DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Akhirnya


__ADS_3

Suasana kembali sunyi Abrisyam sudah kembali tidur, Aku sibuk dengan memainkan gawaiku , begitu juga dengan Zahra dan Aldo. Saat ini aku seperti obat nyamuk di antara mereka ntah sengaja atau tidak Aldo seakan memberi perhatian lebih ke Zahra.


Sekitar setengah jam pintu ruangan itu terbuka, terlihat Papi mengenakan jas hitam dan di dampingi sekertarisnya yang tidak lain simpanan Papi. Aku pun mengampiri, mungkin Papi sadar dengan apa yang kurasakan saat ini dia memberikan kecupan sayang di dahiku sehingga membuat wajah Aldo berubah memerah cemburu.


"Maaf sayang selama keluar kota tidak dapat memberi kabar, tapi sekarang jangan khawatir setiap hari saya akan menemanimu disini," ucap Papi, seakan sengaja tangannya dilingkarkan di pingangku sambil membenahi rambutku yang tertutup di mata.


Aku mencuri pandang memperhatikan bagaimana reaksi Aldo saat ini, Ku dapati tangannya mengepal geram tapi seperti di tahan karena, ada Zahra tepat duduk disebelahnya.


Sengaja aku membalas perkataan Papi dan membiarkannya memeluk pinggangku, "Tidak apa-apa sayang Saya masih bisa menangani sendiri, jangan sibuk mengkhawatirkanku saja disapa dahulu Zahra dan Aldo mereka sudah menemaniku dari tadi," pintaku sembari menunjuk kearah Aldo dan Zahra.


"Terimakasih Zahra sudah bersedia menemani Selvi disini," sapanya.


"Oh, Iya Om. Bagaimana perjalanannya Om selama diluar Kota?" tanya Zahra memecah suasana.


"Alhamdulillah lancar, seharusnya Aldo yang mengurus semua ini tetapi dia sibuk dengan dunianya," sindir Papi.


"Bagaimana Aldo mau mengurusi jika Papi sibuk dengan Istri muda Papi yang sangat di sayangi,"celetuknya penuh dengan amarah, seakan inggin mengajak pertengkaran.


Terlihat tangan Zahra menahan agar Aldo tidak emosi, sehingga Aldo kembali duduk di sofa dan membuka majalah ntah sadar atau tidak posisi majalah itu terbalik.


Inggin tertawa tapi aku tahan karena, suasana saat itu berubah memanas bukan hanya tentang kecemburuan tetapi juga tentang tanggung jawab seorang anak untuk meneruskan perusahaan.


Zahra segera membalik majalah yang di baca Aldo, dengan tatapan mata penuh isyarat agar dia tenang dan menurut.


"Oh seperti itu ya Om, mudahan setelah menikah nanti Aldo bisa benar-benar terjun ke perusahaan ya Om," balas Zahra lagi seakan berusaha mendinginkan suasana.


"Iya Zahra semoga saja dia bisa berubah dan lebih bertanggung jawab hingga tidak jatuh di kesalahan yang sama," jawab Papi.


"Tidak akan mungkin jatuh ke tempat yang salah, kecuali Papi mau merebut Istri Aldo lagi," celetuknya sinis tanpa melihat wajah Papi dan tetap fokus membaca majalah.


"Maksudmu?" tangan Papi sudah hampir menamparnya tapi segera ku tahan.


"Pakai nanya lagi! sudah jelas -jelas, tidak perlu di perjelas dong Pi semuanya fakta," sindirnya lagi seakan memang mengumpan permasalahan.


"Semua tidak akan terjadi jika seseorang itu bisa lebih bertangung jawab bukan malah bersembunyi di ketiak Ibunya yang egois," celetukku karena, merasa Aldo sudah kelewat batas.

__ADS_1


Perkiraanku Aldo akan tetap santai tetapi yang ada dia benar - benar emosi.


"Jadi kamu berpaling karena, sakit hati denganku sayang, seharusnya kamu sakiti aku jangan seperti ini dia Papiku orang yang membesarkanku, kenapa Selvi?" tanyanya yang langsung mendekati dan mencengkeram lenganku.


"Masih bertanya sesuatu yang faktanya saja kamu sudah tahu dan sakit yang kamu rasakan apa sebanding dengan perbuatanmu selama ini yang membuat aku kehilangan Ayahku dan masa depanku, lalu dengan aku memiliki ayahmu katamu menyakitimu! sebandingkah itu?" cercaku meluapkan emosi yang tertahan selama ini.


Sedangkan Zahra berdiri dan berusaha menenangkan Aldo dengan berbisik di belakangnya, "Sudah Aldo tenang, kasihan Abrisyam sedang tidur jika kamu mau beradu mulut lebih baik keluar dari sini, aku Ikhlas menjaganya."


