
Motor pun melaju kencang melewati pepohonan dan pegunungan hingga memasuki hiruk pikuk mulai terasa , kami pun memasuki Kota Bandung .
Tak lama kemudian Kami masuk ke halaman Rumah Sakit, aroma khas RS sudah mulai tercium cepat kulangkahkan kakiku menuju Ruang ICCU.
“ Mah!” Teriakku menghampiri Mama.
Matanya tampak sembab dia menghamburkan badannya di pelukanku dan air mata itupun membasahi bahuku.
“Ayo Mah, duduk dulu. Cerita ke Selvi kenapa Papah bisa begini?” tanyaku.
“Hiks... hiks... Papa sekarang kritis. Tadi Mang Umang tiba-tiba jemput Mama di Kantor dan bawa Mama kesini.” Ceritanya sepenggal . Setelah itu terhenti dan terlihat amarah di wajahnya setelah Aldo muncul di hadapan Kami.
Plak....
Plakkkk....
Plak......
Aku kaget dengan reaksi Mama ke Aldo selama ini kan Aku tidak tahu apa yang terjadi. Penuh tanya di benakku, apakah Mama selama ini tahu tentang kepergianku sehingga Dia marah sekali dengan Aldo.Ah Aku gak mau menduga-duga lagi Aku tunggu saja penjelasan yang terjadi.
“Laki-laki tak tahu diri Kamu . Sudah Kamu ambil masa depan Anak Ku . Sekarang gara – gara kelakuan Ibumu, Aku harus melihat Suamiku seperti ini . Tidak puaskah Kamu membuatnya menjadi stroke . Kenapa Kamu suruh Ibumu lagi ke rumah Kami hanya untuk mengabarkan rencana pernikahanmu. Pergi... , pergi.... Kamu dari sini jangan pernah Kamu tampak kan lagi wajahmu di hadapanku. Kamu tidak pantas menjadi Suami Anak Ku.” Emosi mama memuncak semua kata-katanya tak terbendung.
Aldo hanya berdiri dan terdiam seperti patung. Karena, Dia tidak tahu fakta yang sebenarnya. Mungkin saat ini tamparan mama seperti bencana tak terduga buat Dia.
“ Mah, sudah. Tenangkan Diri Mama.” Bujuk ku.
“Istigfar Mah.” Ucapku lagi menenangkan Mama.
“Aldo, seharian ini sama Saya. Jadi, mungkin Dia tidak tahu apa-apa.” Aku berusaha menjelaskan ke Mama agar tenang karena, ini bukan waktu yang tepat untuk emosi dan melampiaskan kemarahan pikirku.
Walau di hati kecil ini merasa hancur berkeping-keping ada dendam yang terucap, “Jika terjadi sesuatu sama Papa. Aku tidak akan pernah memaafkan Kalian. Akan ku buat kalian menyesal seumur hidup.” Janjiku dalam hati.
**********
Sudah semalam Aku di rumah sakit Papa masih koma belum ada perkembangan. Aku teringat dengan Anak ku .
Segera ku telepon Aldo yang sedang keluar sebentar mencari sarapan untuk Kami.
Tut.......
Tut........
Tut......
Suara dering sedang menyambungkan , tak lama terdengar suara. “ Ya, Halo Sayang.” Ucapnya.
“ Do, buruan balik habis ini antar Aku jemput Abrisyam.” Jawabku .
__ADS_1
“Oke.” Balasnya dan sambungan pun terputus.
Sekitar 30menit setelah Aku menghubunginya. Tidak lama kemudian terlihat langkah kakinya masih seperti biasa langkah itu masih membuatku terpesona . Cepat ku alihkan pandangan ini karena, dari semua rasa masih tersisa luka yang mendalam .Aldo menyerahkan bungkusan itu .
“Terimakasih.” Jawabku .
“ Mah, makan dulu ya?” Aku berusaha membujuk agar Mama mau makan .
Masih tampak raut wajah cemas campur amarah. “Selvi suap atau Mama makan sendiri.” Tanyaku lembut.
“ Mama makan sendiri sayang.” Jawabnya .
Sambil menikmati makanan itu walau dipaksa agar tubuh Kami tidak drop karena, jujur saja saat ini Saya kurang selera makan memikirkan kondisi papah dan khawatir sama Abrisyam. Saya takut merepotkan orang, walaupun Bapak dan Ibu Suwito seperti Orang Tua Ku sendiri.
Aku pun mendekati Mama lagi. “Mah, Selvi mau pamit sebentar menjemput Abrisyam.” Mama hanya mengangguk dan memberikan tangannya untuk Aku berpamitan dan takzim.
“Ayo Do.” Ajak ku.
Kami pun mulai beranjak meninggalkan Rumah Sakit. Tidak terasa ternyata selama perjalanan Aku tertidur di punggung Aldo, mungkin badan ini lelah sekali karena, semalaman tidak bisa tidur.
Sepertinya motornya sudah berhenti, Aku pun terbangun dari tidurku. Tapi , ini bukan rumah Bapak dan Ibu Suwito jawabku dalam hati .
“Do... kenapa Kamu bawa Aku kesini!.” Tanyaku nyaring.
Dia tidak menjawab sama sekali dia menarik tanganku dengan kencang di seretnya Aku ke dalam rumah itu, rumah yang sudah ku tinggalkan selama ini. Rumah yang seperti penjara buatku .
Aw....
Aw....
Bahkan dia tidak peduli sama sekali dengan suara yang meneriakinya. Maminya terdengar berteriak, bahkan Virgin menghalang pun di tepisnya hingga tersungkur ke kanan.
