


"Tidak ada yang perlu kamu lakukan, cukup ikuti saja semua yang sudah terjadi, mungkin saat ini saatnya kamu memperbaiki diri, Zahra itu wanita baik-baik jika kamu bisa berubah sebelum menikahinya mungkin aku akan berbelaskasih kepadamu, tetapi jika kamu menyakitinya seperti saat bersamaku ingat baik-baik jangan berharap kamu akan bertemu Anak-anakmu," ancamku balik.


Kenapa wajah Aldo berubah menjadi bingung apa ada yang salah dengan ucapanku.


Ayo Selvi inggat kembali kamu tadi bicara apa, sepertinya Aldo inggin bertanya sesuatu tetapi dia masih memikirkannya.


Mumpung Aldo masih tertegun memikirkan apa yang inggin dia katakan sebaiknya aku kabur, biar saja dia dengan opininya, Selvi kenapa kamu keceplosan anak kalian kan hanya Abrisyam menurut Aldo.


Duh maaf ya Selvi kumat polosnya jadi suka lupa dan khilaf kalau berbicara.

__ADS_1


Suara panggilan berseru dari panggung acara memanggil nama Selvi.


"Tuan Fredik maaf nih, sebagai kebahagiaan kita atas istri tuan boleh kami berkenalan dan memanggilnya kemari?" tanya moderator.


"Silahkan pak, dengan senang hati," jawabnya.


Aku sangat terkejut dengan ucapan Papi, tetapi sudah terlanjur mau di apakan lagi. Aku harus lebih kuat pasti serangan demi serangan akan mulai menghadangku nantinya.


"Kepada Nyonya Selvia Anastasya Fredrik kami persilahkan untuk menyapa kami dengan sepatah atau dua patah kata sambutan," panggilnya dari panggung.


Saat suara itu mengema memenuhi ruangan aula tempat acara, Aku dengan pandangan lurus dan fokus bak model melangkah menuju kesana semua mata kembali menuju ke arahku.


Ayo Selvi abaikan suara nyinyir fokus dengan suara-suara positif.


"Terimakasih selamat malam semuanya, saya sangat surprise dengan semua ini, terimakasih sayang atas hadiah terindah ini."


Dengan sanggat terpaksa aku memanggilnya sayang, tetapi kalo boleh jujur ada kenyamanan saat ini setiap berada di dekat Papi tetapi aku harus menepis semua itu, mungkin ini hanya kenyamanan sesaat.


Sepatah dua patah kata sudah kusampaikan sehingga di hujung acara beberapa karyawan mulai antri bersalaman untuk sekedar mengenalku lebih dekat.


Dalam waktu yang sangat singkat aku sudah bisa merobohkan keangkuhan seorang Ny.Friska Fredrik serta membuat dia benar-benar murka.


Betapa kesalnya, saat itu terlihat Nenek lampir itu melempar gelas kelantai di penghujung acara saat semua orang sibuk memberi ucapan selamat padaku, banyak suara - suara sumbang yang mungkin makin mebuat dia mendidih.


"Iya semoga ini awal yang baik," balas yang lain lagi.


"Hei, jaga ucapanmu di sini saya masih pemilik saham perusahaan, jadi jika kamu masih mau bekerja disini jaga ucapanmu," Bentak Mami Friska kepada karyawan yang sempat mencelanya tadi.


"Ayo Aldo kita pulang Mami eneg melihat semua ini, apalagi pelakor sialan itu!" cerca Mami Friska geram.


"Semua ini tidak akan begini jika bukan karena Mami," celetuk Aldo sinis.


Karena semua yang terjadi saat ini seratus persen karena, perbuatan maminya dan Almarhum Virgin.


"Maksudmu Aldo!" bentak Mami menegaskan celetukan yang sangat menehek dari Aldo.


"Sudahlah Mi, koreksi diri sebelum mencerca orang lain," ucapnya seraya meninggalkan mami menuju luar aula.


Mami Friska dengan tersunggut mengikuti langkah Aldo, sedangkan Selvi meliriknya dengan senyum kemenangan.


Selesai sudah acara berkenalannya, akhirnya ada waktu luang untuk menikmati hidangan yang tersedia.


"Selvi, kenapa bisa begini!" Suara Lelaki itu sangat dikenal Selvi.

__ADS_1


Selvi membalikkan badan dan hanya tersenyum simpel, "Tidak ada Asap jika tidak ada Api, cukup panjang dan berliku kisahku jika kamu tahu Adrian, pasti akan paham kenapa aku begini," jawabku.


"Tetapi tidak ada kah jalan lain?" tanya nya lagi.


"Sekarang Aku tanya padamu, kenapa masih belum memiliki anak dari dia, sedangkan dia seseorang yang sangat sholeha? apakah karena kamu di butakan cinta?" tanya Selvi lagi.


"Kamu salah Selvi, walau sampai saat ini aku masih mencintaimu tetapi tidak ada kewajibanku sebagai suami yang tidak kupenuhi, sebagai Lelaki itu merupakan kebutuhan yang Normal walau tanpa cinta sekalipun." balas nya lalu meninggalkanku.


Aku terdiam dan merasa bersalah seakan langkah yang kutempuh ini salah, pasti Papah disana juga tidak setuju dengan semua ini.


Tetapi ego dan dendam yang sanggat mendalam membuat aku lupa akan yang benar dan yang salah.


"Ayo Selvi kita pulang!" ajak Papi.


"Oh, iya Pi! sebentar saya minum ini dahulu," jawabku.


Saat keluar aula itu,kepalaku sedikit pusing ntah apa yang kurasakan sehabis itu aku tidak sadarkan diri dan kurasa aku terjatuh tepat di dekatnya Papi.


...****************...


Pov


Aldo


"Sudahlah Mi jangan di tekuk seperti itu wajahnya," pintaku


"Tak perlu lah membujuk Mami, kamu sama saja seperti mereka, bukannya membela tetapi malah menyudutkan Mami, membuat mamai seakan menjadi tersangka utama," celotehnya.


"Tidak seperti itu Mi, Aldo paham Mami merasa sakit hati, tapi apa Mami pikir perasaan Selvi saat itu. Saat dia hamil saya membawa Virgin lalu Mami memperlakukan dia seperti layaknya pembantu," ujar Aldo.


"Sudahlah Do, kamu merasa menyesal dan mau menyalahkan Mami bukan, lebih baik Mami mati saja anak yang masih Mami harapkan ternyata sudah mulai berpihak, ilmu apa yang di gunakan pelakor itu ,cih aku semakin jijik dengannya."


Hinaan Mami makin jelas menyatakan bahwa dia sangat membenci Selvi dan sudah pasti tidak ada celah untuk aku bisa kembali dengannya.


Mungkin aku memang harus mengubur namanya dalam-dalam dan belajar mencintai Zahra, ini sepertinya jalan satu-satunya agar Mami tersenyum.


"Baiklah terserah pendapat Mami apa, besok Aku akan fiting baju dengan Zahra karena rencana itu sudah tertunda berkali-kali, Mami segera urus sisanya dari gedung sampai undangan catring dan semua yang di perlukan," ucapku lagi berusaha memberi kebahagiaan di hatinya.


"Benarkah itu Aldo," seruan bahagia keluar dali mulutnya wajahnya yang semula sangat kesal tiba-tiba kembali ceria.


Aku hanya dapat tersenyum serta menganggukan kepala ini agar dia yakin dengan ucapanku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2