DOSA! SUAMIKU MERTUAKU

DOSA! SUAMIKU MERTUAKU
Surat Cerai


__ADS_3

Saat Ku buka mata ini tiba-tiba Mama berada duduk tepat di tepi tempat tidur dengan 1 map berwarna coklat tulisan Pengadilan Agama.


"Sayang sepertinya Kamu akan mempunyai status yang jelas. Ini surat gugatan cerai yang di layangkan Aldo." Kata Mama.


" Iya Ma, memang sudah jalan hidupnya Selvi mau diapain lagi yang penting sekarang Selvi masib bisa bersama Abrisyam dan Andrasyam." Sambil wajahku terarah ke wajah Anak-anak Ku yang masih tertidur.


" Selvi yang sabar ya." Dukungan Mama benar-benar membuat Aku jadi Wanita yang tegar .


"Kasihan Andra dari lahir sampai sekarang belum pernah bertemu Ayahnya. Bahkan Ayahnya tidak tahu bahwa Dia adalah buah hatinya juga.Dia terlalu berprasangka menduga-duga tanpa bertanya denganku." ucapku sedih.


Tidak terasa air mata menetes. Mama langsung memeluk tubuhku dan pundaknya menjadi tempatku bersandar.


Berat hati ini menerima amplop coklat ini tapi mungkin ini jalan yang terbaik. Sehingga Aku bisa lebih baik lagi.


Kali ini Aku gak boleh ngalahakan Ku tunjukkan bahwa mereka salah menilai dan mengenalku.


Sakit hati ini sudah tidak dapat di bendung lagi. Inggin rasanya segera berpura-pura menjadi Istri mudanya Papi.


...----------------...


Tiba-tiba Aku berada di sebuah rumah sakit. Aku langkahkan Kaki ku menuju sebuah ruangan saat Ku buka terlihat Aldo sedang duduk termenung. Segera Aku menghampirinya.


Saat Aku mendekat terlihat senyum mulai merekah di wajahnya.


"Selvi, benarkah itu Kamu Sayang."


Aku hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Aldo. Saat Aku akan berbalik duduk di sofa rumah sakit itu tangganku dipegangnya erat. Jantungku serasa berhenti dan Aliran darahku seakan bergerak lebih cepat terasa mengalir seperti air.


Inggin Ku tarik tanganku untuk lepas dari genggamannya tapi Aku tidak kuasa. Di hentaknya tangan ini hingga tubuhku terikut dan Aku jatuh di pelukannya.


Tatapan matanya dan mataku mulai menyatu. Dia semakin mendekatkan tatapan matanya . Saat hidungku dan hidungnya bertemu mata ku pun ku tutp karena tak kuasa menatap wajahnya, detak jantung ini terdengar nyaring.


Dag dig dug....


Dag dig dug....


Semakin kencang seperti suara genderang. Ada perasaan dingin di bibirku seakan di kecup . Tapi perasaan dingin itu semakin terasa nyata Aku tak Kuasa perasaan itu membuatku segera membuka mata. Ternyata Ade Andra empis di dekat bibirku pampersnya bocor.

__ADS_1


" Hahahahahahaha..... Aku mimpi hal Aneh." Aku tepok pantat bayi itu gemas.


Ternyata Aku tertidur lagi, perasaan tadi sudah bangun dan berbicara sama Mama. Tapi Aku tertawa melihat pola tidur kedua Anak ini yang satu badannya separuh di atas perutku dan yang satu pampesnya di wajahku.


Kenapa mimpi itu seperti nyata ya. Hampir saja Aku larut dalam ke bucinanku dengan Ayahnya Dua bocah lucu ini. Sudah cukup Aku di buatnya menangis.


Segera Aku bangun dan menganti popok Andrasyam takut Dia iritasi.


" Abang ayo bangun, Ntar siang abang ada kelas loh. Pulang dari kelas musik Kita berenang sama Eyang dan Adik." rayuku saat membangunkan Abrisyam


"Benar ya Bunda habis kelas musik Kita berenang. Eh kalo main kepantai boleh ngak bunda" matanya yang semula mengantuk tiba-tiba terbuka lebar saat teringat pantai.


"Iya Bunda janji kemana saja kita pergi sesuai yang Abang mau nanti Bunda yang antar." jawabku sambjl melepas pakaiannya.


"Kalo begitu Kita kepantai saja Bunda. Abang mau cari hewan yang ada rumahnya." jawabnya dengan bahagia.


Tanpa di komando Abrisyam segera masuk ke Kamar Mandi dan membersihkan badannya dengan shower.


