DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Amel


__ADS_3

POV


Amel


Sudah setahun sejak pernikahan Selvi akhirnya Aku bisa menginjakkan kakiku lagi di Kota Bandung . Saat Aku menginjak Bandara ku langkahkan kakiku untuk melanjutkan perjalanan menggunakan Travel. Aku tidak akan pulang kali ini Aku akan mampir ke rumah Selvi terlebih dahulu. Semua ini sudah Aku rencanakan semenjak Aku berangkat dari Bandara di Kalimantan Timur.


Mobil Travel ini pun melaju kencang lumayan lama perjalanan dari Jakarta menuju Bandung. Selama perjalanan ku nikmati semua lagu hang di bawakan grup Band Padi dan Sheila On 7 Hingga tanpa kusadari sudah mulai memasuki kawasan perumahan Selvi.


Mobil pun berhenti tepat di depan rumah megah satu-satunya di kompleks ini.


“Pak tunggu sebentar ya. Saya akan mengecek ke dalam terlebih dahulu.” Ucapku karena Aku takut tidak ada orang di rumah.


Baru kulangkahkan kakiku, terlihat Mama membuka pintu seperti akan pergi ke suatu tempat.


“Tante!” Panggilku sedikit berteriak.


Senyum pun terlihat dari wajah Wanita paruh baya tersebut. Aku segera kembali ke mobil Travel berbentuk minibus itu segera ku ambil koperku dan kembali ke rumah Selvi.


“Terimakasih ya Pak.” Ucapku.


“Amel.” Mama Selvi memelukku erat.


Aku segera membalas pelukannya. “Tante apa Kabar?”


Tidak lama air matanya menetes. “Amel, kenapa baru pulang. Hiks...hiks...”


Aku mengajaknya duduk di kursi putih di taman yang beratapkan genteng seperti pendopo kecil.


“Tante cerita, Amel akan mendengarkan.” Ujarku lagi.


Akhirnya Mamanya Selvi menceritakan kejadian demi kejadian. Aku sangat sedih saat mengetahui Selvi sempat tidak sadar selama Tiga Bulan terakhir ini. Emosiku memuncak dan Aku segera mengajak Mama Selvi ke Rumah Sakit.


Selama perjalanan Mama Selvi menangis terus menceritakan semua kejadian selama Aku meninggalkan Kota Bandung.


Akhirnya mobil merah ini mulai memasuki halaman Rumah Sakit. Kami pun turun di depan pintu masuk, sementara setelah menurunkan Kami Mang Umang segera memarkirkan kendaraan itu. langkahku menyusuri Rumah Sakit penuh dengan rasa bersalah, kenapa Aku tidak mencari tahu kabar Selvi. Aku sibuk dengan Duniaku yang baru.


Ku buka pintu kamar itu terlihat Wanita dengan tubuh langsing ,putih dengan rambut ikal melihat ke arah jendela kamar dengan tatapan kosong. Miris melihat keadaan ini langsung ku peluk tubuhnya dari belakang.


"Selvi, maafkan Aku sobat." tangisku tak terbendung air mata ini mengalir sehingga membasahi pipiku.

__ADS_1


Dia pun membalikkan badan "Hiks....hiks... Am_el" Sesenggukan sedikit terbata menyebut Namaku.


"Papah, sudah ngak ada Mel." tangisnya lagi.


"Anak Ku juga di rebut Mel. hiks... hiks... sekarang Aku sendirian. Semua yang Ku cintai di rebut sama Nenek sihir itu." Aku sempat terdiam maksud Selvi siapa. Setelah Tante sedikit menaikkan alisnya Aku baru paham ternyata Ibu Mertuanya.


" Selvi yang sabar ya." bujukku seraya mengelus pundaknya.


" Sekarang sudah ada Amel dan Mamah disini. Selvi harus segera kembali menjadi Selvi yang dulu yang ceria dan Smart serta aktif." ujarku lagi menguatkannya.


"Kenapa Mereka sekejam itu ya Mel." keluhnya lagi. Seakan dia masih Dendam akan semua yang di alaminya selama ini .


Aku merasa hancur melihat keadaannya . Mungkin jika terpisah oleh Suaminya saja tidak akan sepilu ini tapi, terpisah oleh Buah Hatinya dan di tinggal Papah nya untuk selamanya seperti jatuh ketiban segala macam barang pasti nyesek banget.


Dia menangis tak henti-hentinya. Aku pun mulai geram. Aku pun ijin untuk keluar sebentar. ku buka pintu ruangan itu dan kulangkahkan kakiku secepat mungkin.


segera Aku memesan Ojek Online agar Aku cepat sampai ke tujuanku .


" Pak antar Saya ke Alamat ini. Cepat ya." sambil ku berikan secarik kertas yang sempat kutulis sebelum menuju kesini.


Aku ingat dulu Selvi pernah mengirimkan Aku message Alamat rumah Aldo. jadi ,saat Aku keluar dari ruangan di mana Selvi di rawat sambil menunggu Ojol nya tiba Ku sempatkan menyalin Alamat itu.


