
POV
Zahra
Sore itu Aku sedang berada di rumah tanteku di daerah Bolevard Balikpapan Baru. Saat di sana Aku bermain dan berselancar di media sosial.
Miris lihat berita kecelakaan yang terjadi di daerah Manggar. Aku pun memperlihatkan plat kendaraan tersebut ke Aunty.
Astagfirullah.....
Zahra... Hiks, Hiks
"Kenapa Aunty?" tanyaku
"Papi!." teriaknya
Tidak lama Paman Ku pun menghampiri Kami.
"Kenapa Aunty Mu menaggis Zahra." tanya Pamanku.
"Saya juga bingung saat Saya beritahu berita ini Aunty langsung histeris." Sambil Aku melihatkan Video kecelakaan yang sedang Viral di Berita Balikpapan grup Facebook.
"Sabar ya Mi. Papi akan menghubungi Papinya Aldo." Paman menenangkan Aunty dan segera menghubungi Seseorang yang mungkin Ayahnya Aldo.
Mendengar Nama itu seperti tidak asing bagiku. Tapi di mana? Aku berusaha menginggat nya. Hingga Paman menyuruh Kami bersiap-siap untuk Ke rumah Sakit.
Paman dan Aunty seperti Orang Tua Kandungku semenjak Ayah dan Ibu Ku kecelakaan pesawat sejak itulah Aku di besarkan Mereka. Walaupun Mereka mewariskan Aku beberapa perusahaan sebelum meninggal yang saat ini perusahaan itu di kelola oleh Paman Ku. Tapi Aku tetap berusaha Mandiri. Karena, Aku tidak mau menjadi manja dan egois seperti Virgin Anak Mereka.
Kami pun bergegas menuju Rumah Sakit. Aunty tampak menangis sepanjang jalan.
"Pi, Virgin baik-baik saja kan." tanya Aunty.
Tetapi Pamanku tetap diam tanpa ada satu kata pun yang terucap. Wajahnya tampak seperti hidup tapi tak bernyawa. Aku penasaran, Apakah Korban meninggal itu adalah Virgin dan calon Bayi nya. Aku tidak bisa berspekulasi. Jawaban hanya ada saat Kami sampai di rumah Sakit.
Saat Kami parkirkan kendaraan di sana Paman menyapa Lelaki Seumuran dengannya sedang mengendong Bocah Kecil yang lucu. Sesekali Aku melemparkan senyuman ke Anak itu.
Kami bersama - sama melangkahkan kaki Kami menuju UGD. Hingga bertemu perempuan yang menurutKu Istri dari Bapak itu, Air mata mereka masih terlihat membasahi pipi.
Namun Ibu itu berbicara dengan Suaminya seakan ada sesuatu yang sangat peting. Lalu Suaminya meninggalkan Kami.
Langkah Wanita itu lunglai saat kembali ke arah Kami. " Virgin dan Cucu Kita jeng... " Tangisnya meluap lagi.
Hingga Dia berusaha mengajak Kami bertemu Dokter jaga di UGD tersebut. Tidak berapa lama Dokterpun memangil dan mengajak Kami ke ruangan lain yang berbeda.
__ADS_1
PikiranKu kacau seharusny jika Dia baik-baik saja Kami pasti menemui Virgin di UGD, tapi ini mengarah ke suatau tempat yang terkesan sepi.
"Kamar Mayat." Kami semua terdiam hingga Aunty jatuh pingsan sebelum memasuki ruangan itu. Aku membantu Aunty untuk sadarkan Diri.
Tidak lama Aunty terlihat membuka matanya.
"Aunty sudah sadar Alhamdulillah." ucapKu lirih dan memeluk tubuhnya.
Ku bisikkan."Aunty harus Sabar ya dan Ikhlas."
"Kenapa Virgin? Dia baik-baik saja kan Zahra?" tanyanya.
Aku tidak dapat berkata - kata lagi hanya dapat ku gerakan kepalaku sebagai kode keadaan Virgin. Aku tahu hati Wanita ini hancur Dia harus kehilangan Anak semata Wayangnya.
"Zahra.... Aunty sudah gak punya Anak lagi. Tinggal Zahra yang Aunty punya." ucapnya lagi sambil menangis.
Aku hanya dapat memeluknya dan mendengarkan keluh kesahnya , tak berapa lama Dia menemui Maminya Aldo.
"Terus bagaimana kondisi Aldo." tanya Aunty
"Aldo masih belum sadar sekarang lagi di tangani Dokter, sekalian persiapan operasi." Ucap Maminya Aldo.
"Kenalkan ini Zahra, mungkin Dia bisa membantu dalam menjaga Aldo." ucap Aunty lagi memperkenalkan Diriku.
Karena, kesibukan Aku juga jarang melihat-lihat story album foto weading Mereka. Sempat sekali ingin melihatnya namun saat itu Aku harus kembali ke Cafe untuk menyelesaikan beberapa tugas laporan perkembangan Cafe Ku.
