DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Kerinduan Sesak


__ADS_3

Hujan turun begitu deras di tengah perjalanan Kami. Dia pun menepi sejenak dan melepaskan jaket yang di kenakan. Segera jaket kulit berwarna coklat merek CK itu di pakaikan di tubuhku, Kami melanjutkan perjalanan lagi.


Pemandangan indah itu sudah tampak di depan kami dengan hamparan sawahnya dan air terjunnya, tak lama lagi Kami sampai di rumah Bapak Suwito di daerah Bogor. Motor pun mulai berhenti terparkir.


“Nda...... Nda.....” tampak bahagia sekali di wajah Abrisyam dengan robot dan mobil kecil memenuhi tangganya, di sampingnya ada Ibu Suwita sedang menyuapinya.


“Alhamdulillah Abrisyam jadi Anak pintar ya Eyang Uti.” Pujiku kepada Anak Lelakiku.


“Icham, gak angis. Mamam banyak.” Ceritanya lagi kepadaku.


Banyak kata yang ingin di ceritakannya hanya karena, baru beberapa kata saja yang dapat dia ucapkan jadi tampak lucu dan sedikit terbata, bahkan ada uang sangat lama seperti dia memikirkan terlebih dahulu apa yang harus di ucapkan.


“Om...” panggilnya sambil mencontohkan badannya mengigil.


Aku pun tersadar bahwa Aldo basah kuyup. Segera Aku pinjamkan Kaos dan celana Pak Suwito untuk Aldo berganti pakaian.


“Bukan Om Sayang tapi, Ayah” ucapku menjelaskan kepada Abrisyam.


Walaupun Aku masih membencinya Dia tetap Ayah Abrisyam dan masih Suamiku yang sah. Setelah pakaian itu di berikan.


“Abrisyam sama Eyang Uti, Nda mau antar Ayah ganti pakaian.” Jelasku lagi ke jagoan kecilku itu. Dia pun mengangguk dan mengacungkan jempolnya ke atas.


“Ayo Do. Kamu harus mengganti pakaianmu biar gak masuk angin.” Ajak ku.


Diapun mengikuti langkahku. Ku buka pintu rumahku, terlihat Aldo mengigil kedinginan bibirnua tampak biru dan sedikit agak pucat.


“ Masuk.” Ujarku lagi.


Ku berikan handuk agar dia mengeringkan badannya. Ku panaskan air untuk dia mandi agar lebih hangat. Saat Aku memanaskan air Datang menghampiriku dan memberikan handuk itu di badan ku yang kecil ini. Tidak lama kemudian tangannya terasa di pinggangku yang ramping sangat erat ku rasa dan pelukan itu lumayan menghangatkan tubuhku.


Bisiknya. “Kamu juga kedinginan Sayang.”


Inginku tepis tangannya karena, Aku tidak mau Dia mengulangi hal yang tadi sempat di paksakannya. Tapi tanganku tak kuat membuka jari jarinya begitu erat mengunci seakan tau apa yang akan Aku lakukan.


“Biarkan saja ini sejenak Sayang.” Bisiknya lagi.


“Do....” Aku menolehkan sedikit kepalaku sehingga bertatapan langsung dengan wajahnya


Lama Kami beradu pandang hingga suara air telah mendidih membubarkan pandangan Kami. Segera kumatikan Api di kompor gas rinai itu.


“Do, lepaskan.” Pintaku sedikit menekan suaraku. Tapi Aku jaga intonasinya karena, Aku tidak enak jika harus bertengkar dengannya disini.


“Tidak akan Aku lepaskan. Karena, setelah ini mungkin Aku tidak akan pernah merasakan suasana seperti ini lagi. Jadi, Aku mohon Sayang beri Aku kesempatan untuk hari ini saja bisa menikmati kebersamaan bersamamu. Walaupun Aku tau Kamu masih marah.” Jelasnya lagi seakan berharap Aku mau menuruti permintaannya.


Belum juga Aku menjawab pertanyaannya tersebut, bibirnya yang lembut itu sudah beradu dengan bibirku. Aku pun ingin melepasnya tapi ntah hasratku ini tak dapat ku lawan. Apa aku juga masih mencintainya tanyaku dalam hati walau pelukan itu makin erat di tubuhku dan dia belum melepaskan kecupannya.

__ADS_1


Ayo Selvi jangan bisikku sendiri seakan ingin menyadarkan bahwa Aku harus menyudahi hal ini tapi Alam seakan mendukung semua ini hujan turun semakin deras sehingga suara hujan tetes demi tetes seperti alunan musik nyaring di atap rumahku.


“Do, jangan.” Ucapku lagi saat Dia mulai mencumbui badan ini.


Di bawanya badan ini merapat kesalah satu dinding dengan kedua lengannya mengunci ke arah dinding. Tak lama dia mulai mengendongku karena, hanya satu pintu di ruangan ini, lalu di bukanya pintu yang letaknya berdekatan dengan ruang tamu. Di letakkannya aku di atas tempat tidur sederhana yang ada di kamar itu. Belum sempat Aku memindahkan badan Dia sudah berada tepat di hadapanku lagi. Apa lagi yang dapat kulakukan berteriak pun percuma karena, Aku akan malu sendiri.


Akhirnya terpaksa lagi Aku melakukan kegiatan itu dalam sehari ini sudah 3 kali Kami melakukan kegiatan Suami Istri yang lama sudah tidak pernah Kami lakukan. Hari ini seperti di rapel semuanya, seperti di lampiaskan semua rasa kerinduan terpisah denganku.


