
Selvi
Malam itu aku tahu pasti itu suara motor Aldo sengaja aku putar rekaman yang seakan sedang bermain dan berinteraksi malam hari yang biasa dilakukan suami istri.
Aku mendengar langkah Aldo yang mulai mendekati kamar ini, hingga saat kurasa dia semakin dekat, segera Aku buka pintu kamarku.
Tetapi kenapa Aldo tidak berada persis seperti yang kupikirkan, dia sanggat jauh dari pintu kamarku. Aku tak habis akal segera aku melontarkan kata-kata yang pasti akan menyakitinya.
"Do!" panggilku sehingga dia menoleh tapi seakan mengabaikan sapaan ku ini.
"Kenapa kamu cuek, cemburu ya atau merasa tidak terima," sindirku lagi agar dia terpancing.
"Memangnya apa yang musti ku dengar suasana sunyi begini, lebih baik kamu masuk nanti Suamimu cemburu," sangkalnya.
"Aldo, Aldo jangan berbohong baru saja kamu habis mencuri dengar, bukan." Aku menuduhnya dengan sedikit ejekan.
Mungkin Aldo terpancing dengan perkataanku tanpa bersuara dia mendekatiku perlahan, tiba-tiba dia merapatkan tubuhnya hingga tidak ada celah sedikitpun aku berusaha mundur menjauh, sampai badan ini tersudut di sofa karena aku berusaha menghindar tubuhku hampir terjatuh
"Jangan Aldo! Kamu terlalu lancang mendekatiku, jika kamu tidak mau mundur aku akan teriak," maki ku
Bagaimanapun aku berusaha bertahan tapi tubuh ini tidak kuat hingga terjatuh di sofa dengan posisi terlentang ada sesuatu terlarang yang nampak jelas di hadapanku. Aldo tepat berada di atas badan ini. ingin meronta tapi tidak kuasa, sesuatu yang lembut sudah mendarat di bibirku sedikit basah, aku merasa emosi hingga tanggan ini tak dapat ku tahan.
Plakkk!
Tepat sasaran persis di pipinya, saat itu aku bisa mendorongnya.
"Tak tahu malu," umpatku.
Dia hanya tersenyum penuh kemenangan meninggalkanku tiba-tiba belum juga badannya menghilang dari pandangan lampu padam di barengi suara petir yang mengeleggar.
Aku pun menjerit dan berteriak histeris, bagaimana cara dia sampai aku tidak tahu, yang kusadar saat itu ada seseorang memelukku erat ku benamkan wajahku di dada yang bidang itu, hingga suara seperti kunkenal terdengar.
"Tenang ada Aku disini," sepertinya dia berusaha menenangkanku.
Tidak lama kemudian suara petir terdengar lagi aku makin ketakutan, "Tapi aku takut gelap sekali dan suara petir itu mengerikan."
Tiba-tiba lampu menyala setelah 30 menit ternyata yang memelukku sedari tadi Aldo, Aku langsung mendorongnya, "Kamu cari kesempatan dalam kesempitan ya, Do."
"Hei! bukannya berterimakasih, dasar wanita tidak tahu di untung," ucapnya kesal.
__ADS_1
Akupun tertinduk dan terdiam sesaat, memikirkan pernyataannya menurutku benar aku salah, ada rasa menyesal karena mendorongnya hingga menabrak nakas yang tepat berada di belakangnya pasti dia merasa kesakitan saat ini.
"Terimakasih," ucapku.
Tanpa membalas hanya tersenyum seakan merasa menang aku pun berlalu meninggalkannya. Malam ini benar - benar tidak dapat kusangka, kejadian demi kejadian membuat aku tidak bisa tidur.
Aku tak tahu Aldo masih tetap disana atau bagakmana, dia menang kali ini karena sudah mempermainkan perasaanku.
Sepertinya aku harus lebih kuat lagi untuk melawannya, melihat kejadian tadi pasti dia akan lebih nekat lagi.
Sudah ku pejamkan mataku tapo tidak dapat terpejam. Ku baca sebuah novel yang berada dari aplkkasi kesayanganku "Takdir Cinta" kisahnya hampir sama dengan kisahku hanya saja dia tidak dapat merasakan cinta yang seutuhnya.
Air mata menetes karena, membaca novel ini tak terasa akhirnya mataku mulai terlelap dan akupun tertidur dengan posisi smartphon jatuh tepat di atas wajahku.
