
Ku lewati hariku selama satu minggu lebih tanpa menegur sapa dengan Aldo, bahkan saat dia akan mengendong anak Laki-laki ku .
Sore ini seperti biasa habis Aku memandikan Abrisyam, Kami bermain sejenak sebelum dia di ambil oleh Opanya. Tak berapa lama terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
Brakkk....
Keras sekali suara pintu mobil di tutup seakan ada suara perselisihan di sana awalnya hanya terdengar samar – samar semakin lama suara itu mulai memasuki ruangan di mana biasa Keluarga ini menonton televisi.
“ Pokoknya Aku bilang harus ya harus.” ucap seorang Wanita bersikeras. Seakan kemauannya harus di kabulkan.
Tak lama lagi suara Laki – laki memekik dengan nada tinggi, “Terserah.”
“Kenapa terserah, Aku laporin ke Mami!” ancamnya dengan suara lebih keras lagi.
Aku penasaran suara Laki – laki itu seakan suara Suamiku. Aku pun alasan ke ruangan di mana Abrisyam bersama Opanya .
“Dasar Wanita keras kepala. Sudah Aku ikuti ancamanmu selama ini dan kini masih saja Kau mengancamku sesuka hatimu. Jika Kita harus menikah Kamu tau bahwa Aku memiliki Istri dan Anak yang pasti akan terluka . Sampai saat ini saja karena, kehadiranmu di sini membuat Aku tidak bisa bersama Anak Ku ,Paham!” jelasnya dengan sangat tegas.
Wanita itu menangis. Aku tak kalah kaget dengan ucapan Lelaki itu yang sedang beradu mulut ternyata Suamiku. Pipi ini pun basah segera ku ambil Abrisyam bersamaku meninggalkan ruangan itu. Hatiku benar-benar luka seperti disayat .
“Jadi Wanita itu ingin segera dinikahi.” gumamku dalam hati.
Terdengar bayi mungilku menyebutkan Namanya, “ Ya-yah....”
Cepat kulangkahkan kaki ini menuju kamar hari ini Aku harus pergi meninggalkan rumah ini, jika Aku masih disini pasti luka ini akan semakin mendalam.
Ada langkah mulai mendekat hampir membersamai langkahku, sepertinya Aldo mendengar panggilan Anaknya sehingga dia mengikutiku dengan cepat. Di tarik tanganku kuat sehingga badan ini tertabrak di tubuh itu dan tangan itu langsung memelukku erat bersama Anak Lelakiku.
“Maafkan Aku, maafkan aku, maafkan aku.” Tangisnya memecah.
“Aku tidak sanggup dengan semua ini. Ku mohon lepaskan Aku Do!” ucapku berharap lepas dari pelukannya.
“Aku tidak akan pernah melepaskanmu.” serunya lagi.
“Terserah!” suaraku penuh emosi.
Ntah dari mana tenaga itu datang, ku dorong badannya hingga terlepas dari pelukan nya. Sambil terus mendekap Abrisyam dalam gendonganku Aku berlari menuju kamar Ku banting pintunya.
Brakkkkkk..........
Cetek, cetek, cetek....
Suara pintu terkunci pun terdengar nyaring di telingaku.
“Abrisyam duduk disini dulu, Nda beresin pakaian kita dulu!” ucapku seraya mengambil koper.
Ku masukkan semua baju-bajuku dan Abrisyam, sementara itu Anak Lelakiku itu sibuk dengan mainannya. Mulai ku pencet gawai di tanganku untuk memesan taxi online.
Sudah ada hampir 1 jam Aku di dalam kamar dan Aldo di depan pintu berusaha mengetuk-ngetuk, berharap aku mau membukakan untuknya.
“Untuk apa Kamu urusi Wanita tak tau di untung di dalam itu” terdengar suara Wanita membentaknya.
“Mi...... Dia istri dan anakku!” ucap Lelaki itu yang memang Suamiku dengan lantang dan nyaring juga.
Plak.......
Nyaring suara itu seperti berdengung.
__ADS_1
“Kamu sekarang berani melawan Mami ya Do.” Dari suaranya terdengar sangat emosi.
Hingga langkahnya seperti meninggalkan tempat itu semakin lama semakin semakin jauh. Suara kakinya berbisik dan menghilang.
Brakkk...
Seperti ada benda yang menghantam pintu kamarku. “Ah ..... Aldo.” Pekikku dalam hati.