Langkah itu semakin cepat menyeret tubuhku hingga kedalaman ruangan di mana aku menghabiskan sisa hari terakhirku sebelum pergi . Ya, kamar ini saksi semua kebahagiaan dan penderitaanku.
Di lemparkan badanku ke tempat tidur, Dia tak segan mengikat tanganku di tempat tidur .
“ Do ... Aku mohon lepasin Aku . Kamu gak kasihan sama Abrisyam?. Kamu gak kasihan sama Aku kah Do. Saat ini papah ku lagi bertaruh nyawa.”
Benar-benar dia seperti Orang yang kehabisan akal . Mungkin dia ingin melampiaskan amarahnya ke Aku atau mungkin Dia ingin melampiaskan kerinduannya . Jika Aku memaksakan melepaskan ikatanku, Aku takut Dia akan nekat . Aku pasrah saja melihat apa yang akan Dia lakukan setidak ya jika memang usiaku sampai disini, Aku sudah pasrah.
Tak lama dia terlihat sudah keluar dari Kamar mandi, diikatnya kedua tanganku lagi dan kedua kakiku. Aku di letakkan di dalam bathub yang sudah penuh air dan taburan kelopak bunga mawar, di putarnya alunan musik romantis miliknya John Legend yang judulnya All of Me.
Suara pintu terkunci menambah ketakutanku .Tak lama tangannya mulai menjelajahi tubuh ini, bahkan nafasnya menggelitiki tengkukku.
Aku teriak pun tak akan terdengar karena musik itu sangat nyaring hingga memekakkan telinga.
Ntah kapan hal itu terjadi, Dia melakukannya tanpa memperdulikan Aku suka atau tidak.
__ADS_1
Mungkin ini hasratnya yang terpendam sudah lama sehingga saat ini Dia melampiaskan semua itu .
Aku pikir semua itu sudah selesai, Dia memandikan badanku lalu mengangkatku kembali ke tempat tidur. Di pasangkan piyama ke badanku. Rambutku disisirnya dan di berikan lipstik di bibirku . Tapi setelah itu dia mengikat tanganku terpisah di kedua sisi tempat tidur itu.
Dia melakukannya lagi, dari setiap jengkal tubuhku tak ada satu pun yang terlewat oleh sentuhan tangannya kali ini tanpa suara musik atau apa pun.
Tampaknya dia sengaja agar Aku mengeluarkan suara-suara itu. Bahkan dia sesekali menggigit bibirku.
Aw.....
Ahhhhhh.....
Ughhhh....
Pleassss....
Lepaskan Aku ....
Bujukku selama dia melakukan kegiatan itu. “ Aku akan menuruti apa maumu. Jadi lepaskan Aku.”
Dia berhenti sejenak dengan posisi tubuh berada di atasku.
“Maafkan Aku . Sudah lama Aku menahan semua ini. Jika Aku melepas ikatanmu, pasti Kamu akan menolak Ku. Dengan cara inilah Aku masih bisa menikmati tubuhmu.” Ucapnya lalu terdiam lagi sambil melanjutkan kegiatan itu sehingga ada suara tangisan wanita di luar kamar pun di abaikannya .
Semakin terdengar orang mengedor - gedor pintu kamar semakin di buatnya Aku menjerit hingga suara Kami pun memenuhi ruangan itu.
“Dasar Orang Gila.” Umpatku.
Dia hanya tersenyum dan berkata. “Yaaa, Aku memang gila karena mencintaimu. Tapi karena Orang Tuaku Aku tersiksa.”
“Asal Kamu tahu Vi, Aku sangat mencintaimu. Tapi Aku tidak bisa menolak perintah Mami.” Celetuknya lagi sambil terus melakukan semua hal yang membuat tubuh Kami semakin bergairah.
Suara teriakan Wanita dari luar. “Aldo, Kamu jahat. Kenapa Kamu tidak melakukannya denganku saja. Hiks.....hiks....hiks....”
Semakin suara itu terdengar semakin semangat Dia melakukannya kepadaku. Hingga sampai di titik kepuasan. Di bersihkannya lagi badanku dan setelah itu dia mengikat ku lagi .
Terdengar suara gemerencik air. Dia membersihkan badannya ujarku dalam hati . Kali ini aku sudah di pakaikan pakaianku kembali.
“Ayo, Kita jemput Abrisyam. Dengar Aku, saat Ku buka pinta jangan Kamu berhenti tetap ikuti langkahku dan jangan menoleh, sampai motor ku pacu kencang.” Jelasnya.
Akhirnya di lepaskan ikatanku dan di genggam erat pergelangan tanganku . Pintu pun di buka. Wanita itu berdiri dan memegang tangannya seakan berusaha menghalanginya. Tapi langkah Aldo semakin cepat hingga semua yang mencoba menghadang di singkirkan dari hadapan nya.
Hingga motor di pacu di rapatkan lenganku ke pinggangnya, sambil di pegang kedua tanganku menggunakan satu lengan saja dia menjalankan motor sportnya hingga perumahan itu tak terlihat lagi .
Saat mulai keluar dari perkotaan, baru dia melepas tanganku . Dengan kondisi jalan yang berliku aku pun tetap memeluk erat tubuhnya .Masih terasa desahan nafasnya , masih terasa sesuatu yang di berikannya secara paksa.
Mungkin hal ini adalah kejadian terakhir dalam hidup Kami. Karena, setelah ini tidak mungkin terulang lagi.
__ADS_1
Melihat kemurkaan Orang Tuaku dan rasa kangen yang berlebihan mungkin menjadi penyebab Dia melakukannya.
Bersambung ......