
Hujan turun seharian sehingga beberapa daerah di Balikpapan banjir. Terlihat Selvi sedang duduk termenung di teras rumah.
Sedangkan Sore itu Aldo pun Akan menuju kembali kerumah di temani Zahra. Antara Selvi, Aldo dan Abrisyam mereka adalah cinta yang saling merindu tapi tidak bisa bersatu.
Mobil melaju kencang menembus derasnya hujan saat melewati perumahan di daerah Balikpapan Baru Aldo teringat saat Dia membawa Selvi menuju salah satu Rumahnya.
Saat Dia teringat hal itu tanpa sadar Dia mengenggam jemari Zahra dengan tersenyum menghadap keluar jendela Ntah pikirannya berkelana kemana.
Zahra yang terkejut dengan kejadian itu terdiam dan tak bisa berbicara, sambil mengigit bibirnya dia berusaha menoleh ke arah Aldo dan melihat wajah Aldo tampak tersenyum bahagia. Di pikiran Zahra ada kesalah pahaman dengan kejadian ini.
Sengaja Zahra membiarkan hal tersebut Karena, Dia tak kuasa buat melepas jemarinya dari gengaman Aldo. Sudah sempat Dia berusaha melepaskan tapi genggaman itu semakin kuat.
Apakah Aldo juga mulai menyukai Aku?
Pertanyaan konyol menyelimuti pikiran Zahra. Tapi jawaban pasti juga menyadarkannya. Mungkin Aldo tak sengaja karena, menginggat memori di jalan ini.
...****************...
Aldo
Aku tidak sadar jika sedang mengengam jemari Zahra. Setelah melewati perumahan itu Aku baru tersadar bahwa bukan jemari Selvi yang Aku genggam.
"Oh, Bodohnya Aku ." Gumamku dalam hati.
"Pasti Zahra sempat salah paham." Gerutu Ku lagi.
"o,ooh Maaf Zahra. Aku teringat Istriku." Jawabku gugup dan terbata.
Tetlihat wajahnya menunduk malu."Nga papa, Aku paham Do." jawabnya.
Mobil pun mulai memasukin perumanan Kami di Regency. Aku tidak sabar ingin memeluk jagoan kecilku.
Saat pagar rumah terbuka terlihat Jagoanku menunggu kedatanganku di teras rumah.
Ayah...
Ayah...
Ayah pulang...
Terdengar jelas teriakan bahagia keluar dari mulut mungilnya. Aku segera turun dari kendaraan dan segera memeluk tubuh kenanganku dengan Selvi. Hanya Dia pengobat kerinduanku dengan satu-satunya wanita yang kucintai.
__ADS_1
"Ayah dimana Mami Virgin. Hari itu Ayah perginya kan bareng Mami.?" Tanyanya sambil kepalanya mencari cari keberadaan Virgin.
"Oh, Mami sudah beristirahat bersama Adik dengan tenang disana." Jawabku yang memecah kebahagiaan menjadi keheningan buat semua Orang yang mendengarnya.
"Jadi, Mami sudah sama Allah ya Ayah?" tanya nya lagi.
"iya sayang ."jawabku lagi.
Aku ingin mengendong Abrisyam tapi jagoanku itu seperti Dewasa sekali. "Jangan Ayah.Abang Isyam kan berat udah besar dan sudah punya dede Andra."
Tercengang Aku mendengar perkataan Jagoanku itu. Sepertinya Dia sempat merasakan bersama seorang Anak kecil. Aku jngin bertanya tapi waktu tidak memungkinkan.
Kami pun melangkah measuki rumah di jkuti Zahra di belakang langkah Kami. Abrisyam melihat Zahra dengan penuh tanda tanya ini pertama kalinya Zahra menginjak rumah ini.
Terlihat Mami menghampiri dan memeluk tubuhku tidak lama Mami memeluk tubuh Zahra.
"Akhirnya Aldo pulang. Terimakasih ya Zahra sudah meluangkan waktu menjaga Aldo selama di Rumah Sakit. Ayo duduk dulu di rumah gante yang kecil ini." Mami menyapa Zahra dengan sedikit merendah, biasanya Mami adalah tipikal orang yang sombong tumben hari ini berbeda dari biasanya.
Abrisyam terus memperhatikan Zahra dan membisikan sesuatu di telingaku. "Ayah itu siapa? Abang Isyam baru lihat. Sepertinya Tantenya baik ya Ayah."
Aku membalas berbisik di telinganya. "Itu Tante Zahra masih saudaranya Almarhum Mami Virgin."
"Ohhh.. memangnya Dia akan jadi gantinya Mami Virgin? Kayak di permainan bola kalo Isyam cidera di gantikan sama Febrian." Tanya nya Antusias.
Abrisyam membisik lagi "Ayah ayo ikut Abang Isyam ada rahasia."
