DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Kenekatan Aldo


__ADS_3

Pov Mami Aldo


Sialan dasar perempuan kurang ajar, apa tujuannya menikahi Fredrik, kenapa juga fredrik berani-beraninya menghianatiku.


Tidak tahu balas budi Lelaki tak tahu diuntung dari jalanan dan rumah kumuh kamu berasal sekarang kamu permainkan aku. Sepertinya inggin kembali kejalanan Papi ini.


Mami Aldo terlihat geram dan sanggat marah bahkan tanpa sadar dia membanting vas bungga kesayangannya.


"Oma, Jangan marah-marah Isyam takut," ucap Abrisyam dengan wajah ketakutan.


"Bi! buruan kesini ambil Abrisyam bawa ke kamarnya," perintahku.


Bagaimana caranya buat menyingkirkan wanita itu ya, aku yakin dia masih mencintai Aldo. Akan ku manfaatkan Zahra untuk membakar hatinya Selvi.


Aku akan menikahkan Aldo segera dengan Zahra. Ku ambil gawaiku segera ku kirimkan pesan ke Mami Virgin.


"Malam jeng Friska, apa kabar?"


Tidak lama kemudian gawaiku berbunyi notif pesan masuk, aku pikir balasan Mami Virgin ternyata Aldo.


"Mi, malam ini Aldo gak pulang kerumah."


"Kenapa Do, Jangan karena wanita itu kamu jadi begini." balas Ku penuh tanya.


"Sudah Mi! saya masih belum bisa menerima semua ini," jawabnya kesal.


"Begini Do menurut Mami wanita itu masih mempunyai rasa denganmu, bagaimana jika Kamu menikah segera dengan Zahra sehingga dengan sendirinya dia akan pergi dari rumah ini," saranku.


"Ntar saja lah Mi di bicarakan, saat ini Aldo masih benar-benar kecewa dengan Papi," ucapnya lagi.


"Tapi Aldo pulang jangan seperti itu, dengan Aldo tidak pulang malam ini maka wanita itu akan merasa bahwa dia menang dan mengalahkanmu," bujuk ku.


"Yaudah Mi, Aldo mau pergi dulu."


Tidak lama Aldo sudah tidak terlihat online lagi, sepertinya aku akan membujuk Maminya Virgin. Aku tidak mau ini berkelanjutan, jangan sampai Fredrik meninggalkanku karena, perusahaan ini belum bisa di pegang oleh Aldo.


Mungkin aku paksa saja Aldo untuk fokus di perusahaan dengan alasan usia Abrisyam sudah besar tidak selamanya Papinya bisa mengurus sendiri.


Itu saja sementara cara yang akan kulakukan, untuk wanita itu aku akan mencari cara menyingkirkannya sepertinya akan lebih sulit aku harus lebih bisa memutar otak.


...----------------...


Pov Aldo

__ADS_1


Aku masih tidak bisa menerima semua ini, terserah apa kata Mami mau menikahkanku atau apapun aku akan ikuti saja.


Ku pacu motorku melaju menembus malam, angin malam mulai menusuk menembus kulit dan terasa di tulang ku.


Mungkin saran Mami ada benarnya juga bisa aku ikuti, aku ingin tahu perasaan dia sebenarnya. Jika memang dia sudah tidak mencintaiku, atau aku pulang saja malam ini.


Sementara ku ikuti kata hatiku menghilangkan penat menyusuri kota. Sampai motorku kembali mengarah pulang, segera kuparkir kendaraan ini, saat akan memasuki rumah ntah mengapa mata ini penasaran ke arah ruangan di mana Selvi dan Papi bersama dalam satu ruang.


Bodohnya aku kenapa kaki ini kulangkahkan kesana, saat akan ku putar terdengar suara-suara seperti kegiatan malam, rasa geram dan inggin mendobrak pintu kamar itu.


Tapi suara-suara itu semakin nyaring dan membuat darahku mendidih, kupasang telingaku tepat di pintu kamarnya tiba-tiba terdengar gagang pintu akan di buka.


Cepat-cepat ku balikkan badanku menjauh agar tidak ketahuan. Suara deheman itu sangat ku kenal.


"Do," sapanya.


Aku membalikkan badanku, lalu ku tinggalkan dia tanpa peduli walau hati ini geram mendengar adegan tadi.


"Kenapa kamu cuek, cemburu ya atau merasa tidak terima," sindirnya memancing emosiku.


"Memangnya apa yang musti ku dengar suasana sunyi begini, lebih baik kamu masuk nanti Suamimu cemburu," sangkal ku.


"Aldo, Aldo jangan berbohong baru saja kamu habis mencuri dengar, bukan?" tuduhnya dengan ejekan.


"Jangan Aldo! Kamu terlalu lancang mendekatiku, jika kamu tidak mau mundur aku akan teriak," cercanya berusaha melepaskan diri dari ku.


