
Selvi
Ah kacau nya aku kenapa aku bisa sepolos ini cerita semuanya dengan Zahra, akhirnya aku terlihat lemah.
Langkahku cepat menuju kembali keruangan Abrisyam.
Bodohnya aku, memang Zahra terlihat baik dan lemah lembut ada rasa kasihan tetapi, aku baru mengenalnya sedangkan dia nantinya akan menjadi istri mantan suamiku. Seharusnya tidak perlu aku menceritakan semuanya biar saja dia merasakan apa yang kurasa agar dia tahu betapa Virgin membuatku tersiksa, biar bagaimana dia saudara nya Virgin sedangkan aku siapa? aku bukan siapa-siapa. Dia pasti mempercayai Virgin daripada aku, percuma aku menceritakan semua ini.
Sepanjang jalan Selvi merasa menyesal menceritakan semua masalahnya dengan Zahra tetapi di sisi lain ada rasa lega karena, berusaha membuka kebenaran tentang Nenek sihir brengsek itu.
"Selvi!" panggil Papi sedari tadi yang melihat Selvi sejak masuk ruangan seakan kosong ntah kemana pikirannya.
"Oh! ma-af Pi," terkejut jadi salah tingkah aku di buatnya.
"Kenapa Selvi, seperti habis menangis," tanya Papi memastikan keadaanku saat ini.
"Hem, tenang saja saya baik-baik saja Pi," kilahku.
"O,ia ntar malam biar Aldo yang menjaga Abrisyam, kamu temani Papi acara peresmian kerjasama anak perusahaan ya?" pintanya.
"Bolehlah Pi, sepertinya saya butuh hiburan," jawab Selvi.
...****************...
Malam ini aku mengunakan gaun merah dengan sedikit belahan di bagian sebelah kiri dan atasan berbentuk kemben, ku gunakan blezzer tanpa kancing agar tampilannya sempurna.
Saat aku melangkah keluar dari bilik kamar yang terpisah dengan kamar Papi tetapi tampak satu pintu dari luar.
Sempat ada rasa risih melihat tatapan liar mata Papi yang memperhatikan penampilanku malam ini, lebih serem lagi saat dia seperti meneguk air, semoga aku selamat dari singa kelaparan yang berada di hadapanku ini.
"Ayo Pi," ajak ku.
Papi masih tak berkata dan tertegun memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kaki, bukan menjawab ajakanku melainkan memujiku hingga terdengar.
"Betapa bodohnya Lelaki yang meninggalkan wanita secantik ini, seandainya aku dan dia benar-benar menjadi Suami Istri bahagianya aku memiliki istri secantik ini," gumamnya membuatku lebih takut akan perasaan dia sebenarnya denganku.
Aku segera menyadarkan lamunanya yang mulai ntah ngelantur kemana, "Pi? hellow," sapa ku melambaikan tanggan tepat di depan wajahnya.
"Eh, ma-af. Selvi luar biasa cantiknya," pujinya.
"Ayo Pi, soalnya Selvi takut ada apa-apa dengan Abrisyam," perintahku agar kami segera pergi.
Saat membuka pintu ada seseorang yang seperti keluar dari Neraka jahanam, wajahnya benar-benar terbakar cemburu.
"Hey, wanita pelakor. Mau kemana kamu secantik itu?"
"Memangnya kamu tidak lihat?" tanyaku.
"Pi!" teriaknya
__ADS_1
"Seharusnya malam ini kita pergi bersama di peresmian kerjasama anak perusahaan, mengapa Papi membawa pelakor ini!" bentaknya semena-mena.
"Malas mendengarkan bacotanmu yang tidak berfaedah, tunggu saja surat cerai dariku," ucap Papi lagi seakan menegaskan bahwa dia akan berpisah dengan istrinya.
Aku terperanjat, dalam hati berbisik "Serius ini orang tua bakal ninggalin nenek peyot, wah kalau begitu aku berhasil, akan kupanasi dia biar makin kesal." senyum jahat menyerigai di wajahku.
Dengan nada manja," Serius Pi bakalan nyerein ini nenek peyot?" tanyaku belagak bahagia.
"Iya sayang dan malam ini akan banyak kado terindah buatmu," jawab Papi mesra dengan mencubit pipiku.
Tahan Selvi demi akting dan balas dendam iyain aja di cowel pipimu dengan kakek-kakek.
"Ugh, bahagianya berarti nanti aku jadi istri satu-satunya ya sayang," jawabku sambil tersenyum nakal membuat nenek peyot itu makin marah.
"Papi!" teriaknya.
Teriakan itu memenuhi semua ruangan, hingga kami terkejut.
"Eh wanita tua, nyaring juga suaramu seperti geledek nyasar, bagaimana rasanya di perlakukan tidak adil oleh suamimu sendiri, ini tidak seberapa di bandingkan dengan rasa sakit yang kau tancapkan di dadaku, sakitnya itu tidak akan terobati, karena kamu dan anakmu aku kehilangan orang-orang yang kucintai bahkan aku kehilangan hati sehingga aku seakan tak punya hati," cercaku, akupun belenggang meninggalkannya yang masih terduduk kesal akibat kenyataan pahit yang harus di terimanya.