Akupun mulai masuk di halaman perumahan Mension Elit itu. Motor Ojol pun mulai terparkir persis di depan rumah yang cukup megah.


Ku langkahkan kaki menuju pintu gerbang yang tertutup menjulang tinggi. Disitu ada Box kotak seperti perekam suara untuk mengucapkan salam.


ku dekatkan wajahku ke kotak itu." Permisi..."


Tak lama terdengar suara dari kotak itu . " Ya, ada perlu apa ya?" tanya Wanita dengan suara sedikit serak.


" Saya temannya Aldo , mau mengantarkan materi kuliah." ujarku sedikit berbohong.


" Baik, tunggu sebentar." Balasnya dari suara yang terdengar di Box tersebut.


Aku segera menghampiri kembali Mang Ojol. "Terimakasih Pak. Orangnya sudah ada."


Tidak berapa lama pintu pagar di buka terlihat Aldo di dampingi Dua Orang Lelaki berbadan besar.


Lepasin....

__ADS_1


Suara Aldo sedikit memekik meminta agar tangannya di lepaskan dari pegangan Orang tersebut.


" Masuk Mel." ucapnya sambil melangkah ke arah taman di sebelah kiri rumahnya .


Aku mengikuti langkahnya ,menuju taman dengan beberapa kursi tampak bundar seperti potongan-potongan kayu besar. Tadinya Aku ingin menampar wajah nya tapi melihat kejadian ini membuatku mengurungkan niatku.


Aku pun duduk tidak jauh darinya . Pura-pura seakan Aku memberikannya Flasdisc agar kedua Algojo itu tidak menaruh curiga .


" Bisa tinggalkan saya sebentar " ucap Aldo kepada kedua Orang tersebut.


Segera Ku buka pertanyaan. "Kenapa semua ini Do?" tanyaku.


Dia tertunduk dan sedikit menghela nafas. "Awalnya semua ini salahku Mel. Seandainya Aku bisa tegas dan tidak bermain Api."


"Maksudmu!" tanyaku sedikit kaget bahkan suaraku hampir terdengar oleh Para Algojo itu.


Aldo pun mulai cerita dari Awal Selvi sebelum koma dan melahirkan. Aku mendengarkan semua ceritanya yang tidak ku dapatkan dari Selvi dan Mamanya.


Aku sempat geram saat Aldo mengungkapkan dia sempat ada rasa dengan perempuan itu dengan sejuta kebohongannya . Tapi rasa geramku ini jadi luluh lagi karena melihat penderitaannya saat di tinggalkan Selvi pergi.


"Jadi, saat ini Aku sudah sah menikah dengan Virgin. Aku mohon Mel, titip Selvi." pintanya lagi


"Memang kenapa Kamu musti menitipkan Selvi." tanyaku penuh selidik


" Aku Bulan depan akan pindah selamanya ke Kalimantan Timur." jelasnya lagi.


Sengaja Aku tutupi keadaan Selvi. "Saat ini Selvi masih koma. Sebab itu Aku kesini tadinya Aku ingin menghajarmu. Setelah melihat saat Kamu di depan gerbang tadi Ku urungkan niatku" ucapku lagi. agar Aldo bisa punya statemen – statemen sendiri.


"Ya sudah Do. Aku mau pulang , Kamu jaga Anakmu baik-baik jangan Kamu beda-bedakan." pesanku sebelum meninggalkan tempat itu.


Sepanjang Aku melangkah, sejuta pertanyaan yang tadinya menghantui di kepalaku terjawab setelah melihat respons Aldo.


"Hufffff.... Malangnya nasibmu sobat." Gumamku dalam Hati.


Lika liku kehidupan Selvi begitu rumit. tidak semujur kemewahan yang di milikinya. Ayo Amel Kamu harus bisa menyemangatinya , ujarku lagi dalam hati sambil meneruskan langkahku dan kembali menuju rumah sakit.


Kira-kira bagaimana cara Aku menyampaikan pesannya Aldo. Apa mungkin Aku rahasiakan saja untuk sementara waktu sampai Selvi bisa kembali sehat. Aku masih ada waktu Tiga Minggu di Kota Bandung jadi, masih bisa ku habiskan untuk membantu pemulihan tubuhnya Selvi. Semoga sebelum waktunya Aku kembal bekerja di Kalimantan Selvi sudah punya semangat lagi.


Akhirnya Aku pun tiba di RS sebelum masuk tak lupa Aku mampir di Toko Bakery yang berada persis di sebelah pintu masuk. Ku ambil beberapa roti termasuk roti isi coklat kesukaan Selvi. setelah Aku membayar di Kasir kulanjutkan perjalanan kembali ke ruangan Selvi .

__ADS_1


Ku lalui lorong demi lorong yang terdapat di bangunan besar itu dan menuju ke Kamar Bugenvil 362.


Bersambung.....


__ADS_2