DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Prahara ke 2 di rumah Aldo


__ADS_3

Alhamdulillah sudah sampai episode 60 ya, Makin seru nih biar seru sambil ambil cemilan terbaik mu ya, Aku lanjutin ceritanya.


...----------------...


Aldo


Aku sedari tadi masih bingung kenapa senyumanku tidak di balas Selvi. Apakah Dia masih marah dengan kejadian tadi di rumahnya.


Ah Aku yang akan membuka pembicaraan "Maafkan Aku ya Sayang Karena membuaymu terkejut."


Mami langsung menepiskan wajahku."Aldo!"


dengan sedikit teriakan emosi.


"Kenapa Mi. Selvi datang kesini untuk mendapatkan penjelasan dariku. Oke meang Aku dan Dia sudah bukan Suami Istri tapi ada Abrisyam di antara Kami. Jadi tidak ada salahnya Aku masih berhubungan baik dengannya dan tetap memanggilnya Sayang."


"Salah!" teriak Mami." Salah besar karena,Wanita itu sekarang bukan lagi menjadi mantan Istrimu tapi Dia sekarang adalah Ibu tirimu."


Aku seakan tak percaya dengan ucapan Mami barusan. Petir seakan menyambar nyambar di telingaku. Terdiam dan terpaku berdiri disini.


"Mami berbohong kan?" tanyaku. " Iyakan Pi, Mami bohong kan sama Aldo."


Siapapun bantu jawab apakah semua ini benar, Aku bagaikan debu yang tak tahu arah dengan pernyataan ini seperti di bawa badai angin topan terbang ntah kemana.


"Terserah jika mau percaya atau tidak dengan Mami tanya lah Papi mu hanya Dia yang tahu jawabannya." dengan berlalu pergi meninggalkanku hang masih terpakubdengan pernyataannya barusan.


"Iya Aldo sekarang Aku dan Papi mu adalah Suami Istri dan mulai hari ini Aku akan tinggal disini." Jawaban Selvi merupakan pukulan terberat bagiku.


*Kenapa musti Kamu yang menjelaskannya Selvi harapanku Kamubmembantah semua ini tapi kenapa Kamu yang harus menjelaskannya itu seperti luka sayatan yang mencabik cabik hatiku. perih tapi tak berdarah. Mungkin inikah caramu membalas perbuatanku selama ini.


Saat ini Aku hanya butuh pertolongan dari Siapapun yang bisa menjadi penolong dadakan*.


"Kamu berbohong kan Sayang." Aku berusaha mencari jawaban lain dari bibirnya Selvi.


"Benar Aldo jadi, mulai hari ini Kamu memanggil Aku Ibu atau Mama. Pilihlah kata-kata yang Kau senangi dan satu hal lagi jaga sikap dan ucapanmu jangan pernah Kau mengharapkan Aku kembali."


"Cih, persetan dengan ucapanmu bahkan Aku merasa jijik untuk memangilmu dwngan sebutan itu. Aku salah menilaimu selama ini Denban semua ini Kamu membuat Aku menyesal mencintaimu." caci Ku.


Selvi seandainya Kamu tahu semua kata-kata amarah itu menutupi rasa kekecewaanku padamu. Seandainya Kamu tahu Aku masih sangat mencintaimu. Wajahku saat ini terlihat tegar tapi hatiku hancur Selvi kenapa Kamu lakukan ini kepadaku.

__ADS_1


"Oke jika memang Papi mau membawa Wanita ini satu atap, Aku akan pergi dari sini." ancam Ku.


"Silahkan jika itu maumu, tapi jangan slahkan Papi jika semua fasilitas yang Kamu nikmati slama ini Papi cabut. Satu lagi Aldo hormati Selvi karena Dia saat ini asalah Istrinya Papi." Perintah Papi tak kalah seram dari biasanya.


*Papi yang selama ini baik dan seakan penyelamat pernikahanku dengan Selvi ternyata tidak lebih dari jarum yang berada di tumpukan jerami lama-lama menusuk juga.


Kenapa harus dengan Papi tidak adakah laki-laki lain di dunia ini. Kecurigaanku terjawab pantas saja Selama ini Papi bisa berhubungan dengan Selvi ternyata. Aku tidak bisa membayangkan semuanya teringat Vidio yang di kirimkan ke ponselku*.


"Jangan-jangan Lelaki yang berada di Vidio hari itu adalah Papi." cercahku dengan pertanyaan.


"Maksudmu?" tanya Selvi seakan tidak tahu menahu tentang Vidio yang di tanyakan Aldo.


"Ya Vidio Dirimu dengan Suamimu." Belum sempat Selvi bertanya lagi.


Papi langsung memotong pembicaraan ini. "Ayolah Kita masuk abaikan saja pertanyaan tidak jelasnya. Dia hanya mencari alasan saja." Mereka meninggalkanku yang masih shock dengan kenyataan ini.


*Aku masih tidak habis pikir perasaan baru kemaren Dia sebagai pacarku, sebagai Istriku dan mantan Istriku kenapa saat ini Dia menjadi Istri muda Papi ku.


Arggghhhhhhh*!


Teriakan kekecewaan Aldo membuat satu rumah itu tertegun. Sehingga beberapa pelayan berbisik danenjauh agar tidak menjadi sasaran amarahnya.


