
Sudah dua hari Kami di Balikpapan. Pagi ini Mama menanyakan lagi perihal pertanyaan Papinya Aldo.
"Selvi, maksudnya Papi Aldo hari itu apa ya? Apa Dia tidak tahu kalo Andrasyam itu adalah Cucu nya juga." Tanya Mama antusias.
Aku pun menarik kursi dan mengisi piringku dengan nasi goreng. "Oh itu Selvi juga bingung Mah. Kenapa Papinya Aldo bertanya seperti itu." jawabku.
"Sekarang Mama mau Selvi cerita Andri itu Siapa"
"Dia itu Bosnya Selvi. Waktu Selvi ke sini untuk Pekerjaan ternyata Klien yang di temui itu Papi dan beberapa urusan yang handel Aldo. Mau ngak mau Saya harus profesional. Nah itu yang Selvi cerita Sempat berhubungan lagi dengan Dia Mah. Sehabis itu sm sudah ada 1 bulan ini loss contact soalnya Selvi udah berhenti Kerja." jelasku.
"Oh seperti itu. Berarti Papi nya Aldo salah paham, mungkin saat itu di pikirannya Selvi adalah Istrinya Andri." ujar Mama.
"Bisa jadi Mah."
...****************...
Suara deru ombak di Pantai Segara Sari Manggar benar benar menenangkan. Kami menikmati pemandangan itu benar benar membuat hati damai.
Suara gawaiku berbunyi, Ada pesan masuk. Saat Ku buka ternyata pesan dari Papinya Aldo.
"Assalamuallaikum, Selvi bisa ketemu Papi ntar malam."
"Waallaikumsalam, Ada apa ya Pi." balas Ku.
"Papi ada perlu." jawabnya
"Bisa, jam berapa dan di mana ya Pi." tanyaku
"Di Swissbell Hotel, Temui Papi di Lobi ya." balanya.
"Baik, Pi."
Aku sempat bingung Papi mau minta tolong Apa ya. Aku pun segera mengajak Mama pulang Karena hari sudah sore dan Aku takut tidak sempat bersiap-siap.
"Kenapa Vi. Terkesan terburu-buru." Tanya Mama.
Aku sambil membereskan barang-barang. "Ntah Ma, baru saja Papi Aldo yang telpon Katanya ada perlu sama Selvi." jawabku.
"Oh, ya sudah. Nanti Selvi pergi sendiri atau bareng Mama." tanya Mama lagi.
__ADS_1
Sambil membuka pintu mobi memasukkan kereta Andrasyam. "Sepertinya sendiri saja Mah."
Kami pun mulai menuju kerumah, Aku mengendarai Ayla merah ini dengan berhati-hati karena, saat itu kondisi di jalan keluar Pantai sedikit padat.
Saat di Daerah Pasar terlihat banyak kendaraan Stop, ternyata Ada kecelakaan katanya orangnya Kritis dan Istrinya meninggal.
"Astagfirullah, Kasian ya Vi." Kata Mama.
"Iya Mah. itulah Usia Kita tidak tahu." Aku meminggirkan kendaraanku Karena Pak Polisi akan evakuasi Korban.
"Mamah sini sebentar ya Saya mau lihat." ujar Ku.
Aku pun mendekati ke arah mobil yang kecelakaan itu, tapi tidak terlihat jelas korbannya. Banyak yang bilang Istrinya sedang hamil tua. Kasihan sekali Lelaki itu musti di tinggal pergi Istri dan Anaknya, pasti Dia merasa sedih.
Aku kembali ke Mobil karena, kondisi sudah mulai di evakuasi dan Kami sudah boleh melewati jalannya.
"Kasian Mah. Istrinya meninggal dalam kondisi hamil Tua. Sedangkan Suaminya Kritis." cerita Ku ke Mama.
"Astagfirullah, Kasihan ya. Pasti Suaminya terpukul sekali dengan kondisi ini." Ujar Mama.
Mobil pun memasuki gerbang Borneo Paradiso. Alhamdulillah, Pas sampaibdi rumah beljm Adzan Magrib.
"Iya Mbak Sum."Jawabku.
"O,ia Mbak Sum Nanti temenin Mama ya soalnya Saya mau keluar lagi. Jadi, Mbak Sum bermalam di sini saja." ucapku lagi.
...****************...
Aku memasuki lobi Hotel dan terlihat Papi sedang menunggu tetapi Aku sanggatvterkejut sengan seseorang yang berada disebelahnya. Siapa Anak Kecil itu. Saat Aku mulai mendekat Anak itu berlari menghampiri Ku.
"Nda!." teriaknya berlari dan merengangkan tanggannya seperti tak tertahankan inghin memelukku.
