
Pov
Papi
Aku tidak menyangka Selvi akan setuju dengan tawaranku. Sebenarnya Aku sangat mencintainya tapi saat memegang tangannya tadi terlihat Dia risih Ku urungkan Niat Ku sesungguhnya.
Mungkin dengan cara ini awal Aku bisa memiliki Selvi. Apa yang ku pikirkan ini, setidaknya Selvi setuju dan membantuku saja itu sudah cukup. Kenapa Aku berharap lebih.
Biarlah perasaan ini Aku saja yang tahu. Aku lega Selvi mau membantuku. Selama ini Aku hidup seperti di bawah perintah Istriku.
"Pagi Pak." Sapa salah satu karyawan di kantor.
Aku segera tersadar dari lamunan."Iya masuk, mana yang harus Saya tanda tangani."
"Yang di halaman 6 sama 7 Pak ini akan Saya tinggal untuk di pelajari dulu." jawabnya.
"Ini perjanjian proyek yang di Palaran dengan PT. Berkah Karya atau Bukan." tanyaku.
"Iya Pak ini perjanjiannya dan sistem royalty sudah tertera di dalamnya. Bisa bapak periksa terlebih dahulu Siapa tahu ada yang mau di revisi." Jelasnya.
"Kalau begitu tinggalkan saja berkasnya disini. Setelah rapat dengan. Tuan Yokohama baru Saya pelajari." Akhirnya Karyawan itu keluar dan kembali ke tugasnya lagi.
Mudahan saat Aku melamun tadi Dia tidak ada mendengar perkataanku.
Mudahan Selvi tidak berubah fikiran dan tetap akan bekerjasama denganku. Sudah lama Aku inggin membalas semua ini hanya saja waktunya belum tepat.
...----------------...
Pov
Aldo
Pesawat pun landing dengan selamat. Selama perjalanan tidak henti-hentinya Aku berdo'a agar tetap selamat sampai tujuan. Karyawan Papi sudah terlihat menjemput Kami di pintu kedatangan Domestik.
Segera Dia membantu membawa koper Kami dan meletakkannya di bagasi mobil.
" Kita pulang dulu atau langsung ke Dokter Pak Aldo." Tanya nya.
" Saya rasa langsung ke Dokter karena, takut tidak bisa bertemu lagi. Tadi sudah janjian sebelum berangkat. Karena, pesawatnya Delay jadi Kami sedikit terlambat lebih baik langsung kesana saja Pak." jawabku.
"Oh pantas saja saya tadi sekitar jam 11 sudah kesini tapi katanya akan landing sekitar jam 1 karena ada keterlambatan."Cerita Karyawan kantor Papi.
__ADS_1
"Pak nanti bisa antar Mami pulang saja setelah dari Dokter." pintaku
"Kenapa Mami musti pulang Do. Habis dari Dokter kita langsung ke Cirebon." Jawab Mami tegas.
Karyawan Papi hanya tersenyum melihat tingkah Kami. Mobil pun tetap melaju ke tujuan awal ruma sakit Husada.
Akhirnya mobil masuk di pelantaran Rumah Sakit. Karena Kami sudah daftar online jadi langsung dan tidak perlu mengantri lagi di loket pendaftaran.
Aku dan Mami menunggu sebentar di depan ruangan Dokter.
"Bapak Aldo. Silahkan masuk." panggil suster bagian asisten di setiap ruanhan Dokter spesialis.
Aku dan Mami segera memasuki ruangan itu. Saat Dokter memeriksaku ada sedikit bagian yang belum kering.
"Bapak Aldo ini ada sedikit bekas Operasi yang perlu penanganan khusus jadi, sementara Bapak harus Kami rawat sampai benar-benar sembuh." jelas Dokter tersebut.
" Baiklah Dokter setidaknya ini agar Saya bisa kembali seperti sedia kala. Saya kangen menaiki moyor kesayangan Saya." jawabku.
" Itu agak lama sepertinya karena, walaupun sudah Kami nyatakan sembuh Bapak harus melewati masa pemulihan. Masa itu tidak cukup satu atau dua hari bahkan bisa seumur hidup." jelas Dokter lagi.
"Baiklah Kalau begitu Bapak Aldo tunggu asisten Saya sedang menyiapkan ruangannya nanti Bapak akan di antar sama Dia." ucap Dokter itu lagi.
"Terimakasih ya Dokter. Siap Saya akan menunggu disini." jawabku.