Langkah Kami pun meninggalkan lorong Kamar Jenazah. Paman mengurus semua proses untuk pemulangan dan pemakaman Jenazah Virgin dan Anaknya. Kondisi Jenazahnya saat itu benar - benar miris. Aku tak kuasa melihatnya karena di bagian perutnya terbuka bekas tergencet antara kursi dan bodi mobil.
Aunty benar - benar terpukul saat itu. Selama perjalanan Kami Dia hanya menangis.
"Aunty harus kuat, sabar dan ikhlas. Saat ini yang di butuhkan Almarhum Virgin hanya do'a dari Kita semua agar Dia bisa tenang di alam sana." bujuk Ku.
Terdengar suara panggilan dari Informasi untuk Keluarga Aldo. "Ra, ayo Kita kesana kasihan Mami Aldo saat ini mungkin Dia lebih cemas. Karena, belum tahu keadaan Anaknya saat ini. Masih bisa selamat atau tidak." ucap Aunty mengajak Ku segera menyusul Mami Aldo.
Saat di depan bagian Administrasi di ruang UGD. sepertinya Dokter jaga menginformasikan sesuatu yang sangat penting dengan kondisi Aldo. Aku dan Aunty menunggu di kursi yang tidak jauh dari tempat Mami Aldo berada.
Langkah wanita itu seperti tidak dapat di angkat. Dia menyeret kakinya lunglai. Aku segera menghampirinya dan membantu langkahnya.
"Bagaimana kondisinya Aldo?" tanya Ku.
Dia seperti susah menjawab dan tak dapat mengeluarkan satu kata pun.
"Tante tarik nafas dulu dalam - dalam agar lebih tenang." seruku sambil membantu Beliau dengan sedikit gerakan dasar.
__ADS_1
Dia pun mempraktekkan setiap gerakkan dan mulai mencoba berbicara. " Hemmmm.... Kata Dokter Aldo harus segera operasi malam ini dan harus saya pindahkan ke ruang ICU." ceritanya kepada Kami.
"Terus kata Dokternya kesempatan selamatnya hanya 1%. Kemungkinan sembuhnya juga belum bisa di pastikan Karena, kondisinya Kritis dengan luka dalam." ceritanya lagi.
"Jadi tante memutuskan Apa?"
"Saya iyakan dan gak ada salahnya mencoba saran Dokter untuk segera di Operasi." lanjut cerita Beliau.
"Mungkin itu keputusan terbaik. Menurut Ku tante sudah ambil keputusan yang tepat. Semoga Operasinya berjalan lancar." Ucapku lagi.
...****************...
Aku masih disini menemani mereka dan kondisi Mereka Berdua masih harap - harap cemas dengan hasil yang Dokter berikan. Karena, Sudah 4 Jam Kami menunggu belum ada kabar lagi.
Hati ini penasaran seperti apa wajah Aldo. Aku putuskan sesampainya di rumah Aku akan bongkar Album foto.
"Zahra...." panggil Mama Virgin.
"Iya Aunty."jawab Ku.
"Bisa cari minum Sayang soalnya tenggorokan Aunty sedikit Sakit." pintanya.
Aku hanya melemparkan tanda Oke dengan tanganku. Segera Aku meninggalkan mereka berdua.
Saat Aku kembali pintu Operasi sudah di buka dan Pasien tampak segera di bawa kembali keruang ICU. Aku berpapasan dengan Mereka dan mata ini seperti tidak percaya ternyata Aldo ini adalah langanan di Cafe Ku yang kebetulan juga beberapa kali Ku temani bersenda gurau.
"Pantas Aku sempat kehilangan Sosok Dia di Cafe Ku. Ternyata Dia sedang berlibur dengan Virgin." Aku berbicara dalam hati.
"Dia pasti sangat terpukul. Karena, Istri dan Calon Anaknya meninggal dalam kecelakaan itu." Gumamku dalam hati.
Langkahku semakin cepat berusaha menyamai langkah Mereka. Hingga Kami sampai di ruang ICU tanpa boleh ikut kedalam ruangan itu.
Sekitar satu setengah jam Kami di depan ruang ICU. Hingga Kami di panggil lagi oleh salah satu Doktern untuk memberitahukan bahwa Aldo masih belum sadar dan memerlukan perawatan maksimal.
Tidak lama gawai Ku berbunyi. Panggilan dari Pamanku.
"Assalamuallaikum, Zahra bawa pulang Aunty ya. Karena, pemakaman Virgin dan Bayinya sekitar jam 11 siang." ucap Pamanku.
"Siap Paman." jawab Ku cepat.
Kudatangi lagi Aunty untuk memberitahukan pesan Pamanku. " Aunty Kita pulang yuk soalnya jam 11 Virgin dan Anaknya akan di KeBumikan.
Kami pun berpamitan dengan Maminya Aldo dan Aku segera membawa kendaraanku melaju di dinginnya Angin tengah Malam. Saat ini waktu menunjukkan Jam 3.00 pagi. Gelapnya saat itu membuat Aku sedikit merinding. Hingga Mobil ini kembali memasuki kawasan Boulevard.
__ADS_1
Bersambung.....