Aku terdiam Air mata ini jatuh tak terbendung , dalam kebisuan Aku memeluknya erat- erat, Ku ciumi semua wajahnya sesekali Ku peluk lagi Aku hampir tak percaya Malaikat Kecilku berada di hadapanku. Hati ini seperti dibpenuhi kebahagiaan.
"Nda, Isyam Kangen. Kata Ayah Nda mau jemput Isyam hari ini. Jadi, Isyam harus nurut sama Opa trus ngak boleh nakal." ceritanya sambil terus memelukku.
Aku pun masih dalam posisi lutut Aku letakkan di lantai. Ku dengar semua cerita Bocah Ku itu. Walau hati ini masih berasa mimpi.
"Nda, kenapa diam. Nda jemput Isyam lama banget. Isyam nga suka sama Mami Virgin dan Oma jahat suka marahi Isyam kalo nanyain Bunda. O,ia Isyam sekarang sudah pandai membaca." wajah polosnya membuatku tersenyum jujur sekali.
__ADS_1
"Oh iya, Bunda kangen banget sama Abang Abrisyam. Jadi, Bunda bingung mau berucap apa." Jelas Ku padanya.
"Ayo Isyam Kita temui Opa." Ajak Ku lagi sambil memeluknya dan mengendongnya.
"Isyam sudah besar Nda, Jadi berat kalo di gendong." Ujarnya dengan polos.
"Iya Anak Nda udah besar bahkan hebat. Tapi Bunda pengen gendong Isyam. Bolehkan." Sambi berjalan .
"Bunda, tadi panggil Abang Abrisyam. Memangnya Sekarang Isyam sudah jadi Abang ya?." tanya nya polos.
"Iya, Isyam udah jadi Abang. Ntar Kita minta ijin Opa biar bisa ketemu eyang putri dan Adik Andrasyam ya." jawab Ku lagi sabil mencium pipinya yang gempal.
Cepat Dia turun dari gendongan Ku ke arah Opanya berlari. "Opa, Opa... Sekarang kata Bunda Abrisyam sudah jadi Abang-abang loh Pasti Dede Bayinya Kayak Isyam. Pintar, lucu dan baik hati kan Opa."
Terlihat Opanya tersenyum dan memeluknya. "Nah kalo begitu Abrisyam harus jaga Dede Bayinya ya. Sementara ikut Bunda nanti kalo sudah Bunda mau balik lagi ke Bandung Isyam Opa jemput bagaimana." tetnyata Opanya memang mengijinkan Isyam bersamaKu malam itu.
"Pi, beneran Isyam boleh Saya bawa dahulu?" tanyaku seperti mimpi. Karena, selama ini Abrisyam seperti di sembunyikan ke beradaannya dariku.
"Iya Selvi Sayangnya Papi." ucapnya lagi sambil memegang tanganku.
Cepat Ku tarik tanggan ini karena, merasa risih teringat saat Dia bersama Wanita malam saat bertemu Kami membicarakan Kontrak dan teringat cara Dia memandangiku saat Aku baru di bawa Kerumahnya oleh Aldo. Walaupun Dia Mertuaku tapi ada rasa risih dan takut.
"Hore, hore ..... Akhirnya Isyam bisa bareng Bunda lagi." Sorak kebgembiraan Abrisyam membuat Aku dan Papi tersenyum.
Walau sesekali mata Papi melirik Ku dengan sedikit berbeda Aku berusaha mengalihkan pikiran ini biar suasana tidak terasa kaku.
"Selvi sudah makan?" tanya Papi.
"Belum Pi. Abrisyam dan Papi bagaimana sudah makan malam atau belum?" tanya ku balik
"Kami belum makan juga sih. Kalo gitu kita keluar makan aja. Ada restauran pinggir jalan tetapi menu masakannya enak - enak di daerah Pasar Baru." Ajak Papi.
Kami pun bergegas mencari makan terlebih dahulu. Selesai menikmati makan malam Kami pun melanjutkan mengajak Abrisyam bermanin di Fun City. Tidak lama sekitar satu setengah jam Gawai Papi berbunyi dan sepertinya ada masalah sedikit. Kami pun segera di antarkan pulang ke Borneo Paradiso.
Aku tidak tahu siapa yang menghubungi Papi tapi terkesan urgent sekali yang tadinya wajahnya tampak tenang kini tampak gusar seperti tak tentu arah.
Kami pun memasuki gerbang Perumahan Borneo Paradiso. Papi hanya menurunkan Kami di depan rumah karena Dia harus segera kembali menemui Seseorang yang menghubunginya tadi.
Bersambung.......
__ADS_1