DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Menghilang


__ADS_3

Sudah ada 3 bulan Selvi menghilang bersama anaknya tanpa kabar tanpa berita. Aldo pun mulai putus asa dan terpaksa dia harus memenuhi kemauan Ibunya untuk menikahi Virgin


“Selvi .... Kamu dimana Aku sudah bingung harus berbuat apa lagi.” Sesalnya dalam hati.


Tak lama Virgin menghampirinya. “ Aldo sayang hari ini kita mau fiting baju dan mempersiapkan undangan serta keperluan lainnya. Buruan gih siap-siap.” Perintahnya ke Aldo yang saat itu benar-benar tampak suntuk.


“Ayo, Aku sudah siap . Mau ke mana dulu Kita?” serunya sambil memegang kunci motor.


Mereka pergi untuk fiting baju di salah satu butik Artis kenamaan yang berada di kota Bandung. Virgin terlihat antusias melihat beberapa contoh yang di tawarkan dari nuansa Modern tradisional sampai yang lagi hit saat ini . Akhirnya dia jatuh dengan warna Maron dan ada sedikit sentuhan kebaya. Aldo tetap tidak terlihat bahagia hingga mereka ke sebuah percetakan yang tidak jauh sekitar 4 blok dari tempat mereka fiting baju tersebut . Saat Virgin masuk ke gedung itu Aldo terlihat menunggu di luar gedung dengan alasan mencari minuman mineral .


“Nda... Nda...” Lucu sekali suara itu . Mungkin Abrisyam saat ini sudah sebesar ini.


Rasa kangen itu membuat dia semakin merasa bersalah dengan semua yang dia lakukan kepada Selvi. Hanya penyesalan yang dia rasakan tanpa bisa berbuat apa-apa.


“Ayo sayang .” Suara perempuan yang menggandengnya seakan familiar di telingaku.


“Selvi!” ucapku sambil segera mengangkat wajahku mencari asal suara itu. Tapi, Wanita dan Anak Lelakinya tersebut sudah jauh dan tidak terlihat lagi di dalam sebuah angkot yang tujuannya ke arah bogor.


“Ah .... Aku melamun lagi. Mungkin ini karena Aku terlalu memikirkan mereka.” Ucapku dan langsung ku balikkan langkah ke dalam gedung percetakan itu.


“ Sayang, bagaimana dengan yang ini lucu kan.” Dia menunjukkan undangan dengan botol tumbler di luarnya yang bertuliskan Nama Kami dan tanggal akad nikahnya. Sedangkan di dalam tumbler tersebut ada gulungan sapu tangan yang bertuliskan tempat acara dan keterangan lain mengenai pernikahan Kami.


Aku menganggukkan kepalaku. “ Iya, yang itu saja sudah bagus unik dan mewah.”


Terdengar percakapan Virgin kepada karyawan percetakan itu berapa lama dan berapa banyak yang akan di cetak. Tak lupa dia mengajak ku melihat-lihat sovenir yang kebetulan berada di tempat situ juga . Mereka menawarkan paket weading lengkap. Jadi, Kami hanya terima beres.


*********


Sudah 2 hari lebih sejak aku mengantar Virgin mempersiapkan pesta pernikahan Kami hingga jadwal praweading. Terdengar gawaiku berbunyi seperti ada panggilan masuk . Saat Aku melihat di layar gawaiku tertulis nama Mama Selvi , Aku bingung dan takut jika mama bertanya macam-macam. Hingga panggilan itu sempat terlewat tak terjawab.


Kring.....


kring......


kring.....


Aku bimbang tapi akhirnya ku jawab. “Halo, Mah.”


“Apa kabar Do?. Sudah lama ngak ke rumah?” tanyanya .


Aku bingung harus menjawab apa. “ Alhamdulillah kabar baik Mah. Maaf ini Aldo lagi di jalan lagi ada urusan mendesak, ntar Aldo main mampir ke sana.” Alasanku agar Ibu Mertuaku segera menutup selulernya.


Arrrgggghhhhh..........


Arrrgggghhhhh.........


Arrrgggghhhhh.........


“Selviiiiiiiiiiiiiiiiiiii, kamu ke mana Sayang!” Teriak ku senyaring mungkin.


