
Aku menuju kamar Abrisyam pagi ini, ntah apa yang membuatku berhenti melangkah tepat di sebuah kamar yang tidak lain kamarnya Aldo, pintunya dalam keadaan terbuka.
Seperti ada dorongan yang memaksaku, untuk masuk ke kamar itu, mata ini tertuju dengan sebuah buku yang tergeletak tidak jauh dari lemari tepat di lantai.
Sepertinya ini sebuah diary, aku seakan dibisikkan kata untuk membuka buku itu, walau ada rasa takut kuambil buku itu dan kubersihkan sedikit debu yang menempel di atasnya.
"Kubawa saja buku ini," ucapku.
Akupun kembali menuju kamar Abrisyam, sesampainya di kamar Abrisyam baru ku baca isi buku diary itu, sambil menemani Isyam yang masih tidur.
Dear Diary,
Hari ini aku menikah dengan lelaki yang sangat aku cintai, namun dia tidak mencintaiku, sengaja aku campurkan sesuatu di minumannya, tetapi sangking tudak bergunanya dia malah tertidur pulas ada rasa kesal sedangkan saat itu aku sedang mabuk berat, jadi apa yang aku lakukan malam pertamaku bukan bersamanya melainkan dengan kawannya yang juga kawanku, ada kenikmatan yang tidak bisa ku gambarkan.
Tetapi hati masih belum merasa puas di hadapan dia yang tertidur pulas kulanjutkan menyelesaikan kemauanku, tiba-tiba Papi Aldo masuk kedalam kamar kami mungkin karena suara napasku terlalu nyaring, pertikaian yang belum selesai dengan kawannya Aldo akhirnya di selesaikan dengan papinya Aldo.
Selvi terkejuta membaca diary itu seperti tidak habis pikir dengan apa yang terjadi, bisanya papi berhubungan dengan menantunya sendiri sangat tidak pantas walaupun dia baik, jangan-jangan semua ini juga ada maksud denganku.
Kulanjutkan membuka halaman berikutnya.
Dear Diary,
Aku pikir setelah pindah dari Bandung ke Kalimantan Aldo akan mencintaiku tetapi ternyata dia tidak berubah cintanya hanya untuk Selvi seorang setiap hari jika aku ingin berhubungan dengannya dia selalu ku buat tidak sadar ada rasa kesal karena dia melakukan dengan menyebut nama Selvi, jadi aku pun selalu pergi untuk mencari kepuasanku dari temannya yang sudah pernah berhubungan denganku.
Makin kesini Selvi makin tak percaya dengan kenyataan yang dia baca ternyata, Aldo tidak pernah mau melayani istrinya itu, sedangkan jika sama aku dia sangat brigas dan seperti tidak mau berhenti. Aku lanjutkan lagi membaca diary itu.
Saat akan baca di halaman berikutnya seperti ada seseorang yang lewat dekat kamar ini dia tadinya mengintip tetapi mungkin terlihat aku disini dia pergi lagi.
"Bunda!" panggil jagoanku yang masih setengah tidur.
"Abang sudah bangun?" tanyaku.
"Iya Bunda Abang sudah bangun," jawabnya.
"Abang mandi dahulu, lalu siap-siap ke sekolah ya sayang, Bunda sepertinya akan mengantar abang kesekolah,"
Aku memandikan Abrisyam dan segera pergi mengantarkan dia kesekolah kebetulan bekal sudah aku siapkan.
__ADS_1
Di pikiranku saat ini sedang tak habis pikir betapa bobroknya keluarga ini, kenapa aku juga mengikuti kegilaan ini sepertinya aku harus membawa anakku pergi menjauh dari mereka semua.
"Abang di sekolah jangan nakal ya sayang, jika urusan Bunda kelar kita akan tinggal bersama lagi kelak, Abang mau kan tinggal sama bunda adik dan eyang," tanyaku.
"Iya Abang mau, karena Ayah nanti mau menikah dengan tante Zahra," ceritanya yang berpamitan dan berlari masuk kedalam sekolahnya.
Aku kembali melaju di aspal yang hitam legam ini menuju salah satu rumah pengacaraku, semoga saja proses banding atas hak asuh anak bisa jatuh ke tanganku dengan beberapa bukti kongkrit yang pasti akan menjadikan Abrisyam kembali kepadaku seutuhnya.
Kulangkahkan kaki ini masuk di kantor pengacara yang terletak di dekat terminal angkot.
"Selamat Pagi, Ibu Nency nya ada Mbak?" tanyaku.
"Ada bu silahkan duduk sebentar beliau masih ada tamu," jelas salah satu karyawannya.