"Semoga saja habis ini sembuh ya Do." ucap Mami sambil menghubungi seseorang ntah siapa.
"Yaudah Do, Mami pulang. Kamu ngak masalah kan sendirian." tanya Mami.
" Iya Mi. Aldo sudah besar sudah punya Anak juga." jawabku.
Akhirnya Mami meninggalkan Aku sendiri di ruangan ini. Teringat saat menjaga Selvi sebelum melahirkan Abrisyam. Diruangan seperti ini Dia dalam proses pemulihan. Hei Aldo sadar Selvi sudah mendapatkan pengantimu jangan bermimpi terlalu tinggi.
Saat ini yang harus Aku fikirkan adalah proses pertunanganku dengan Zahra dan proses perceraian Ku dengan Selvi. Dua hal yang sangat bertentangan dengan keinginan Ku sesungguhnya.
Seandainya bisa memutar waktu inghin Ku putar waktu ini untuk memperbaiki semuanya.Tidak lama terdengar suara pintu di buka.
Krek....
Langkah Kaki itu mendekati ke arahku dan tiraipun di Buka. Aku kaget dengan yang ada di hadapanku. Bagaimana dia tahu Aku berada disini.
Segera Ku perbaiki sandaran duduk Ku. Dia pun mendekat dan meletakkan bingkisan di atas meja. Lalu di kupaskannya buah apel merah untukku.
__ADS_1
Belum juga Aku menyapanya. Dia pergi lagi meninggalkanku sejenak. hingga tidak lama kembali lagi.
Terasa nafasnyanya di hela sebelum bertanya. " Apakabar Do. Lama ya Kita tidak jumpa.Semoga Kamu disini sebentar saja."
" Iya sudah ada berapa lama ya? Aku sedikit lupa." jawabku.
"Oh iya, bagaimana Kabar Anak dan Istrimu Selvi." Jleb pertanyaan itu sulit Aku jawab.
"Abrisyam sehat dan saat ini Dia sibuk dengan kegiatan musik kegemarannya." jawabku.
" Lalu Selvi bagaimana." tanyanya lagi
Aku terdiam lama karena, apa yang akan ku jawab keberadaan Selvi di mana Aku tidak tahu. bahkan saat ini Aku sedang melayangkan surat perceraian.
" Sepertinya Kami akan berpisah. Bagaimana Kabarmu? apakah Kamu sudah menikah?" tanyaku.
"Sejak kejadian malam itu Aku langsung ke london Do." jawabnya.
"Maafin Aku ya Kalo sudah sempat membuatmi Baper sebenarnya Aku dari kecil cuma menganggapmu sebagai sahabat tidak lebih hanya Orang Tua saja yang menjodohkan Kita." ucapku lagi sambil memegang tangannya.
" Dengar-dengar Kamu mau menikah lagi ya Do. Dengan Zahra" tanya nya.
" Tahu dari mana. Pasti Mami." Aku penuh selidik menatapnya.
" Segitunya menatapku seperti detektif.Aku tahu dari Zahra." jawabnya lagi.
"Jadi Kamu sama Zahra temanan begitu." Aku terperanjat kaget.
" Hooh." jawabnya.
Tiba-tiba terdengar suara Mami. "Eh ada Gladis. Sudah darj tadi ya?"
"Iya, Tante. pada saat Tante kabari mau ke Bandung Gladis langsung otw ke Rumah Sakit ini." jawabnya.
"Mana Maminya Gladis." tanya Mami.
"Mami nga ikut ke Indonesia. Disana nemani Anak Gladis ngak bisa ijin School nya." jawabnya dengan senyum yang lebar.
Ternyata Gladis juga sudah berumah tangga, tapi Dia nampak bisa lebih Dewasa dalam berfikir tidak seperti Aku yang apa-apa selalu di setir oleh Mami.
Bahkan sampai saat ini Aku masih sanggat patuh dengan Mami. Beruntungnya seseorang yang masih bisa berkumpul dengan Anak dan Istrinya.
__ADS_1
Harapan Ku pupus, Kali ini akan kumulai dari nol dengan Zahra semoga saja pendekatan Ku dengan Zahra berjalan lancar. Selvi kenapa Kamu meninggalkanku Sayang apa ini caramu membalas semua ketidak adilan yang Kamu dapatkan selama ini. Mungkin ini memang pantas untuk Ku.
Bersambung.....