Sehingga tanpa Aku sadari semua penghuni rumah sudah berada di depanku.


“Apa-apaan Kamu Do!” Omel Mamaku.

__ADS_1


Sambil meletakkan tangan nya di pinggang dan menunjuk ke arahku, “Sudah Mami bilang lupakan Wanita Sialan itu, masih saja Kamu pikirkan terus. Sekarang Kamu tuh harus mikirin hari pernikahanmu saja.” Omelan Mama memenuhi ruangan di depan kamarku .


“Mi, Cukup!” pekik ku dengan nada nyaring .


Ku lanjutkan ucapanku dengan sedikit menghela nafas. “Cukup.... Aku mohon. Aku sudah sangat tersiksa dengan keadaan ini jika, Mami masih membahas hal ini Aku akan membatalkan semua rencana pernikahan sialan ini.”


Aku pun pergi meninggalkan Mereka semua yang masih tercengang dengan kata-kataku. Ku pacu motor sport ku melaju menyusuri jalan di Kota Bandung ini. Hingga Aku terhenti di sebuah tempat ntah di mana suasananya sangat sejuk, tenang bahkan membuat Aku enggan pergi dari tempat ini .


Air yang mengalir dari pegunungan yang berada di hadapanku dengan hamparan pohon dan rumput hijau, di sebelah kanan terlihat pohon padi dengan jalan-jalan setapak. Ada rumah di antara pematang sawah itu cukup indah dan nyaman.


“Nak.” Suara Lelaki Tua menyapa dari belakang.


Aku pun menoleh dengan wajah sedikit kaget.


“Jangan takut Nak. Kamu terlihat sedang banyak masalah. Jika berkenan mampir ke gubuk Bapak di bawah sana.” Ajaknya sambil menunjuk rumah yang indah di bawah sana. Lelaki Tua itu menggunakan kendaraan seperti Taxi online.


Aku berusaha mengatur nafasku agar tidak terkesan canggung. “Terimakasih Pak. Jika tidak merepotkan?” tanyaku lagi dengan sedikit senyum.


Dia membalas senyumku. “ Mari ikuti Bapak, agar Kamu tidak tersesat.”


Aku pun mengikuti Mobil Livina itu menyusuri beberapa kelokan dan turunan . Anggin sejuk menemani perjalananku hingga sampailah di rumah yang terlihat dari pinggir jalan di atas sana.


“Kakek....” Sapa seorang Anak Lelaki lucu keluar dari salah satu rumah yang bersebelahan dengan rumah Bapak Tua itu.


“Hai sayang . Nda mana?” tanya nya .


“Nda... cucu.” Jawab Anak itu menunjukkan bahwa Bunda nya membuat susu .


Aku pun mulai di ajak masuk ke dalam rumah dan di dalam rumah tersebut ada wanita yang usianya hampir mendekati Bapak ini .


POV


Selvi


Aku sedang membuatkan susu Abrisyam pagi ini . Terdengar suara mobil Pak Suwito memasuki halaman rumah . Tidak lama kemudian bocah kecilku berlari bahagia menyambut beliau.


“Kakek...... “ panggil Abrisyam ke Pak Suwito.


Selama Kami di sini Bapak dan Ibu Suwito menganggap Abrisyam seperti Cucunya sendiri . Di usia mereka yang senja tanpa memiliki keturunan hal ini merupakan karunia Tuhan yang tak ternilai. Kehadiran Kami pun membawakan kebahagiaan .


Sepertinya Pak Suwito tidak sendirian , terdengar suara motor sport hampir sama milik Aldo. Dalam hatiku berpikir mungkin keponakan Pak Suwito yang memiliki rumah yang saat ini Aku tempati. Aku tinggal disini cuma – cuma tanpa menyewa.


Ku langkahkan kakiku keluar untuk sekedar mencari tahu . Seperti kenal dengan motor itu saat si empunya motor turun Aku pun di kagetkan dengan suara Abrisyam.


“Nda, Nda, cucu icham.” Renggeknya .


Ku lemparkan senyum ke arahnya “ Oh... iya Sayang maaf Nda lupa . Ini susu nya Abrisyam.”


Dia pun mengecup pipiku setelah menerima susu di botol dot kesukaannya .