"Itu dengar perkataan wanita yang baik hati ini, semoga kamu bisa sadar dan tidak menyakitinya seperti kamu menyakitiku dulu, jika boleh memutar waktu aku tidak akan pernah sudi menemuimu lagi setelah melahirkan Abrisyam," umpatku lagi.


"Zahra titip Abrisyam ya, Om bawa Selvi keluar dahulu suasananya tidak baik sepertinya," pinta Papi.


"Baik Om," jawab Zahra.


Papi segera membawaku keluar dari ruangan itu, Aku terpaksa ikut dengannya demi anakku saat ini dia perlu istirahat yang cukup.


"Seandainya saat ini Abrisyam tidak sakit inggin rasanya meluapkan semua yang inggin aku tuntut dari dia Pi," ujarku.


"Sudahlah abaikan dia sementara fokus untuk kesembuhan Abrisyam, ayo makan dahulu pasti Selvi belum makan," ajaknya.


"Hai Mi," sapa nya seakan mengejek.


"Tak sudi lihat kalian, cuih!" umpat Mami memasang muka masam.


"Loh kenapa marah toh selama ini Mami mengabaikan Papi dengan mementingkan kehidupan sosialita," sindir Papi lagi.


"Dasar tidak tahu malu, pergi kau perempuan tidak tahu diri," umpatnya dengan tangan berusaha menarik Papi tapi malah di tolak.


Aku ingin tertawa terbahak tapi hanya kuberikan tawa kemenangan, betapa sakitnya di tolak suami sendiri. Dalam hatiku ini belum seberapa di bandingkan penderitaan yang kau berikan kepadaku.


"Sudahlah sayang abaikan wanita tua itu kan ada aku disini," ledekku lagi memanas-manasi wanita tua itu.


"Baik sayang, dada Mami jangan lupa minum obat biar gak kena serangan jantung," ujar Papi sambil tertawa.


Selama perjalanan sepertinya dia mengumpat, mungkin dia menyesal kerumah sakit saat ini apa daya jika tidak datang maka Aldo akan marah dengannya karena seakan mengabaikan cucunya.

__ADS_1


"Selvi sepertinya kita harus segera kembali," ucap Papi.


"Benar Pi dengan melihat kebersamaan kita mereka akan semakin menyesal dan emosi, mudahan saja tidak darah tinggi ya Pi," sahutku.


"Hahaha, ada-ada saja kamu," tawa Papi pun pecah.


Aku sama Papi asik tertawa membahas kedua manusia itu tanpa kusadari asisten di belakan yang merupakan wanitanya Papi tampak merasa cemburu dengan kelakuan yang sengaja kami buat tadi.


"Saya pesan salad dan jus jeruk," ucapku kepada pelayan.


Saat kulihat raut wajahnya segera aku ijin kebelakang sebentar, untuk menjauh dari mereka gawaiku sudah dalam posisi on merekam pembicaraannya.


Mereka terlihat seperti bertengkar kecil saat kepergianku, akan kudengarkan nanti jika aku sedang sendiri.


Saat aku kembali mereka sudah terlihat menikmati makanan, akupun menyelesaikan pesananku yang sudah datang kunikmati satu persatu.


"Pi sebaiknya kita cepat kembali soalnya Selvi khawatir dengan Abrisyam," pintaku.


"Baiklah," jawab Papi.


Tetapi aku salah fokus dengan wanita itu matanya tampak sembab ada perasaan penuh tanda tanya sebenarnya ada apa ini sehingga wanita itu menangis, biasanya dia terlihat baik-baik saja.


Ku buka pintu kamar itu terlihat Aldo duduk tepat bersebelahan dengan Zahra tertawa dan bercanda, di sebelah Aldo juga ada Maminya.


"O,ia sayang nanti sore Aku kesini lagi, Kamu baik-baik saja ya jaga diri dari dua makhluk kejam itu," ucap Papi sambil mengecup kening ini dan sengaja merangkul pingangku.


"Iya," balasku sambil takzim dengannya.


Tiba-tiba Aldo tersulut emosi menepis tanganku yang sedang berpegangan dengan Papinya.


"Kalian tidak tahu diri, beraninya bermesraan di depan Mami. Apa kalian tidak sadar ada hati yang terluka!" ucapnya kasar.


"Hello tuan Aldo Nugraha kemana hati orang yang kau jaga itu! saat kau bawa wanita yang bernama Virgin kerumah, sedangkan pada saat itu aku yang istrimu sah sedang mengandung, dibiarkannya kamu bermesraan di depan istrimu, bahkan kemana hati wanita itu yang membiarkan putranya bersenang-senang sedangkan istrinya seperti pembantu," sindirku penuh dengan makna sehingga membuat Zahra kaget dan tersedak.


Maaf Zahra kamu harus mengetahui kenyataan calon Ibu mertuamu dan bagaimana sepupumu sebenarnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2