
Keputusan sudah kubuat aku harus melupakan Selvi dan menapaki hidup baru, usiaku mungkin saat ini sudah lebih matang dan harus belajar dari pengalaman sebagai Lelaki pengecut.
Jika memang ini maumu Mami aku akan mengikuti, tetapi kali ini aku yang akan mengendalikan hidupku sendiri.
Semua ini karenamu Selvi! mulai besok aku akan menginjakkan langkahku di perusahaan Papi, akan ku selesaikan semuanya agar tidak berlarut-larut.
Saat sampai dirumah Mami menangis di ruang tamu di tanggannya ada amplop berwarna coklat dengan tulisan pengadilan Agama.
Aku buka isi amplop coklat itu, ternyata Papi benar-benar nekat melakukannya. Ternyata apa yang kupikir selama ini salah mereka memang mementingkan dirinya masing-masing tanpa mengaanggap keberadaanku sebagai anaknya.
Sebenarnya semua ini salah mami yang terlalu merendahkan Papi. Ku letakkan lagi amplop itu di meja.
Hingga mami menghamburkan badannya di bahuku dan meraung menangis tak henti-henti.
"Aldo! papi menceraikan Mami," tanggisnya meraung-raung.
"Iya Mi , Aldo sudah baca suratnya, lucu ya Mi seperti karma kali ini berbalik menimpa mami," ucapan itu secara refleks keluar tanpa sadar dari mulutku.
"Maksudmu? semua ini akibat ulah mami , akhirnya mami mengalami apa yang di alami Selvi," ujarnya seraya tak percaya dengan ucapanku tadi.
"Bukan begitu maksud Aldo, tetapi jika itu menurut mami ya bisa jadi."
Wajah Mami makin masam mendengar penjelasanku, aku berharap mami bisa merubah sikapnya yang egois, tetapi aku berani mengutarakan ini saja, rasanya sanggat berat.
Pasti mami akan marah berhari-hari denganku, biarlah setidaknya aku sudah mengutarakan semua kenyataannya.
Mami berdiri dan meninggalkan aku duduk sendiri, sepertinya Mami belum terima dengan kekalahannya.
Saat Aku akan masuk ke kamar, gawaiku berbunyi panggilan masuk dari Zahra.
"Aldo kita bisa bertemu hari ini sekalian fitting baju tetapi sebelumnya ada yang inggin aku tanyakan?" pintanya.
"Baik Zahra tiga puluh menit lagi kita ketemu di cafe biru ya atau mau aku jemput?"
"Di cafe biru saja, saat ini aku masih diluar habis ketemu klien yang mau investasi di bakal distro yang akan aku buka nanti," jawabnya.
"Baiklah, sebentar lagi aku on the way."
"Fii amanillah ya Do," sambungan pun terputus.
Aldo segera pergi menghampiri Zahra sekitar tiga puluh menit dari rumahnya, dia sampai di cafe biru yang dekat dengan butik tempat fitting baju.
Aldo duduk dengan memesan capucino dan pisang naget untuk menemaninya menunggu Zahra.
Saat menikmati pisang naget tidak lama Zahra terlihat mengunakan jilbab tosca dengan gamis kekinian, benar-benar anggun dan sederhana.
__ADS_1
Ntah dalam hatiku berkata, mungkin ini yang akan menjadi bidadari surgaku kelak dan aku akan melupakan Selvi untuk selamanya.
"Maaf telat, sudah dari tadi ya?" tanya nya
Aku masih terpesona baru kusadari dia hampir memiliki sosok seperti Selvi hanya lebih feminim, luar biasa pancaran kecantikan dari wajahnya.
"Hai Aldo, kamu melamun?" tanyanya lagi sambil melambaikan tangan di hadapanku.
"Oh tidak baru saja, pasti banyak pertanyaannya ya?"
"Hem, tidak juga hanya memastikan bagaimana perasaanmu ke aku, karena aku hanya akan menikah satu kali seumur hidup, jawabanmu akan menentukab langkah kita setelah ini apakah aku akan lanjut atau tidak, aku harap kamu mengerti tentang ini ya Do."
Pertanyaan Zahra sangat benar wajar dia harus mengetahui semuanya, apalagi gadis seperti Zahra bukanlah yang berpikir semaunya, dia selalu memiliki pemikiran dewasa dan sangat matang sebelum memutuskan langkah kehidupannya nanti.
...****************...
Hai sebelum lanjut jawaban Aldo kita mundur ke setelah Zahra menerima secarik kertas dari Selvi ya.