“Icham umah Eyang . Dada...., Nda.” Dia langsung berlari tanpa menunggu ijin dariku lagi.


Aku hanya melempar senyum dan sedikit menggelengkan kepala karena, kelakuan lucu yang selalu di lakukannya.

__ADS_1


Terlihat Bapak sedang mengobrol panjang lebar dengan Pria tersebut. Aku pun kembali menyelesaikan aktivitasku. Untuk memenuhi kebutuhan kami Aku biasa aku membuat sebuah Novel dan ku publikasikan di salah satu aplikasi online. Setiap tulisanku yang terbit biasa Aku mendapat bayaran , terkadang Aku memposting jasa editor foto atau sampul sebuah majalah. Setidaknya kegiatan ini bisa membantuku untuk membeli kebutuhan Abrisyam dan kebutuhanku.


Ntah saat itu tiba – tiba saja Aku ingin membuka gawaiku yang sudah lama ku matikan. Tidak lama kemudian beribu pesan membanjiri gawaiku hingga notif nya pun terdengar seperti nada dering terbaru.


“Vi... jika baca pesan mama segera ke RS Cinta Kasih Papa Koma.”


Pesan Mama menjadi perhatianku dan itu baru terkirim hari ini. Aku terduduk lemas tak berdaya, air mata ini menetes membasahi pipi. Segera Aku kuatkan diri dan beranjak ke rumah Pak Suwito.


Aku berlari sekencang mungkin hingga aku terkesan ngos-ngosan tangisku sepanjang jalan makin jadi isak tangisku semakin terdengar.


Hiks.....


Hiks....


Hiks....


Dengan suara tersendat karena menangis. “Ba_pak....hiks....hiks....”


“Kenapa Vi.” Ucapnya sedikit cemas.


Aku masih sambil menangis tanpa memperhatikan siapa pun yang ada di sekitar ku.


“Nda , nanis Kek.” Celetuk Abrisyam.


“Tolong antarkan Saya ke Rumah Sakit.” Aku sempat terdiam sebentar mengatur nafas.


“Papah masuk RS karena koma... huwa...........” tangisku akhirnya pecah, hingga seseorang yang di sebelahku tiba-tiba memeluk tubuhku erat.


Rasa ini , rasa yang sudah lama hilang, rasa yang sempat membuatku nyaman dan ku benci kenapa ada dari orang ini.


Saat ku buka mataku dan ku lepas tangan ku , mulut ini spontan menyebut Namanya. “ Al_ do....”


Bapak pun saling pandang dengan Ibu melihat suasana yang terjadi di hadapannya.


“Vi... kenapa Kamu pergi.” Aldo pun menangis sambil memelukku .


Aku tak dapat berkata – kata lagi , Aku hanya menangis ntah tangisku karena Papa masuk Rumah Sakit atau di tambah karena ,pelukan Aldo yang begitu erat seperti dia menyimpan penyesalan dan rasa kangen yang luar biasa .


Hingga Aku kembali mendengar suara gawaiku berbunyi “Mamah.”


Segera Ku jawab panggilan itu. “Asalamuallaikum, sebentar lagi Selvi ke sana mah.”


Ku tepis tangan Aldo yang masih memeluk tubuhku dan Ku gendong Abrisyam.


“Ayo Pak antar Saya.” Pintaku.


Aldo terlihat menahan Pak Suwito, seakan memohon agar dia saja yang mengantar Ku. Bapak dan Ibu pun saling berpandangan lagi dan memahami kondisi saat ini.


“Nak sebaiknya Kamu berangkat bersama Dia.” Pinta Bu Suwito agar Aku saat ini mau berdamai terlebih dahulu karena, kondisi sangat mendesak .Aku pun mengiyakan.


Akhirnya Aku berpamitan dengan Bapak dan Ibu. Sementara Abrisyam Aku titip ke mereka terlebih dahulu.


“Saya titip Abrisyam ya Bu.” Aku pun berpamitan salim dan takzim .

__ADS_1


Motor pun melaju cepat . Hingga yang tadinya Aku tidak ingin berpegangan terpaksa memeluknya karena rem mendadak dan tiba-tiba kencang lagi terulang di setiap tikungan.


Bersambung....


__ADS_2