...----------------...
Bi!
Masih pagi sudah terdengar alunan suara melengking dari nenek sihir, berisik sekali wanita itu, sepertinya dia sudah mulai stress.
Ku buka pintu kamarku terlihat Papi sudah siap di sofa yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya.
"Sudah bangun Vi?" tanyanya.
"Sepertinya semalam kurang tidur?" tanyanya.
"Semalam mati lampu dan hujan Pi, jadi Selvi ketakutan untung ada-." Aku pun menghentikan ceritaku karena, takut Papi marah.
"Ada apa Vi, di lanjut ceritanya?" tanya Papi antusias.
"Ada smartphon yang nemani dan menerangi, setelah lampu nyala baru Selvi bisa tidur." Kilahku berbohong.
" Selvi, mulai hari ini kamu hati-hati ya karena, Mami nya Aldo itu nekat jangan sampai kenekatannya itu membahayakan dirimu. Nanti Papi akan menyuruh orang untuk menjaga mu secara diam-diam agar jika ada hal-hal yang tidak di inginkan tidak terjadi," ucapnya menginggatkanku agar waspada.
"Siap Pi," jawabku lagi seakan menurut.
"Ayo kita sarapan," ajak Papi.
Kami pun keluar bergandengan tangan seakan menunjukkan kemesrahan, tapi sebenarnya yang kulakukan ini seperti seorang anak kepada Ayahnya.
__ADS_1
"Ehem." Mami Aldo berdehem.
"Duh sayang ntar jangan lupa makan siang ya." Aku sengaja memanasi seakan memberi perhatian lebih.
Ku ambilkan sarapan nasi goreng di meja, kebetulan saat itu Aldo dan Abrisyam belum keluar dari kamarnya. Aku menyuapi dengan mesra hingga terlihat nenek sihir itu tersedak karena, menahan emosi melihat kelakuanku saat itu.
Ketika Papi selesai makan, Aldo pun keluar aku seakan berpamitan dan Papi mengecup keningku untung saat itu Abrisyam tidak melihatnya.
Aldo sengaja menabrak ku saat melihat adegan itu hingga membuat aku terjatuh, dengan sigap Papi menolongku.
"Ada adengan Romio dan Juliet disini," ucap Aldo ketus.
"Bunda!" Teriak Abrisyam.
Langsung ku alihkan perhatianku kepada Putra pertamaku itu. Tanpa kuhiraukan lagi wajah Aldo dan Maminya yang masih tersulut amarah , emosi dan cemburu.
Saat Abrisyam keluar Papi sudah berangkat kerja jadi tidak sempat melihat kejadian yang sangat tidak pantas disaksikannya .
"Abang mau sarapan apa?"
"Bunda yang buatin ya, Abang mau sarapan Roti isi, trus bekal sekolahnya telur ceplok sama ayam kriuk trus sosis goreng," jawabnya sambil memeluk dan mencium kedua pipiku.
" Wah banyak sekali, tapi ngak masalah yang penting Abang bahagia tidak seperti seseorang yang lagi pada jelek wajahnya," sindirku.
Ku gendong Abrisyam bersama menuju daput dia membantu menyiapkan kotak makannya, sambil memasak kami sambil bermain, tak lupa ku suapin anak itu agar saat selesai bekal yang akan di bawa dia juga sudah siap berangkat dalam keadaan perut kenyang.
"Bunda hari ini boleh temani Abang Isyam ke sekolah," pintanya.
Tiba-tiba saja ayahnya menyahut sedikit berteriak, "Ngak boleh! hari ini Isyam Ayah yang antar."
Karena, ucapan Ayahnya membuat wajahnya murung sehingga aku pun membantah Aldo.
"Lelaki egois tidak bisa menempatkan ego dan kewajiban, seharusnya kabulkan keinginan anak malah mengutamakan egonya," celetuk ku.
" Maksudmu!" tanyanya ketus.
"Hei, Ayah yang baik seharusnya yang dilakukan mengabulkan permintaan anaknya bukan malah membuatnya menangis," jawabku lagi tak kalah menentang.
" Abang nanti Bunda yang antar jangan nangis lagi ya sayang," bujukku dan mengendongnya ke mobil.
__ADS_1
Aku tidak ambil pusing dengan ekspresi mereka yang penuh emosi ku antar anak ku segera menjauhi mereka semua yang masih tertegun di meja makan.
Bersambung ....