"Bunda sambil bernyanyi, rintik hujan." pintanya lagi.


Ku turuti maunya Akupun segera bernyanyi sambil membersihkan badannya yang montok dan lucu.


...----------------...


Hari ini Aku sudah bisa pulang dari rumah sakit. Semoga tidak ada halanagan selama perjalanan kerumah Zahra.


Selama di rumah sakit Gladis sering mengunjungiku, banyak hal positif yang Dia sampaikan seperti belajar mencintai masa depan.


Mobil Pajero hitam sudah menjemput tepat di depan pintu rumah sakit. Mami dan salah sayu karyawan kantor memasukan barangku ke bagasi. Mobil pun mulai melaju meninggalkan plantaran Rumah Sakit menuju Cirebon.


Sudah lama sekali Aku tidak mengjnjungi Kota ini semenjak terakhir pernikahanku dan Virgin di laksanakan beberapa bulan berikutnya Kami sudah bertolak ke Kalimantan dan mengembangkan Bisnis di sana.


Tersirat penyesalan karena, menyia - nyiakan Virgin semasa hidupnya. Banyak sekali dosaku terhadap kedua Istriku itu. Memang bercerai dengan Selvi satu-satunya jalan terbaik.


Angin kencang berhembus saat Aku akan menuju rumahnya Virgin. Karena, disinilah juga Zahra tinggal.


Zahra merupakan Sepupu jauhnya Virgin Dia menjadi yatim piatu sejak kecil.Karena, kerabat dekat Ayah dan Ibunya berada di Luar Negri jadi, Zahra di besarkan Papi dan Maminya Virgin. Sifat Zahra berbeda 360 derajad dari Virgin.Dia Anak yang Sholehah.

__ADS_1


Aku pun disambut Oleh Papi dan Maminya Virgin.


"Akhirnya Kamu sampai juga ya Do." Sambut mereka.


Aku melempar senyum dan takzim kepada Keduanya.


"O,ia Zahra masih keluar ngurus salah satu cabang Cafenya." jelas mereka lagi.


Kami semua segera masuk ke dalama rumah. Suasana di warnai dengan perbincangan Para Orang tua itu.Sedangkan Aku memandanvi ke Arah pegunungan di luar rumah.


Aku duduk di salah satu Kursi rotan menghadap ke arah persawahan jauh disana. Teringat saat Aku tidak sengaja bertemu kembali dengan Selvi dan Abrisyam. Lamunanku mulai melayang jauh.


...----------------...


Selvi


Ku ambil lagi amplop coklat yang sempat do berikan Mami hari itu. Baru ku baca isinya ternyata besok sidang perceraiannya. Agar prosesnya cepat sengaja Aku tidak menghadiri.


Di temani secangkir teh hangat dan biskuit Aku duduk di dekat balkon rumah. Sedangkan Abrisyam dan Andrasyam terlihat asik bermain tidak jauh dari tempatku duduk.


"Bunda. Andra pup sepertinya baunya asem. Hahahahaha" tawanya lepas.


"Nyo... Nyo... Nyo... Nda..." suara Andra seakan marah di tertawakan Abangnya.


Akupun segera mengangkatnya dan menggantikan popoknya. Selesai menganti semua itu ku letakkan lagi Andra di dekat Abrisyam.


"Hem.... Dede Andra sudah harum." Ungkap Abrisyam


Tiba-tiba Andra memeluk Abrisyam dan menciumnya biasa ciuman bayi dengan bonus air liurnya memenuhi wajah Abrisyam.


"Nda, Dede nakal Abang di mandiin liurnya. Hahahahahaha" Tawanya lepas saat melihat ekspresi Adiknya yang paham jika sedang di laporkan kelakuannya.


Suara kasnya Nyo Nyo Nyo terdengar lagi seakan Dia inggin mengatakan Abang pengaduan. Akupun Ikut tertawa lalu Aku peluk tubuh mereka berdua. Abang Abrisyam pun mulai iseng mengelitiki tubuhku semakin dilihat Adiknya tertawa geli semakin Dia mengelitiki tubuhku. Benar-benar suasana saat itu membuat Kami lupa akan kesedihan dan ketidak lengkapan seseorang saat ini.


Aku yakin suatu saat kelak Aku bisa bersama tertawa seperti ini lagi bersama kedua buah hatiku.


Kuabaikan surat perceraian di meja itu. Tawa ini lebih berharga dalam hidupku tidak dapat di tukarkan oleh apapun di dunia ini. Karena merekalah duniaku saat ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2