Dia pun menarik tanganku untuk menjauhi semua Orang dengan alasan ingin Aku temani tidur.
"Maaf ya sepertinya Abrisyam mengantuk dan binggung beristirahat dengan Saya. Jadi, Saya tinggal dahulu ya semuanya." Aku segera berpamitan kepada semua Orang yang berada di ruangan itu.
Langkah Kami pun mulai menjauh dari ruangan itu dan menuju ke kamar Abrisyam. Dia segera mencuci tangan dan kakinya setelah itu Kami duduk di atas tempat tidur.
"Isyam mau cerita apa Sayang." tanya Ku
"Ayah beberapa hari itu Abang pergi sama Opa ke Rumah Sakit terus Opa berbicara dengan Oma tapi Abang Isyam tidak tahu apa. Tidak lama kemudian Opa ajak Isyam pergi ke sesuatu tempat. Di sana Kami duduk lama sekali. Tahu gak apa yang Isyam tunggu di sana?" ceritanya sambil memberiku tebakan.
"Memang Isyam menunggu Siapa." tanyaku lagi
"Kasih tahu ngak ya? Ayah tebak dulu. Kalo Ayah benar - benar tidak bisa menjawab baru Isyam beritahu."Jawabnya lagi dengan senyum nakal
Akupun berusaha menjawab dengan menyebut semua Nama dari Rekan Kantor sampai Keluarga yang memang dekat dengan Abrisyam.
__ADS_1
"Ayah nyerah deh." jawabku karena sudah tidak ada jawaban yang benar.
Abrisyam sambil memperhatikan ke arah pintu kamar karena, terbuka Dia turun sambil melihat ke kanan dan kekiri di luar kamar lalu menutup dan menguncinya kembali .
Abrisyam menghampiri ku kembali dengan wajah sedikit bahagia karena, Aku tidak dapat menjawab pertanyaannya .
"Ayah sini Abang bisiki." tangannya memangil seperti berharap Aku mendekatkan kepalaku ke wajahnya .
"Bicara saja kan tidak ada orang." jawabKu.
"Jangan Ayah dinding pun memiliki telinga Isyam tidak mau rahasia ini seseorang pun tahu ini hanya rahasia antara Lelaki Jantan." ucapnya lagi yang membuat aku langsung terkaget.
*Mak jleb....
hahahahahaha* ....
Aku sapu kepalanya seakan tak percaya Dia bisa berkata seperti itu."Oke my jagoan. Bisikkan ketelingga Ayah sekarang."
Aku segera mendekatkan telingaku ke depan mulut mungilnya itu. Tidak lama kemudian Dia mulai berbisik sehingga Aku tercengang.
"*Abang ketemu Bunda."
"Serius*!." tanyaku dengan wajah tercengang.
Dia menganggukkan kepalanya dengan wajah senyum tapi takut Aku marah. Mungkin ekspresi itu karena, Dia takut dengan wajahku yang terlihat tercengang kaget.
"Abang gak bohong kan. Terus bagaimana selanjutnya. Bunda sama siapa? Ada Om sama bunda." tanyaku penasaran Karena, Aku takut Abrisyam mengetahui kenyataan bahwa Kami tidak bersama lagi dan Selvi sudah ada Andri sebagai pengantiku.
"Bunda sendirian Ayah. Lalu Kami pergi bermain sehabis itu Abang kerumah Bunda dan bobok di sana lama sekali Abang seneng banget Karena, disana ada." Dia menghentikan ucapannya karena mendengar langkah mendekati Kamar ini.
"Kenapa berhenti." tanyaku.
Abrisyam hanya menaruh jari telunjuknya di bibir lalu menunjuk ke arah luar seperti isyarat kepadaku. Benar kata Anak kecil ini dinding pun punya telingga.
Tapi Aku penasaran dengan seseorang atau ntah apa itu yang Dia bilang disana ada. Mana Abtisyam pura - pura memejamkan mata setelah terdengar gagang pintu di buka. Sepertinya Anak ini sudah peka terhadap suara-suara kecil di rumah ini.
Aku pun pura - pura membacakan cerita kepadanya hingga terlihat dari balik pintu wajah Mami. Akupun segera memberi isyarat ke Mami untuk menjauh.
Saat Mami terasa menjauh. Aku membangunkan Abrisyam tetapi Jagoanku itu terlelap beneran. terpaksa Aku menyimpan penasaran ini. Tidak mungkin Aku membangunkannya.
Ku lihat wajahnya yang penuh dengan ketenangan. Aku kembali menju ruang Keluarga teringat ada Zahra disana. Apakah Dia sudah pulang atau belum Aku kembali untuk memastikan saja.
__ADS_1
Kulangkahkan kaki ini hingga terdengar gelak tawa dari ruangan itu. Ternyata mereka bercerita tentang tingkah lucu Abrisyam.
Bersambung........