Akupun mulai menunggu dengan membolak balikkan majalah yang berada di meja tamu itu,ada sekitar lima belas menit akhirnya beliau keluar dan menyapaku.
"Bagaimana proses perkembangan banding kita bu?" tanyaku.
"Sudah sembilan puluh sembilan persen kemenangan di tanggan kita," jawabnya.
"Alhamdulillah terimakasih banyak ya bu atas bantuannya," ucapku.
Namun apa yang aku dapatkan sesampainya di kantorku Mbak Sumirah menelpon bahwa mama masuk rumah sakit.
Saat itu tanpa sengaja mama di beritahu oleh salah satu rekanku bahwa aku menikah dengan Papinya Aldo sehingga mama tiba-tiba shock terjatuh dan masuk rumah sakit.
"Aldo nanti tolong jemput Abrisyam, karena aku akan ke Bandung mamaku saat ini lagi dilarikan kerumah sakit," teleponku ke Aldo setelah mendapat kabar telepon dari bu Sumirah.
"Oke hati-hati di jalan," ucapnya dari jauh.
Kuputus saja panggilan itu dan bergegas ke bandara, saat itu juga aku cari tiket goshow, memang sedikit lebih mahal tetapi ini keadaan urgent.
Aku naik penerbangan sekitar satu jam lagi dari sekarang, segera aku check in terlebih dahulu , sambil menunggu waktu keberangkatan sambil menunggu aku masuk kesalah satu resto di tempat itu.
Penyesalan demi penyesalan silih berganti seperti adegan film di otakku. Kenapa aku melakukannya, rasa cemas tidak kalah membuat jadi keringat dingin di ruangan ber AC.
Semoga Mama baik-baik saja, aku mengirim pesan untuk papi bahwa saat ini sedang dalam perjalanan ke Bandung untuk melihat kondisi Mama.
__ADS_1
***
Pov
Aldo
Selvi sudah tidak berada di rumah ini seminggu semenjak hari itu tidak ada kabar darinya, dan besok adalah hari pernikahanku dengan Zahra.
"Abrisyam sayang bangun, hari ini sekolah jika tidak Ayah laporin ke Bunda," ancamku agar dia segera bangun dari tidurnya.
"Masih ngantuk Ayah, ayolah ceritakan hal yang menyenangkan hari ini saja abang ijin gak sekolah," pintanya penuh harap.
Sepertinya dia memang tampak mengantuk, tidak masalah jika aku menuruti kemauannya, siapa tahu setelah ini aku tidak bisa memenuhi permintaannya lagi.
Besok aku akan memulai hidup baru dan aku mulai belajar membuka hati untuk Zahra, aku tidak mau gagal seperti orang tuaku di usia senjanya cukup kegagalan di pernikahanku yang sebelumnya.
"Baiklah jika Abrisyam masih sangat mengantuk, Ayah ijinkan untuk hari ini," terlihat senyuman di wajahnya sepertinya dia senang dengan keputusanku.
Mataku tertuju ke sebuah buku di atas nakas kamar Abrisyam, Bukannya ini ... saat itu kuletakkan di kamarku kenapa bisa ada disini.
Aku membuka dan membaca diary itu seperti di serang petir di pagi hari ternyata Papi sebejat itu semua Istriku diambilnya, sungguh terlalu bahkan dia bisa berbuat berkali-kali dengan Virgin.
Aldo keluar dari kamar Abrisyam dengan wajah memerah seakan gunung yang akan meletus, langkahnya semakin cepat setelah melihat Mami menangis di bawah.
"Aldo! hiks,hiks!"
"Kenapa Mami menangis?"
Diberikannya amplop coklat, segera kubuka ternyata isinya adalah surat keputusan cerai Mami dan Papi.
"Biarlah Mi, semuanya ini yang terbaik asal Mami tahu saja ternyata bayi yang di kandung Virgin selama ini adalah anaknya papi bersama lelaki yang tidak jelas lainnya," Jelasku dengan memberikan buku diary Virgin.
"Itu menantu yang Mami bangga-banggakan, ternyata lebih hina dari wanita malam," cercaku.
"Sudah Aldo jangan di bahas lagi maafkan Mami, please Aldo semoga Zahra adalah yang terbaik buatmu dia lebih solehah, Mami berjanji tidak akan mencampuri rumah tanggamu lagi kelak," mohon Mami yang merasa terpukul dengan kenyataan yang di terimanya saat ini.
"Semoga prosesinya berjalan dengan lancar," doaku.
__ADS_1
Bersambung....