Aku makin mendekatinya hingga dia terjatuh di sofa dengan posisi terlentang ada sesuatu terlarang yang nampak jelas tapi aku hanya memperhatikan kilau merah jambu di wajahnya.


Kudapat kilau itu dan kurasakan manis, hingga sesuatu yang sangat panas mendarat di pipiku.


Plakkkk......


"Tak tahu malu," umpatnya sambil mendorong tubuhku.


Akupun segera meninggalkannya setidaknya aku menang kali ini kecupan manis mendarat di bibirnya itu yang akan menjadi temannya malam ini, aku yakin perasaannya akan berkecamuk.


Malam ini takdir berpihak kepadaku, aku pun tersenyum puas sebelum meninggalkannya. Rasa kesal yang sempat kurasakan terbayar lunas walau hanya hitungan detik.


Aku yakin kamu masih mencintaiku Selvi, jadi aku tidak akan segan-segan mendekatimu lagi bila kamu bermesraan dengan Papiku.


Tiba-tiba saja hujan turun sangat deras sekali dan ntah siapa yang mematikan lampu di ruangan ini, suara petir mengelegar .


Terdengar suara teriakan Selvi dan aku pun reflek mendekatinya serta mendekapnya, saat ini dia sangat ketakutan dengan suara petir tersebut.

__ADS_1


"Tenang, ada aku disini," ucapku menenangkannya.


"Tapi aku takut gelap sekali dan suara petir itu mengerikan," jawabnya sambil menyembunyikan wajahnya tepat di dadaku.


Tak terasa ada sekitar 30 menit hingga lampu menyala lagi dan Kami pun tersadar sedang dalam posisi berpelukan.


"Kamu cari kesempatan dalam kesempitan ya Do," umpatnya sambil mendorong tubuhku dengan keras hingga aku terpental dan jatuh.


"Hei! bukannya berterimakasih, dasar wanita tidak tahu di untung," balasku kesal.


Dia sempat tertunduk dan terdiam sebentar. "Terimakasih," ucapnya sambil meninggalkanku lalu.


Badanku sakit karena saat terpental pinggang ini terhantam ujungnya nakas. Tetapi karena, dia masih bisa berterimakasih kusimpan lagi rasa kesalku dan ku balas senyum nakal agar membekas di memorinya.


Segera aku beranjak dari tempat itu mataku sudah mulai terasa berat sepertinya badan ini sudah menuntut haknya untuk segera di istirahatkan.


Tidak akan pernah kulupa semua kejadian malam ini yang benar-benar menguras emosi dan perasaanku. Aku yakin pasti Selvi juga merasakan hal yang sama kecuali, dia memang sudah tidak memiliki rasa sedikitpun denganku kejadian malam ini bisa menjadi bencana buatnya.


Jika, teringat akupun selalu tertawa kecil. Kurebahkan badanku di atas tempat tidur setelah aku menganti pakaian dan membersihkan diri. Hingga pikiran ini melayang ntah kemana.


"Seandainya aku berani tegas sedikit dengan Mami dan aku tidak takut menyakiti hatinya, mungkin saat ini bukan bantal dan guling saja sebagai teman tidurku melainkan Selvi, penyesalan memang selalu datang terlambat."


Aldo sadar jangan melamun semua itu sudah terjadi sekarang waktunya kamu membuka diri, tiba -tiba saja ada sebuah buku yang tidak pernah kulihat sama sekali terjatuh dari atas lemari pakaian.


Aku terkejut dan berdiri melihatnya, tertuliskan nama seseorang wanita yang pernah mengisi hariku tapi, ini buku apa ya? saat akan aku buka tiba-tiba pintu di ketuk.


"Ayah!" terdengar suara Abrisyam memanggil.


kuletakkan buku itu di atas nakas lalu akupun membuka pintu kamar, benar sekali Abrisyam sedang menangis. Ku gendong anak semata wayang ku itu.


"Oma tadi malah-malah,"ceritanya manja.


"Jika Oma lagi marah Abrisyam menjauh ya sayang, mungkin Oma lagi kesal saja. Sementara Abrisyam main sama bibi dahulu di paviliun ya," jelasku menenangkannya serta menidurkannya di sebelahku.


Dia hanya mengangguk dan tidak lama matanya mulai terpejam, sepertinya mataku pun mulai tak kuat untuk ku pertahankan akan kubaca buku itu esok saja.


Bersambung........


...----------------...


Hai sahabat pembaca setia yang aku sayangi dan cintai kira-kira menurutmu rencana Mami bakal berhasil tidak ya, dan apakah malah Mami semakin sakit hati dengan perlakuan Selvi.


Jangan lupa ya taro komen kalian dan beri aku vote bintang 5 ya agar aku semakin semanggat upny.

__ADS_1


Indraqilasyamil juga seneng banget baca komen kalian apalagi kalo ada tulisan up dan lanjut, semoga aku bisa membahagiakan kalian sahabat.


__ADS_2