“Vi.... Ku mohon buka pintunya, maafkan Aku.” Suara nya terdengar lirih seperti menangis dan penuh penyesalan.
Tak lama suara pesan masuk di gawaiku.
Cling....
“Saya sudah sampai di depan rumah penjemputan.” Pesan dari taxi Online.
“Baik, Saya akan segera keluar.” Balasku.
Kubuka pintu kamarku, Ku abaikan saja Aldo di depanku sambil mengendong Abrisyam tangan satunya menarik koper Aku mulai melangkahkan kakiku keluar kamar meninggalkan Aldo yang masih menangis tepat di depan pintu. Ntah kakinya tadi terlindas roda koperku atau tidak.
“Berani Kamu membawa Cucuku pergi dari sini!” ancamnya penuh emosi. Wanita paruh baya itu berusaha menghalangi langkahku
Namun kuabaikan. “Minggir dari hadapanku atau akan ku tabrak. Aku sudah tidak peduli dengan kalian. Cukup sudah Kamu buat Aku menderita selama ini dan kali ini Aku tidak akan mengalah lagi.” Aku pun melontarkan semua unek-unekku selama ini .
Wanita itu tak bergeming dia tetap kekeh berada di hadapanku, sesekali dia melirik ke suaminya seakan memberi perintah untuk menghalangi langkahku tetapi suaminya hanya terdiam dan terpaku tanpa mengeluarkan suara apa pun , sedangkan Virgin si pelakor dalam rumah tanggaku hanya duduk dengan wajah tertunduk sambil terus menangis.
Aku pun menabrak Wanita paruh baya itu dengan badanku hingga dia tersungkur jauhvdari hadapanku segera aku cepatkan langkahku menaiki mobil Livina yang terparkir di depan rumah yang Elit namun bagai penjara emas bagiku.
Brak...
Supir taxi online itu pun hanya terdiam dan mulai melajukan mobilnya. Akhirnya kutinggalkan rumah ini tapi entah ke mana tujuanku. Jika, Aku ke rumah tentu jadi pertanyaan buat orang tuaku, Aku pun kembali terdiam memikirkan tujuanku.
Pak Supir berdehem. “Ehem....”
“Ibu sudah tenang? Jika sudah tujuan Kita ke mana?” Tanya nya.
Aku menghela nafas panjang. “Saat ini saya perlu tempat tinggal sementara Pak? Tapi Saya bingung mau ke mana.” Jawabku tetap fokus ke arah depan sesekali memandang ke arah anak Ku.
“Ya sudah kalo gitu Ibu ikut saya saja kebetulan di sebelah rumah saya ada rumah saudara kosong beliau tugas luar kota , disana ada tempat tidur dan perlengkapan lain bisa di pakai sementara.” Jelasnya lagi.
“Saya ikut saja Pak dan terimakasih banyak sudah di bantu.” Jawabku sambil melempar senyum walau mata ini sedikit sembab. Sepertinya Bapak ini paham dengan kondisiku saat ini sehingga dia berbaik hati menawarkan rumah buat Aku dan Abrisyam beristirahat untuk sementara waktu.
Mobil Itu pun melaju ke arah Bogor. Selama perjalanan Abrisyam tertidur di pelukanku Aku juga sesekali terpejam hingga ikut tertidur lelap lajunya kendaraan juga tak membangunkanku mungkin badan ini lelah sekali .
“Mbak, mbak, sudah sampai.” Panggil Pak Supir secara membangunkan tidurku.
“Sementara mbak dan anaknya duduk dulu di rumah Saya. Biar Istri Saya membantu membereskan rumahnya.” Jelasnya lagi.
Aku melempar senyum. “Terimakasih.”
Beliau pun memanggil Istrinya ntah apa yang mereka bicarakan tapi Istrinya hanya melempar senyum ke arahku dan segera membuka pintu rumah yang berada di sebelahnya dengan cat berwarna coklat terbuat dari kayu jati.
Tak berapa lama suaminya pun menghampiriku lagi sambil menenteng koperku.
“Mbak, mari ikut saya. Maaf kalo lokasinya sedikit di pedesaan.” Ungkapnya lagi dengan sopan.
Aku tersenyum. “Iya Pak , terimakasih banyak ini sudah lebih dari cukup. Maaf Saya jadi merepotkan Bapak dan Ibu.”
__ADS_1
Tak lama terdengar suara Wanita paruh baya sekitar sumuran mamaku. “Ah, gak merepotkan Mbak bahkan Saya senang. Jadi kalo pas Bapak pergi bekerja Saya tidak kesepian.”
