DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Hak asuh dan kenyataan pahit.


__ADS_3

Mendung di siang ini seperti mewakilkan perasaanku, hampa hidupku saat ini.


"Mama! kenapa cepat sekali pergi meninggalkan Selvi," sesalku diatas jenazah yang terbujur kaku dengan senyuman di wajahnya.


Hampir dua minggu mama di rumah sakit, akibat mendengar berita tentangku, tetapi untungnya saat sadar dia sempat mendengar penjelasanku yang sebenarnya terjadi.


Semua proses pemakamannya di bantu oleh mbak Sumirah, bersukur dia masih menemani Mama selama ini.


"Yang sabar mbak Selvi, Ibu pasti bahagia di surga sana," bujuk bu Sumirah yang saat itu mengendong Andrasyam.


Tidak lama gawaiku berbunyi, ternyata notif pesan masuk.


"Mba Selvi kita memenangkan hak asuh atas Abrisyam, saya tunggu kedatangannya di Balikpapan ya."


Hari ini aku benar-benar bahagia campur sedih, di balik semua cobaanku ada berita bahagia yang di berikan aku sudah hampir putus asa dengan semua ini lebih baik aku akhiri semuanya.


Dirumah Bandung banyak kerabat yang datang untuk melawat, banyak ucapan belasungkawa kuterima hingga Mama di bawa ketempat peristirahatan terakhirnya, aku benar-benar masih tidak percaya bahwa begitu cepat beliau meninggalkanku, masih banyak hal yang tidak dapat aku kerjakan sendiri, air mata ini terus menetes.


***


Seusai pemakaman Mama sudah ada seminggu aku siap-siap ke Balikpapan untuk menjemput Abrisyam, kali ini kami akan naik penerbangan jam dua siang.

__ADS_1


Selama perjalanan ke Bandara Andra tampak sangat bahagia dengan celotehannya yang masih kurang jelas seperti mengucapkan kata mobil menjadi obing.


Saat di dalam pesawat sempat ada rasa khawatir karena sedang terjadi hujan jadi pesawat ini berputar-putar di udara ada sekitar 30 menit, apakah kami akan selamat sempat terbesit jika memang aku tidak selamat setidaknya aku berdoa semoga Aldo bisa menjaga Abrisyam sebaik mungkin.


Akhirnya pesawat bisa mendarat walau sempat ada hentakan yang sangat keras, Aku mulai menaikin bis untuk ke pintu kedatangan.


Kulihat Abrisyam sudah menjemput di pintu keluar air mata ini menetes akhirnya aku bisa memilikinya seutuhnya, di sebelahnya ada Aldo dan Zahra.


"Terimkasih ya Do kamu sudah berubah sepertinya, terimakasih Zahra atas kebaikanmu." ucapku.


"Aku paham semuanya Selvi dari suratmu saat itu, saat aku menerima Aldo dia juga sudah siap belajar menjadi pribadi yang baik," ucap Zahra.


"Lebih baik seperti itu," jawab Aldo menyerahkan buku diary yang pernah ku baca.


"Apa ini?" tanyaku.


"Kamu kan yang meletakkan di kamar Abrisyam, apa ini tulisanmu untuk sengaja menjebak agar aku percaya dengan semua cerita ini," tuduhnya.


"Demi Allah itu bukan tulisanku, saat itu aku menemukannya tergeletak di bawah di dalam kamarmu, maaf jika aku lancang masuk dan mengambilnya, lalu kubawa ke kamar Abrisyam dan kubaca, tetapi karena ada seseorang yang seakan mengawasiku, akhirnya ku letakkan di nakas kamar Abrisyam, belum selesai aku membacanya aku keburu dapat kabar Mama sakit," jelasku.


"Ya sudah kalau begitu ini jadi rahasia kita bertiga saja, apa kamu masih mau dengan Papiku?" tanyanya.

__ADS_1


"Itulah yang menjadi alasanku untuk meninggalkan Papimu," jawabku lagi.


"Apakah kamu akan membawa Abrisyam pergi dariku?" tanyanya.


"Itu lebih baik agar kamu bisa belajar mencintai Zahra seutuhnya, biarlah aku dan anak-anakmu menjadi masalalu, aku tidak ingin kami menjadi penghalang masa depanmu, bukan berarti aku melarangmu untuk bertemu mereka tetapi suatu saat mereka akan paham apa maksduku," jelasku lagi.


Ada perasaan lega bisa melepas semua ini dan mulai hidup yang lebih baik lagi bersama anak-anakku, sengaja ini alasan yang tepat untuk menjauhkan mereka dari keluarga yang tidak beres ini.


"Apakah Abrisyam siap pergi dengan Bunda?" tanyaku.


Dia hanya menganggukkan kepalanya dan berpamitan kepada ayah dan Ibu sambungnya, ada senyum kebahagiaan di wajah Abrisyam dan Andra.


"Kami pamit ya Aldo doakan kami bisa bahagia."


Kamipun meninggalkan mereka Abrisyam memeluk Ayahnya erat dan melepaskan kecupan sayang untuk Zahra dan aldo, mereka tetap menatap kami hingga benar-benar tak terlihat lagi.


Sejak saat itu aku sudah mulai melepas semua kontak dengan mereka dan kujalani hidupku dengan ke dua Anak-anakku seorang diri.


...----------------------‐--------Tamat-------------------------‐--‐---...


Terimakasih ya yang sudah baca ceritaku maaf jika sempat lama up nya dan mungkin masih banyak Typo nya, boleh mampir di ceritaku yang lain ya, saat ini aku lagi garap cerita di Nome, jadi bolehlah mampir kemana aja baca juga cerita yang lainnya love love love buat kalian semuanya

__ADS_1


__ADS_2