Semua badan ini pun tak luput dari cumbuannya bahkan tangannya pun tak hentinya menguasai tubuhku . Kejadian ini pun lumayan lama hingga keringat mengucur membasahi tubuh. Akhirnya selesai Aldo tampak lelah tangannya masih memeluk tubuhku, matanya langsung terpejam dengan sedikit senyum bahagia terlihat dari wajahnya. Ku singkirkan tangannya dari tubuhku, Aku pun segera membersihkan diri.


Saat Aku selesai membersihkan Diri terlihat Dia sudah duduk di sudut tempat tidur itu dengan telapak tangan menutupi wajah seakan bebannya sangat berat.


Cepat ku ambil pakaianku dan ku tinggalkan dia di dalam sana, ku kenakan baju bercorak bunga sakura di kamar mandi dan kusiapkan lagi air hangat untuk Dia membersihkan badannya.


Kulangkahkan kaki ini kembali ke kamar walau sangat lemas karena letih sekali.


“ Do, buruan airnya sudah siap.” Panggilku yang membubarkan lamunannya.


“ Oh, iya.” Jawabnya dengan sedikit senyum dan taringnya terlihat di ujung bibirnya.


Ku ganti handuk yang tadi dengan yang baru ku letakkan di kamar mandi.


“ Handuk yang tadi taruh saja di mesin cuci yang ada di ujung kamar mandi ya. Sudah ada yang baru ku gantung di sana.” Jelasku lagi.


Dalam hati. “Oh jangan lagi Aku sudah lelah.”


Sedikit ku pejamkan mataku hingga suaranya berbisik. “Jangan takut Aku hanya ingin mencium keningmu.”


Diapun mencium keningku dan melempar senyum seraya berucap. “Terimakasih, Sayang.....”


Oh tuhan dadaku saat itu terasa sesak takut karena, sudah lelah dalam 1 hari 3 kali dia mengauliku.Ingin berontak tapi rasa ini tidak mampu.


Terlalu bodoh itulah yang pantas di lontarkan ke Aku. Sudah bolak balik di sakiti masih saja lemah di hadapannya. Kenapa ada rasa cinta jika itu tidak ada mungkin Aku tidak akan selemah ini. Semua kata-kata yang seakan membuatku bersalah mengiang di kepalaku. Hingga tak sadar saat memasak makanan untuk kami jariku tersayat sedikit.


Aw....


Tiba-tiba Aldo sudah mengambil jariku dan menghisap darahnya agar tidak keluar lagi. Seandainya suasana ini untuk selamanya.


“Masih sakit.” Ucapnya sambil terus membantu mengeluarkan darah dari jariku.


“Sudah, ngak. Ini tak sesakit hatiku." cetusku yang membuatnya terbelalak.


“Sudah Vi. Ku mohon jangan di bahas lagi.” Suaranya keluar sedikit tinggi.


Ku tarik jariku mengambil P3K belum sempat ku buka plester tangan Aldo lebih sigap mengambilnya dan memasang ke jariku .

__ADS_1


“Seandainya keadaan ini tidak berubah.” Gumamku.


“ Mauku juga begitu.” Celetuknya .


Ternyata dia mendengar gumamku tadi. Segera Aku meninggalkannya karena tidak mau melanjutkan suasana tadi. Ku selesaikan masakanku, ku lihat dia mengambil Abrisyam dan mengajaknya main di ruang tamu. Terlihat sekali Anak itu bahagia bercanda bersama Ayahnya dia berlarian keluar masuk kamar ke ruang tamu. Sejuk sekali melihat suasana itu.


***********


Tak terasa hari hampir malam.


Kring....


Kring.....


Kring....


Gawaiku berbunyi terdengar suara tangisan diujung sana. Aku pun tak dapat berkata smartphone Ku terjatuh Aku hanya menangis penuh sesal entah apa yang terjadi di sana. Mama terdengar tak dapat bersuara lagi.


Hiks...


Hiks...


Hiks....


Karena suara tangisanku Aldo yang tadinya bermain dengan Abrisyam menghampiriku dan mengambil gawaiku.


“Halo.. ya Mang." ucapnya dari kejauhan terdengar samar.


“Baik mang ... Amang urus semua sebentar lagi Aku dan Selvi akan ke sana.” Hanya itu kata terakhir yang terdengar.


“ Do... kenapa Mama menangis?” tanyaku


Karena, di pikiranku sudah tidak enak. Seakan tanganku yang tergores pisau tadi menjadi pertanda buruk buatku.


“Sudah sekarang Kamu siap-siap dahulu, Aku akan berpamitan ke Bapak dan Ibu Suwito.” Jawabnya dan meninggalkanku .


Dia ke rumah Bapak dan Ibu Suwito saat itu hujan baru berhenti. Aku selesai bersiap-siap kali ini Aku hanya membawa perlengkapan Abrisyam di dalam tas ranselku. Tak lupa ku bawa jaket kecil berbulu agar Abrisyam tidak merasa kedinginan di perjalanan.


Ku kunci pintu rumah segera kulangkahkan kaki ke rumah Bapak dan Ibu.


“ Bapak, Ibu terimakasih ya sudah jaga Saya dan Abrisyam selama ini . Sebagian barang masih saya tinggal. Mohon do’a nya.” Ucapku sambil salim dan takzim ke Mereka.


Aku pun di peluk tak ada curiga sedikit pun saat Mereka menangis memelukku dan Aku tidak tahu apa yang di ceritakan Aldo ke Mereka . Hari hampir menjelang senja Aldo pun segera menyalakan motornya Kami pun mulai melaju kembali menuju Bandung.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2