Dilemparkannya sepatunya, untung meleset dan terkena kakinya Papi, hingga membuat dia geram dan menghampiri wanita itu.
Plak!
Suara itu benar-benar membuat aku tercengang apalagi wanita yang menerima tamparan itu ugh pasti sakit banget ya thor ( ups hehehehe iya sakit)
"Aw!" teriaknya kesakitan
"Hikz,hikz! Papi kamu tega, aku tidak akan pernah mau bercerai Pi inggat perusahaan ini milikku!" ancamnya
"Terserah kamu mau bilang apa, Sebagian perusahaa adalah sahamku, kecuali jika kamu mau bergabung dengan Anak kesayanganmu yang tidak tahu diri itu," bentak Papi lagi.
"Ayo Selvi abaikan saja dia," ajak Papi.
"Jangan menangis terus nanti kalah loh cantiknya sama saya," ejekku meninggalkannya.
...****************...
Aku turun bagai tuan putri melewati karpet merah malam ini semua mata tertuju padaku, ada decak kagum dari mereka saat itu tanpa aku sadari aku bertemu Adrian, hampir terlupakan jika dia salah satu relasi di perusahaan Aldo tentu saja acara seperti ini dia pun hadir.
Mata Adrian juga tidak berkedip hanya tertuju padaku sedangkan disebelahnya ada sosok wanita yang aku kenal tidak lain dia adalah salah satu teman di sekolah kami.
Aku mulai mengingatnya lagi oh, iya dia gadis yang di jodohkan dengan Adrian tetapi setiap di sekolah di abaikannya.
Luar biasa dia saat ini sudah berhijab senyumnya juga luar biasa sangat manis tetapi kenapa Adrian masih menatapku seperti itu.
"Hai," sapaku.
"Selvi kamu tidak salah? bukannya kamu itu istrinya Aldo anaknya kenapa kamu datang sama Bapaknya?" bisik Adrian tanpa berpikir ada hati yang terkejut disebelahnya.
__ADS_1
Mudahan saja istrinya paham bahwa suaminya saat ini sedang kepo maksimal.
"Panjang ceritanya?" jawabku singkat.
"Kontakmu masih yang lama bukan?" tanya nya lagi
"Iya,"jawab ku sembari tetap mendampingi Papi Fredik.
Ada bisik-bisik yang tidak enak di telingaku. Tetapi ku abaikan saja, itu sudah resiko.
Tidak lama kemudian terlihat Aldo hadir bersama Maminya, Aku merasa kesal berarti saat ini Abrisyam sendiri di rumah sakit.
Aku mendekatinya, "Abrisyam bersama siapa?" tanyaku geram.
"Hei kamu seharusnya yang berpikir bukan malah menyalahkanku," umpatnya balik.
"Aku bertanya, jika ada apa-apa dengan Abrisyam jangan salahkan jika kamu tidak akan bertemu dia lagi selamanya, inggat terakhir kali karena perbuatanmu dia harus dirawat sampai saat ini," ancamku
"Dia sama Zahra," jawabnya ketus.
"Dasar tidak pernah punya tanggung jawab, Lelaki brengsek dan egois sedunia itu adalah kamu Aldo," umpatku balik.
"Para hadirin semua sebelum kita mulai pembukaan dan peresmian anak cabang dari Krakatau sawit kita sambut Presdir kita tercinta tuan Fredik Nugraha, Kami persilahkan untuk menyampaikan sambutan sepatah dua patah kata," ucap moderator.
Saat Papi menyampaikan sepatah dua patah kata ada pernyataan yang membuat semua orang tertegun.
"Perusahaan ini nantinya akan di pegang oleh dua Orang Presiden Direktur yaitu anak saya Aldo Nugraha. Saya ingin mengenalkan Istri saya Selvia Anastasya saat ini dia masih menjadi yang kedua tetapi bulan depan dia akan menjadi yang pertama dan terbaik dalam hidup saya," ucapan Papi Fredik benar-benar menusuk dan membuat malu Mami.
Di depan keluarga besarnya yang juga merupakan kolega di perusahaan itu dia di permalukan, ini balasan dari perlakuan dia selama ini ke Fredik.
Selama menikah dia selalu membuat malu dan merendahkan Fredik di depan keluarga besarnya.
"Fredrik Nugraha! Brengsek kau!" teriaknya membuat semua mata tertuju menatapnya rendah.
Bersambung....
Hai janggan lupa vote ya,
Bantu kasih bintang 5 dong biar aku gak terjun bebas dan masih bisa eksis lagi.
Buat yang mau berkenalan lagi dengan aku boleh deh mampir di ig atau fb ku.
Ig : indraqilasyamil
fb: indraqilasyamil
Aku menunggu jejak kalian di kolom komentar bantu share ya biar banyak yang bisa jatuh cinta dengan Novelku ini.
Love love love buat kalian semua...
__ADS_1
maafkan ke typo an aku ya mudahan jika ini sudah end aku sempat memperbaikinya.💞💞💞💞💋💋💋💋