DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Bersama Abrisyam selama 2 hari lebih


__ADS_3

Selvi


Pagi ini Aku merasa bahagia sekali Karena, Kedua Putraku bersamaku. Seperti hidup ini penuh dengan kebahagiaan.


"Bunda!." teriak Abrisyam.


Aku segera memeluknya."Isyam mau sarapan apa sayang.?" tanyaku sambil mencium pipi nya yang gempal.


"Abrisyam mau sarapan Nasi goreng bareng Adik Andrasyam. Bunda boleh di buatin kentang goreng juga sama susu putih dan roti isi coklat." Banyak sekali reques makanan yang terucap dari bibir mungil itu.


Aku sambil mengendongny dan meletakkannya di kursi meja makan. Kebetulan semua makanan yang di pintanya sudah Aku masak pagi ini. Ntah bagaimana Aku bisa tahu apa yang inggin di makan Anak Ku ternyata seperti makanan favoritku semuanya.


"Memangnya Abang sanggup habisin semuanya ini?" tanyaku di balik wajahnya yang putih dan bulat.


Dia menatap wajahku dengan penuh semangat. "Sanggup Nda, Abang mau cepat besar biar bisa jagain Andra dari Oma dan Mami Virgin."


Mendengar penjelasannya membuat Aku semakin yakin bahwa Anak ini merasa tidak nyaman dengan Virgin sebagai pengantiku. Sebenarnya jika Aku mau Dia bisa bersama dengan Aku selamanya tapi tidak mungkin Aku menghianati kebaikan Bapak Mertuaku.


Jika, Aku tidak mengembalikannya nanti pasti Dia akan mendapat masalah. Bahkan saat itu Mertuaku beralasan Abrisyam di jaga oleh karyawan di kantornya.


...****************...


Selesai sarapan pagi ini dengan sejuta celoteh dan kekonyolannya membuat Aku dan Mama terhibur. Abrisyam tumbuh semakin pintar dan lebih Dewasa untuk Anak seumuran Dia. Bahkan Dia sanggat menyayangi Andrasyam.


Saat mereka sedang bersenda gurau ada seekor nyamuk mengigit kaki Adiknya dengan sigap dia mencari minyak telon dan dioleskan di kaki Adiknya yang di gigit tersebut. Saat Adiknya menangis Dia lebih cepat menghampiri Andra dan bertanya seperti layaknya Orang Dewasa.


"Dede Andra napa nangis? Cup... Cup... Cup... Num cucu dulu ya ada Abang Isyam di sini." bujuknya agar Andra tenang.


Yang membuatku terkagum - kagum melihat Andrasyam yang tiba -tiba tertawa seakan menyukai dan mendengarkan semua perkataan Abrisyam.


"Abang pintar ya buat Adik tertawa." seru Mama sambil mengusap rambut Abrisyam.


"Abang kan sudah besar Eyang. Jadi, Abang harus pintar. Nanti kalo di rumah Oma Abang tidak akan cerita soal Adik." Jelasnya dengan wajah serius tapi mengemaskan.


"Kenapa?" Tanya Mama dengan wajah penasaran menunggu jawaban lucu dari Cucunya.

__ADS_1


"Ntar kasian Bunda dan Eyang. Kalo Oma tau ada Adiknya Isyam ntar Adiknya di Ambil paksa lagi sama Oma kan Oma suka sama Anak laki-laki. Waktu itu cuma Abang Isyam aja dan Ayah yang di culik Oma sedangkan Bunda Isyam tidak di culik Oma dari Rumah Sakit. Tapi Oma juga baik kok Eyang." penjelasannya seakan menandakan bahwa Dia trawma dengan kejadian itu.


"Dirumah Oma itu Isyam gak boleh ini gak boleh itu. Kalo disini Abang Isyam boleh buat yang mau Isyam buat Bunda dan Eyang ngak marah-marah." ceritanya lagi antusias.


"Tau ngak Eyang pernah waktu Isyam Sekolah trus Isyam kan ngak sengaja tuh mecahin pot bunga di sekolah kebetulan Mami Virgin yang jemput kuping Isyam di jewer pas di mobil. Kata Mami begini, Kalo Kamu masih nakal nanti Mami taruh di Panti Asuhan!" Dia menceritakan denban mempraktekkan cara saat Dia di marahi oleh Virgin.


"Lalu saat itu Isyam bagaimana." tanya Mama antusias karena, merasa Cucunya sangat tertekan di rumah Ayahnya.


"Abang nangis Eyang. Abang sampai rumah langsung masuk kamar. Di kamar Isyam ada foto Bunda sama Ayah jadi, Isyam peluk itu aja." Ceritanya sangat sedih sekali sehingga Mama langsung memeluknya erat dan terlihat air mata Mama menetes.