...----------------...


Selvi


Keterlaluan Kamu Selvi jika Mama mu tahu pasti Dia akan kecewa denganmu apapun alasanmu ini tidak bisa di benarkan.


Tetapi seakan ada lagi yang berbisik mendukung semua perbuatan yang kulakukan.


Bagus Selvi ini langkah awal yang baik beri mereka pelajaran ini hari pertamamu di sini tunjukkan selayaknya Suami Istri yang benar agar Mereka paham apa arti berumah tangga tanpa menyakiti pasangannya. Lanjutkan Selvi jangan kasih kendor semangatmu. Abaikan semua bisikan yang melarangmu. Hanya dengan ini Kau bisa memberi pelajaran kepada Aldo dan Mertuamu hang jahat itu.


"Selvi."


"Ya,Pi."


"Ini kamar sesuai seperti desain yang Kamu mau. 1 kamar dengan 3 ruangan. Ruangan Privasimu dengan tempat tidurmu, ruang kamar Papi seakan 1 Kamar denganmu , dan Ruang kerja beserta tempat santai untukmu."


"Persis reques Selvi dengan begini tidak ada yang curiga jika ruangan tempat tidur kita terpisah Pi."

__ADS_1


"O,ia ini untuk apa ya di taruh dekat dengan pintu."


"Ini fungsinya untuk ini Pi ."


Aku mengeluarkan flasdisc dan ku pasang di mini salon lalu Aku pencet deh disitu ada suara-suara seakan seseorang menikmati kegiatan Suami Istri sehingga akan memancing Seseorang untuk mendengarkan dan mencari tahu.


"Hahahaha" tawa Papi mendengar suara-suara itu. "Papi tahu fungsi CCTV ini pasti untuk memantau siapa saja yang kepo iyakan?"


Aku mengangguk sambil tertawa. Belum juga Aku memutar suara-suara itu terlihat dari layar CCTV yang berada di kamarku ada seseorang hang tidak lain Mami nya Aldo sedang berusaha mencuri dengar di depan pintu.


Muncul keisenganku untuk makin membuatnya marah. Kunyaringkan suara -suara panas itu sehingga membuat Dia marah dan seakan inggin membuka pintu. habis itu sengaja Aku suruh Papi untuk berpura pura tidur di tempat tidur.


Aku segera menganti baju dengan piyama dan rambut ku gulung handuk. Wanita itu masih belum bergerak dari tempatnya mencuri dengar.


Langsung Ku buka pintu Kamar dan Dia terperanjat Kaget. " Daripada mengintip dari situ tidak akan terlihat, sini masuk boleh kok melihat adegan -adegan kemesraan Kami. " Ledekku memancing Kemarahannya.


"Cih, dasar Wanita tidak punya malu. Setidaknya Kamu sudah mendapat bekasku." cacinya.


"Hellow Nenek Tua yang sudah keriputan. Nyadar diri dong memangnya terakhir Kamu berhubungan dengannya Kapan." balasku dengan nada ejekan tak kalah menyakitkan Papi memanggilku dengan panggilan mesra.


"Sayang, tutup lagi pintunya boleh di ulang tidak.Papi masi mau biarkan Dia di luar sana agar tidak merusak pemandangan. Aku hanya inggin memandangmu saja." Ucapan Papi membuat Wanita Tua itu emosi dan mendatangi Papi yang pura pura tidur di tutup selimut.


"Dasar Laki-laki tidak tahu malu. Kamu dulu bukan siapa-siap jika tidak menikah denganku mungkin Kamu saat ini jadi gelandangan di jalanan sana." cerca Mami Aldo dengan Cacian dan hinaan yang selalu merendahkan Papi Fredrik.


Plakkkk...


Suara tamparan itu sangat nyaring sehingga Aku pun sempat terpaku dan terdiam.


"Hei! Jaga ucapanmu. Cukup selama ini Kau merendahkanKu dihadapan semua Orang dengan ucapanmu itu Kamu pantas menerima semua ini sekarang." Tangan Papi seakan masih geram dan inggin memukulnya lagi.


"Tampar lagi Pi. Jika, masih belum puas." tantang Mami.


"Tamparan ini tidak sakit dengan perasaanku yang Kamu jatuhkan di depan keluarga dan rekan-rekanmu. Sebab itu saa ini juga keluar dari Kamar ini dan ini adalah tuang privasiku dengan Istri tersayang yang lebih bisa menghormatiku dari pada Kamu. Selama ini Aku diam tapi mulai hari ini Kamu harus menurut dengan Dia juga atau" belum selesai Papi berkata.


"Atau apa Pi.Jawab atau apa?" tantang Mami lagi tak kalah nyolotnya dengan tangan di pinggang seakan menantang ucapan Papi.


"Atau Kamu tahu sendiri akibatnya."


"Duh Nenek tua cepat keluar hus hus hus. Aku mau istirahat dengan Suamiku tercinta." sambil kutarik keluar tubuhnya saat Dia akan memukulku segera ku tangkap tangannya. "Inggat dan catat baik-baik Aku bukan menantumu yang penurut dan mengalah dahulu. camkan itu." bisikku dengan penuh tekanan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2