“Oh... iya, kenalkan ini Istri Saya.” Ucap Pak Supir.
Aku pun mengulurkan tanganku. “Saya Selvi dan ini Abrisyam anak Saya Bu.” Ucapku
Menyambut tanganku “ Panggil saja Saya Ibu Suwito atau Eyang Uti buat si ganteng ini.” Sedikit menyolek pipi anak ku .
Aku pun segera masuk ke rumah itu suasananya sejuk saat ku buka jendela sebelah kanan hamparan sawah dan pegunungan menghiasi tempat itu. Mereka menunjukkan bagian dapur dan kamar mandi. Aku mencoba membuka pintu di belakang rumah subhanallah indahnya membuat Aku takjub sehingga beban yang tadinya menyelimutiku seperti hilang seketika.
Di sana terdapat air terjun walau jauh dengan pepohonan di sekitarnya anginnya sepoi-sepoi. Saat aku putar air keran di kamar mandi terasa sejuk dan jernih sekali seperti air dari pegunungan. Abrisyam kutidurkan di kamar walau tanpa AC tapi terasa sejuk sekali sehingga Abrisyam semakin lelap.
*****
POV
ALDO
Aku masih terdiam di depan pintu kamar, duniaku seperti hancur. Di benakku hanya memikirkan Istri dan Anakku dia sudah pergi meninggalkanku . Aku harus pergi menjemputnya hanya kata – kata itu yang ada di benakku. Tapi ke mana Aku menjemputnya?, pasti di rumah Orang Tuanya ke mana lagi Dia akan pergi, ucapku dalam hati.
Segera aku ambil kunci motor sportku dan ku langkahkan kaki meninggalkan kamar itu . Baru aku sampai di ruang tamu Virgin mencegahku dan memeluk tubuhku segera kutepis tanggan dan tubuhnya dari hadapanku .
“Aldo....” Teriaknya sesenggukan.
Tapi aku tak menghiraukan segera kunaiki motorku dan melaju meninggalkan halaman rumah. Kecepatanku di luar rata-rata ntah berapa mulut yang mengumpat ke arahku terus saja ku pacu motorku dengan kencang hingga tiba di salah satu perumahan walau pun tidak Elit tapi rumah Selvi adalah satu-satunya rumah terbesar dan termegah.
Ku ketok pintu rumahnya. “Mah, mah, mah...” panggilku.
Tak lama suara langkah mendekat terdengar pintu di buka
Kletek....
“Eh, Tuan Aldo....” ucap wanita yang sudah berumur di hadapanku , Beliau kerja disini sudah cukup lama semenjak istriku masih di dalam kandungan.
“Ada Non Selvi?” tanyaku.
“Gak ada Den, dari tadi Bibi di rumah sama Bapak dan Mang Umang Karena, Nyonya di kantor.” Jawabnya.
“Ya, sudah Bik Saya pergi dulu. Saya Pikir Dia kesini.” Ucapku.
Terdengar suara Papa bertanya sedikit berteriak dari dalam rumah. “Siapa Bik?”
“Anu, Tuan ada Den Aldo” jawabnya sedikit bimbang.
“Ajak masuk Bik.” Perintah Papa lagi.
Agak ku nyaringkan suaraku. “ Nanti saja Pah, soalnya Aldo sedang ada urusan. Aldo pamit dulu ya pah.”
Aku pun pergi meninggalkan rumah itu dan tak tahu lagi apa yang akan terjadi di sana mungkin saja Bibi akan di tanya mengenai kedatanganku. Saat ini Aku bingung harus mencari ke mana lagi. Sudah kudatangi rumah sahabat-sahabat Selvi tapi tak ada satu pun yang ku temui Amel saat ini sedang di Kalimantan bekerja sedangkan Cindy sedang di Bali mengurus pembukaan Butiknya yang baru.
Arrrgggghhhhh........
Aku memberhentikan laju motor dan berteriak sekeras mungkin melampiaskan kekesalanku, hingga malam tiba tak kunjung juga kudapati keberadaan Selvi bahkan Aku tak tau informasi terakhirnya. Sudah ku telepon berkali – kali tak ada jawaban dari sana . Bahkan terakhir gawainya sudah tidak aktif lagi .
Akhirnya aku pun melangkah kembali ke arah pulang . Ku pacu laju motor sport berwarna hitam metalik.
Bersambung..............
__ADS_1