"Tapi sekarang Abang bahagia Eyang karena, bisa bersama Eyang,Bunda dan Dedek Andrasyam." Segera Aku dan Mama memeluknya erat erat seakan menunjukkan Kami selalu ada untuk Dia.


...****************...


Berat rasanya hari ini untuk mengembalikan Dia ke Rumah Omanya. Tapi Papi sudah menghubungiku untuk membawanya bertemu. Waktu Dua minggu seakan hanya satu hari masih terasa banyak sekali yang inggin Kami lakukan bersama.


"Selvi.!" teriak Mama.


"Ya Mah!." sahutku dari jauh.


"Ya sudah sebentar Selvi hubungi Opanya agar Isyam bisa berkunjung lagi kapan-kapan." Setelah mendengar jawabanku baru terdengar sorak gembira dari dalam kamarnya Abrisyam.


Tiba - tiba Dia berlari dan memeluk tubuhku erat. "Beneran ya Bunda nanti Abang bakalan sering ketemu Bunda. Janji ya Bunda bakal bicara sama Opa?" Dia menegaskan kembali kepadaku mengenai apa hang Aku katakan tadi.


Aku hanya dapat menganggukan kepalaku menandakan bahwa Aku janji dengan semua yang ku ucapkan baru saja.


"Abrisyam sahang Bund." Di kecupnya pipi dan keningku.


Dalam hati ini sebenarnya mengihinkan Dirimu selalu bersama Kami sayang. Hanya saja Bunda takut kehilangan Kamu lagi. Cukup lama Bunda mencari Abrisyam. Hingga bunda baru bisa bertemu dengan Dirimu sekarang.


Kulangkahkan kaki ini menuju Pajero hitam yang terparkir di samping rumah. Ku pasangkan sabuk pengaman dan selama perjalanan Kami memainkan beberapa tebak tebakan buah dan sayur mulai dari huruf awalan A.


...****************...


Akhirnya Kami sampai di salah satu tempat makan yang berada di daerah superblok disana termasuk lengkap selain swalayan juga ada wahana bermain untuk anak-anak.

__ADS_1


"Opa!." teriak Abrisyam berlari memeluk Opanya.


"Kenapa Opa yang menemuiku. Ayah mana sudah lama sekali Ayah tidak bersamaku." tanyanya lugu.


Mungkin memang benar Dia sudah lama tidak bertemu dengan Ayahnya. Menurutku wajar Ayahnya tidak menemuiku mungkin Dia takut berjumpa dengan Aku lagi.


"Ayah sekarang lagi gak bisa jemput Jagoan Opa. Soalnya Ayah lagi sibuk." jelas Papi ke Abrisyam.


Walau Aku pun penasaran kenapa Abrisyam di berikan selama itu sedangkan dahulu saja keberadaannya sangat di rahasiakan Dariku.


Oh iya mungkin saat ini Istrinya sedang melahirkan jadi sengaja Abrisyam di titipkan. Hahahaha pertanyaan - pertanyaan yang ku jawab sendiri walau Aku pun belum tahu kebenarannya.


"Ayo Kita makan dulu."ajak Papi.


"Oh, lain kali saja Pi. Tadi Kami sudah makan di rumah." Jawabku.


"Jadi, Selvi mau langsung pulang ini atau bagaimana." tanyanya .


"Sepertinya Saya langsung pulang saja ya Pi. Kebetulan Saya tadi membawa kendaraan sendiri." Jawabku lagi takut merepotkan


Aku pun segera memeluk Anak Ku erat dan Ku kecup keningnya. Sehmgera ku langkahkan kaki ini meninggalkannya walau terlihat matanya berkaca - kaca.


Aku takut Dia menangis langkah ini semakin bergegas pergi menjauh. Aku yakin Kami suatu saat akan berkumpul lagi untuk selamanya .


Saat di parkiran mobil Aku bergegas masuk dan menumpahkan air mataku. Sebenarnya Aku bisa mengambilmu sayang untuk selamanya tapi Bunda takut kalo nantinya Andrasyam pun akan di rebut dari Bunda. Maafin Bunda yang harus melepasmu untuk hidup bersama Ayahmu.


Sekitar 30 menit Aku menangis di dalam Mobil hitam ini. Tapi tiba-tiba Aku penasaran lagi karena, dengan jawaban Opanya seakan ada sesuatu yang di sembunyikan dari Kami tentang Ayahnya.


Aku keluar parkiran dengan kondisi bertanya-tanya. Karena, Abrisyam tadi seakan rindu berat juga dengan Ayahnya. Sebenarnya Ayahnya kemana, dan kenapa Abrisyam bisa di titipkan ke Aku selama ini.


Tit....tit.... tit.....


Suara Klakson kendaraan memekakan telinhaku tetnyata Aku sempat melamun dan lupa jalan saat lampu merah sudah menunjukkan lampu hijau.


"Astagfirullah, Apa yang kulamunkan ini." Akupun bergegas pulang.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2