Zahra
Aku segera pulang kerumah ku batalkan rencana fitting baju dengan Aldo, saat aku akan membereskan diri dan berganti pakaian tiba-tiba gawaiku berbunyi.
Aldo!
Aku membuka pesan singkat itu,
"Bisa, jam berapa ya Do kira-kira?" balasku bertanya.
"Habis magrib" balas Aldo.
"Baiklah" aku mengahiri pesan singkat itu dan lanjut membersihkan diri.
Selesai aku membersihkan diri teringat sepucuk surat tadi.
to : Zahra
Assalamuallaikum,
sengaja aku tulis surat ini sudah jauh hari, mungkin zahra kaget kenapa aku bisa cerita sebegitu banyak,
Zahra pasti penasaran kenapa aku menikahi papinya Aldo, semua akan aku jelaskan disurat ini.
Sebelumnya aku seorang gadis yang mempunyai cita-cita tinggi hingga Aldo merusak masa depanku akhirnya saat ujian aku harus berhenti sekolah dan tidak melanjutkan kuliah.
Untuk segi keuangan aku juga bukan orang biasa keluargaku memiliki beberapa perusahaan tentu saja itu bukan alasan yang tepat aku menikahi papinya Aldo.
__ADS_1
Inti dari suratku ini hanya agar Zahra berpikir matang-matang tentang Aldo, selama ini hidupnya di setir oleh Maminya sehingga perkawinanku dengannya juga tidak bisa di pertahankan.
Sedangkan dirimu dan Aldo adalah hasil perjodohan, tanggung jawabmu tidak berat hanya bagaimana agar Aldo bisa memiliki pendirian, bisa lebih bijak dan menikah bukan karena perjodohan tetapi karena, hati.
Aku tidak mau jika kamu mengalami hal yang sama seperti yang kurasakan. Tugasku saat ini hanya sampai membuat Maminya Aldo menderita dan menyesal seumur hidup , aku tidak akan menganggu atau menyakiti rumah tanggamu.
Salam dariku,
Selvia Anastasya
Selesai aku membaca surat itu, semakin kuat inggin menegaskan ke Aldo sebelum janur kuning melengkung.
Oh iya waktunya kerumah sakit kasihan Abrisyam.
Sekitar satu jam aku sampai di rumah sakit, Aldo sudah menunggu terlihat sangat gusar.
"Maaf telat, tadi sedikit macet" kilahku.
"Tidak apa-apa, terimakasih ya Zahra sudah mau menemani Abrisyam."
"Saya senang bisa bersama anak lucu itu," jawabku.
Sepeninggal Aldo, anak kecil itu bangun dari tudurnya, "Bunda!" dia mencari Bundanya.
"Bunda dan Ayah sedang ada keperluan Abrisyam sama Aunty ya?" rayuku.
Dia hanya mengangguk mungkin terpaksa karena, jika dia tidak maupun tidak ada lagi orang disini sebagai pilihan untuk menemaninya.
"Tante mau merebut Abrisyam dan Ayah dari Bunda ya?" tanyanya.
Pertanyaan itu pasti sesuatu hal yang sangat polos dan jujur dari lubuk hatinya.
Akupun mulai penasaran dan berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab atau menggali informasi.
"Tidak sayang tante kan temannya Bunda dan Ayah, kenapa Abrisyam bisa berpikir seperti itu," tanyaku balik.
"Waktu itu Abrisyam masih kecil, kami ntah dimana disana sangat ramai tiba-tiba saja Ayah diseret oleh orang-orang bertubu besar, Bunda jatuh tidak bertenaga, saat Abrisyam menangis tiba-tiba saja ada om-om besar membawaku bersama dengan Ayah. Bunda tidak ada yang menolong aku berteriak menangis. kami dipaksa masuk ke mobil disana ada Oma dan Mami Virgin."
Anak itu menangis aku memeluknya, dan membelai rambutnya.
"Pernah sesekali Abrisyam melihat Mami Virgin dengan teman-temannya berpesta dirumah saat ayah tidak ada, lalu Isyam di kurung di kamar disana ada suara-suara aneh Isyam takut. Tante tidak akan memisahakan kami seperti Mami Virgin kan? Abrisyam mau hidup bersama tante tapi ijinkan juga bertemu Bunda seperti Opa yang selalu diam-diam mengantarkan Isyam ke bunda bertemu adik Isyam, tapi ini rahasia kita berdua oke," pesannya.
"Janji, tante akan tutup mulut ini, janji anak dewasa oke," balasku yang membuatnya tersenyum.
Miris anak sekecil ini harus mengalami kejahatan dan keegoisan sesaat orang dewasa.
__ADS_1
Bersambung....